LOGIN“Dev ….”Devan membalik tubuh Naila, membuat Naila menungging padanya, kali ini Devan mengambil vibrator yang berbentuk lonjong dengan ukuran kecil, ia menghunjam sambil melumasi vibrator itu dengan pelumas, Devan mengatur getarannya yang lembut.”Rileks,” ujar Devan mulai mengolesi bagian belakang Naila dengan pelumas.”Sayang?!” Naila menoleh melalui bahu.”Rileks, Sayang.” Devan mendorong ujungnya yang bergetar untuk masuk.”DEVAN!” Naila menjerit saat merasakan getarannya. “AH!” Devan dengan mudah mendorong benda lonjong kecil itu masuk sepenuhnya, bagian tali dan pegangannya dibiarkan agar Devan bisa menariknya keluar nanti. “DEVAN!” Naila menghentakkan pinggulnya saat toys di dalamnya bergetar lembut. Ia terengah-engah sementara Devan kembali menghunjam. “S—Sayang, ah! Ah!” Naila ikut menggerakkan pinggulnya saat Devan bergerak, tangannya meremas bantal begitu kuat.Ciuman Devan memenuhi punggung Naila, ia menarik pinggul itu semakin menungging untuknya, sambil terus menghunjam,
Devan tersenyum samar, Ia menyandarkan kepala ke atas bantal membiarkan dirinya larut dalam pertunjukan yang Naila persembahkan hanya untuknya.Dengan gerakan perlahan, Naila melepas stockingnya satu per satu, memainkan kain tipis itu dengan gaya yang anggun namun menggoda. Ia membungkuk sedikit, memberi Devan pemandangan siluetnya yang sempurna. Tangannya terus bermain di rambut dan pinggulnya, ketika akhirnya Naila mendekatkan dirinya, duduk perlahan di pangkuan Devan dengan tatapan yang intens, Devan tak bisa menahan senyum lebarnya. “Kamu cantik banget.”Naila tertawa kecil, sengaja menarik tali korsetnya lebih longgar agar payudaranya terlihat. Ia menyentuh dan membelai dada dan bahunya dengan tangan yang lentik, gerakan yang mengundang hasrat. Naila lalu melepaskan korset itu perlahan-lahan hingga hanya tersisa celana dalam hitam yang membungkus tubuhnya. Ia memakai kembali stocking jaring-jaring itu lalu duduk di atas Devan dengan posisi bersimpuh. Dengan perlaha
Setelah memberikan ucapan selamat, Handoko mundur sejenak dan berdiri bersama keluarganya, Naila memalingkan wajahnya, mencoba mengalihkan perhatian dari Handoko yang masih berdiri bersama ayah mertuanya, berbincang dengan suara rendah. Tatapan Naila tertuju pada ibunya yang hanya diam, wajah ibunya tampak biasa saja, melihat tangan ibunya memeluk lengan Hadi, Naila tersenyum kecil. Ia dan ibunya pasti akan baik-baik saja karena mereka memiliki pria-pria hebat yang akan melindungi mereka dari rasa sakit. Naila ikut memeluk lengan Devan, begitu Devan menunduk untuk menatapnya sambil tersenyum, Naila berjinjit untuk mengecup pipi suaminya.Meskipun sempat sedikit terkejut karena kehadiran ayahnya, nyatanya Naila kembali ke titik bahagia dalam hidupnya. Kini ia memakai gaun untuk makan malam. Ia duduk di samping Devan di meja mereka. Devan menarik kursi Naila mendekat dan menyentuh paha Naila yang terbuka karena belahan gaunnya yang mencapai paha.“Sengaja pilih gaun yang belah
Alfariel, yang tak bisa menahan tawa, menepuk bahu Devan dengan penuh kasih sayang. “Coba dibaca pelan-pelan dalam hati. Nggak usah buru-buru, nggak ada yang mau dikejar. Toh malam pertama juga bakal tetap dilakuin malam hari,” kekeh Alfariel.Devan melirik dengan wajah sebal. “Nggak lucu, Yah.””Emang, Ayah kan bukan pelawak,” jawab Alfariel santai.Devan kembali berdecak kesal. Ketika suasana tiba-tiba hening, penghulu yang duduk di depan mereka membuka pembicaraan. Suaranya tenang dan penuh kebijaksanaan. “Saudara Devan Wijaya, apakah Anda sudah siap untuk melanjutkan prosesi pernikahan ini?”Devan menatapnya sejenak, menarik napas panjang dan mencoba untuk mengumpulkan keberanian. Dengan perlahan, Devan meraih tangan penghulu dan menjabatnya. Suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha untuk terlihat tenang. “Saya siap,” jawabnya, penuh tekad meskipun perasaannya masih campur aduk.Penghulu tersenyum, seolah tahu bahwa Devan sudah siap meskipun tampak gugup.
“Gimana, Bun?” tanya Naila sambil memutar pelan.Arabella mengangguk pelan, tapi ekspresinya menyiratkan sesuatu. “Cantik, tapi… belum cukup wow. Kita coba yang lain.”Naila mencoba beberapa gaun lagi, hingga akhirnya ia mengenakan gaun berbahan satin lembut dengan siluet mermaid. Detailnya sederhana namun menonjolkan keanggunan, dengan kerah berbentuk sweetheart dan taburan mutiara di bagian ekor. Saat Naila melangkah keluar, ruangan itu menjadi hening.“Naila ….” bisik Arabella sambil berdiri dari tempat duduknya. Matanya berkaca-kaca. “Ini cantik banget, Kak.”Aurel tersenyum lebar, puas dengan pilihannya. “Aku juga udah feeling kalau ini bakal cantik banget di tubuh Naila.”Naila menatap dirinya di cermin panjang, merasa sedikit emosional. “Iya, cantik,” bisiknya pelan.Arabella memeluk Naila erat. “Nggak sabar lihat kamu sama Dev nikah.”Naila tersenyum dan membalas pelukan Arabella.”Oh, ya, kita harus pilih gaun buat makan malam dan after party
Naila mengangguk perlahan. “Ya, keluarga. Dan gue mau lo datang ke nikahan gue bukan sebagai temen, tapi sebagai keluarga gue.”Ucapan itu membuat Agus terdiam. Ia menatap Naila dengan campuran emosi yang sulit dijelaskan, antara haru dan bahagia. “Lo serius, Nai?” tanyanya, suaranya sedikit serak.Naila mengangguk mantap, menatap Agus dengan penuh keyakinan. “Iya. Gimana? Lo mau?”Agus tersenyum kecil, lalu mengangguk dengan mantap. “Tentu aja. Gue bakal datang, bukan cuma sebagai keluarga, tapi juga sebagai orang yang bangga sama perjuangan lo.”Naila tersenyum lega, meraih tangan Agus sejenak dan menepuknya ringan. “Thanks, Gus.”Percakapan mereka berakhir dengan kehangatan yang berbeda. Hubungan saudara tiri yang dulu mungkin terasa jauh, kini seolah menemukan tempat baru. Agus menatap Naila dengan rasa bangga yang tulus, sementara Naila merasa sedikit lebih kuat, mengetahui ia punya satu orang lagi yang benar-benar mendukungnya.”Nai, boleh nanya sesuatu
”Devan! Jangan main-main, ih!”Pria itu tersenyum senang, “kenapa? Enak?” Devan mendorong pelan, lalu menariknya lagi. Padahal ia sendiri sudah nyaris gila dengan apa yang ia lakukan, tapi Devan senang membuat Naila ikut gila bersamanya, pinggul wanita itu bergerak ke arahnya dengan tidak sabar, su
”Iya, kita. Lagi mikir, kalau kita punya hubungan lebih dari sekedar partner seks, bakal gimana?”“Dev—“”Aku boleh dong mikir? Kan cuma mikir, nggak maksa kamu jadi pacar.”Naila menyentuh wajah Devan, menatapnya lekat. Dan Devan membalas tatapan itu terang-terangan, menunjukkan emosi yang tersimp
Naila menggeleng, “sorry nggak bisa, gue mau selesaikan kerjaan.””Ikut aja lah, kapan lagi bisa makan-makan pake kartunya Pak Dev?””Kalian aja,” Naila kembali fokus pada laptop, mengabaikan orang-orang yang sibuk merencanakan untuk makan siang bersama hari ini.“Kamu nggak ikut sama yang lain?” D
(Awal mula Devan dan Naila menjalin hubungan)Devan melepaskan dasi yang melingkari leher, pria itu melempar dasinya ke kursi kosong di sampingnya lalu keluar dari mobil untuk memasuki Litera. Devan merasa akhir-akhir ini hidupnya monoton sekali, hari-harinya dipenuhi pekerjaan, baik fisik maupun m







