INICIAR SESIÓNDi kotak yang sama, Xiao Fan menemukan catatan pembayaran yang terdiri dari ribuan batu roh yang dikirim dari Kekaisaran Xiyuan sebagai imbalan atas informasi tersebut. Setiap pembayaran dicatat dengan rapi: tanggal, jumlah, dan untuk apa uang itu digunakan.Tapi di balik catatan-catatan itu, terselip satu kotak kecil dari logam hitam, bentuk logam itu sama seperti yang ia lihat di ruang kerja Xiao Ba dulu. Xiao Fan membukanya dengan hati-hati ketika di dalamnya, ia melihat tumpukan surat dengan segel lilin hitam berlambang mata tiga yang menandakan surat-surat itu berasal dari Kultus Mata Tiga.Xiao Fan segera membuka surat pertama ketika tangannya langsung mengepal saat membaca isinya."Kepada Patriark Mo Qian. Sumber kami di dalam istana telah mengonfirmasi keberangkatan Jenderal Muda Xiao Fan ke wilayah barat. Ia berangkat dengan kereta sederhana, ditemani oleh seorang gadis, seekor binatang, dan seorang pelayan tua. Perkiraan waktu kedatangan di Kota Lembah Kabut: tiga
Malam harinya, langit di atas Kota Lembah Kabut gelap gulita dan hanya diterangi oleh bintang-bintang yang redup. Angin berembus pelan, membawa serta debu dari tambang-tambang di kejauhan.Di tengah keheningan malam itu, Xiao Fan berdiri di atap sebuah gedung tua yang menghadap langsung ke kediaman Mo Qian. Ia mengenakan pakaian gelap yang ketat, yang dirancang untuk bergerak tanpa suara. Pedang Bintang Jatuh tersarung di punggungnya.Di sampingnya, Lei duduk dengan telinga menegang. "Tuan, aku sudah mengintai kediaman ini sejak sore tadi. Total ada tiga patroli penjaga yang berputar secara bergantian. Setiap setengah jam mereka berganti jadwal. Dan celah terbesar ada di taman belakang, tepatnya di area dekat air mancur.""Bagus. Kita akan masuk dari sana.""Dan formasi pertahanan mereka cukup kuat, Aku bisa merasakannya dari sini. Tapi..." Lei memiringkan kepalanya. "...ada satu titik di dekat air mancur di mana energinya lebih lemah. Mungkin karena saluran air yang meng
Xuan'er yang sejak tadi duduk di sudut ruangan tidak bisa menahan tawanya. "Setidaknya kali ini bukan angsa yang mengejarmu, Lei.""Aku lebih suka dikejar angsa daripada dibekukan oleh Nona Es ini!" Ucap Lei ketika masih sibuk menggoyang-goyangkan ekornya yang beku. "Setidaknya angsa hanya mengejar. Tapi Nona ini langsung menyerang tanpa peringatan! Lihatlah ekorku yang sangat indah ini! Aku sekarang tidak bisa menggerakkannya!"Wei Lian menatapnya dengan ekspresi datar. "Itu hanya lapisan es tipis. Akan mencair dalam beberapa menit.""Beberapa menit katamu?! Beberapa menit adalah waktu yang sangat lama bagi makhluk surgawi sepertiku, Hmp! Aku bisa mati kedinginan!""Kau itu adalah Qilin Petir. Kau tidak akan bisa mati kedinginan.""Itu... itu memang benar. Tapi tetap saja tidak nyaman! Hmp! Dasar Nona es berhati dingin!"Wei Zheng mengabaikan keributan di belakangnya dan menatap Xiao Fan dengan mata serius. "Aku mendengar dari laporanmu bahwa Mo Qian memiliki mata-m
Pagi harinya, Kota Lembah Kabut diguncang oleh berita lain. Bukan tentang kematian delapan pembunuh bayaran yang menyerang Xiao Fan semalam, meskipun mayat-mayat itu sudah ditemukan oleh para penjaga kota dan menjadi bahan bisikan di seluruh pasar. Melainkan tentang kedatangan seratus pasukan elit kekaisaran yang dipimpin langsung oleh Jenderal Besar Wei Zheng.Xiao Fan sedang duduk di ruang depan penginapan, menyesap teh paginya, ketika suara langkah kaki berseragam terdengar dari jalanan. Ia menoleh ke luar jendela dan melihat barisan pasukan berbaju zirah emas berbaris rapi di depan penginapan sembari memegang bendera Kekaisaran.Kerumunan mulai terbentuk di sekitar penginapan ketika para pedagang, dan para penambang yang lewat menghentikan aktivitas mereka dan berhenti untuk menonton. Bisikan-bisikan mulai menyebar seperti api di rumput kering."Itu... itu kam pasukan kekaisaran?! Lihat benderanya! Itu bendera naga!""Kenapa pasukan kekaisaran ada di sini? Apa terjadi
Malam itu, setelah berita kematian penambang menyebar ke seluruh kota, suasana di penginapan terasa lebih mencekam dari sebelumnya. Xiao Fan duduk di kursi dekat jendela ketika matanya menatap ke luar ke arah jalanan yang mulai sepi. Xuan'er duduk di ranjang, tangannya memainkan ujung lengan bajunya. Lei berbaring di sudut ruangan, telinganya bergerak-gerak saat menangkap setiap suara."Kakak Xiao Fan, apa kita akan terus bertahan di sini?" tanya Xuan'er. "Setelah apa yang terjadi pada penambang itu... mereka pasti akan mencarimu lagi.""Kau benar tentang itu, mereka pasti akan mengirimkan lagi pembunuh ke sinj," jawab Xiao Fan. "Tapi mereka tidak akan menyerang di siang hari karena terlalu banyak saksi. Jadi pasti mereka akan menyerang malam ini.""Dan kau akan menunggu mereka, begitu?""Tidak." Xiao Fan berdiri dan mengaktifkan Mata Yin-Yang-nya. Seperti yang ia duga. Delapan aura bergerak di kejauhan dan mendekat dengan cepat. Enam di level Inti emas awal. Satu di leve
Xuan'er seketika memeluk dirinya sendiri ketika mendengar ucapan Xiao Fan. Matanya menatap mayat para penyerang dengan ekspresi tegang. "Kalau begitu, kita tidak bisa mempercayai siapa pun di kota ini. Bahkan orang-orang yang kita anggap sekutu.""Itu sebabnya kita akan melakukan ini dengan caraku." Xiao Fan menyarungkan Pedang Bintang Jatuh. "Besok pagi, aku akan menyamar sebagai pedagang pil di pasar. Dengan begitu aku bisa mengumpulkan informasi dari orang-orang yang berlalu lalang.”Lei mengangkat satu telinganya. "Dan apa tugasku, Tuan? Aku tidak bisa hanya duduk diam di penginapan!""Kau akan tetap di sini. Jagalah Xuan'er dan Paman Lao. Setelah serangan tadi malam, aku tidak ingin meninggalkan mereka sendirian.""Tapi Tuan! Aku ingin membantu!""Lei." Xiao Fan menatapnya. "Ini tugas yang sama pentingnya. Jika terjadi sesuatu pada Xuan'er atau Paman Lao, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Jadi aku percayakan padamu untuk menjaga mereka berdua."Lei menutup
Xiao Fan membungkuk perlahan. Tangannya yang gemetar meraih Pedang Bintang Jatuh dari lantai."Ayo," bisiknya pada pedang itu. "Bangkit. Ini belum selesai."Ia memaksakan diri berdiri. Otot-otot dan Sendi-sendinya berderak. Setiap tarikan napas seperti menghirup pecahan kaca."Aku akan menyelesaika
Xiao Fan menutup matanya. Menarik napas dalam-dalam. Hening. Seluruh alun-alun seolah ikut menahan napas bersamanya. Ribuan pasang mata tertuju pada pemuda berjubah perak yang berdiri sendirian di atas panggung marmer putih itu. Angin pagi berembus pelan, menerbangkan ujung jubahnya, menciptakan
Alun-Alun Tianyu hari itu adalah pemandangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang menyaksikannya. Lima bendera raksasa berkibar di tiang-tiang setinggi dua puluh meter—naga perak yang melambangkan Klan Xiao di tengah, dikelilingi oleh harimau hitam Klan Mo, burung merah Klan Lin,
Beberapa jam sebelumnya. Di dalam kamarnya, Xiao Fan berdiri di depan cermin perunggu, menatap bayangannya sendiri. Jubah perak warisan leluhur Klan Xiao telah ia kenakan—kain sutra berusia ratusan tahun yang hanya dikeluarkan untuk upacara-upacara terpenting. Sulaman benang emas berbentuk naga d







