LOGINNamun, setelah aku ikuti lagi ke sana ternyata Dokter mengatakan kalau dia sudah wafat karena pendarahan dan luka di bagian jantung.”
Mendengar itu Joni langsung menghela nafas lega. “Jadi misi kita kali ini pun berhasil.”“Tapi ngomong-ngomong kamu kan yang nembak Marko tadi?”“Tidak!” bantah Joni. “Bukan aku itu yang menembaknya Bayu karena hari ini aku ingin tes kemampuan dia. Jadi aku lepas agar dia yang menjalankan tugas tapi tentu saja dibawah pengawasanku. TeBayu berdiri tubuhnya tidak bergerak sedikitpun padahal Candra berusaha untuk membuat tubuh Bayu terhempas. Tetapi Chandra merasakan kalau Bayu itu bagaikan batu besar yang tidak bisa dipindahkan.Hal itu membuatnya sempat tertegun tapi dengan cepat pandangan merendahkannya tetap dilemparkan pada Bayu.“Beraninya orang baru sepertimu menggertakku!”Tatapan Chandra menajam bahkan rahangnya ikut mengeras. Saat menatap Bayu tepat di hadapannya.“Aku sedang buru-buru, sebaiknya kamu jangan terlalu mengusikku saat ini!” Bayu bahkan sampai muak mendengar ucapan Chandra barusan.Sekali lagi tangan Bayu dengan mudahnya melepaskan cengkraman tangan Chandra dari kerahnya. Sambil merapikannya kembali ia hendak berbalik pergi tetapi …Grep!Chandra langsung bergerak cepat dari belakang, melingkarkan lengan kencang di leher lawan siku menekan salah satu sisi, telapak tangan menopang bagian belakang kepala, sementara lengan
Kekuatan supernatural juga tidak bisa dipakai terlalu banyak karena selama beberapa hari Bayu belum berhubungan dengan wanita.“Aku juga sudah lama tidak bertemu Mila ataupun Rara. Emm … apa aku pergi menemui mereka ya?”Kemudian Bayu mengingat dirinya yang pernah bercinta dengan Ningsih di air terjun. 'Entah kapan aku juga bisa datang ke desa itu lagi dan bertemu dengannya atau Welas juga,’ pikir Bayu lama hati.Tidak lama kemudian Teo yang sudah selesai mandi berjalan melewati ruang tengah tempat Bayu duduk menuju dapur.Pandangannya terus mencari mie yang akan dimasaknya. Namun, karena tidak tahu tempatnya maka Teo bertanya lagi,“Mienya tadi kamu lihat ada di mana Bayu?”“Itu, di dalam lemari di atas kepala tepat di depanmu. Iya itu di sana!” Tangan Bayu terus menunjuk, ia mengangguk saat wajah dan pandangan Teo melihat ke arah yang ia tunjuk.Tangan Teo membuka lemari yang berada di atas dapur kitchen set
“Bayu, ini punyaku?” tanya Joni saat melihat seporsi nasi goreng di atas meja.“Iya, itu punyamu. Aku sudah makan sampai habis tadi jadi kusimpan seporsi untukmu!” “Makasih ya, ternyata beneran kamu kasih. Hehe kebetulan aku laper banget. Banu turun ke kantin tapi males banget.” Joni duduk dan mulai melahap nasi goreng buatan Bayu.“Maaf ya, kalau rasanya nggak enak. Soalnya aku buatnya seadanya aja itu!” Bayu bangun dan melihat ke arah meja makan sambil menyandarkan dadanya di sandaran kursi.“Enak kok, ini lebih enak dari nasi goreng buatan Sandro yang selalu keasinan. Tapi jangan bilang-bilang ya, aku cela nasi goreng dia.” Joni makan sambil terkekeh saat mengingat lagi nasi goreng yang pernah dibuat Sandro.Di rumah Sandro adalah ketua tim sekaligus orang yang sangat suka memasak. Namun, rasa masakannya tidak pernah enak, jika tidak hamar maka akan asin, atau malah kemanisan jika menaruh gula.“Iya juga sih, aku juga pernah lihat Sandro masak. Jadi dia suka buat sarapan nasi gore
Mendengar itu Bayu sempat tertawa,“Hahaha … iya, Teo ini memang tukang tidur tapi bukannya dia juga tidur hanya sebentar saja tadi? Jadi wajar sihasih ngantuk. Tapi aku rasa kita berdua udah ngantuk banget nih.”Suara kaki mereka masih bergema di tangga hingga akhirnya mereka sampai di lantai tempat unit rumah yang ditempati. Suara kunci terdengar saat Teo berusaha membuka kunci rumah mereka.Klek!Pintu rumah terbuka Joni dan Bayu menyalip Teo yang hendak melangkah masuk. Mereka berdua lebih dulu melepas sepatu dan berjalan cepat masuk ke kamar masing-masing.Melihat itu Teo hanya bergeleng-geleng kepala sambil merapikan sepatu teman-temannya yang tidak diletakkan ke atas rak sepatu.“Kalian ini seperti anak kecil saja!” gerutu Teo lalu sambil membuka sepatu miliknya dan kembali menutup pintu rumah.Sementara di kamar Bayu melihat jam dinding yang menunjukkan sekarang sudah jam dua malam. Sudah sangat larut j
Joni langsung mengikutinya. “Kamu beneran mau pergi ke toilet?” Mendengar kat toilet membuat mata Herdin mengedip lalu mengangguk cepat. Dengan kakinya yang juga dihentakan pelan. Sedangkan Bayu segera menghentikan mobil di sebuah lertanbiymibyaam. Di sana ia membuka pintu saat mobil sudah berhenti “Jon, ayo cepat bawa dia keluar dari sana?” ucap Bayu sambil membukakan pintu. “Ayk kita keluar juga!” Joni memegang lengan Herdin lalu membawanya menuju toilet. Sementara Hersin masuk ke toilet ajoni menunggunya di luar. Sambil mendengar suara dari dalam toilet. Takut-takut jika nanti Herdin bisa melarikan diri karena itu bisa membuat mereka sangat kewalahan untuk mencarinya lagi. Saat suara air di dalam sana berhenti Joni mengetuk pintu. “Udah selesai belum?” tanya Joni sambil melihatku ke bawah pintu memastikan kaki Herdin terlihat. Klek! Di saat yang
“Aku saja yang menjaganya di sini, kalian pesankan makanan untukku. Sekalian juga buat dia.” Bayu memilih untuk menunggu dan menjaga agar Herdin tidak ada waktu untuk melarikan diri.Meski Herdin tidak mungkin bisa tapi untuk berjaga-jaga agar tidak terjadi hal yang dibayangkannya. Bayu memilih untuk tetap mengawasinya.Joni bertanya sebelum keluar dari mobil. “Oh oke, nanti kita bawakan. Nanti aku bawakan makanan yang dipilihin Teo saja. Kamu mau nggak, atau ada pilihan lain yang mau kamu makan?” “Emm … kayaknya biar terserah Teo saja mau pilih buat aku apa,” jawab Bayu santai karena sejujurnya ia juga tidak pilih-pilih soal makanan.“Oke,” sahut Joni lalu segera menyusul Teo masuk ke kedai makan pinggir jalan.Bayu membuka jendela di sampingnya agar sirkulasi udara di dalam mobil tidak terasa pengap. “Mereka pasti sedang makan sekarang. Nanti setelah mereka sampai barulah giliranmu dan aku makan. Ah, aku lupa memberitahumu na







