Share

Bab 50

Author: Ayesha
Malam hari, Brielle sedang menemani Anya menonton televisi di rumah. Sekitar pukul 7 malam, pintu terbuka dan Raka melangkah masuk.

"Papa! Papa!" Anya berlari dengan gembira, memeluk kaki ayahnya.

"Sayang." Raka berjongkok, memeluk putrinya sambil mencium kepalanya, seolah-olah sangat merindukannya.

"Papa, kenapa perginya lama banget sih? Aku kangen, tahu nggak!" Anya mengerucutkan bibirnya, sedikit merajuk.

"Papa ada urusan penting, Sayang." Raka mengusap rambut Anya lembut, lalu menciuminya la
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
kalau sama brielle bawaan nya dingin...dan kesannya kejam coba kalau sama Devina kaya kerbou di cucuk hidungnya si Raka ini..mmg brengsek kok..mmg lbh cpt lbh baik pisah .aman kan diri dan hatimu btielle
goodnovel comment avatar
Diana Puang Pasau Puang Pasau
raka Nnt nyesal krn slalu memberi cela bg pelakor masuk dlm rmh tangganya
goodnovel comment avatar
Renadwijo
oh, ternyata ultah perusahaan ayah devina toh...tapi kalo Rakanya punya niat baik, hrsnya dia ngajak Brielle..urusan ditolak., itu lain cerita..Kalo mng Raka pengen jaga hubungan suami istri dg Brielle...jgn kasih celah pelakor masuk.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1483

    Lewat pukul sepuluh malam, Anya akhirnya mau naik ke tempat tidur. Saat malam semakin larut, Anya memeluk leher Brielle, lalu tiba-tiba bertanya, "Mama, kapan ya Papa bisa tidur sama kita?"Brielle yang sedang melamun langsung terdiam mendengar pertanyaan mendadak itu. Dia mengusap kepala putrinya sambil mengalihkan topik. "Besok kita pergi lihat rumah baru, gimana?"Anya langsung mengangguk gembira. "Baik! Aku mau vila yang punya taman. Aku mau main bola di tamannya.""Baik." Brielle tersenyum mengiyakan.Keesokan harinya pukul sembilan lewat tiga puluh pagi, Raka mengantar Brielle dan Anya ke sebuah kawasan vila mewah yang berada di dekat sekolah dasar swasta internasional.Kawasan itu memang dibangun khusus untuk kalangan berada. Pepohonannya rindang, suasananya tenang dan elegan, dengan sistem keamanan yang sangat ketat.Mobil Raka berhenti di tempat parkir di samping sebuah vila kembar berukuran besar yang letaknya agak menyendiri.Yang disebut vila kembar itu sebenarnya adalah du

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1482

    Brielle lebih dulu berjalan ke arah lift. Raka melilitkan handuk di pinggangnya, lalu mengikuti dari belakang.Saat pintu lift tertutup, cermin di dalamnya langsung memantulkan sosok pria yang hanya mengenakan handuk di pinggang.Meski mereka bukan lagi anak muda, dan pernah menjadi suami istri selama enam tahun, Brielle tahu betul apa yang pernah dan belum pernah dilihatnya. Dia menundukkan kepala, tetapi tanpa sadar tetap mengalihkan pandangannya.Melalui pantulan cermin, Raka diam-diam mengamati reaksi Brielle. Meskipun Brielle menundukkan kepala, dari sudut pandangnya, daun telinga wanita itu tampak samar-samar memerah.Begitu pintu lift terbuka, Brielle segera bertanya, "Anya di kamar nomor berapa?"Raka menyebutkan nomor kamar dan Brielle pun segera melangkah cepat ke sana.Dua puluh menit kemudian, Brielle, Raline, dan Anya lebih dulu menuju restoran karena Anya sudah lapar.Setelah selesai memesan makanan, Raka datang menghampiri. Kini dia sudah berganti pakaian kasual, membuat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1481

    Keesokan harinya saat makan siang, Brielle sedang makan di rumah. Sore harinya, dia menerima telepon dari putrinya. Raka sedang mengajak Anya bermain air di kolam renang pribadi Hotel Muse dan meminta Brielle datang menemani.Mendengar putrinya merengek manja di seberang telepon, Brielle hanya bisa tersenyum. "Baiklah, Mama datang."Brielle pun berangkat dari rumah dan langsung menuju Hotel Muse. Di lantai tempat presidential suite berada, tersedia sebuah kolam renang pribadi.Dari area parkir bawah tanah, Brielle langsung naik ke lantai tempat kolam renang berada.Begitu tiba, dia melihat Anya sedang bermain di atas pelampung, ditemani Raline di sampingnya. Saat Brielle sedang mencari-cari di mana Raka berada, tiba-tiba dari sisi lain kolam, sesosok tubuh yang kekar keluar dari dalam air dan memercikkan cipratan ke segala arah.Raka mengibaskan rambutnya yang basah kuyup. Tetesan air mengalir dari ujung-ujung rambutnya, membingkai wajahnya yang tegas, lalu meluncur ke bahunya yang bid

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1480

    Saat itu, ponsel Brielle berdering. Dia mengeluarkannya dan melirik layar. Ternyata Harvis yang menelepon.Brielle segera mengangkatnya. "Halo, Kak Harvis.""Brielle, kamu lagi di depan komputer? Ada data yang ingin kuminta kamu cek.""Aku masih di perjalanan pulang. Nanti saja boleh?""Boleh kok. Nggak usah terburu-buru, asal besok siang sudah ada masukannya," kata Harvis."Oke. Sebisa mungkin malam ini akan kukasih masukannya." Usai mengatakannya, Brielle menyadari Harvis di seberang sana juga sedang sibuk. "Kalau begitu, aku tutup dulu ya."Setelah telepon berakhir, Brielle membuka surel di ponselnya. Mata Raka sedikit menyipit. Jakunnya bergerak pelan, jelas sedang berusaha menekan gejolak emosinya.Brielle tampaknya menyadarinya. Ruang di dalam mobil begitu sempit sehingga perubahan sekecil apa pun pada suasana langsung terasa.Brielle mematikan layar ponselnya, lalu melirik pria di sampingnya. Apa karena telepon dari Harvis barusan? Setelah berpikir sejenak, dia tetap tidak tahu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1479

    Tubuh Brielle tiba-tiba terangkat dari tanah. Dia refleks mengeluarkan seruan pelan, sementara kedua tangannya spontan melingkar di bahu Raka."Biar aku gendong sampai sana," ujar Raka dengan suara rendah."Nggak usah." Brielle sedikit meronta, berusaha turun."Jangan bergerak." Raka menunduk menatapnya. Suaranya lembut, tetapi mengandung ketegasan yang tak memberi ruang untuk dibantah."Raka ... turunkan aku." Nada suara Brielle juga menunjukkan keteguhannya.Namun, Raka tidak menghiraukannya. Dia tetap menggendong Brielle dan terus melangkah ke depan.Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, masih ada beberapa pengunjung di area dek observasi. Brielle merasa dirinya menjadi pusat perhatian. DiIa hanya bisa sedikit menunduk karena merasa sangat canggung.Raka mempererat pelukannya dan melangkah mantap menuju tempat mobilnya diparkir. Dia sama sekali tidak memedulikan tatapan penasaran dari orang-orang di sekitar. Sementara itu, Brielle hanya berharap keberadaannya tidak terlalu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1478

    Saat ini, Raka telah menanggalkan ketegasan yang selalu melekat padanya di dunia bisnis. Cahaya bulan membingkai wajah tampannya, sementara rambut putihnya justru menambah kesan anggun dan berkelas.Tak lama kemudian, terdengar obrolan beberapa gadis dari belakang Brielle. Salah satu di antara mereka berseru cukup keras."Wah! Rambutnya dicat ya? Putih semua! Keren banget.""Bukan artis, 'kan? Kok ganteng banget?"Suasana di sekitar cukup tenang, sementara para gadis itu sama sekali tidak memelankan suara. Ucapan mereka pun terdengar jelas oleh Brielle dan Raka.Brielle menoleh ke arah pria di sampingnya. Sementara itu, sudut bibir Raka terangkat membentuk senyuman tipis. Jelas sekali, pujian-pujian itu cukup menyenangkan baginya.Rambut yang sedikit terurai menutupi dahinya, justru membuatnya tampak beberapa tahun lebih muda, memberi kesan santai dan tanpa beban.Brielle memperhatikan rambut putihnya. Makin lama dilihat, memang ada pesonanya yang khas.Melihat Brielle terus menatapnya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 692

    Brielle mengangguk sambil berpikir, lalu melanjutkan diskusi dengan Harvis sebentar lagi. Karena penyakit itu terlalu langka, Harvis sendiri juga tidak terlalu banyak memahaminya.Saat itu, ponsel Brielle berbunyi. Dia mengambilnya dan melihat pesan dari Lambert.[ Brielle, bisa tolong jemput Vivian

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 672

    Di tengah kerumunan, Jay sedang berjalan ke arah Raka. Dia juga tidak menyangka Lambert akan menyatakan cinta kepada Brielle secara terbuka dan tersirat seperti itu. Tanpa sadar, dia menoleh ke arah Raka.Raut wajah Raka tampak biasa saja, tetapi aura dingin yang terpancar dari sekujur tubuhnya memb

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 694

    Setelah bermain sekitar sepuluh menit, Anya keluar dan mendapati ayahnya sudah pergi. Dia merasa agak kecewa, tetapi tidak menangis atau membuat keributan.Brielle kembali ke ruang kerja. Ponsel di sampingnya berbunyi. Dia mengambilnya dan melihat nomor tak dikenal.Dia mengangkat telepon. "Halo, si

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 691

    Di seberang sana, Devina terdiam beberapa detik. "Kalau mau menghadapi Brielle, keluarkan kemampuanmu sendiri. Itu akan memberinya tamparan lebih keras."Faye tertegun. Dia segera teringat bahwa Devina hanyalah saudari tiri seayahnya, bukan kakak kandungnya. Meminta bantuan padanya memang tidak seba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status