LOGINNaomi langsung melepas sendok yang masih digigitnya. Naomi akhirnya menarik sendok itu keluar, menatapnya sebentar, lalu mengangkat bahu kecil.
“Kebiasaan jelek.”
Tersenyum malu karena dimarahi Mareeq seperti itu. Dia serasa menjadi Freya. Perhatian kecil dari Mareeq yang seperti iniyang dia sukai.
Hening sebentar. Naomi menutup kotak es krim yang kini kosong. Ia menyandarkannya ke samping. Beberapa detik berlalu. Mobil terus berjalan.
“Kamu tadi
Leon melihat Naomi yang masih duduk diam di sofa. Terlihat masih sangat terkejut. Akhirnya, Leon mengajak Naomi keluar."Ayo."Naomi mengangkat wajah. "Ke mana?""Kita ke dokter."Naomi membeku. "Dokter?"Leon mengangguk. "Biar kita nggak cuma mengandalkan test pack.""Tapi...""Mumpung kita hari ini libur dan tidak ada rencana."Nada suaranya begitu tenang. Seolah semuanya sudah diputuskan. Naomi pun tidak bisa menolak.Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Leon beberapa kali melirik Naomi."Kamu mual?""Nggak.""Pusing?""Sedikit."Leon mengulurkan tangan, menggenggam jemari Naomi yang berada di atas pahanya. Pandangan Naomi tetap lurus ke depan. Sementara pikirannya entah ke mana.Mereka tiba di sebuah klinik spesialis kandungan. Ruang tunggunya dipenuhi beberapa pasangan suami istri. Seorang wanita hamil dengan perut yang sudah membesar sedang tertawa kecil
Naomi masih duduk di atas kloset yang tertutup. Air matanya sudah berhenti mengalir. Namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketenangan. Tatapannya kosong.Di tangannya, test pack itu masih tergenggam begitu erat hingga jemarinya memutih. Ia tidak tahu sudah berapa lama berada di sana. Lima menit. Sepuluh menit. Atau mungkin lebih. Yang ia tahu hanyalah pikirannya terasa kacau. Semua rencana hidup yang selama ini ia susun seakan runtuh dalam satu pagi.Tok... Tok..."Sayang?"Suara Leon terdengar dari balik pintu. Naomi tidak menjawab."Naomi?"Masih hening. Leon mulai merasa ada yang tidak beres. Perlahan ia memutar gagang pintu yang ternyata tidak dikunci. Pintu kamar mandi terbuka."Naomi."Leon mengamati kekasihnya. Ia mendapati Naomi masih mengenakan piyamanya, duduk diam di atas kloset dengan wajah yang sangat pucat. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya sembap."Kamu kenapa?" Leon langsung berjongkok di depan
Begitu tiba di apartemen, suasana yang sunyi langsung menyambut Naomi. Naomi melepas sepatu dan meletakkan tas di sofa. Tak ada suara televisi. Hanya dengungan pendingin ruangan yang terdengar pelan.Ia mengeluarkan kantong dari dalam tas. Perlahan, ia mengeluarkan satu per satu isinya. Obat pelancar haid. Lalu... Sebuah kotak kecil bertuliskan test pack.Naomi meletakkannya di atas meja di ruang TV. Tatapannya tidak berpindah. Tangannya perlahan meraih kotak itu. Lalu diurungkannya. Ia menarik napas panjang.Ia menggigit bibir bawahnya. Ia berharap bahwa ini karena terlalu banyak pikiran. Dia tidak bisa membayangkan jika hasilnya benar positif. Dadanya mendadak sesak.Naomi menutup wajah dengan kedua telapak tangan."Tidak boleh..."Bisiknya lirih.Berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin cuma telat. Mungkin karena stres. Mungkin karena kecapekan. Semakin banyak kemungkinan yang ia pikirkan, semakin besar pula rasa
Mareeq mengencangkan baut roda untuk terakhir kalinya, lalu berdiri sambil mengusap kedua telapak tangannya yang dipenuhi debu. Ban cadangan sudah terpasang dengan baik. Ia menepuk pelan ban itu, memastikan semuanya aman sebelum menutup bagasi.Saat membuka pintu pengemudi, pandangannya langsung tertuju pada Naomi. Naomi masih duduk di kursi penumpang. Tatapannya mengarah ke luar jendela, tetapi seolah tidak benar-benar melihat apa pun."Naomi."Naomi sedikit tersentak. "Hmm?""Sudah selesai.""Oh..." Ia memaksakan senyum tipis. "Terima kasih."Mareeq masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Namun bukannya langsung menjalankan mobil, ia justru menoleh ke arah Naomi."Kamu kenapa?"Naomi menggeleng pelan. "Nggak kenapa-kenapa.""Kamu dari tadi diam.""Aku cuma capek."Mareeq memperhatikan wajah Naomi beberapa detik. Biasanya, setelah pekerjaan selesai atau ada kejadian kecil di jalan, Naomi akan mengomenta
Sejak pagi, suasana kantor kembali dipenuhi kesibukan. Lift tak pernah sepi, mesin kopi di pantry bekerja tanpa henti, dan hampir setiap meja dipenuhi tumpukan dokumen yang menunggu diselesaikan.Naomi baru saja meletakkan berkas di mejanya ketika Mareeq muncul di depan meja Naomi sambil membawa map hitam."Naomi, ikut aku meeting sebenter di luar."Naomi kemudian melirik ke arah meja Claudia. Dia ada di sana, tapi tampaknya tidak memperhatikan Mareeq yang memintanya ikut meeting. Sepertinya Claudia mengerjakan hal lain yang lebih urgent.Naomi pun menatap Mareeq dengan senyuman. "Baiklah. Setidaknya ada suasana baru daripada di depan komputer terus.""Kita berangkat sekarang.""Oke."Mereka berpamitan kepada tim sebelum turun ke area parkir.Meeting berjalan hampir dua jam. Diskusi yang awalnya diperkirakan selesai sebelum makan siang ternyata berlanjut hingga beberapa kali membahas revisi anggaran dan jadwal kampanye.
Libur panjang benar-benar berakhir. Sejak pukul delapan pagi, lantai divisi pemasaran kembali dipenuhi suara keyboard, dering telepon, dan diskusi yang berlangsung hampir tanpa jeda."Naomi, revisi materi promonya sudah selesai?" tanya Claudia."Hampir." jawab Naomi sekenanya."File untuk klien dari We Food jangan lupa dikirim sebelum jam sebelas.""Itu sudah selesai. Aku kirim sekarang." jawab Naomi."Oke. Terima kasih."Setelah Naomi mengirim berkas pertama, notifikasi lain sudah bermunculan. Deadline demi deadline membuat seluruh tim nyaris tidak sempat mengobrol. Bahkan Claudia yang biasanya paling cerewet pun sejak pagi sibuk menatap monitor di mejanya.Di tengah kesibukan itu, Rian, office boy, muncul di depan ruangan."Permisi, ada yang mau titip camilan? Saya sekalian ke minimarket."Beberapa kepala langsung terangkat."Aku titip kopi.""Tolong belikan aku roti. Sepertinya tidak sempat turun untuk m
"Aku bilang dia tidak membencimu," sahut Mareeq singkat. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut. Seolah ada dinding transparan yang ia bangun untuk melindungi Naomi agar tidak melangkah terlalu jauh ke dalam zona berbahayaMareeq menyodorkan jagung bakar milik Naomi ke mulutnya. "Makanlah. Jang
Mereka sampai di depan mobil Mareeq yang terparkir di bawah bayangan pohon besar. Mareeq membukakan pintu untuk Naomi. Sebuah gestur sederhana namun terasa sangat protektif bagi Naomi. Setelah itu, Mareeq berjalan mengitari sebagian badan mobil dan masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin. C
Mareeq mengangkat kepalanya sedikit, dia sedikit meninggikan suara karena harus bersaing dengan dentuman musik rock. "Mau ke mana?" tanya Mareeq, nadanya datar namun ada sedikit perintah di dalamnya.Naomi terkejut sesaat karena Mareeq menahannya. Ia menatap mata sekilas ke arah Claudia. T
"Mau aku pesankan steak lagi?" Tanya Claudia, berusaha keras memperbaiki suasana."Aku suka nasi goreng." jawab Mareeq, tanpa menoleh. Ia menyuap sesendok dengan tenang. Menegaskan bahwa ia baik-baik saja dengan nasi goreng.Rahaal menghela napas panjang. Suaranya pelan tapi cukup t







