Mag-log in“Malam ini gue telepon bokap. Lo dan Pak Dev bisa ikut acara lamaran gue, kan? Keluarga gue nggak banyak, jadi biar nggak sepi-sepi amat, ikut, ya. Please.”
”Iya, iya. Nanti gue datang.” Naila lalu menoleh pada Devan yang kini sibuk dengan ponselnya, “kamu ngapain, Mas?””Chat Om Hadi, bilangin malam ini ke Jakarta, aku pesanin tiket. Aku bilang anak cowoknya ngamilin cewek.””Pak! Buset!”Naila tertawa keras, sementara Devan menyeringai, ia menunjukkan layar ponselnya yang meNaila mendekati ranjang, kakinya perlahan naik ke permukaan kasur. Ia berdiri di sana, di depan Devan, dengan gerakan pinggul yang halus dan penuh percaya diri. Sambil berputar, ia membiarkan bahu gaun tidurnya melorot sedikit, memperlihatkan kulit lembut di bawahnya. Tangannya kemudian menarik bagian gaun itu lebih rendah, hingga akhirnya kain sutra itu tidak lagi menampung payudaranya yang padat. Naila terus menari dengan sensual di depan Devan yang bersandar di kepala ranjang, wanita itu kemudian melepaskan celana dalamnya lalu melemparnya ke dada Devan.Devan tersenyum, meraih celana dalam itu dan menggenggamnya. Istrinya masih masih berdiri di atas ranjang, perlahan Naila memutar tubuh membelakangi Devan, wanita itu kemudian duduk mengangkang lalu merendahkan tubuhnya ke depan, memperlihatkan bokongnya yang mulus kepada sang suami, Naila menggerakkan bokong itu seolah sedang bercinta, gerakan twerking dan mendorong pinggulnya maju mundur ke depan. Devan mengelus kejant
“Malam ini gue telepon bokap. Lo dan Pak Dev bisa ikut acara lamaran gue, kan? Keluarga gue nggak banyak, jadi biar nggak sepi-sepi amat, ikut, ya. Please.””Iya, iya. Nanti gue datang.” Naila lalu menoleh pada Devan yang kini sibuk dengan ponselnya, “kamu ngapain, Mas?””Chat Om Hadi, bilangin malam ini ke Jakarta, aku pesanin tiket. Aku bilang anak cowoknya ngamilin cewek.””Pak! Buset!”Naila tertawa keras, sementara Devan menyeringai, ia menunjukkan layar ponselnya yang meminta Hadi, Mulan dan juga Meiska ke Jakarta malam ini juga. Devan juga segera memesan tiket pesawat untuk mereka.”Pak, astaga, bapak saya nanti jantungan.””Nggak, jantung Om Hadi baik-baik aja.” Devan terkekeh puas melihat wajah pucat Agus, terlebih saat ponsel yang Agus letakkan di atas meja bergetar dan nama ‘Bokap’ tertera di layarnya.”Mampus,” gumam Agus segera mengangkat panggilan itu, “halo, Pa.””KAMU HAMILIN CEWEK? AGUSTIAN NUGROHO, KAMU BENERAN NGAMILIN CEWEK?!
Naila hanya bisa mengangguk, meskipun matanya yang penuh air mata menunjukkan betapa besar rasa sakit yang ia alami. Dengan satu tarikan napas dalam, ia mendorong tubuhnya lebih kuat, mengikuti instruksi dokter yang sudah menunggu di dekat kakinya. Devan menatap istrinya dengan penuh kekaguman, merasakan bagaimana tubuh Naila berjuang untuk melahirkan anak mereka. Ia merinding melihatnya, merasa tidak pernah menyadari betapa beratnya proses ini bagi seorang wanita. Hatinya nyaris meledak dengan campuran perasaan—cinta yang tak terbatas dan ketakutan yang mendalam—melihat betapa kuatnya Naila menghadapi rasa sakit itu.Matanya terasa panas oleh air mata, yang perlahan mengalir di pipinya tanpa bisa ia cegah. Ia merasa begitu terharu, tidak hanya karena melihat perjuangan Naila, tetapi juga karena ia tahu ini adalah hal yang paling menakjubkan di dunia.Naila mengerang sekali lagi, tubuhnya sedikit menegang saat kontraksi datang begitu hebat. Devan menggenggam tangannya lebih
Naila sedang terlelap dengan napas yang teratur, tubuhnya yang kelelahan tertidur nyenyak di sisi Devan. Namun, tiba-tiba, rasa nyeri yang tajam menusuk perutnya. Ia tersentak bangun, memegang perutnya sambil mengerutkan kening. Napasnya memburu, dan tangannya dengan gemetar menyentuh lengan Devan.“Mas … Mas, perutku sakit,” bisiknya pelan, tapi penuh kepanikan.Devan yang tadinya tidur lelap, langsung membuka matanya. Ia melihat wajah Naila yang menahan sakit, tanpa banyak bertanya, ia segera bangun dan duduk di sisi istrinya. “Sakit banget, Sayang?” tanyanya dengan nada cemas, tangan besarnya sudah mengusap perut Naila dengan lembut, mencoba memberikan kenyamanan.Devan merasa detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya ketika ia melihat Naila duduk sambil menggigit bibirnya dan meremas selimut. Raut wajah Naila berubah, tubuhnya bergetar sedikit saat ia mengerang menahan sakit. Sejenak, Devan merasa dunia seakan berhenti berputar. Ini adalah kali pertama ia m
“Keras banget, kayaknya jadi lebih gede, ya,” Naila mencium batangnya dengan kecupan-kecupan kecil.”Dua minggu nggak diapa-apain,” jawab Devan menahan napas karena kini bibir Naila menciumi pangkalnya yang besar, Naila membuka mulut dengan lebar, mengisap pangkal yang terasa semakin keras di mulutnya. Lidahnya membelai kulit kejantanan yang menonjolkan urat-urat, ia mengulum batang itu dari samping, dari pangkal sampai ke tengah sebelum Naila kembali mengulum bagian atasnya dengan kuat. “S—Sayang ….” Napas Devan memberat seiring dengan kejantanannya yang terus dikulum oleh istrinya.”Mas Dev ….” Naila melepaskan kejantanan itu, ia merangkak untuk mencium leher suaminya, Devan mendongak agar Naila bisa mencium jakunnya dengan lebih leluasa, wanita itu memainkan jakun Devan seperti ia memainkan kejantanan pria itu barusan. Puas mencium leher sang suami, Naila mengarahkan ciumannya di dada bidang Devan, menjilat dan mengisap puting dada Devan hingga Devan terkesiap, di bawah sana, Naila
Tanpa sadar, air matanya mengalir. Isakannya mulai terdengar, pelan tapi cukup nyata hingga membuat dadanya terasa berat. Ia meraih ponselnya, menekan nomor Devan, berharap suaminya bisa memberinya sedikit ketenangan. Panggilan itu dijawab setelah beberapa detik. Wajah Devan muncul di layar melalui video call, ekspresinya langsung berubah panik begitu melihat mata Naila yang basah.“Sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanyanya cepat, suaranya penuh kekhawatiran.Naila hanya terisak, menutupi wajahnya dengan satu tangan. “Aku … aku kangen sama kamu, Dev,” ujarnya lirih. “Aku nggak bisa tidur … aku terbiasa kamu ada di sini. Aku butuh kamu peluk.”Devan mengusap wajahnya sendiri, tampak frustasi karena jarak memisahkan mereka. “Sayang, aku juga kangen banget sama kamu. Tapi aku masih ada pekerjaan di sini. Aku nggak bisa pulang besok. Maafin aku, ya.”Naila menggeleng sambil terisak. “Aku ngerti kamu kerja. Tapi aku nggak tahu kenapa aku ngerasa sedih banget malam in
Naila berdiri, keluar dari ruang meeting menuju ruang kerja Devan, ia mengetuk pintu dengan pelan. ”Masuk!” Terdengar sahutan dari dalam. Naila mendorong pintu. “Permisi, Pak.” ”Ada apa?” tanya Devan sambil sibuk menatap layar laptopnya. “Saya mau tanya soal desain yang barusan, salahnya di
Naila: Tok tok Xoxo: Hmm? Naila: Udah makan siang? Xoxo: Belum, sebentar lagi. Ada apa? Naila: Nanya aja kali, Pak. Xoxo: Kamu di mana? Naila: Kantin. Xoxo: Aku titip makanan. Naila: Dih, ogah. Sini aja turun sendiri. Males jadi babu. Xoxo: Aku sudah berbaik hati ngasih tim kamu m
“Lo nggak ke apartemen gue, kan?” Naila memastikan Tere akan ke apartemennya atau tidak, karena kalau sahabatnya itu datang, rencana terpaksa berubah, Naila tidak bisa membiarkan Devan datang ke tempatnya. ”Nggak, Randi mau nginap di tempat gue,” jawab Tere sambil menunggu makanannya diantar. “Ken
Naila sedang menunggu flat white-nya bersama Agus, Edo dan Gabriel. ”Gue nggak tidur mikir revisian semalaman, memang anjing tuh bos,” umpat Agus dengan wajah kusut. ”Yang nyuruh lo mikir semalaman siapa? Tidur, makanya,” sahut Naila. ”Masalahnya kalau proyek ini dilempar ke tim lain, hilang h







