Beranda / Horor / Booking Terakhir / Chapter 47 : Tawaran

Share

Chapter 47 : Tawaran

Penulis: Newa Lim
last update Tanggal publikasi: 2026-07-10 09:43:53

"Siapa di antara kalian yang membawa map yang bukan miliknya?”

Suara itu menggema ke seluruh ruang arsip. Walaupun tidaklah keras, namun sudah lebih dari cukup untuk membuat seluruh pegawai menghentikan aktivitas mereka.

Hanya dalam hitungan detik, ratusan pasang mata kini beralih ke arah Raka, tanpa ekspresi kemarahan ataupun kepanikan sedikitpun dari mereka. Tampaknya mereka semua hanya menunggu saja, seolah jawaban atas pertanyaan itu sudah diketahui tanpa perlu ada yang bicara dari antara m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Booking Terakhir   Chapter 52 : Dua Orang yang Sama

    "Itu adalah aku." Suara pria berkacamata nyaris tidak terdengar dari balik konsol monitor dengan jemarinya yang tampak mulai gemetar karena takut dan gelisah.Sementara itu di luar, sosok lain yang memiliki wajah, postur, bahkan cara berjalan yang sama melangkah memasuki ruang kontrol dengan tenang dan pasti. Sama sekali tidak ada ekspresi marah ataupun rona murka di wajahnya. Dengan perlahan, ia memeriksa ruangan seperti seorang kepala divisi yang sedang melakukan inspeksi rutin. "Ruang kontrol bersih." Suara itu seungguh terdengar identik dengan milik pria berkacamata, bahkan hingga ke intonasinya sekalipun.Kemudian Raka menatap pria berkacamata di sampingnya dengan pandangan cemas, lalu menatap sosok di luar yang mirip dengan pria berkacamata itu. Raka menduga jika salah satunya pasti sudah berbohong atau keduanya mengatakan sebagian kebenaran yang sebenarnya dapat saling melengkapi satu sama lainnya.Lalu Tim Sanitasi menyebar ke seluruh ruangan, namun mereka tidak mengobrak-abr

  • Booking Terakhir   Chapter 51 : Rapat yang Tidak Pernah Berakhir

    Layar monitor kembali dipenuhi dengan garis-garis hitam, menggantikan sosok perempuan bermantel cokelat yang telah sirna menghilang begitu saja tanpa penjelasan lanjutan. Namun secarik kertas bertuliskan JANGAN PERCAYA AUDITOR masih tergeletak di meja tepat di bawah monitor, menawarkan sebuah bantuan bila itu benar, atau malah menjadi sebuah jebakan jika itu salah dan menyesatkan.Kemudian dengan segera Raka memungutnya sebelum tulisan itu juga menghilang. Ternyata memang kertas itu bukan merupakan hasil cetakan, melainkan secarik sobekan dari sebuah notulen rapat yang di bagian bawahnya terdapat cap yang sama dengan dokumen Proyek Kamar Nol.RAHASIA – HANYA UNTUK DIREKSI"Dia sengaja meninggalkan ini," gumam Naya dengan nada penuh kecurigaan.Mira yang tak mau ketinggalan, kini ikut membolak balik dan memeriksa lembaran tersebut. Di sisi belakang terdapat denah sederhana sebuah ruangan berbentuk lingkaran yang ditengahnya terdapat meja besar dengan delapan buah kursi.Tujuh kursi ter

  • Booking Terakhir   Chapter 50 : Panggilan Kedua

    Gagang telepon masih berada di tangan Dito yang mulai tampak gemetar karena perasaan yang bercampur aduk tak karuan, sedangkan nada sambungnya telah menghilang beberapa saat yang lalu. Namun sespertinya tidak seorang pun berani bergerak untuk meletakkannya kembali, sehingga membuat suasana ruangan kontrol berubah sunyi. Yang terdengar hanya dengungan listrik dari monitor-monitor tua yang masih menyala redup.Kemudian Raka berinisiatif untuk memecah keheningan sekaligus mencoba menenangkan perasaan yang kacau campur aduk, "Apa dia menyebut namanya? Atau apapun yang bisa kita jadikan petunjuk?"Seperti yang bisa diduga, Dito hanya menggelengkan kepala dengan pasrah tanpa semangat. "Tidak, dia cuma bilang kalau dialah yang membatalkan Booking Terakhir, itu saja."Pria berkacamata langsung menarik kursi dan duduk perlahan dengan ekspresi wajah seperti kehilangan warna karena pucat. "Kalau itu benar, berarti masih ada anggota inti proyek yang hidup."Sera menyilangkan tangan. "Atau seseora

  • Booking Terakhir   Chapter 49: DEPO 9

    Rel tua itu memanjang ke dalam kegelapan. Tidak ada kabut penghalang sama sekali dan juga tanpa bisikan apapun. Yang terdengar hanyalah bunyi logam yang sesekali memuai, seolah terowongan itu masih hidup dan beroperasi meski telah puluhan tahun ditinggalkan.Dengan rasa penasaran, Raka mengangkat senter proyek menyoroti pemandangan di hadapannya. Cahayanya menyapu dinding beton yang dipenuhi nomor-nomor besar.JALUR 1JALUR 2JALUR 5Namun setelah angka lima, penomoran langsung meloncat jauh.JALUR 9"Empat jalur hilang," gumam Mira seraya menoleh ke segala arah seperti mencari jalur lainnya."Atau jalur yang hilang itu memang sengaja dihapus," sahut Sera mengutarakan pendapatnya.Sedangkan sang Pria berkacamata malah tampak diam dan tidak ikut berbicara. Ia hanya berdiri memandangi dinding sebelah kiri dengan wajah semakin pucat. "Kayaknya aku pernah ke sini."Semua kontan menoleh kearahnya."Kapan?""Aku..., nggak ingat." Pria berkacamata menekan pelipisnya berusaha untuk mengingat,

  • Booking Terakhir   Chapter 48 : Orang yang Menghilang Setiap Pukul Empat

    Bercak darah di lantai terasa masih hangat, namun sosok fisik Auditor telah menghilang begitu saja tanpa jejak karena tidak ada mayat ataupun bekas tubuh yang terseret di lantai. Bahkan kursi tempat ia duduk tetap berada pada posisi semula, seolah seseorang baru saja menghapus satu adegan dari kenyataan. Raka bergegas segera berlari ke dinding untuk memeriksa lebih detail. Tiga lubang kecil yang tadi terlihat ternyata bukan seperti bekas peluru. Lalu ia menyentuh salah satunya. Tepinya halus, nyaris seperti lubang yang dibuat oleh mesin presisi karena terlalu rapi."Ini bukan tembakan," gumamnya mengambil kesimpulan.Pria berkacamata ikut memeriksa dan wajahnya langsung berubah serius. "Dokumen." Katanya singkat menggumam."Maksudmu?” Raka menoleh padanya dengan penasaran."Ini alat pelubang arsip."Kini semua menoleh pada pria berkacamata."Alat pelubang?" Ulang Naya seakan kurang jelas mendengar.Pria berkacamata mengangguk dengan pasti. "Dulu dipakai untuk merusak berkas yang suda

  • Booking Terakhir   Chapter 47 : Tawaran

    "Siapa di antara kalian yang membawa map yang bukan miliknya?”Suara itu menggema ke seluruh ruang arsip. Walaupun tidaklah keras, namun sudah lebih dari cukup untuk membuat seluruh pegawai menghentikan aktivitas mereka.Hanya dalam hitungan detik, ratusan pasang mata kini beralih ke arah Raka, tanpa ekspresi kemarahan ataupun kepanikan sedikitpun dari mereka. Tampaknya mereka semua hanya menunggu saja, seolah jawaban atas pertanyaan itu sudah diketahui tanpa perlu ada yang bicara dari antara mereka.Sementara itu, Raka menggenggam map biru dengan lebih erat. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Logikanya segera mencerna tentang akibat yang akan ia dapatkan jika sebentar lagi ketahuan.Perempuan tua yang selama ini membantu mereka tetap berdiri tenang tak menunjukkan kepanikan ataupun kecemasan sama sekali. Tanpa menoleh, ia berbisik pelan kepada Raka."Kalau kamu lari, artinya kamu mengaku bersalah.”" Bagaimana kalau aku diam saja?" Tanya Raka yang kini mendekap map bi

  • Booking Terakhir   CHAPTER 4 – Satu yang Hilang

    Rak! Buruan! Kita check in dulu!”Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal.

  • Booking Terakhir   CHAPTER 3 – Reset Pertama

    Naya mundur satu langkah seolah tubuhnya menolak apa yang terlihat. “Itu…,bukan gue!” suaranya bergetar penuh penyangkalan cenderung sedikit histeris. Mendengar itu, Raka tidak menjawab karena dia juga melihatnya. Sosok di ujung lorong itu, tinggi, bentuk tubuh, rambut, bahkan cara berdirinya sama

  • Booking Terakhir   CHAPTER 2 – Tamu yang Tidak Terdaftar

    Raka membeku mematung tak mampu bergerak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Suara itu terlalu dekat, seolah seseorang benar-benar berdiri di belakangnya, menempel di punggungnya. Ia menoleh cepat. Kosong. Hanya pintu kamar mandi yang masih terbuka sedikit, menganga seperti mulut gelap.“Ini nggak

  • Booking Terakhir   CHAPTER 1 – Hotel yang Tidak Ada di Peta

    Hujan turun seperti seseorang sedang menghapus dunia, berhiaskan kilatan petir yang liar bebas menyambar.Raka menatap layar ponselnya, sinyal naik turun di sudut kanan atas. Jalanan yang mereka lewati sejak tadi berubah jadi jalur sempit, gelap, dan sepi. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada rumah. Ha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status