ログインBrielle terus melihat isi pesan itu. Ternyata Raka sempat bertanya apakah dia perlu menjemputnya, lalu memutuskan untuk datang sendiri. Saat ini dia juga hampir tiba.[ Brielle: Nggak usah, aku nyetir sendiri ke sana. ]Brielle menunggu beberapa saat, tetapi tidak mendapat balasan dari Raka. Dia pun mengambil tasnya dan keluar.Begitu melangkah keluar dari lobi gedung laboratorium, sosok pria tinggi yang disinari cahaya matahari senja sudah berdiri di luar.Siapa lagi kalau bukan Raka?Staf resepsionis segera menghampiri untuk menyambutnya, "Pak Raka, Anda sudah datang.""Aku datang untuk menjemput Dokter Brielle," jawab Raka dengan senang hati. Tatapannya tertuju pada Brielle saat dia bertanya penuh perhatian, "Sudah selesai?""Ya, baru saja selesai." Brielle mengangguk, lalu berkata dengan sedikit rasa bersalah, "Maaf, aku lupa melihat waktu."Raka hanya tersenyum."Nggak apa-apa. Pekerjaan lebih penting. Ayo."Begitu mereka berdua pergi, area resepsionis langsung ramai oleh obrolan.
"Ayahmu cuma diskusi denganku soal penelitiannya. Aku juga nggak banyak tanya. Lagi pula, dengan pengaruh ayahmu saat itu, bukan hal yang sulit baginya untuk mendapat pendanaan."Setelah berkata demikian, Derrick kembali melanjutkan, "Kurasa alasan ayahmu menyetujui kamu keluar dari universitas dan menikah dengan Raka saat itu juga karena beliau berpikir, kalau suatu hari nanti benar-benar terjadi sesuatu padamu, Raka akan meneruskan penelitian itu untuk menyelamatkanmu. Namanya kalian suami istri ""Mungkin perkataanku ini terdengar kurang enak didengar, tapi sebagai orang tua, mereka selalu ingin menyiapkan jalan terbaik untuk masa depan anaknya."Mendengar itu, mata Brielle kembali memanas. Dia bisa membayangkan kecemasan dan pengorbanan ayahnya saat itu."Bisa dibilang, ayahmu telah mencarikanmu keluarga yang bisa menjadi tempatmu bersandar di masa depan," ucap Derrick dengan jujur.Brielle menarik napas pelan. "Aku ngerti niat baik ayahku.""Itu sebabnya, ketika aku dengar kalian
Keesokan pagi, Raka meluangkan waktu untuk menemani putri dan keluarganya, karena malam itu adalah perayaan ulang tahun Emily.Sementara itu, Brielle masih harus bekerja, sehingga pagi-pagi sekali dia sudah berangkat ke laboratorium.Ferdian datang lebih awal untuk melakukan berbagai persiapan di laboratorium. Zondi juga merupakan asisten yang sangat bertanggung jawab."Brielle, siang nanti kita harus pergi ke laboratorium Profesor Derrick." Zondi mengingatkannya.Brielle teringat bahwa dia memang sudah membuat janji dengan Derrick untuk membahas analisis data. Dalam penelitian kali ini, laboratorium Derrick juga bersedia memberikan dukungan.Pukul 10 pagi, Brielle dan Zondi tiba di bekas Laboratorium Kasih, yang kini telah menjadi Laboratorium Rine milik Derrick.Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Brielle memasuki ruang rapat Derrick. "Brielle, kamu sudah datang. Ayo duduk."Derrick berdiri menyambutnya dengan senyuman hangat.Di samping mereka, Ferdian tampak begitu bersemangat
Lastri segera membawakan sepiring buah yang sudah dipotong, meletakkannya di atas meja, lalu kembali ke kamarnya.Kini, hanya mereka berdua yang tersisa di ruang tamu.Raka mengambil sepotong apel dan memasukkannya ke mulut, lalu bertanya kepada Brielle, "Besok Nenek ingin merayakan ulang tahunnya sedikit lebih meriah. Kamu sudah punya gaun yang cocok belum? Apa akan ada tamu lain juga?"Brielle mengangkat kepala dan bertanya. Dia mengira mungkin kerabat jauh Keluarga Pramudita juga akan diundang.Raka menggeleng. "Tahun ini Nenek nggak berniat mengundang orang luar. Cuma keluarga kita saja."Setelah itu, dia menambahkan, "Soal gaunmu, biar aku yang atur."Brielle menggeleng. "Nggak perlu. Aku akan urus sendiri."Karena hanya makan bersama keluarga, dia cukup berdandan sedikit lebih rapi, tidak perlu terlalu berlebihan.Brielle mengambil sebutir anggur dan mulai mengupas kulitnya."Tadi sudah pamitan dengan Niro?" tanya Raka tiba-tiba."Sudah," jawab Brielle dengan tenang.Raka tidak m
Setelah Brielle duduk di dalam mobil, Niro berkata dengan suara pelan tetapi tegas, "Brielle, ke depannya mungkin kita nggak akan mudah saling menghubungi. Tapi kamu harus tahu, aku akan selalu menjadi temanmu, juga seseorang yang selalu bisa kamu andalkan."Kata-katanya singkat, tetapi terasa begitu berbobot. Tidak ada sedikit pun nuansa ambigu. Tidak ada pula penyesalan. Yang ada hanyalah kepedulian yang tulus dan doa terbaik untuknya.Perasaan yang dulu sempat tumbuh di antara mereka kini benar-benar telah dia ubah menjadi persahabatan yang kokoh, serta perlindungan yang dia berikan secara sepihak.Mata Brielle sedikit memanas. Dia mengangguk kuat. "Niro, kamu juga harus selalu jaga diri dan keselamatanmu.""Oke, aku janji." Niro tersenyum. Di bawah cahaya lampu yang redup kekuningan, senyumannya tetap tampan dan bersih, sama seperti dirinya.Tak lama kemudian, pandangan Niro beralih ke sebuah mobil SUV hitam yang terparkir belasan meter dari sana. Matanya sedikit menyipit."Mobil i
Meskipun mengenakan pakaian kasual, aura tegas dan tegap seorang prajurit tetap terpancar kuat darinya.Hanya saja, dibandingkan dulu, ada sesuatu yang lebih matang dalam sorot matanya. Kejernihan yang lahir setelah berkali-kali berada di ambang hidup dan mati, serta tekad yang tak tergoyahkan terhadap tugasnya.Niro memandang Brielle sambil tersenyum. "Kamu datang.""Maaf, tadi macet karena jam pulang kerja." Brielle tersenyum sambil menarik kursi. "Kamu sudah lama nunggu?""Aku juga baru sampai." Niro tersenyum tipis. "Lihat dulu, mau makan apa?"Brielle menerima buku menu. Tanpa sadar, pandangannya kembali tertuju kepada Niro.Potongan rambut cepak itu makin menonjolkan fitur wajahnya yang tegas dan garis rahangnya yang rapi, memberikan kesan tampan dan gagah.Niro tanpa sadar mengusap rambutnya sendiri. Kemudian, dia memperlihatkan bagian kepala tempat cip itu dulu ditanamkan. "Gimana pemulihannya?"Brielle mengamatinya dengan saksama. "Sudah pulih dengan sangat baik."Di mata Brie
Raka menatap mata Brielle yang keras kepala, terdiam sejenak. Udara di antara mereka seolah-olah membeku. Setelah beberapa saat, Raka baru berkata, "Baiklah. Kalau kamu merasa nggak masalah, terserah kamu."Langkah Raka menuju pintu tak berhenti. Hanya saja, dia kembali menambahkan tanpa menoleh, "S
Tatapan Raka mengikuti mobil Porsche Cayenne putih itu sampai benar-benar lenyap di balik hujan. Alisnya berkerut samar.Saat Devina berjalan mendekat, dia mencium samar aroma asap rokok yang belum sepenuhnya hilang dari tubuh Raka. Matanya menyipit sedikit.Raka hanya akan merokok dalam satu situas
"Untuk urusan risiko dan kerugian, kamu nggak perlu khawatir," ujar Jared sambil melambaikan tangan, mengisyaratkan agar Faye keluar. "Pak Raka akan mengawasinya langsung. Kamu boleh pergi sekarang."Faye keluar dari ruang Jared dengan wajah yang sulit ditebak, campuran antara marah, iri, dan ketaku
Setibanya di restoran, Faye sudah mengganti setelan profesionalnya dari siang tadi dengan gaun bertali bahu yang penuh pesona. Sementara itu, Brielle masih mengenakan kemeja putih dan celana jeans gelap. Penampilannya sederhana, tetapi segar.Di dalam ruang VIP, semua orang sedang asyik membicarakan







