ВойтиMalam yang ramai dan ceria di sebuah restoran bintang lima terasa sangat hangat. Hal itu berbanding terbalik dan kontras dengan suasana hati Andien yang begitu dingin, diliputi perasaan campur aduk di benaknya. Ia sedang duduk tenang di dalam ruangan VIP restoran yang bernuansa privat.Cklek!Terdengar pintu ruangan VIP itu terbuka. Terlihat seorang pria tinggi tegap yang memakai topi, masker, dan kacamata hitam melangkah masuk. Tanpa perlu melihat wajahnya secara utuh, Andien langsung tahu bahwa pria itu adalah Jovian.Jovian menenteng sebuah paperbag kecil yang langsung diserahkannya pada Andien.Andien berterima kasih dengan senyum tipis yang dipaksakan, sementara Jovian dengan cepat mendudukkan diri di hadapan wanita itu.Jovian melucuti topi, masker, dan kacamatanya. "Tumben kau mengajakku makan di restoran ini lagi? Kau bilang tidak terlalu suka dengan makanan di sini?" mulai Jovian dengan senyum lembutnya yang selalu tampak memikat.Andien perlahan menatap Jovian, matanya meman
Siang yang terik hari itu tidak menghentikan Saifanny untuk berdiri di tempatnya berada. Kini, ia berdiri tegak di depan kediaman mewah milik Marcus dengan ekspresi wajah yang tak terbaca.Gejolak di dalam dadanya campur aduk; jika benar Marcus mempermainkannya dengan sandiwara murahan yang melibatkan putri kandungnya sendiri, Saifanny tidak akan segan-segan untuk memaki pria itu tepat di hadapan wajahnya.Saifanny melangkah lebar menuju pintu depan, lalu memencet bel pintu perlahan.Beberapa saat kemudian, pintu kayu berukir itu terbuka. Muncul seorang wanita paruh baya yang terasa asing bagi Saifanny."Selamat siang, Bu. Boleh saya tahu Ibu cari siapa?" tanya wanita itu dengan nada sopan.Saifanny berdeham kecil, menetralkan rasa canggungnya. "Saya cari Marcus, Bu. Apa dia ada di rumah?" ucap Saifanny pelan.Wanita itu terdiam sejenak, tidak langsung membalas pertanyaan Saifanny. Ada kilat kehati-hatian di matanya."Apa Ibu dari Manggala Tech? Tuan Marcus berpesan, jika pegawai Mang
Pagi hari di kediaman Saifanny disambut oleh rasa tidak nyaman yang pekat. Kepalanya berdenyut menyakitkan, sisa dari hantaman hujan deras yang mengguyur tubuhnya kemarin malam.Dengan duka yang mengganjal, mata Saifanny menatap lurus ke layar ponsel. Tidak ada kabar yang dinantinya, hanya ada sebaris pesan dari Bima yang baru masuk."Maaf Saifanny, aku juga tidak menemukan jejak Mabelle. Mungkinkah dia tak ada di J-city lagi?"Saifanny mengerutkan alisnya dalam-dalam. Benaknya mulai menimbang kemungkinan pahit itu; apa mungkin Mabelle memang sudah dibawa keluar dari kota ini? Kemungkinan itu jelas ada, dan hal tersebut kian mengimpit dadasnya dengan rasa bersalah yang teramat besar.Seketika, pikiran Saifanny kembali melayang pada malam ketika Adrian menjabarkan semua teori logisnya di ruang tamu ini.Memang benar Marcus telah melakukan banyak hal licik di masa lalu, dan Saifanny tidak sepenuhnya menyalahkan analisis dingin Adrian.Namun, logika Saifanny menolak keras untuk percaya.
Malam itu, mobil Adrian membelah jalanan kota dengan keheningan yang pekat di dalam kabin. Andien sesekali melirik ke arah Adrian yang fokus mengemudi dengan wajah murung dan rahang kaku.Andien tahu, tindakan Saifanny yang mengusir kakaknya tadi bagaikan penolakan wanita itu untuk menghadapi kenyataan pahit.Namun, di lubuk hatinya, Andien yakin Saifanny tidak sebodoh itu untuk terus percaya pada Marcus yang sedang mencoba memanipulasinya.Andien berdeham pelan, mencoba memecah ketegangan."Kak... Kayaknya Kak Fanny cuma emosi aja. Aku yakin setelah dia menenangkan diri, dia akan kembali berpikir logis. Percayalah padanya," hibur Andien dengan nada lembut."Kak Fanny bukan orang bodoh, cepat atau lambat dia akan tahu kalau semua ini hanya sandiwara Marcus," lanjut Andien berhati-hati.Namun, Adrian tetap bungkam dan fokus menyetir, seolah ucapan penghiburan dari adiknya itu hanya angin lalu yang melewatinya tanpa arti.Ego dan perasaan tulusnya yang terinjak-injak malam ini membuat b
Setelah dipaksa menepi akibat jarak pandang yang memburuk di tengah badai, Saifanny akhirnya memilih kembali ke rumah untuk mengoordinasi pencarian dari sana.Selesai membersihkan diri, ia kini sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Sesekali matanya melirik ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja rias.Layar benda digital itu masih mati, belum menampilkan notifikasi apa pun dari Bima maupun Marcus. Perlahan, rasa khawatir yang pekat mulai menguasai benaknya.Sampai akhirnya beberapa saat kemudian, keheningan rumah itu pecah oleh suara deru mobil yang berhenti di depan pelataran.Adrian tiba di depan kediaman Saifanny dengan langkah terburu-buru, sedangkan Andien mengekor cemas di belakangnya.Ting nong! Ting nong!Suara bel rumah ditekan berulang kali dengan ritme yang tidak sabar. Saifanny segera menuruni anak tangga dengan langkah pelan, dilingkupi penuh tanda tanya tentang siapa yang bertamu di tengah cuaca seburuk ini.Begitu Saifanny membuka pintu perlahan, sosok Adrian su
Sore itu, di bawah guyuran hujan deras yang kian menghunjam bumi, Saifanny menarik lengan Marcus dengan sisa tenaga yang dimilikinya agar pria itu mendekat.Ia menatap mantan pacarnya itu dengan sorot mata penuh ketegasan, mencoba menembus dinding kepanikan yang mengurung sang pria."Aku tahu kamu khawatir soal Mabelle, tapi kamu harus yakin dia baik-baik saja!" seru Saifanny. Namun, Marcus hanya bergeming dengan tatapan mata yang kosong."Marcus, dengarkan aku! Marcus!" Panggil Saifanny dengan volume suara yang sengaja ditinggikan.Marcus tersentak, seolah baru saja ditarik paksa kembali ke realitas oleh teriakan Saifanny."Iya, aku tahu. Mabelle pasti baik-baik saja," sahut Marcus dengan suara parau. "Kau pulanglah saja. Aku akan tetap mencari lagi di sebelah sana." Jari Marcus menunjuk gemetar ke arah ujung gapura sebuah permukiman padat.Ketika orang-orang mulai menyerah dan menghentikan pencarian akibat cuaca yang memburuk, Marcus justru bersikeras menerjang badai demi menemukan
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri







