MasukMareeq meraih tiga plastik yang dia taruh di tanah tadi. Dia letakkan di sebelah Naomi. Dia mengambil air mineral dalam plastik. Tanpa menunggu persetujuan Naomi, Mareeq membuka botol air mineral dan dengan lembut mengguyurkan air ke kelingking kaki Naomi yang berdarah.
"Tahan sebentar," Mareeq memperingatkan, nadanya kini melunak karena khawatir.
Air dingin itu membersihkan darah, kerikil, dan pasir yang menempel. Naomi meringis pelan karena perih. Mareeq meniup kelingking Naom
Begitu tiba di apartemen, suasana yang sunyi langsung menyambut Naomi. Naomi melepas sepatu dan meletakkan tas di sofa. Tak ada suara televisi. Hanya dengungan pendingin ruangan yang terdengar pelan.Ia mengeluarkan kantong dari dalam tas. Perlahan, ia mengeluarkan satu per satu isinya. Obat pelancar haid. Lalu... Sebuah kotak kecil bertuliskan test pack.Naomi meletakkannya di atas meja di ruang TV. Tatapannya tidak berpindah. Tangannya perlahan meraih kotak itu. Lalu diurungkannya. Ia menarik napas panjang.Ia menggigit bibir bawahnya. Ia berharap bahwa ini karena terlalu banyak pikiran. Dia tidak bisa membayangkan jika hasilnya benar positif. Dadanya mendadak sesak.Naomi menutup wajah dengan kedua telapak tangan."Tidak boleh..."Bisiknya lirih.Berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin cuma telat. Mungkin karena stres. Mungkin karena kecapekan. Semakin banyak kemungkinan yang ia pikirkan, semakin besar pula rasa
Mareeq mengencangkan baut roda untuk terakhir kalinya, lalu berdiri sambil mengusap kedua telapak tangannya yang dipenuhi debu. Ban cadangan sudah terpasang dengan baik. Ia menepuk pelan ban itu, memastikan semuanya aman sebelum menutup bagasi.Saat membuka pintu pengemudi, pandangannya langsung tertuju pada Naomi. Naomi masih duduk di kursi penumpang. Tatapannya mengarah ke luar jendela, tetapi seolah tidak benar-benar melihat apa pun."Naomi."Naomi sedikit tersentak. "Hmm?""Sudah selesai.""Oh..." Ia memaksakan senyum tipis. "Terima kasih."Mareeq masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Namun bukannya langsung menjalankan mobil, ia justru menoleh ke arah Naomi."Kamu kenapa?"Naomi menggeleng pelan. "Nggak kenapa-kenapa.""Kamu dari tadi diam.""Aku cuma capek."Mareeq memperhatikan wajah Naomi beberapa detik. Biasanya, setelah pekerjaan selesai atau ada kejadian kecil di jalan, Naomi akan mengomenta
Sejak pagi, suasana kantor kembali dipenuhi kesibukan. Lift tak pernah sepi, mesin kopi di pantry bekerja tanpa henti, dan hampir setiap meja dipenuhi tumpukan dokumen yang menunggu diselesaikan.Naomi baru saja meletakkan berkas di mejanya ketika Mareeq muncul di depan meja Naomi sambil membawa map hitam."Naomi, ikut aku meeting sebenter di luar."Naomi kemudian melirik ke arah meja Claudia. Dia ada di sana, tapi tampaknya tidak memperhatikan Mareeq yang memintanya ikut meeting. Sepertinya Claudia mengerjakan hal lain yang lebih urgent.Naomi pun menatap Mareeq dengan senyuman. "Baiklah. Setidaknya ada suasana baru daripada di depan komputer terus.""Kita berangkat sekarang.""Oke."Mereka berpamitan kepada tim sebelum turun ke area parkir.Meeting berjalan hampir dua jam. Diskusi yang awalnya diperkirakan selesai sebelum makan siang ternyata berlanjut hingga beberapa kali membahas revisi anggaran dan jadwal kampanye.
Libur panjang benar-benar berakhir. Sejak pukul delapan pagi, lantai divisi pemasaran kembali dipenuhi suara keyboard, dering telepon, dan diskusi yang berlangsung hampir tanpa jeda."Naomi, revisi materi promonya sudah selesai?" tanya Claudia."Hampir." jawab Naomi sekenanya."File untuk klien dari We Food jangan lupa dikirim sebelum jam sebelas.""Itu sudah selesai. Aku kirim sekarang." jawab Naomi."Oke. Terima kasih."Setelah Naomi mengirim berkas pertama, notifikasi lain sudah bermunculan. Deadline demi deadline membuat seluruh tim nyaris tidak sempat mengobrol. Bahkan Claudia yang biasanya paling cerewet pun sejak pagi sibuk menatap monitor di mejanya.Di tengah kesibukan itu, Rian, office boy, muncul di depan ruangan."Permisi, ada yang mau titip camilan? Saya sekalian ke minimarket."Beberapa kepala langsung terangkat."Aku titip kopi.""Tolong belikan aku roti. Sepertinya tidak sempat turun untuk m
Selesai menikmati hidangan penutup, Mareeq memanggil pelayan untuk membayar tagihan. Setelah semua pembayaran selesai, mereka kembali ke mobil. Alih-alih mengantar Naomi pulang, Mareeq membelokkan mobil ke arah jalan yang sudah sangat mereka kenal.Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di tepi jalan yang berada di atas bukit. Tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa kendaraan yang sesekali berhenti untuk menikmati pemandangan.Langit masih berwarna biru muda, perlahan berubah keemasan di ufuk barat. Awan tipis bergerak pelan tertiup angin. Kota di bawah tampak jelas dengan lalu lintas yang masih padat.Tidak ada percakapan. Naomi melirik ke samping. Mareeq duduk diam sambil memandang jauh ke arah kota.Meski berusaha terlihat biasa, wajahnya masih menyimpan sisa kelelahan. Kelopak matanya beberapa kali berkedip lebih lambat. Bahu pria itu pun tampak sedikit turun, tidak setegap biasanya.Naomi menghela napas pelan. "Kamu ngantuk."
Libur akhir pekan terasa berjalan terlalu cepat. Naomi masih berada di rumahnya ketika sebuah panggilan masuk. Nama Mareeq muncul di layar. Naomi mengangkat panggilan itu."Halo?""Naomi." Suara di seberang terdengar sedikit serak. "Kamu lagi di mana?""Di rumah.""Mau bertemu?" ujar Mareeq yang lebih terdengar seperti permintaan.Naomi melirik jam dinding. Menjelang siang. Waktu yang tepat untuk makan siang di luar. Naomi tersenyum kecil."Boleh.""Aku akan menjemputmu." Mareeq tanpa basa-basi.Setelah panggilan berakhir, Naomi memasukkan ponselnya ke saku. Dia kembali ke kamarnya untuk membereskan barang-barang yang ingin dia bawa ke apartemen nanti. Tidak banyak. Hanya beberapa baju dan makeup agar tidak mubazir karena hampir kedaluwarsa.Naomi keluar dari kamarnya. Dia mencari keberadaan kakaknya. Dia menemukannya di kamarnya sedang bermain game PC."Kakak." Panggil Naomi begitu dia melongok ke dalam kamar. "N
Lounge kantor yang ber-AC menyambut mereka dengan suhu yang kontras, namun suasana di sana mendadak terasa jauh lebih dingin bagi Naomi. Tepat di depan lift, Leon berdiri mematung. Di kedua tangannya, ia menjinjing dua bungkus makan siang dari gerai favorit mereka.Namun, pemandan
Naomi duduk mematung di sofa apartemen, menatap layar televisi yang hitam. Ruangan itu hanya diterangi temaram lampu sudut, menciptakan suasana sunyi yang mencekam. Niat awalnya adalah menghabiskan waktu lebih lama dengan Vino, namun bayangan Leon dan Maya di mall tadi terus mengejarnya hingga ia
Sabtu sore di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai menjadi waktu "keramat" bagi Naomi. Meskipun usianya sudah dewasa dan ia sudah memiliki Leon. Ada satu sisi dalam dirinya yang tetap menjadi adik kecil yang posesif.Bagi Naomi, Alina tetaplah sosok "penyusup" yang telah merebut perhatian
Naomi bisa merasakan panas yang samar dari tubuh Rahaal karena jarak mereka yang kini terkikis. Pria ini tidak sedang bernegosiasi. Dia sedang memberikan ultimatum yang dibungkus dengan pengorbanan yang tidak masuk akal."Jika keberadaan Mareeq adalah satu-satunya cara agar kamu merasa nya







