LOGINSetelah selesai menikmati sarapan pagi, Indra berinisiatif mengumpulkan dan membersihkan piring kotor yang baru saja mereka gunakan."Biarkan saja, nanti ada asisten rumah tangga yang datang mengurusnya," ucap Jovian memecah kesunyian.Aktor senior itu kemudian melangkah santai, mendudukkan tubuhnya di atas sebuah sofa panjang berbahan beludru berwarna biru tua.Jovian memberikan kode dengan lambaian tangan agar Indra ikut duduk bersamanya di sana."Kau sebelumnya bertanya padaku tentang rahasia keluarga Manggala, kan? Aku akan memberitahumu satu rahasia yang tidak diketahui oleh satu pun orang luar, termasuk Kak Nabilla sekalipun," mulai Jovian dengan nada suara yang perlahan merendah.Indra menggeser langkahnya lalu mengambil posisi duduk dengan telinga yang sudah siap mendengarkan dengan saksama."Salah satu rahasia keluarga Manggala adalah... aku," ucap Jovian sembari menunjuk dirinya sendiri.Indra mengerutkan alisnya dalam-dalam, belum sepenuhnya memahami arah pembicaraan sang s
Pagi itu, di kediaman Saifanny, cuaca begitu cerah. Pancaran sinar matahari yang menghangatkan seolah menyambut siapa saja yang bersiap melakukan aktivitas di luar ruangan.Namun, kondisi yang kontras justru terjadi di dalam kamar utama. Saifanny merasa sekujur tubuhnya kedinginan.Sudah dua hari lamanya ia memilih mengurung diri di dalam kamar karena kepala yang berdenyut hebat dan kondisi fisik yang mendadak lemas.Sebagai seseorang yang tergolong jarang jatuh sakit, ketidakberdayaan ini bener-bener menyiksa batinnya."Mama..." sebuah suara lembut terdengar dari arah ambang pintu.Syahdan berjalan menghampiri tempat tidur Saifanny dengan langkah yang sangat pelan, dilingkupi rasa takut akan membangunkan sang ibu yang ia kira masih tertidur pulas.Namun, sepasang mata almond Saifanny sebenarnya sudah terbuka. Kedipan cepat matanya menyiratkan kesadaran begitu mendengar panggilan sang putra.Ia memaksakan diri untuk mendudukkan tubuh, bersandar pada headboard ranjang."Iya, sayang..."
Tiba saatnya mahakarya lama dari mendiang Febrian Haryanto akhirnya dilelang di atas panggung utama.Jovian dan Indra saling melirik sepersekian detik. Jovian memberikan anggukan super tipis—sebuah kode absolut agar mereka mulai mengeksekusi skenario akting, berpura-pura menjadi rival sengit yang siap saling menjatuhkan demi sebuah lukisan.Seluruh pasang mata di dalam aula megah itu kini tertuju ke arah panggung, tempat lukisan bertajuk Our Happiness berdiri dengan kokoh.Di bawah siraman lampu spotlight yang dramatis, karya terakhir sang maestro sama sekali tidak menampilkan lanskap tragis atau potret abstrak yang kelam.Sebaliknya, kanvas besar tersebut justru dipenuhi oleh figur beberapa anak kucing bermata bulat besar dan anak anjing berbulu lebat yang sedang saling bertumpuk dengan jenaka.Namun, ini jelas bukan lukisan hewan biasa. Febrian Haryanto menggoreskan gaya khasnya yang legendaris: teknik impasto tebal dengan palet warna pastel yang estetis—perpaduan antara warna sage
Malam itu, di dalam ruang ganti Holy Entertainment, Indra menatap pantulan dirinya di depan cermin besar dengan perasaan yang campur aduk. Ia memang telah berjanji untuk mengabulkan apa pun keinginan Jovian demi mendapatkan informasi rahasia.Namun, ia sama sekali tidak menduga bahwa aktor senior itu akan memintanya untuk mendampingi ke sebuah acara lelang barang mewah yang super eksklusif.Malam ini, Indra mengenakan setelan jas berbahan beludru hitam yang memancarkan kesan elegan.Potongan busana itu melekat sangat serasi dengan struktur visual wajahnya, mentransformasikan penampilannya hingga terlihat seperti seorang pangeran dari negeri dongeng.Tok! Tok!Suara ketukan pintu memecah keheningan ruangan. Jovian melangkah masuk secara perlahan ke dalam ruang ganti Indra."Indra, sudah siap?" tanya Jovian begitu sepasang matanya menangkap sosok Indra yang masih berdiri mematung di depan cermin.Indra hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.Jovian melangkah mendekat, lalu mengulurkan t
Pagi itu, jarum jam dinding baru saja menunjuk tepat pada pukul 05.00 pagi. Saifanny sudah terduduk kaku di tepi ranjang kamarnya sejak dua jam yang lalu.Pikirannya benar-benar buntu, diliputi tanda tanya besar yang terus berputar tanpa henti sejak ia melangkah keluar dari kediaman mewah Marcus semalam.Benaknya terus menuntut jawaban: dari mana pria itu bisa mengetahui dengan sangat valid bahwa Syahdan adalah putra kandung Adrian?Saifanny meraih ponselnya dengan jemari yang sedikit gemetar. Ia menimbang situasi, menebak bahwa Bima pasti sudah terbangun dari tidurnya saat ini.Nada sambung terdengar beberapa saat di keheningan kamar, sebelum akhirnya suara berat di seberang sana menjawab."Ada apa menelepon sepagi ini?" tanya Bima, suaranya parau, menguap lebar."Marcus... dia tahu kalau Syahdan adalah putra Adrian," ucap Saifanny lirih, menahan desakan kepanikan yang mulai merayap di dadanya.Bima seketika terdiam di seberang saluran. Otak kalkulatifnya langsung bekerja cepat, meme
Lembaran kalender berbalik tanpa suara, membawa pergi hari-hari melelahkan merawat Marcus di rumah sakit hingga tak terasa satu bulan telah berlalu.J-City pagi itu dilingkupi ketenangan yang luar biasa bagi Saifanny. Tidak ada lagi aroma obat-obatan yang menyesakkan, dan tidak ada lagi rasa cemas yang memburu di dadanya.Marcus kini telah pulih dan kembali memimpin kantor cabang Manggala Tech dengan profesionalisme yang tinggi.Bagi Saifanny, berakhirnya masa perawatan itu menjadi akhir dari beban utang budi yang sempat menghimpit pundaknya selama berminggu-minggu.Sebagai bentuk ucapan terima kasih, malam ini Marcus mengundang Saifanny dan Syahdan untuk makan malam bersama di kediaman mewahnya, ditemani oleh putri kecilnya, Mabelle.Begitu Saifanny dan Syahdan melangkah masuk melewati pintu depan, Marcus langsung menyambut kedatangan mereka dengan senyum manis khasnya yang memesona."Saifanny, Syahdan, selamat datang," ucap Marcus lembut, memancarkan aura tuan rumah yang sempurna.R
Malam kian larut, namun kantuk enggan menyapa Zain. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara pikirannya berkecamuk seperti badai.Dunianya yang selama ini ia kendalikan dengan kebohongan kini terasa runtuh di atas kepalanya.Saifanny, istri sahnya, tengah mengandung
Saifanny memasukkan kantong plastik berisi testpack dan strip obat itu ke dalam tasnya dengan gerakan taktis.Ia memastikan benda-benda itu tersimpan aman di kompartemen paling dalam, seolah sedang menyembunyikan amunisi untuk pertempuran berikutnya.Setelah merapikan tasnya, pandangan Saifanny ber
Setengah jam kemudian, Indra sampai di depan gedung pencakar langit Utama Group. Langkahnya terasa berat namun mantap, matanya memancarkan kilat tajam yang siap menumpahkan segala gejolak amarah yang ia dengar dari ibunya.Dengan perasaan benci yang bercampur aduk, ia melewati barisan petugas keama
Pagi itu, mentari bahkan belum sempat menyapa ufuk timur, namun suasana di kediaman Zain sudah memanas.Saifanny melangkah menuju kamar tamu paling belakang, tempat yang sengaja ia pilih untuk mengisolasi Ranaya.Dengan gerakan kasar yang tidak menyembunyikan rasa muaknya, ia mengguncang tubuh wani







