MasukDivonis putus karena perbedaan usia, Eva tidak pernah menyangka bahwa David yang merupakan mantan kekasihnya ternyata adalah sahabat karib papanya sendiri. Takdir semakin kejam ketika sebuah janji masa lalu memaksa Eva harus bertunangan dengan anak kandung dari pria tersebut. Kini, Eva terjebak dalam sandiwara menjadi calon menantu yang sempurna, sementara di balik pintu yang tertutup, ia terus dijerat oleh pesona dominan David yang kini harus dipanggilnya sebagai calon papa mertua.
Lihat lebih banyak"Eva, lebih baik kita sampai di sini aja," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut David.
Pria berusia empat puluh lima tahun itu duduk tegap di hadapan Eva, melipat kedua lengan kekarnya di depan dada sambil menatap lurus tepat ke arah sepasang mata gadis itu. Wajahnya tampak begitu dingin, sedingin es batu yang mulai mencair di dalam gelas minuman mereka yang terabaikan sejak tadi. Seketika Eva terdiam kaku di tempat duduknya. Kedua tangannya yang berada di atas meja saling bertautan, wajahnya sedikit memucat karena menahan gejolak di dalam dada. "Kenapa tiba-tiba putus?" tuntut Eva sembari menatap lurus ke dalam mata pria yang sudah menemaninya selama lima bulan terakhir ini. David menarik napas dalam-dalam, membiarkan dadanya membusung sejenak di balik setelan kemeja kerja abu-abunya yang masih tampak sangat rapi. "Umur kita jaraknya terlalu jauh. Aku merasa kamu lebih cocok jadi anakku daripada pacarku," ucap David. Mendengar alasan menjijikan yang keluar dari mulut pria itu, Eva menyunggingkan sebuah senyuman tipis, lalu memajukan sedikit tubuhnya ke depan meja. "Kamu brengsek, David. Kamu minta putus dengan alasan konyol seperti ini?!" cecar Eva dengan suara yang ditekankan di tenggorokan. David hanya diam dengan ekspresi wajah yang sangat tenang saat mendengarkan kalimat dingin tersebut. Melihat pria dewasa di hadapannya hanya membisu, Eva menarik kembali tubuhnya bersandar pada kursi. "Masalah perbedaan umur? Kalau itu memang masalahnya, kenapa baru sekarang kamu sadar? Kenapa dulu kamu yang repot-repot deketin aku?" berondong Eva. "Hubungan ini sudah tidak lagi menguntungkan untuk masa depanku, Eva. Jadi, mari kita selesaikan ini secara dewasa," tutur David. Eva mengepalkan kedua tangannya di atas meja. "Alasan kamu makin gak masuk akal dan sangat egois. Bilang aja kamu memang gak pernah serius sejak awal," sindir Eva sembari menatap David dari atas ke bawah. David meraih cangkir kopinya, menyesapnya perlahan, lalu meletakkannya kembali ke atas meja. "Pikirkan apa pun yang ingin kamu pikirkan, Eva. Keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat," ucap David yang kemudian berdiri. Tanpa menoleh lagi, pria itu melangkah menuju ke arah pintu keluar kafe. Di belakangnya, Eva tetap tak bergeming sama sekali. Ia memperhatikan punggung pria itu yang semakin menjauh. Begitu punggung tegap David benar-benar hilang dari pandangan, tubuh Eva mulai bergetar. Ia menarik napas panjang berulang kali untuk menguasai badai emosi yang bergejolak di dalam dadanya. Air mata yang sejak tadi ditahannya dengan sekuat tenaga, kini mulai menggenang di pelupuk mata Eva, membuat dadanya terasa semakin sesak luar biasa. Tepat saat ia ingin meraih gelas minumannya, ponsel pintar miliknya yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat menampilkan nama kontak sang papa di layar kaca. Eva menarik napasnya sedalam mungkin, mencoba menstabilkan pita suaranya yang masih bergetar hebat, kemudian menggeser tombol hijau ke telinga kanannya. "Iya, Pa?" jawab Eva. Di seberang sana, suara Hendra langsung menyambar tanpa basa-basi sedikit pun. "Kamu di mana sekarang? Cepat pulang," perintah Hendra. Eva melirik sekilas ke arah kursi kosong di hadapannya yang beberapa menit lalu diduduki oleh David, lalu memejamkan matanya sejenak untuk menguatkan diri. "Aku lagi di luar sama temenku, Pa. Ada apa?" jawab Eva berbohong. Hendra tidak mempedulikan alasan tersebut dan langsung menyela dengan intonasi suara yang terdengar tidak sabaran. "Cepetan pulang, mau ada tamu penting yang mau Papa kenalin ke kamu," ujar Hendra, langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak bahkan sebelum Eva sempat memberikan jawaban. Eva menurunkan ponselnya perlahan, menatap layar yang sudah menggelap. Isak tangisnya mendadak berhenti total, digantikan oleh firasat buruk yang langsung menyelimuti pikirannya malam itu. *** Eva meringkuk pasrah di sudut kamarnya yang remang-remang, melipat kedua lututnya hingga menempel rapat pada dada yang masih bergemuruh hebat. Punggungnya bersandar lesu pada daun pintu kayu jati yang kokoh. Di tengah isolasi yang menyiksa itu, sayup-sayup telinganya menangkap sebersit suara berat seorang pria yang bergema dari arah ruang tamu. Eva menyeka sisa air mata di pipinya, lalu menatap ke arah langit-langit kamarnya yang sepi. "Siapa pria yang lagi ngobrol sama Papa di luar?" bisik Eva pada diri sendiri. Ia memeluk lututnya lebih erat lagi, mencoba mencari kekuatan di tengah rasa bingung yang tiba-tiba mengaburkan rasa sakit hatinya akibat penolakan David di kafe. "Kenapa suaranya kayak enggak asing ya?" gumamnya lagi, sementara matanya mulai bergerak gelisah menatap ke arah gagang pintu. Rasa penasaran membuat Eva perlahan menegakkan tubuhnya, mengabaikan rasa kaku yang menyerang persendian kakinya akibat terlalu lama mendekam di lantai. Ia bergeser perlahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, lalu menempelkan wajahnya pada celah kecil di antara pintu kamar yang sedikit merenggang. Matanya seketika membelalak saat menangkap siluet punggung tegap seorang pria yang mengenakan kemeja rapi di ruang tamu. Apa yang dilakukan pria itu di rumahnya?!David ikut memajukan tubuhnya sedikit, melemparkan pandangan tajam ke luar jendela, mengamati gerak-gerik pria paruh baya yang berdiri gelisah di samping mobil jemputan Eva."Mas tidak pernah lihat sopir yang itu," ucap David datar. "Mungkin dia sopir baru. Kalau dia baru kerja, dia pasti tidak tahu ini mobil milik siapa."Eva bernapas lega. "Oh, begitu ya? Ya sudah, semoga saja dia benar-benar tidak tahu mobil siapa ini."Eva memutar tubuhnya, tangannya sudah bersiap menyentuh gagang pintu mobil. "Ya sudah, aku pulang dulu ya, Mas.""Iya, hati-hati," balas David pelan.Namun, tepat saat jemari Eva baru saja hendak menekan engsel pintu kabin, pergelangan tangannya mendadak dicengkeram dari samping. Membuat gerakan Eva terhenti seketika.Ia memutar kepalanya kembali, menatap David dengan dahi berkerut halus. "Kenapa, Mas?""Minum itu dulu. Obatnya," tegas David sambil mengarahkan dagunya ke arah botol cokelat yang masih berada di pangkuan Eva."Oh... iya, sampai lupa," gumam Eva cepat.
Pintu kabin sedan hitam milik David tertutup rapat. Eva menyandarkan kepala di jok kulit. Tangan kanannya yang masih berada di atas paha David, bergerak lembut naik turun. David menyalakan mesin. Tangannya merogoh konsol tengah, menarik kabel pengisi daya, lalu menyambar ponsel mati milik Eva dari jemari wanita itu. "Duduk yang benar. Batateraimu habis total," ucap David, mencoba menegakkan jarak aman di antara mereka. Namun, jarak sempit di dalam kabin mobil justru memisahkan mereka terlalu dekat. Eva tidak membenarkan posisi duduknya. Sebaliknya, ia malah mencondongkan tubuh ke arah tengah, menatap David dengan senyum tipis. "Makasih ya, Mas..." bisik Eva pelan. David menancapkan kabel ke ponsel Eva, berjuang keras mengabaikan tatapan itu. Namun, ketika ia hendak menarik tangannya kembali, jemari lentur Eva justru bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan David. "Mas kan sudah bilang, jangan minum," ucap David merusak ketegangan yang sudah membara di dada Eva. "Tadi di d
"Hari pertama selesai juga..." ucap Eva saat sampai di sebuah restoran. Baru saja ia hendak melangkah masuk ke dalam restoran, suara langkah kaki dari belakang membuatnya menoleh. Mas David. Pria itu berjalan tenang dengan kemeja biru tua yang sejak pagi dikenakannya kini lengan bajunya sudah digulung hingga siku. "Mas," lirih Eva. David menghentikan langkahnya tepat beberapa langkah di belakang Eva. "Mas ngikutin aku, ya?" Sudut bibir Eva terangkat sedikit. Nada suaranya terdengar ringan, lebih seperti godaan daripada pertanyaan sungguhan. "Bukan," jawabannya singkat. Eva mengangkat sebelah alis. "Bukan?" "Aku memang makan di sini." David menggeser pandangannya ke arah papan nama restoran. "Sama tim." "Oh..." Eva mengangguk pelan sembari menahan senyum yang hampir lolos. "Teman-temanmu belum masuk?" Belum sempat Eva menjawab, terdengar suara Nisa dari kejauhan. "Eva!" Nisa melambaikan tangan sembari berjalan cepat bersama beberapa rekan kerja lainnya. "
Tubuh Eva masih gemetar saat lengannya berada dalam genggaman seseorang. Selama beberapa detik, pikirannya benar-benar kosong. Perlahan, Eva mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang sejak tadi ia perhatikan. "Mas David..." Suara itu nyaris tak terdengar. David masih menggenggam lengannya erat. Wajah pria itu terlihat tegang, napasnya sedikit tersengal karena berlari beberapa detik sebelumnya. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya pelan. Eva hanya mampu mengangguk. Setelah melihat Eva mampu berdiri sendiri, David perlahan melepaskan genggamannya. Jarak di antara mereka kembali terbentang. Tatapan David berubah datar seperti biasa. "Hati-hati," ucapnya singkat. David berbalik dan melangkah kembali menuju rombongan yang sejak tadi menunggunya. "Pak, nggak apa-apa?" tanya salah seorang mandor saat David kembali. "Aman," jawab David singkat. Beberapa orang tanpa sadar menoleh ke arah Eva yang masih berdiri mematung di tempatnya. "Itu anak baru ya?" "Iya, ka
Mobil sedan hitam milik Rian berhenti tepat di depan pelataran rumah besar berarsitektur Eropa. Eva menatap keluar jendela dengan campur aduk. Jadi ini rumah David? Selama lima bulan berpacaran dulu, mereka hanya menghabiskan waktu di kota perantauan, tempat Eva menempuh pendidikan kuliah dan Dav
Eva berdiri mematung di depan wastafel, menatap lurus ke arah cermin besar berbingkai emas di hadapannya. Ia memperhatikan bayangan wajahnya sendiri yang tampak begitu asing dan melelahkan. Kedua tangannya mencengkram pinggiran wastafel dengan begitu erat, mencoba mencari tumpuan untuk tubuhnya ya
Eva bersandar pada kursi makannya, mencoba menahan rasa bosan yang mulai menyerang sejak pertama kali tiba di restoran mewah ini. Di atas meja bundar berlapis kain marun di depannya, deretan sendok dan garpu perak sudah tertata rapi, bersanding dengan gelas-gelas anggur yang masih kosong. Hari ini
Eva merasakan seluruh dunianya runtuh dalam sekejap, membuat pandangannya sempat mengabur saat mendengar kata perjodohan keluar dari bibir papanya di depan pria yang dicintainya. "Perjodohan? Maksud Papa apa…?" sahut Eva dengan suara yang bergetar hebat, mencoba mencari kekuatan dengan berpegangan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan