分享

8. Pembebasan

作者: Freyaa
last update publish date: 2023-09-26 19:06:26

Jordan kembali mendapat hadiah cambukan ke dua puluh tujuh. Ya, pria malang itu telah berada di penjara batu dalam pulau selama lima tahun.

Langley semakin menggila mencambuki punggung Jordan. Tetapi Jordan sudah tidak berteriak lagi juga tidak melantunkan firman Tuhan.

Sebaliknya Jordan justru tertawa terbahak-bahak, menantang Langley agar membunuhnya dengan cambukan.

Punggung Jordan sudah seperti akar pepohonan karena banyak terdapat bekas luka serta bilur-bilur daging menggumpal mengeras yang saling bersambungan.

"Kau menantangku, Jordan?!"

Sreekk ...Cratt!

Cambukan Langley berayun tinggi dan segera ujungnya tenggelam ke dalam luka pada punggung Jordan yang telah mengalirkan darah segar hingga menetes pada lantai batu.

"Kau sudah tua, Langley! Cambukanmu seperti elusan bayi!"

Jordan terbahak-bahak hingga memuntahkan seteguk darah dari tenggorokannya yang kian terasa perih. Jordan mempertaruhkan tubuh dan nyawanya sendiri untuk mengukur batas kemampuan Langley.

Langley kembali melebihi batas cambukannya yang seharusnya berjumlah dua puluh tujuh untuk Jordan, menjadi tiga puluh cambukan.

"Bawakan dia pakaian bersih setiap hari! Tubuhnya bau pesing dan sangat menjijikkan!" titah Langley seraya menyerahkan cambuknya ke salah satu dari dua pengawal yang bersamanya.

"Apakah perempuan dari Ben sudah datang?" tanya Langley pada petugas yang menyongsongnya saat dia telah berada di luar ruangan Jordan.

"Ya, mereka ada enam orang dan masih sangat muda-muda!" jawab sang petugas anak buah Langley.

Langley adalah anak buah Ben Horik yang diperintah pria itu untuk mengelola penjara pada tengah pulau. Semua kebutuhan Langley beserta para anak buahnya yang menemani Langley di pulau dipenuhi oleh Ben, termasuk kebutuhan perempuan setiap pekannya selalu datang silih berganti jika Langley tidak menahan para wanita 'hadiahnya' tersebut.

--

Air di dinding batu dalam ruangan penjara Jordan masih terus mengalir yang membuat pria itu bisa mandi bahkan dengan tubuh telanjang di dalam ruangannya, dimana air tersebut langsung menghilang meresap ke tanah bebatuan, tidak mengalir keluar ruangannya sehingga tidak pernah diketahui oleh para penjaga maupun Langley.

Jordan sedang berbaring telungkup, menatap tulisan di dinding ruangannya yang beberapa hari lalu kembali dia tajamkan menggunakan kerikil.

Tatapan Jordan mengarah pada sebuah batu yang dia jadikan untuk menghitung sudah berapa kali dirinya dicambuk oleh Langley.

"Uhm, sudah lima tahun lebih ...sepertinya sebentar lagi genap enam tahun atau memang telah enam tahun sekarang aku berada di sini?" gumam Jordan sambil berusaha bangkit dari tidur menelungkupnya untuk duduk dan menyandarkan punggungnya perlahan ke dinding batu.

Bibir Jordan berdesis seketika, merasakan ngilu dan perih saat tubuhnya bergerak.

Jordan meraba kepala dan sisi wajahnya yang sangat lebat ditumbuhi rambut, terasa kasar pada telapak tangannya. Janggut Jordan bahkan telah mencapai dadanya dan rambut di kepalanya hampir sepinggang.

Jordan mengais batu pada dinding, kemudian dia gosok-gosokkan batu tersebut ke bebatuan lain agar semakin tajam dan bisa dia gunakan sebagai pisau.

Benar saja, beberapa menit kemudian, kepala Jordan telah botak berdarah-darah dia gunduli menggunakan batu tajam di tangannya.

"Mama ...bagaimana kabarmu? Segera kita bisa bertemu, entah di dunia atau di surga ..." bisik Jordan yang sangat merindukan Mary Helena hingga dadanya terasa seperti membengkak setiap kali mengingat Mamanya.

Jordan menengadah melihat ke sekat kaca di atas langit-langit ruangannya. Malam telah turun dan sekat kaca memantulkan cahaya jingga masuk ke dalam ruangan.

"Hidupku tidak dimulai dengan kebencian. Terima kasih sudah mengajarkan sabar padaku, Tuhan ..." gumam Jordan sambil memposisikan tubuhnya seperti orang berdoa menghadap dinding batu, tempat air mengalir.

Entah sudah berapa lama Jordan berdoa hingga pria itu jatuh tertidur dan terbangun terkejut saat pintu baja ruangannya di buka paksa dari luar.

Jordan terbangun, beringsut mundur ke sudut ruangan sambil berdesis menahan perih dan ngilu pada punggungnya, luka bekas cambukan Langley yang telah membengkak.

Mata Jordan melihat tajam ke arah pintu yang berdebum terbuka di depannya.

"Jordan Smith Watanabe?!" ucap seorang pria bertubuh besar yang tidak bisa Jordan kenali wajahnya.

Tetapi Jordan tahu, tidak seorangpun pengawal Langley yang berbicara padanya sebelumnya. Penjaga mengantar makanan hanya berkata beberapa kalimat saja yang menyuruh makan atau mati. Tidak ada yang memanggil namanya lengkap seperti pria yang kini telah berdiri tegak dalam ruangan gelap, di depan Jordan.

"Ach sepertinya salah lagi!" gumam sang pria menggerutu berjalan mundur keluar dari ruangan karena tidak ada jawaban dari Jordan.

Saat sang pria telah berada di lorong, membuka ruangan penjara lainnya di sebelah ruangan Jordan dan berteriak menyebutkan nama lengkapnya kembali.

"A-aku ...aku Jordan ..." ucap Jordan terbata di belakang sang pria yang dia ikuti ke lorong.

Sang pria berjalan mundur menghampiri Jordan, tangannya mencengkeram wajah Jordan untuk dia tatap lekat-lekat.

"Ikut denganku!" ujar sang pria tegas sudah menarik pergelangan tangan Jordan untuk dia bawa pergi.

Sang pria melemparkan anak kunci pada salah satu tahanan yang berlari keluar agar membebaskan tahanan lainnya.

"Wah ...wah ...wah! Kalian mau pergi?" Langley bersama anak buahnya muncul menghadang langkah sang pria yang tidak lain adalah Maximus dan Jordan yang hendak menuju kapal di bagian bawah, satu-satunya pintu masuk dan keluar dari penjara di pulau tersebut.

Di belakang Jordan dan Maximus, para tahanan lain ikut mengekori mereka setelah ruangan tahanannya di buka oleh Maximus yang sebelumnya mencari Jordan.

Langley mengangayunkan cambuknya ke udara yang dia arahkan pada pria bertubuh besar di samping Jordan, namun Maximus yang sangat terlatih juga tidak kalah kejamnya dari Langley berhasil meraih ujung cambuk penjaga penjara tersebut.

"Ya! Kami dan semua tahananmu mau pergi. Siapkan kapal!" jawab Maximus dengan suara lantang menggelegar seperti ejekan pada Lanley.

Maximus menarik ujung cambuk yang dipegang erat oleh Langley tersebut dan dengan kecepatan kilat dia membanting tubuh kurus Langley ke dinding batu di sebelahnya.

"Cepat cari perahu di bawah! Dan kau ...bisa berjalan?"

Maximus memberikan titah pada tahanan lain dengan memberi mereka jalan agar bisa pergi ke bagian bawah penjara batu. Maximus sekilas sudah melihat punggung Jordan penuh luka dan darah mengering, karena pria muda yang terlihat jauh lebih tua dari usianya tersebut belum mengenakan atasannya.

Meskipun masih bingung dengan apa yang terjadi, kepala Jordan mengangguk menjawab pria besar yang baru saja membanting Langley tersebut.

Para tahanan berlarian menuruni lorong dan tangga batu menuju ke bawah. Walaupun berhadapan dengan anak buah Langley, tetapi anak buah Langley kalah jumlah dari para tahanan . Sehingga dengan mudah tubuh mereka dirobohkan dan diinjak-injak oleh para tahanan yang ingin pergi meloloskan diri dari penjara terkutuk tersebut.

"Kau tidak bisa pergi!" seru Langley sudah bangkit berdiri mencekal lengan Jordan dan membantingnya ke tanah.

Maximus menggeram dengan sorot mata seakan menyala kejam. Tidak ada orang yang berani memprovokasinya saat berhadapan dengannya, meski dia tetap akan menghabisi nyawa para targetnya.

Tubuh Maximus berputar dan menendang perut Langley bertubi-tubi hingga sebuah tinju telak pada pangkal lehernya.

"Jangan! Jangan bunuh dia! Tuhan bahkan tidak pernah dendam pada pengkhianat dan penyiksanya ..." ucap Jordan lirih sambil terbatuk-batuk darah, menahan pakaian bagian samping pinggang Maximus.

Maximus menyeringai mendengar ucapan Jordan, tetapi pria itu menurutinya untuk tidak membunuh Langley.

Maximus membantu Jordan bangkit berdiri dan tepat saat itu pula sebuah pisau melayang ke arah kening Jordan.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
評論 (2)
goodnovel comment avatar
senja_awan
baik hati sekali kau Jordan.........butuh waktu 5 th unk bisa menemukan Jordan
goodnovel comment avatar
Zetha Salvatore
Lembutnya hatimu, Jordan
查看全部評論

最新章節

  • Boss Mafia Tak Terjamah   71.

    Berhari-hari telah berlalu, namun Jordan tetap tidak merasakan sedikit pun keberadaan Zero mendatangi kediamannya maupun berkeliaran di dalam hutan belakang kediaman Jola.Ninja itu seolah menguap ditelan bumi.Meskipun begitu, Jordan tidak ingin lengah. Ia memanfaatkan waktunya untuk berlatih fisik jauh lebih keras dari biasanya."Kenapa sih kau berlatih sekeras ini? Lihat, tanganmu sampai tergores begini!" omel Lagertha lembut sambil meringis pelan saat mengoleskan cairan antiseptik ke lengan Jordan.Akibat latihan keras dan meniru gerakan tupai serta hewan-hewan yang Jordan itu, lengan Jordan juga sedikit mengalami keseleo. Imbasnya, ia agak kesulitan untuk menggendong Joshua.Sementara itu, sang bayi tampan sedari tadi hanya memandangnya dari kereta bayi dengan tatapan polos nan tajam. Kelopak mata bulat Joshua hampir tak berkedip dan bibir mungilnya menolak tertawa renyah karena belum mendapatkan perhatian dari Jordan."Sayang, tolong ambilkan kain gendongan. Aku mau menggendong

  • Boss Mafia Tak Terjamah   70.

    Setelah makan malam, Jordan melakukan rutinitasnya seperti biasa, berpatroli mengelilingi kediaman Jola. Namun, begitu langkah kakinya tiba jauh ke dalam pekatnya hutan belakang, ia hanya merasakan kesunyian yang ganjil.Tak ada tanda-tanda Zero sedang bersembunyi di atas dahan. Hanya ada suara jangkrik dan binatang malam yang aktif berceloteh, saling bersahutan di sekelilingnya."Ada apa?"Suara berat itu memecah lamunan Jordan. Maximus rupanya berjalan menyusul, mengikuti Jordan dari belakang. Langkah Maximus yang besar kini berhenti tepat di samping Jordan."Gak ada apa-apa. Hanya saja, kesunyiannya terasa lebih mencekam dari biasanya," elak Jordan.Sampai detik ini, Jordan memang belum menceritakan tentang keberadaan Zero pada Maximus ataupun siapa pun di rumah ini.Langkah kaki Jordan kembali bergerak santai, berjalan beriringan kembali ke kediaman dengan Maximus yang matanya tetap waspada, memindai hutan gelap di sekeliling mereka."Lagertha tadi pagi nanya tentang mobil sport i

  • Boss Mafia Tak Terjamah   69

    Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Angin dini hari berembus pelan, membuat dedaunan berdesir lembut di tengah sunyinya hutan. "Apakah kau tak memiliki tempat tinggal? Atau Mister Bough memang tak mampu membayarmu, sampai setiap malam kau datang berkeliaran di hutan ini?" tegur Jordan dingin. Di atas salah satu dahan pohon besar, Zero yang sejak tadi berbaring malas membuka sebelah matanya memandang Jordan di bawahnya. Senyum tipis muncul di balik topeng yang menutupi wajah pria itu. Dengan gerakan ringan, Zero melompat turun dan mendarat tepat tiga langkah di depan Jordan. "Kenapa?" tanyanya santai, "Kau berniat memberiku kamar di kediamanmu untukku tinggal?" Zero memiringkan kepala, "Aku juga tidak keberatan jika kau memintaku tidur sekamar dengan Lagertha, istri kesayanganmu itu." tambahnya dengan nada mencemooh. Jordan tersenyum sinis dan jari-jemarinya terkepal kuat pada sisi tubuh. "Teruslah bermimpi sampai ..." kalimat Jordan terputus dan tubuhnya sudah b

  • Boss Mafia Tak Terjamah   68.

    Sementara itu, di kediaman Jola, malam terasa jauh lebih tenang di permukaan, namun tidak bagi Jordan.Sudah lima hari Jordan tak pernah lagi menapakkan kaki memasuki hutan di belakang kediamannya. Bukan karena ia didera ketakutan, melainkan karena ia tahu, ada seseorang yang selalu datang dan menunggunya di sana.Bahkan, setiap tengah malam, Jordan bisa mendengar suara kecil seperti kerikil yang dilempar pelan ke jendela kamar. Lalu diikuti desingan halus tubuh yang melompat turun dari balkon, nyaris tanpa suara yang tak bisa terdeteksi oleh pendengaran orang biasa, tetapi Jordan bisa menangkap semua kode tersebut. Jordan tak perlu mengintip untuk tahu siapa pelakunya.Zero!Ninja bertopeng yang secara terang-terangan pernah mengatakan bahwa ia akan membunuh Jordan …jika suatu hari kemampuan bela diri mereka berada pada tingkat yang setara.Di atas ranjang, sebuah gerakan kecil membuyarkan lamunan Jordan. Lagertha menggeliat pelan, jemarinya mencengkeram tepian celana Jordan, seolah

  • Boss Mafia Tak Terjamah   67. Dua Bidak

    Amarah Ben Horik meledak seketika saat tubuh asisten kepercayaannya yang sebelumnya mengantarkan dokter pergi keluar dari kediaman setelah memberikan perawatan pada Yuri, kini jatuh terjerembab ke lantai marmer.Suara benturan itu menggema pendek, disusul pemandangan yang membuat seluruh ruangan membeku. Darah hitam kental merembes deras dari hidung, mulut dan telinga sang asisten, mengalir tanpa kendali seperti tinta pekat yang menodai lantai.Sang dokter, sebelum tewas, berhasil menyuntikkan racun mematikan ke dalam tubuh asisten itu. Sebuah prinsip terakhir yang keji, jika ia tak bisa keluar hidup-hidup dari kediaman Ben Horik, maka orang yang menghalanginya juga tak berhak bertahan hidup.Napas Ben Horik mendadak berat. Dada bidang tebalnya naik turun kasar, seolah amarah yang menggelegak di dalam tubuhnya menekan paru-parunya sendiri. Urat di pelipisnya menegang, rahangnya mengatup keras hingga terdengar bunyi berderak halus.Ben melangkah keluar dari ruangan menuju ruang kerjany

  • Boss Mafia Tak Terjamah   66. Lanjut?

    Di ruang bawah tanah sebuah restoran mewah, Mister Bough duduk bersama Tiger, asisten setianya, mengelilingi meja bundar bersama dua pejabat tinggi pemerintahan yang tadi juga ikut rapat bersama Menteri Dalam Negeri. Hidangan di atas meja sudah dingin, hampir tak disentuh. Sebaliknya, minuman keras terus dituang, ke setiap gelas jika sudah tinggal setengah, seolah percakapan yang berlangsung jauh lebih berat daripada rasa lapar mereka."Ceritakan tentang Jordan, bagaimana pria itu bisa membuat Ben Horik membelot?" tanya pejabat yang lebih muda dengan sikap tenang. Pejabat di sebelahnya, yang usianya lebih tua dari Mister Bough, menyalakan cerutu. Pria itu menghisap cerutunya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap perlahan sambil menatap tajam ke arah Mister Bough dan Tiger, seolah matanya bisa menilai."Saya ragu jika Ben membelot ...tapi pria itu menanam lalat di sekitar kita." ucap Mister Bough dengan nada suara rendah, setelah menyesap seteguk minuman di gelasnya. “Lalu bagaimana mu

  • Boss Mafia Tak Terjamah   9. Keturunan Ninja

    Langley mengambil pisau yang terselip di samping pahanya dan langsung melemparkannya ke arah Jordan. Namun ... Maximus yang sudah terlatih merasakan bahaya, menoleh dan menangkap pisau dengan telapak tangannya yang langsung dia genggam erat selama beberapa detik. Lalu membalikkan dan melemparkan p

  • Boss Mafia Tak Terjamah   7. Putri Sang Bos Mafia

    "Papa!" Lagertha meloncati beberapa anak tangga dan berlari masuk ke ruangan makan sambil memanggil Papanya yang sedang duduk hendak sarapan. "Och, pakaian apa yang kamu pakai, Young Lady?!" protes Priskila pada putrinya yang memakai pakaian serba mini, hanya terlihat menutupi bagian penting pad

  • Boss Mafia Tak Terjamah   6. Pembunuh Kejam

    "Aku hanya ingin anak darimu, Sayang!" bisik sang pria sembari meraba celah lembut pada sela paha wanita yang duduk di sampingnya. Tangan sang pria menyentak hingga robek penutup tipis yang menghalangi jemarinya dari memasuki celah lembut wanitanya. "Och ...!"Sang wanita menjerit tertahan namun

  • Boss Mafia Tak Terjamah   5. Keajaiban & Penyiksaan

    Jordan menengadah ke atas kaca bening di langit-langit ruangannya dan kembali memperhatikan jika air merembas dari langit-langit ke dinding. Titik air yang sebelumnya menimpa kepalanya sudah tidak ada, namun dinding batu ruangannya masih sangat lembab."Jika ruangan ini paling atas dan bisa meliha

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status