Mag-log inValeria Laurent selalu percaya bahwa pernikahan adalah tentang komitmen dan kesetiaan. Namun setelah dua tahun menikah dengan Alexander Sinclair, pengacara muda paling berpengaruh sekaligus pewaris firma hukum elit Kingsley & Partners. Ia menyadari satu kenyataan pahit, dirinya hanyalah istri formal yang tidak pernah benar-benar dicintai. Di malam ulang tahun pernikahan mereka, Valeria tanpa sengaja mendengar rencana perceraian suaminya bersama wanita lain... Selena Beaumont, model terkenal yang selama ini menjadi cinta sejati Alexander. Yang lebih menyakitkan lagi, Alexander bahkan tidak pernah menyentuhnya selama dua tahun pernikahan mereka. Terluka dan dipermalukan, Valeria memilih berhenti berharap. Ia memutuskan meninggalkan Alexander dan mengakhiri pernikahan dingin itu dengan caranya sendiri. Namun keputusan tersebut justru menjadi awal dari obsesi baru Alexander. Untuk pertama kalinya, pria dingin yang selalu mengabaikannya mulai kehilangan kendali. Saat rahasia keluarga, perebutan kekuasaan firma hukum, dan skandal pengkhianatan perlahan terungkap, Valeria harus memilih—tetap bertahan pada cinta yang telah menghancurkannya, atau pergi sebelum semuanya terlambat. Tetapi Alexander Kingsley tidak pernah terbiasa kehilangan apa yang menjadi miliknya.
view more“Pasti Alex senang dengan kejutan aku. Hari ini ulang tahunnya dan aku ingin membuatkan acara spesial untuknya.” ujar Valeria sambil tersenyum.
Kotak kue itu terasa lebih berat dari seharusnya. Valeria Laurent menatapnya sekilas sebelum kembali melangkah masuk ke dalam gedung megah milik keluarga Pradiptama. Lantai marmer mengkilap, lampu kristal, dan aroma khas ruangan ber-AC menyambutnya seperti biasa.
“Selamat siang, Bu Valeria.”
Sapaan ramah dari resepsionis membuatnya tersenyum tipis.
“Siang. Alex ada di ruangannya?”
“Ada, Bu. Sepertinya masih meeting dengan Pak William.”
Valeria mengangguk pelan. “Tidak apa-apa, saya tunggu di dalam ruangan Alex saja.”
Ia tidak ingin membuat kejutan ini gagal. Hari ini, ia ingin menjadi istri yang benar-benar hadir.
Langkahnya pelan tapi pasti menuju lift privat. Tidak ada yang menghentikannya. Tidak ada yang mempertanyakan kehadirannya.
“Semoga kamu suka dengan kejutan kecil dariku ini,” gumam Valeria.
Pintu lift terbuka. Lantai atas terasa lebih sunyi, eksklusif, dan entah kenapa lebih dingin. Valeria melangkah menyusuri koridor menuju ruang kerja Alex, jantungnya berdetak lebih cepat dengan gugup yang tak bisa ia jelaskan.
Ia berhenti di depan pintu kayu besar berukir sederhana namun elegan. Senyum kecil terbit di bibirnya saat tangannya terangkat untuk mengetuk, tetapi sebelum jarinya menyentuh permukaan pintu, suara dari dalam menghentikannya.
“…aku tidak ingin menunda ini lagi, Pa.”
Suara Alex terdengar jelas dan tenang seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Valeria tidak sengaja terdiam, bukan karena ingin menguping. Tapi karena kalimat itu, terasa tidak biasa.
“Apa maksudmu?” suara berat William Sinclair terdengar dari dalam.
Suasana hening sejenak. Lalu, ““Aku ingin menceraikan Valeria.”
Dunia seakan berhenti. Tangan Valeria yang memegang kotak kue langsung menegang dan napasnya tertahan.
Ia mencoba meyakinkan diri kalau dirinya salah dengar, namun suara Alex terdengar lagi. Kali ini lebih tegas dan lebih jelas.
“Selena sudah kembali dari Milan City.”
Nama itu. Nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, tapi entah kenapa langsung terasa seperti pisau yang menusuk.
“Dan aku tidak ingin terus hidup dalam kepura-puraan seperti ini.”
Kotak kue di tangannya bergetar halus, jari-jarinya mulai kehilangan kekuatan.
“Alex,” suara William terdengar berat. “Kita sudah pernah membahas ini. Perempuan itu…”
“Aku tidak peduli.” Alex memotong dengan cepat.
Kata-katanya dingin dan tanpa ragu.
“Aku sudah cukup lelah menjalani pernikahan ini.”
Pernikahan ini. Berarti selama ini dia menganggap pernikahan ini hanya sebagai kewajiban dan sebuah beban.
“Dua tahun sudah lebih dari cukup,” lanjut Alex. “Aku sudah melakukan bagianku.”
Bagian. Kata itu terasa seperti tamparan, jadi selama ini.
Semua kebaikan, semua perhatian kecil, dan semua sikap lembut Alex. Hanya kewajiban?
“Tapi keluarga Sinclair bukan keluarga sembarangan,” suara William mulai menekan. “Perceraian ini akan berdampak besar.”
“Lebih baik daripada aku terus hidup dengan seseorang yang tidak aku cintai.”
Hening. Benar-benar hening. Namun di balik pintu itu, dunia Valeria runtuh seketika. Tidak ada teriakan, tidak ada air mata. Hanya kehampaan yang perlahan menyebar di dadanya.
Tangannya melemah, kotak kue itu hampir terjatuh. Namun ia menahannya dengan sisa tenaga yang masih ia miliki.
“…aku akan menyelesaikannya dengan baik,” suara Alex kembali terdengar. “Valeria tidak akan dirugikan.”
Kalimat itu entah kenapa terasa paling menyakitkan, “tidak akan dirugikan.” Seolah pernikahan ini hanya transaksi, seolah perasaan bisa diganti dengan uang, fasilitas, atau kompensasi. Valeria tersenyum pelan, tapi tidak pernah sampai ke matanya. Kini ia benar-benar mengerti, selama dua tahun Alex tidak pernah menyentuhnya, bukan karena butuh waktu atau ingin mengenalnya, melainkan karena sejak awal ia tidak pernah menginginkannya.
Valeria mundur perlahan, menahan suara langkahnya seolah menjaga sisa harga dirinya. Ia tidak jadi mengetuk, tidak jadi masuk, tidak jadi memberi kejutan, karena justru dirinya yang terkejut. Lift terasa jauh saat ia kembali, kakinya berat. Saat pintu menutup, ia akhirnya mengembuskan napas panjang tanpa air mata. Kotak kue di tangannya masih utuh, cantik, sempurna, seperti pernikahannya di mata orang lain. Ia menatapnya lama, lalu tertawa kecil, nyaris tidak terdengar.
“Lucu sekali…” bisiknya.
Hari ini ia datang untuk merayakan ulang tahun suaminya. Namun yang ia dapatkan adalah akhir dari pernikahannya.
Dan ironisnya, ia bahkan belum pernah benar-benar menjadi seorang istri.
“Jadi selama ini semua hanya pura-pura,” gumam Valeria.
Tangannya mencengkram setir mobil dengan kuat, sementara air mata mengalir tanpa henti dari kedua matanya.
“Kenapa? Kenapa kamu membohongiku selama ini? Dua tahun, bukan waktu yang singkat.” ujar Valeria dengan nada lirih.
Ponselnya berbunyi. Panggilan masuk dari Natalia, sahabatnya.
“Halo,” jawab Valeria yang berusaha menyembunyikan tangisannya.
“Halo Val, kamu udah sampai kantor Alex?” tanya Natalia.
“Aku… aku udah kesana.” jawab Valeria dengan terbata-bata.
“Val, kamu kenapa? Kok suaranya kayak orang habis menangis?” tanya Natalia penasaran.
“Aku gak apa-apa Nat, sekarang aku dalam perjalanan kembali ke kampus.” Valeria berusaha menutupi.
“Ya udah, kita ketemu di kampus ya. Pokoknya kamu harus cerita.”
Valeria tidak menjawab, ia langsung memutus panggilan dan meletakkan ponselnya.
Ia memejamkan mata sejenak, menahan gelombang emosi yang datang tanpa permisi, napasnya naik turun tidak teratur sementara jalanan di depannya tampak kabur oleh lampu kendaraan dan air mata yang tidak kunjung reda. Ia memperlambat laju mobilnya, ia tidak boleh seperti ini lalu dengan satu tangan menghapus air matanya dengan kasar, bukan karena ingin terlihat kuat, tetapi karena ia menolak terlihat lemah, bahkan di hadapan dirinya sendiri.
“Cukup, Valeria…” bisiknya pelan.
Mobil tiba-tiba berhenti di bahu jalan. Ia menunduk, kedua tangannya mencengkeram setir lebih erat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menahannya agar tidak benar-benar hancur.
Dua tahun. Dua tahun ia menunggu. Dua tahun ia mencoba memahami. Dan dua tahun itu, ternyata tidak pernah berarti apa-apa bagi Alex.
“Bodoh sekali aku…” gumamnya.
Bibirnya bergetar, namun yang keluar justru tawa kecil yang pahit. Valeria mengangkat wajahnya perlahan, menatap pantulan di kaca spion. Mata sembab, wajah pucat, dan senyum yang bahkan tidak pantas disebut senyum. Itukah dirinya? Wanita yang dulu begitu menjaga harga diri, kini justru menunggu cinta dari pria yang tidak pernah menginginkannya. Tangannya melepas setir, jatuh lemas di pangkuan. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus ke mana. Pulang ke rumah yang ia tinggali bersama Alex atau kembali ke kampus dan berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Dadanya sesak, tetapi di tengah kekacauan itu, sesuatu perlahan tumbuh bukan harapan, bukan penantian, melainkan kesadaran yang dingin. Jika Alex bisa dengan mudah membuangnya, maka mungkin sudah saatnya ia berhenti bertahan. Dan kali ini, ia tidak akan menunggu lagi. Namun tepat saat ia hendak menyalakan kembali mobilnya, ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya berhenti sejenak.
Kehidupan Valeria setelah perceraian berjalan lebih tenang dari yang ia bayangkan.Bukan tenang yang kosong, melainkan tenang yang ia pilih dengan sadar. Ia kembali ke rutinitasnya mengajar di Fakultas Hukum Universitas Westbridge University, masuk pagi, pulang sore, sesekali lembur untuk menyelesaikan materi kuliah atau membimbing mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Pekerjaan itu selalu menjadi tempat yang aman baginya, ruang di mana ia tahu persis siapa dirinya dan apa yang ia bisa.Natalia mengajaknya makan siang setiap Jumat, tradisi kecil yang mereka mulai sejak bulan pertama setelah akta cerai itu terbit."Kamu kelihatan lebih ceria sekarang," kata Natalia sambil membuka menu di restoran Jepang langganan mereka."Hidup sudah lebih baik," jawab Valeria. "Anehnya
Alex bukan pria yang mudah menyesali keputusan. Ia terbiasa menentukan pilihan, menjalaninya, lalu melanjutkan hidup tanpa banyak menoleh ke belakang. Namun setelah perceraiannya dengan Valeria resmi selesai, ia mulai merasakan kekosongan yang tidak pernah ia duga.Perasaan itu terus mengikutinya, sampai suatu hari Selena Voss menghubunginya.Pesan itu masuk pada suatu malam, singkat dan ringan seperti gaya Selena yang selalu ia ingat. “Aku dengar kamu sudah berecerai. Bagaimana kabarmu?”Alex membaca pesan itu tiga kali sebelum membalasnya. Tangannya tidak ragu, namun ada sesuatu di belakang kepalanya yang sempat berbisik pelan, sesuatu yang akhirnya ia abaikan."Selena." Suaranya terdengar lebih hangat dari yang ia rencanakan saat mereka akhirnya mene
Pengacara Valeria, Ethan Carter, adalah pria berusia empat puluhan berkacamata tipis dengan cara bicara yang tenang dan terukur.Valeria mengenalnya sejak kuliah. Mereka memang bukan teman dekat, tetapi ia mempercayai Ethan karena tahu cara kerjanya. Rapi, teliti, dan tidak pernah berbicara lebih dari yang diperlukan. Sosok seperti itulah yang ia butuhkan untuk menangani proses ini.Pertemuan pertama mereka setelah Valeria mantap dengan keputusannya berlangsung di kantor Ethan di kawasan Distrik Meridian, dua hari setelah pertemuannya dengan William."Dokumen perjanjian pranikahnya sudah kamu bawa?" tanya Ethan sambil membuka map di mejanya.“Sudah.” Valeria meletakkan amplop cokelat di hadapannya. “Semua dokumennya ada di dalam. Termasuk salinan yang sudah dinotariskan.” Ethan membuka amplop itu, matanya menyusuri lembar demi lembar dengan cepat namun cermat. Sesekali ia mengangguk kecil, sesekali tangannya membuat catatan di pinggir kertas kerjanya."Pihak Sinclair sudah menghubung
Rumah keluarga Laurent di kawasan Nirwana Residence selalu terasa berbeda dari rumah-rumah besar lain yang pernah Valeria kenal.Tidak ada kesan dingin atau jarak yang biasa muncul di rumah keluarga kaya. Di sini, lampu selalu hangat, tanaman di teras selalu segar, dan aroma masakan selalu sudah tercium dari luar pagar. Malam itu tidak berbeda. Valeria memarkirkan mobilnya, duduk sebentar, lalu mengembuskan napas panjang sebelum turun."Kak Val!" Suara Kevin langsung menyambutnya dari depan pintu. "Dari tadi ditunggu.""Macet." Valeria memeluk kakaknya singkat. "Mama sama Papa sudah di meja makan?""Sudah dari tadi. Papa sudah tanya Kakak dua kali."Valeria mengangguk pelan, lalu melangkah masuk.
Valeria tidak langsung menjawab."Ia diam sejenak, bukan karena ragu. Ia hanya memperhatikan suara Alex yang sudah dikenalnya selama dua tahun. Napas berat dan nada angkuh itu terdengar berbeda kali ini, seolah keangkuhannya mulai pudar." "Valeria?""Aku dengar kamu, Alex." Suaranya datar, bukan d
Makan malam berlangsung seperti biasa, percakapan ringan, tawa kecil, dan topik-topik aman tentang bisnis, pendidikan, serta kehidupan sosial. Semua orang tampak nyaman, kecuali Valeria. Ia duduk tenang, sesekali menjawab saat ditanya, namun lebih sering diam, mengamati, dan menunggu.Hingga akhirn
“Siapa yang telepon Val?” tanya Nadia penasaran.Valeria terdiam, dia hanya menunjukkan ponselnya ke Natalia.“Gak diangkat?” tanya Natalia lagi.Hening sesaat. Awalnya Valeria sengaja tidak ingin mengangkat telepon Alexander, tapi ia berubah pikiran.Valeria menarik napas dalam-dalam, lalu akhirny
Pintu tertutup di belakang Valeria. Langkahnya tetap tenang saat menuruni teras rumah keluarga Pradiptama, tidak terburu-buru, tidak ragu, seolah yang baru saja terjadi hanyalah percakapan biasa, padahal ia baru saja mengakhiri pernikahannya. Udara malam terasa dingin, namun anehnya ia tidak lagi m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.