Share

Bab 426

Author: Ayesha
"Acara peluncuran sebesar ini, mana mungkin kulewatkan! Kamu lagi cari tempat duduk? Yuk, duduk bareng aku," kata Lambert sambil tersenyum.

Brielle mengangguk, lalu akhirnya duduk di baris ketiga.

Lambert tersenyum. "Aku kira kamu yang bakal naik ke panggung untuk presentasi hari ini."

Brielle membuka tutup botol air mineral dan meneguk sedikit. "Kadang kesempatan sebaiknya diberikan kepada orang lain."

Lambert tertawa kecil. "Tapi aku tetap berharap kamu yang tampil."

Hari ini Brielle hanya dat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (19)
goodnovel comment avatar
Suryat
semoga si faye gagal presentasi..
goodnovel comment avatar
Yantii Daok
please up up
goodnovel comment avatar
Yantii Daok
semoga feye mempermalukan dirinya sendiri
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1481

    Keesokan harinya saat makan siang, Brielle sedang makan di rumah. Sore harinya, dia menerima telepon dari putrinya. Raka sedang mengajak Anya bermain air di kolam renang pribadi Hotel Muse dan meminta Brielle datang menemani.Mendengar putrinya merengek manja di seberang telepon, Brielle hanya bisa tersenyum. "Baiklah, Mama datang."Brielle pun berangkat dari rumah dan langsung menuju Hotel Muse. Di lantai tempat presidential suite berada, tersedia sebuah kolam renang pribadi.Dari area parkir bawah tanah, Brielle langsung naik ke lantai tempat kolam renang berada.Begitu tiba, dia melihat Anya sedang bermain di atas pelampung, ditemani Raline di sampingnya. Saat Brielle sedang mencari-cari di mana Raka berada, tiba-tiba dari sisi lain kolam, sesosok tubuh yang kekar keluar dari dalam air dan memercikkan cipratan ke segala arah.Raka mengibaskan rambutnya yang basah kuyup. Tetesan air mengalir dari ujung-ujung rambutnya, membingkai wajahnya yang tegas, lalu meluncur ke bahunya yang bid

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1480

    Saat itu, ponsel Brielle berdering. Dia mengeluarkannya dan melirik layar. Ternyata Harvis yang menelepon.Brielle segera mengangkatnya. "Halo, Kak Harvis.""Brielle, kamu lagi di depan komputer? Ada data yang ingin kuminta kamu cek.""Aku masih di perjalanan pulang. Nanti saja boleh?""Boleh kok. Nggak usah terburu-buru, asal besok siang sudah ada masukannya," kata Harvis."Oke. Sebisa mungkin malam ini akan kukasih masukannya." Usai mengatakannya, Brielle menyadari Harvis di seberang sana juga sedang sibuk. "Kalau begitu, aku tutup dulu ya."Setelah telepon berakhir, Brielle membuka surel di ponselnya. Mata Raka sedikit menyipit. Jakunnya bergerak pelan, jelas sedang berusaha menekan gejolak emosinya.Brielle tampaknya menyadarinya. Ruang di dalam mobil begitu sempit sehingga perubahan sekecil apa pun pada suasana langsung terasa.Brielle mematikan layar ponselnya, lalu melirik pria di sampingnya. Apa karena telepon dari Harvis barusan? Setelah berpikir sejenak, dia tetap tidak tahu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1479

    Tubuh Brielle tiba-tiba terangkat dari tanah. Dia refleks mengeluarkan seruan pelan, sementara kedua tangannya spontan melingkar di bahu Raka."Biar aku gendong sampai sana," ujar Raka dengan suara rendah."Nggak usah." Brielle sedikit meronta, berusaha turun."Jangan bergerak." Raka menunduk menatapnya. Suaranya lembut, tetapi mengandung ketegasan yang tak memberi ruang untuk dibantah."Raka ... turunkan aku." Nada suara Brielle juga menunjukkan keteguhannya.Namun, Raka tidak menghiraukannya. Dia tetap menggendong Brielle dan terus melangkah ke depan.Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, masih ada beberapa pengunjung di area dek observasi. Brielle merasa dirinya menjadi pusat perhatian. DiIa hanya bisa sedikit menunduk karena merasa sangat canggung.Raka mempererat pelukannya dan melangkah mantap menuju tempat mobilnya diparkir. Dia sama sekali tidak memedulikan tatapan penasaran dari orang-orang di sekitar. Sementara itu, Brielle hanya berharap keberadaannya tidak terlalu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1478

    Saat ini, Raka telah menanggalkan ketegasan yang selalu melekat padanya di dunia bisnis. Cahaya bulan membingkai wajah tampannya, sementara rambut putihnya justru menambah kesan anggun dan berkelas.Tak lama kemudian, terdengar obrolan beberapa gadis dari belakang Brielle. Salah satu di antara mereka berseru cukup keras."Wah! Rambutnya dicat ya? Putih semua! Keren banget.""Bukan artis, 'kan? Kok ganteng banget?"Suasana di sekitar cukup tenang, sementara para gadis itu sama sekali tidak memelankan suara. Ucapan mereka pun terdengar jelas oleh Brielle dan Raka.Brielle menoleh ke arah pria di sampingnya. Sementara itu, sudut bibir Raka terangkat membentuk senyuman tipis. Jelas sekali, pujian-pujian itu cukup menyenangkan baginya.Rambut yang sedikit terurai menutupi dahinya, justru membuatnya tampak beberapa tahun lebih muda, memberi kesan santai dan tanpa beban.Brielle memperhatikan rambut putihnya. Makin lama dilihat, memang ada pesonanya yang khas.Melihat Brielle terus menatapnya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1477

    Di luar jendela mobil, gemerlap lampu neon menghiasi malam dengan indah. Brielle ingin pulang bukan karena kata-kata Devina memengaruhi suasana hatinya, melainkan karena dia ingin segera beristirahat.Satu minggu penuh menjalani eksperimen yang padat benar-benar membuatnya kelelahan.Saat itulah terdengar suara Raka. "Gavin, menepi."Gavin segera memutar setir dengan tenang dan menghentikan mobil di tepi jalan. Begitu mobil berhenti sempurna, Raka berkata, "Kamu pulang naik taksi saja."Gavin langsung mengerti. "Baik, Pak Raka."Brielle menatap Raka dengan heran. Kenapa pria ini tiba-tiba ingin menyetir?Namun, Raka justru berjalan ke sisi tempat Brielle duduk, membuka pintu, lalu berkata dengan lembut, "Pindah ke kursi depan."Brielle mengernyit sedikit, tetapi tetap turun dan berpindah ke kursi penumpang depan yang telah dibukakan Raka. Dia sudah bisa menebak apa yang ingin dilakukan pria itu.Benar saja. Setelah duduk di balik kemudi, Raka menoleh kepadanya. "Kita jalan-jalan sebent

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1476

    Saat itu, beberapa tamu masuk. Melihat barang-barang yang berserakan di lantai, mereka mengernyit dan bertanya, "Ada apa ini?""Aku nggak sengaja menjatuhkannya," jawab Devina singkat, lalu mengangkat tasnya dan keluar.Brielle kembali ke aula pesta. Raka yang sedang berbincang dengan beberapa tamu, langsung mengalihkan pandangannya kepada Brielle dan seketika menyadari raut wajahnya yang tampak kurang baik."Ada apa? Kamu nggak enak badan?" tanyanya dengan suara rendah penuh perhatian.Brielle menggeleng. "Nggak apa-apa. Kita bisa pulang jam 8 malam?"Raka melirik waktu. Saat ini sudah lewat pukul 7.30 malam. "Oke."Namun tepat saat itu, pandangan Raka menangkap sosok Devina yang baru keluar dari arah toilet. Wajahnya seketika menjadi dingin. Dia langsung mengerti penyebab suasana hati Brielle memburuk."Apa yang dia katakan?" tanya Raka dengan nada tegang.Dari sudut matanya, Brielle melihat Devina kembali memasuki aula. Dengan datar, dia menjawab, "Nggak ada apa-apa."Namun, Raka te

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 525

    Hati Nanik terasa hangat. Brielle memang gadis yang tahu cara menghargai orang lain."Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu, ya. Jangan lupa makan yang banyak," ujar Nanik sambil tersenyum lalu berjalan keluar.Memang, siang itu Brielle belum sempat makan banyak. Saat sedang menikmati kue yang dibaw

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 520

    Mereka semua adalah orang-orang yang hampir kehilangan harapan.Brielle menatap proses suntikan pertama dengan tegang, sementara Madeline menoleh padanya dan menepuk bahunya pelan. Brielle pun menatap balik dan mengangguk mantap.Hari kedua dan ketiga, Brielle hampir tak pernah benar-benar santai. S

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 539

    Brielle sudah memikirkan kemungkinan bahwa Raka tidak ingin membiarkannya pergi, tetapi dia tidak menyangka Raka akan memikirkan rencana seperti ini.Karena dia sudah memutuskan untuk pergi, apa pun cara yang Raka pakai, siapa pun yang Raka suruh untuk membujuknya, semuanya tidak ada gunanya."Bu Ma

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 545

    Hanya dengan begitu, Brielle bisa memberikan pernikahan yang sempurna untuk sahabat terbaiknya.Syahira menatapnya dengan terharu. Kedua wanita itu mulai mendiskusikan beberapa detail pernikahan. Pernikahan dijadwalkan pada pertengahan November, jadi sebenarnya tidak terlalu tergesa-gesa.Masih ada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status