Inicio / Male Adult / CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS / 7. DIA BERBAHAYA TAPI AKU INGIN

Compartir

7. DIA BERBAHAYA TAPI AKU INGIN

Autor: Mystique
last update Fecha de publicación: 2026-07-25 20:00:30

Paris terdiam selama beberapa detik. Uluran tangan River di depannya ia biarkan begitu saja.

Otaknya mendadak macet karena tidak menyangka.

Mahasiswa baru yang sejak kemarin diceritakan Manda. Pria yang diceritakan gila-gilaan oleh banyak perempuan di kampus, ternyata adalah sosok sama yang kemarin sempat membuatnya hampir terhanyut.

Melihat Paris yang mematung dengan mata yang terus melihatnya. Sudut bibir River terangkat semakin tinggi. Diimbangi dengan sedikit tawa ke
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    8. AKU BERHARAP MESKI DIA AMBIGU

    Keduanya berjalan di atas trotoar yang mulai basah oleh embun malam sampai menemukan toko es krim. Di dalam toko es krim yang sepi, Paris menunjuk dua sekop es krim rasa stroberi dalam mangkuk kertas. Sementara River memilih rasa vanila.Dan juga dua kantong plastik besar berisi belasan es krim batangan untuk teman-teman mereka di ruang karaoke."Jadi," River membuka suara saat mereka kembali menyusuri koridor luar pertokoan yang agak temaram. Langkahnya sengaja diperlambat, menyamakan ritme dengan langkah Paris. "Kenapa tadi bohong?"Paris menyendok es krimnya, berpura-pura sangat sibuk mengecap rasa manis dingin itu di lidahnya."Bohong soal apa?"River terkekeh rendah, suara yang selalu sukses membuat tengkuk Paris meremang. "Soal kita. Kenapa bilang nggak kenal gue?"Paris mengembuskan napas pelan, matanya menatap ujung sepatunya sendiri yang melangkah beriringan dengan sepatu milik River."Nggak ada alasan khusus. Cuma... gue nggak mau mereka tau terus jadiin itu bahan gosip sa

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    7. DIA BERBAHAYA TAPI AKU INGIN

    Paris terdiam selama beberapa detik. Uluran tangan River di depannya ia biarkan begitu saja.Otaknya mendadak macet karena tidak menyangka.Mahasiswa baru yang sejak kemarin diceritakan Manda. Pria yang diceritakan gila-gilaan oleh banyak perempuan di kampus, ternyata adalah sosok sama yang kemarin sempat membuatnya hampir terhanyut.Melihat Paris yang mematung dengan mata yang terus melihatnya. Sudut bibir River terangkat semakin tinggi. Diimbangi dengan sedikit tawa kecil, River terlihat menikmati keterkejutan gadis di hadapannya.River sengaja menggerakkan jemarinya yang masih menggantung di udara. Sebuah isyarat halus untuk menyadarkan Paris dari lamunannya. "Hai, gue River," ulangnya lagi.Suaranya merendah, bergetar renyah tepat di indra pendengaran Paris.Sentakan suara itu berhasil mengembalikan kesadaran Paris yang sempat menguap. Dengan gerakan yang sedikit kaku dan canggung, Paris akhirnya menyambut uluran tangan River

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    6. BERTEMU LAGI

    Kertas-kertas bekas diremas menjadi bola-bola kecil. Lalu dilemparkan melintasi barisan meja hingga mendarat sukses di kepala salah satu mahasiswa yang tengah tertidur.Seketika, gelak tawa pecah di sudut kanan kelas. Ruangan berkapasitas tiga puluh orang itu berisik bukan main, mirip pasar tumpah di tengah hari.Ada yang asyik bergosip, ada yang sibuk memoles lipstik, dan ada pula yang memukul-mukul meja mengikuti ritme lagu rap dari pelantang suara portabel.Manda menggeser duduknya, menyenggol lengan Paris yang sejak tadi hanya terdiam memandangi layar ponselnya yang meredup."Paris, dengerin gue," Manda menopang dagu, matanya fokus menatap wajah Paris dari samping. "Anak baru yang pindahan dari kampus sebelah itu... dia nanyain lo terus ke anak-anak. Katanya, dia sengaja nanya jadwal kelas kita biar bisa pas ketemunya."Paris menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang tampak dipaksakan. "Palingan dia cuma mau pinjam catatan, Manda. Jangan mulai, deh.""Catatan apaan?" Manda mencibi

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    5. LOLIPOP

    Belum sempat bibir mereka bersentuhan, sebuah suara asing mendadak memecah kesunyian di antara keduanya. "Permennya kelihatan enak. Apa lo punya lagi?" Waktu yang semula terasa berhenti seketika buyar berantakan. Jarak yang mengunci itu mendadak menguap. Paris tersentak, buru-buru menarik napasnya yang sempat tertahan. Sementara pemuda di hadapannya perlahan menegakkan tubuh tanpa riak kepanikan sedikit pun di wajahnya. Keduanya menoleh, mendapati seorang wanita muda sudah berdiri di dekat mereka. Menatap lurus ke arah keduanya atau lebih tepatnya, menatap penuh minat pada sisa permen di bibir sang pemuda. Pemuda itu tidak terlihat terganggu. Ia justru menatap Paris sekilas dengan sudut bibir yang melengkung ringan, sebelum merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan lolipop terakhir berwarna merah yang tersisa. "Sisa satu," ucap pemuda itu, suaranya terdengar renyah dan bersahabat. Ia menimbang permen merah itu di jemarinya yang lentik. "Tapi, gue udah tawarin ke dia lebih

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    4. NAMA YANG BAGUS

    "Paris?" Pemuda itu mengulang nama tersebut. Membiarkan tiap sukunya mengalir pelan dari belah bibirnya sebelum akhirnya sebuah tawa ringan meluncur bebas. Ia sedikit menjauhkan wajah, memberikan ruang bagi Paris untuk kembali meraup pasokan oksigen yang sempat tersendat. "Nama lo lucu tapi bagus," pemuda itu menyandarkan satu bahunya pada sebatang pohon di dekat mereka. Melipat tangan di depan dada sambil terus melempar pandangan jenaka. "Kenapa nama lo Paris? Apa karena orang tua lo suka Eiffel?" Mendengar gurauan asal itu, Paris tak bisa menahan diri untuk tidak ikut menyunggingkan senyum. Rasa canggung yang tadi sempat membekukan lidahnya perlahan mengikis, digantikan oleh rasa hangat yang mengalir santai. "Gue lahir di sana," jawab Paris, diselingi tawa kecil yang terdengar tulus di telinga sang pemuda. "Dan kata mereka, karena di sana tempat surganya fashion, jadi mereka kasih gue nama itu. Berharap gue bisa seperti fashion yang indah itu." Paris menunduk sedikit,

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    3. PRIA DENGAN SENYUM LEMBUT

    "Lo udah duduk." Paris tertawa ringan meski jemarinya refleks meremas tali tasnya sendiri karena pemuda asing itu langsung mengambil posisi bahkan sebelum dia mengizinkan. Pemuda di depannya ikut terkekeh. Suaranya renyah, mengalir santai tanpa beban. Kedua matanya mengunci pandangan Paris, lekat dan tak beralih barang sedetik pun, membuat Paris buru-buru membasahi bibirnya yang mendadak kering. "Apa yang buat lo melamun sendirian?" Pemuda itu menopang dagunya dengan sebelah tangan di atas meja, mencondongkan tubuh hingga jarak di antara mereka menyusut. Paris memalingkan wajah, menatap jalanan di luar kaca kafe. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme acak. Sedikit berpikir untuk mencari alasan yang paling aman. "Nggak ada. Cuma bosan," jawabnya singkat. Pemuda itu tersenyum kecil, seolah tahu bahwa jawaban Paris hanya sebuah kebohongan formalitas. Paris mengedipkan kedua matanya satu kali, mencoba menguasai dirinya sendiri. Namun, ia tidak bisa berbohong.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status