MasukDua tahun pernikahan mengajarkan Serena Aksara satu hal yang tidak ada di buku mana pun: bahwa orang yang paling bisa menghancurkanmu adalah orang yang pernah kamu izinkan masuk. Jadi ia berhenti mengizinkan siapa pun masuk. Sistem itu bekerja sempurna — sampai satu kasus membawanya ke tempat yang seharusnya tidak ia datangi, mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak ia pedulikan. Masalahnya, kasus itu semakin dalam semakin berbahaya. Nama-nama besar yang tidak ingin disebut. Sumber yang menghilang satu per satu. Ancaman yang datang dalam bentuk yang tidak selalu bisa diantisipasi. Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang justru paling mengganggunya — bukan kasusnya. Seseorang yang tidak meminta apa-apa. Tidak menjanjikan apa-apa. Tapi selalu ada. Serena sudah lama belajar tidak bergantung pada siapa pun. Yang belum ia pelajari adalah apa yang harus dilakukan ketika seseorang tidak memintanya untuk bergantung — tapi ia mulai ingin.
Lihat lebih banyak"Ren, ada breaking news masuk. Bisa ke kantor jam 6? Ada kasus besar."
Serena membaca pesan itu dua kali.
Kemudian ia mengetik balasan:
"Oke. Aku lagi di jalan."
Ia memundurkan mobil dari parkiran. Keluar ke jalanan Jakarta yang padat. Masuk ke dalam arus kota yang tidak pernah berhenti bergerak.
Serena tiba di kantor pukul 17.58—dua menit lebih awal dari yang diminta Bima, persis seperti biasanya.Meja kerjanya rapi. Kopi dari kedai bawah gedung masih mengepul di sudut kanan. Layar komputer sudah menyala. Semua terlihat seperti hari-hari biasanya.
Yang tidak biasa hanyalah satu hal kecil: tanda tangan di dokumen bermeterai yang baru saja ia torehkan tiga jam lalu masih terasa basah di ujung jarinya—meski logikanya tahu tinta itu sudah lama kering.
Baru saja cerai. Empat puluh menit. Sebegitu cepatnya satu pernikahan dua tahun itu dilipat dan dimasukkan ke dalam amplop coklat pemerintahan.
Serena menarik napas panjang, meletakkan tasnya, dan duduk.
Ia tidak punya waktu untuk berduka. Dan mungkin memang begitu lebih mudah.
Ruang rapat kecil di pojok sudah terisi ketika ia masuk. Bima Hartono, redaktur pelaksananya, berdiri di depan layar proyektor dengan ekspresi yang Serena kenal—wajah seseorang yang baru saja mendapat berita besar dan tidak sabar untuk membaginya. Dua reporter junior duduk dengan laptop terbuka. Dan satu orang lagi yang tidak langsung Serena kenali.
Perempuan itu duduk di kursi pojok dengan cara yang terlalu santai untuk situasi briefing mendadak. Potongan rambut bob presisi, bibir merah muda, dan senyum yang langsung mengembang begitu Serena masuk—hangat, terbuka, persis seperti orang yang sudah berlatih tersenyum di depan kamera.
"Sudah kenalan sama Clara?" tanya Bima.
"Clara Anindita," kata perempuan itu, mengulurkan tangan. "Reporter baru dari Surabaya. Mulai bulan ini."
"Serena," jawabnya singkat, menjabat tangan itu sebentar sebelum mengambil kursi.
Senyum yang terlalu sempurna. Serena mencatat itu di bagian belakang pikirannya, lalu mengalihkan perhatian ke layar.
Bima mengklik satu file, dan foto seorang pria paruh baya muncul di layar—wajahnya separuh tertutup tangan saat turun dari mobil, tapi cukup jelas untuk dikenali oleh siapa pun yang mengikuti berita ekonomi tiga tahun terakhir.
"Hendratno Wicaksana," kata Bima. "Direktur Utama Konsorsium Energi Nusantara. Tiga hari lalu ditemukan meninggal di kediamannya di Pondok Indah. Keluarga bilang serangan jantung."
Ia berhenti. Ruangan yang sudah diam itu mendadak terasa lebih berat.
"Tapi ada sumber internal yang menghubungi kita tadi siang. Katanya bukan serangan jantung."
"Ada buktinya?" tanya Serena.
"Dokumen akan masuk malam ini. Tapi masalahnya—" Bima menampilkan foto berikutnya: sebuah logo, dua lingkaran saling tumpang tindih dengan garis diagonal di tengahnya. "Konsorsium ini punya backing yang sangat besar. Ada nama-nama di belakangnya yang kalau kita salah langkah, kita yang habis duluan sebelum berita itu tayang."
Serena menatap layar. Jemarinya mengetuk meja, pelan.
"Kamu mau aku yang pegang ini?"
"Siapa lagi?" Bima memandangnya. "Ini bukan cerita untuk orang yang takut ketuk pintu salah."
Serena menarik napas.
Hari ini ia baru saja menutup satu bab hidupnya dengan tanda tangan dan amplop coklat. Dan malam ini, tanpa izin, bab berikutnya sudah mulai berjalan.
"Kirim semua yang kamu punya ke emailku," katanya akhirnya. "Aku mulai malam ini."
Serena hampir tidak memperhatikan Clara yang menatapnya dari sudut mata ketika ia berdiri.
Hampir.
Ada sesuatu di senyum perempuan itu—tipis, sedikit berbeda dari yang tadi—yang menempel di sudut pikiran Serena bahkan setelah ia keluar dari ruang rapat.
Tapi ia punya hal yang lebih mendesak untuk dipikirkan. Dokumen itu akan tiba malam ini. Dan Serena Aksara tidak pernah membiarkan hal penting menunggu.
Dokumen itu tiba pukul 23.14.
Serena masih duduk di meja kerjanya—kopi ketiga sudah dingin, tumpukan print-out laporan keuangan tersebar di kiri, layar laptop menyala keras di tengah ruang yang gelap. Blazer abu-abu yang ia pakai sejak pagi masih di bahunya, dua kancing atas sudah terbuka, lengan digulung ke siku. Ia tidak sempat—atau tidak mau—pulang ke apartemen duluan.
Folder terenkripsi. Password lewat aplikasi pesan yang auto-delete. Dua puluh tiga file. Sebagian besar spreadsheet, beberapa foto, satu dokumen P*F berlabel: LAPORAN INTERNAL — TIDAK UNTUK DISEBARKAN.
Serena memulai dari yang terakhir.
Sepuluh menit kemudian ia meletakkan punggungnya ke sandaran kursi dan menatap langit-langit.
Ini bukan sekadar kematian mencurigakan seorang direktur.
Ini jauh lebih besar dari itu.
Tiga hari berlalu dengan ritme yang ia kenal: pagi di kantor, siang di lapangan, malam di depan laptop. Tidur empat sampai lima jam. Kopi lebih banyak dari yang seharusnya. Makan kalau ingat.
Jejak pertamanya membawa ke sebuah nama: firma konsultan kecil di gedung tua kawasan Gatot Subroto. Tidak ada website, tidak ada media sosial—tapi namanya muncul dua kali di dokumen internal Konsorsium, selalu di halaman yang sebagian tintanya sudah kabur seolah sengaja dibiarkan sulit dibaca.
Serena datang tanpa janji temu. Cara terbaik untuk mendapat jawaban jujur adalah sebelum orang punya waktu menyiapkan kebohongan.
Resepsionis di lobi mengarahkannya ke lantai empat. Serena naik lewat tangga—lift gedung ini terlalu sempit dan terlalu lambat untuk seleranya.
Lantai empat: lorong panjang, lampu neon berkedip tidak teratur, tiga pintu. Hanya satu yang ada namanya. CV Andara Konsultan.
Serena mengetuk. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, lebih keras.
Kali ini pintu tidak dibuka dari dalam. Dari ujung lorong, ada suara langkah kaki.
Ia berbalik.
Seorang pria berjalan ke arahnya.
Tinggi—lebih dari yang biasanya langsung Serena perhatikan. Kemeja putih lengan panjang, dua kancing atas terbuka bukan karena tidak rapi tapi memang begitu adanya. Rambut hitam sedikit tidak teratur di bagian depan. Usia pertengahan tiga puluhan, mungkin. Ia membawa dua cangkir kopi, dan ia menatap Serena dengan ekspresi yang tidak terkejut sama sekali.
Seolah ia memang sudah tahu ada orang yang akan datang.
"Pintu itu tidak akan dibuka dari dalam," katanya, berhenti dua langkah dari Serena. Suaranya rendah, datar, tapi tidak tidak ramah. "Orangnya sudah tiga hari tidak masuk."
Serena memandangnya.
"Kamu tahu di mana orangnya sekarang?" tanya Serena langsung.
Pria itu tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia mengulurkan satu cangkir kopi ke arahnya.
Serena tidak mengambilnya.
Ia hanya menatap pria itu—tenang, tidak bergerak, cangkir kopi di tangan kirinya, ekspresi yang sama persis seperti seseorang yang terbiasa menunggu dan tidak pernah terburu-buru.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari yang padat itu, Serena Aksara tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
—
Ia belum tahu namanya.
Ia belum tahu siapa dia, untuk siapa dia bekerja, atau mengapa dia ada di sini dengan dua cangkir kopi seolah sudah tahu ada yang akan datang.
Yang Serena tahu hanya satu: bahwa ada sesuatu dalam cara pria itu berdiri—tanpa urgensi, tanpa manuver—yang lebih mengganggunya daripada semua ancaman yang belum jelas bentuknya dari kasus ini.
Dan itu tidak bagus.
"Clara! Dia masuk UGD RS Premier dua jam lalu. Dipukuli." kata Bima. Suaranya terdengar terlalu cepat Serena berdiri dari kursinya tanpa sadar. "Apa?!" "Dia ditemukan Security apartemennya. Pintunya terbuka, Clara tergeletak di lantai." Bima menarik napas, dan untuk pertama kalinya, seperti orang yang sedang ketakutan. "Dia sadar. Tapi dia minta saya hubungi kamu duluan. Bukan polisi. Kamu." "Saya ke sana sekarang." "Serena—" Bima berhenti sebentar. "Dia bilang sesuatu sebelum dibawa. Katanya, 'bilang ke Serena, ini bukan dari Revan.'" Serena memandang Arga, yang sudah berdiri, sudah mengambil kunci mobilnya. Tapi sesuatu di nada Bima membuatnya berhenti sejenak. "Bima!" Suaranya lebih tajam sekarang. "Kalau kamu tahu sesuatu, jangan diam. Tidak sekarang." "Saya tidak—" Bima ragu, dan jeda itu sendiri sudah jawaban. "Investor baru itu. Mereka sempat tanya-tanya soal pergerakan kamu minggu ini. Saya pikir cuma basa-basi. Tapi sekarang—" "Kita bicara nanti. Cari tahu siap
Serena tidak membalas pesan itu.Ia menutup ponselnya, meletakkannya menghadap bawah, dan untuk beberapa menit hanya duduk di sana dengan kopi yang sudah dingin dan satu kalimat yang terus berputar di kepalanya."Hendra Prawiratama tahu kamu sudah temukan rekamannya."Ia tidak langsung menghubungi Arga. Ada bagian dari dirinya yang butuh tahu sendiri dulu, sebelum mendengar versi orang lain, siapa nama yang baru saja masuk ke dalam hidupnya.Ia membuka laptopnya kembali.Pencarian pertama tidak menghasilkan apa-apa. Namanya terlalu bersih, seperti seseorang yang sudah lama belajar tidak meninggalkan jejak. Tapi Serena mulai dari arah lain: unit yang Arga sebut, Operasi Garuda Hitam, 2019, Makassar. Berita-berita kecil, kematian yang dikategorikan sebagai "kecelakaan" untuk tiga nama yang tidak pernah muncul lagi setelahnya.Pukul satu pagi, ia menemukan satu titik yang menghubungkan semuanya — sebuah yayasan pendidikan dengan dewan pembina yang tidak pernah muncul di pemberitaan tapi
Serena tidak langsung membuka flash disk itu.Ia pulang ke apartemennya — pertama kalinya setelah beberapa malam. Mandi, ganti baju, duduk di meja dapur dengan laptop yang menyala dan secangkir kopi yang ia buat tapi belum ia sentuh.Flash disk itu di sebelah kanannya. Ia mencolokkannya pukul 21.15.Satu folder. Beberapa file. Ia melewati foto-foto dan dokumen yang sudah ia tahu konteksnya, langsung ke file yang paling tidak ingin ia buka — berlabel dengan tanggal, dua minggu sebelum Arga mengundurkan diri, format audio.Ia menekan play.Suara pertama yang keluar membuat sesuatu di dadanya berhenti sebentar — bukan karena asing, tapi karena terlalu kenal. Suara yang sudah ia hafal.Serena menekan play."Saya tidak bisa melanjutkan ini.""Duduk dulu—""Tiga orang mati! Bukan karena misi gagal. Mereka mati karena ada yang memang tidak ingin mereka pulang. Dan anda tahu itu."Hening beberapa detik."Anda tahu terlalu banyak untuk keluar begitu saja.""Iya. Dan itu yang akan saya pakai!"
Tangga ruko itu sempit dan berbau cat lama.Serena naik duluan, satu tangan di pegangan yang sudah goyang, Arga tepat di belakangnya. Tidak ada yang bicara. Di bawah, suara Revan yang menutup pintu depan terdengar pelan, diikuti langkah kakinya yang tidak ikut naik.Serena tidak yakin itu tanda baik atau buruk.Lantai dua: satu koridor pendek, dua pintu. Yang pertama terbuka adalah ruang kosong, kardus bertumpuk, jendela yang tirai hijaunya sudah pudar. Yang kedua tertutup, dengan cahaya tipis di celah bawah pintunya.Serena mengetuk. "Pak Wisnu?"Diam tiga detik. Kemudian suara kursi bergeser, langkah kaki yang pelan dan berat, dan pintu terbuka.Wisnu Prasetya terlihat lebih tua dari terakhir Serena lihat, bukan karena waktu, tapi karena kelelahan yang datang dari terlalu lama menyimpan sesuatu yang terlalu berat. Bajunya rapi, tubuhnya tidak tampak disakiti, tapi matanya punya kedalaman seseorang yang sudah memutuskan sesuatu sebelum mereka datang."Mbak Serena." Ia membuka pintu l






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.