LOGINPenerbangan lintas benua dari Elysia menuju Avantia memakan waktu belasan jam yang panjang dan melelahkan. Di dalam kabin kelas satu yang privat, Lucia sempat tertidur lelap di bahu tegap Arthen, menikmati detik-detik terakhir ketenangan sebelum roda pesawat kembali menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Avantia.Namun, ketenangan itu hilang seketika begitu pintu keluar terminal kedatangan internasional terbuka lebar.Sesuatu mengejutkan, gema teriakan riuh, sorak-sorai yang bersahutan, serta kilatan lampu kilat flash kamera yang bertubi-tubi menyambut kehadiran mereka secara mendadak meleburkan udara bandara yang sejuk menjadi panas oleh lautan manusia yang memadati seluruh area barikade pengaman. Ratusan wartawan dengan kamera berlensa panjang, kru media televisi, hingga ribuan penggemar telah berkumpul, membentuk lautan kerumunan yang luar biasa padat.Entah bagaimana caranya, informasi jadwal penerbangan rahasia dan kepulangan mereka dari masa cuti di Elysia bisa terendus
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk dari balik selambu tipis penthouse, membiaskan pendar keemasan di atas ranjang king-size. Suasana kamar terasa begitu hening dan tenang, hanya dihiasi deru napas halus dua insan yang saling merengkuh dalam selimut tebal.Lucia terbangun lebih dulu. Tubuhnya terasa begitu lemas dengan rasa pegal yang samar di area pinggulnya, jejak dari malam ulang tahun Arthen yang penuh gairah dan keliaran. Saat mencoba menggerakkan tubuhnya, ia merasakan lengan kokoh Arthen melingkar begitu protektif di pinggangnya, menariknya rapat-rapat tanpa celah.Lucia mendongak pelan. Di lehernya, kalung lonceng kecil dari kostum semalam sudah dilepaskan oleh Arthen secara lembut sewaktu ia tertidur lelap. Lucia tersenyum manis, jemarinya terulur menyusuri rahang tegas suaminya yang masih terpejam."Masih pegal, Wife?" suara parau nan seksi khas bangun tidur terdengar dari mulut Arthen. Tanpa membuka mata, pria itu makin mengeratkan p
Lucia mendekat, mengambil dasi sutra hitam yang tergeletak di atas meja rias, lalu menyampirkannya di leher tegap sang suami.Dengan telaten dan penuh kelembutan, Lucia merapikan simpul dasi Arthen. Pria itu menunduk, menatap wajah istrinya yang polos tanpa riasan tebal namun tetap memancarkan pesona alami yang memikat. Begitu simpul dasi terpasang sempurna, Arthen merengkuh pinggul Lucia dan mengecup bibirnya dengan penuh cinta."Selepas pulang aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, istriku sayang. Tunggu aku pulang, aku pasti akan membawakan sesuatu yang menarik," bisik Arthen rendah, suara beratnya terasa menggetarkan.Lucia menyuling senyum tipis, menyikut pelan dada Arthen. "Jangan aneh-aneh."Arthen menyeringai goda, matanya berkilat jenaka. "Kalau kamu bilang begitu, aku jadi memikirkannya, Sayang. Bagaimana dengan alat-alat untuk seks kita nanti malam, hm?""Arthen, ih~!" Lucia mencubit pinggang Arthen gemas, membuat rona merah
Pengumuman wrap up syuting V-ACE membawa angin segar bagi Lucia. Kelelahan fisik dan emosional yang menguras tenaganya selama berbulan-bulan akhirnya terbayar tuntas. Mengingat mereka sudah berada di negara yang seindah Elysia, Arthen memutuskan untuk memperpanjang keberadaan mereka di sana selama seminggu.Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Selain memanfaatkan momentum untuk berbulan madu secara privat, Arthen juga perlu menuntaskan beberapa urusan bisnis strategis V-ACE Production dengan distributor film kawasan Eropa. Lucia sendiri mantap mengambil cuti sementara waktu dari dunia hiburan untuk memulihkan energinya."Kita tidak akan tinggal di hotel lagi, Wife," ujar Arthen pagi itu saat mereka menikmati sarapan. "Paparazzi sudah mulai mengendus keberadaan kita di The Grand Elysia. Kita butuh tempat yang benar-benar kedap dari jangkauan publik."Rey dan Hana langsung bertindak cepat. Sebagai orang-orang terpercaya yang memegang rahasia pernikahan
Udara segar membelai kaca-kaca tinggi Presidential Suite, membangunkan Lucia dari tidur nyenyaknya. Saat membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan lengan kokoh Arthen yang masih melingkar protektif di pinggangnya, memeluknya erat dari belakang.Lucia berbalik perlahan, menatap wajah suaminya yang terlihat sangat damai saat tertidur. Garis-garis keletihan dan rasa pusing yang kemarin sempat menyiksa Arthen kini sirna sepenuhnya, tergantikan oleh rona segar. Lucia tersenyum tipis, jemari lentiknya terulur mengusap lembut alis dan garis rahang tegas pria itu."Sudah puas memandanginya, Wife?" bisik Arthen dengan suara parau khas bangun tidur, tanpa membuka matanya.Lucia terkekeh pelan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arthen. "Kau berpura-pura tidur ya?"Arthen membuka matanya, menatap Lucia dengan pendar kasih sayang yang begitu dalam. Ia mendaratkan kecupan hangat di dahi Lucia, lalu menatap jam dinding. "Ayo bangun. Hari i
Malam makin merayap pekat di Kota Elysia. Lampu-lampu lanskap kota klasik yang berpendar di luar kaca raksasa Presidential Suite Hotel The Grand Elysia menjadi satu-satunya penerang temaram di dalam ruangan mewah tersebut. Udara dingin yang merambat dari balik jendela raksasa terasa begitu kontras dengan kehangatan membakar yang menyelimuti kabin suite.Setelah menyelesaikan rentetan adegan emosional yang menguras tenaga dan air mata di set syuting hari ini, tubuh Lucia dan Arthen memang terasa lelah secara fisik. Namun, ketegangan emosional yang intens dari adegan akting tadi malam justru bertransformasi menjadi riak gairah yang terpendam, menanti untuk ditumpahkan begitu mereka hanya berdua.Pintu suite baru saja tertutup rapat saat Rey—yang menjalankan tugas rahasianya dengan amat cekatan—menyerahkan kantong kecil berisi obat pusing dan sekotak pengaman langsung ke tangan Arthen sebelum sang manajer pamit mundur dengan senyum penuh arti.Lucia yang baru
Di dalam van hitam yang merayap pelan menembus kerumunan, Lucia duduk dengan jemari yang saling bertaut erat. Sesekali ia membuang napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sejak semalam tidak bisa diajak kompromi. "Jujur saja, Hana... semalaman aku sulit sekali tidur
Arthen berdiri di balkon kamarnya, ponsel menempel di telinga dengan raut wajah yang lebih dingin dari angin laut malam itu."Cari tahu semua hal tentang Martin. Keluarganya, sekolahnya, sasana tinjunya, hingga detail bagaimana dia bertemu Lucia pertama kali," perintah Arthen tanpa basa-
Arthen tidak langsung kembali ke dapur setelah Lucia membawakan hidangan untuk Martin. Pikirannya terus berputar pada getaran halus di tangan Lucia dan raut pucat yang tidak bisa disembunyikan wanita itu. Namun, lebih dari itu, kalimat Martin di meja tadi masih terngiang jelas di telinganya, menghu
Kesibukan di dapur restoran pop-up akhirnya mulai mereda. Arthen segera melepas celemeknya. Pikirannya tidak tenang sejak tadi; ia merasakan keganjilan di area depan yang tak bisa ia jangkau saat pesanan menumpuk.Begitu melangkah keluar, mata Arthen langsung menangkap sosok Lucia yang berdiri mema







