Share

Bab 7

Penulis: Blue Moon
last update Tanggal publikasi: 2025-05-15 22:25:12

Sekembalinya ke Indonesia, Sarah mencari tempat kos yang murah namun cukup bersih. Sesuai dengan niat awalnya, dia sama sekali tidak menghubungi keluarganya. Dia tak mau jika tiba-tiba ibunya memaksanya lagi untuk melanjutkan rencana pernikahan itu.

Di kamarnya yang sempit, Sarah sedang mengetik di laptop yang dipinjamkan Randy, ketika ponselnya berdering. Ternyata Randy yang menelepon.

“Ya, Randy. Ada apa?” jawab Sarah.

“Tidak ada apa-apa. Hanya ingin menanyakan kabarmu hari ini.” Suara di ujung sana terdengar manis.

Sarah tersenyum dan tanpa sadar mulai memilin sejumput rambut panjangnya. “Kabarku baik. Bagaimana denganmu?”

“Aku juga baik. Seperti biasa cukup sibuk.”

“Kau masih di kantor?”

“Iya, tapi akan segera pulang. Oh ya, apa kau sudah mengirim email ke temanku?”

“Aku sedang menyiapkannya. Akan segera kukirim.”

“Bagus. Aku akan infokan padanya.”

“Kau sudah makan malam?” tanya Sarah.

“Tentu saja. Sayang sekali kita tak bisa makan malam bersama,” keluh Randy.

Sarah tersenyum kecil. “Tak apa-apa. Bisa lain kali. Masih banyak waktu.”

Mereka mengobrol ringan selama berjam-jam kemudian.

Inilah rutinitas mereka yang baru. Bertelepon tanpa mengenal waktu. Sarah menikmati momen-momen ini. Dia belum pernah punya pacar sebelumnya. Jadi baru sekarang dia mengetahui… ternyata pacaran menyenangkan juga. Ada perasaan bahagia dan excited setiap kali melihat nama Randy muncul di ponselnya.

***

Dengan mengenakan pakaian formal terbaiknya, Sarah datang ke showroom mobil tempat teman Randy bekerja. Bangunan itu tampak besar, dengan hampir seluruh bagian dindingnya terbuat dari kaca. Seorang satpam menyambutnya ketika dia datang.

“Silakan masuk, Bu,” sapa satpam tersebut dengan sopan.

“Ah, saya ingin bertemu dengan Pak Julio.”

“Baik. Mari saya antar ke dalam.”

Sarah mengikutinya masuk ke gedung tersebut. Bagian dalam gedung sangat luas, dengan langit-langit yang tinggi. Interiornya modern didominasi dengan warna-warna earth tone. Ada sekitar sepuluh jenis mobil berbeda yang terpajang disana, dengan jarak antar mobil sekitar tiga meter. Di bagian lebih dalam, terdapat meja panjang tempat lima orang staff pemasaran duduk. Dua dari mereka sedang melayani customer di hadapannya masing-masing.

Bangunan tersebut terdiri dari dua lantai. Sarah dipandu ke lantai dua, lalu masuk ke sebuah ruang meeting. Dia pun menunggu dengan tenang disana.

Tak lama waktu berselang, seorang pria berpakaian jas lengkap masuk ke ruangan. Dia tampak berwibawa.

“Selamat siang, Sarah. Saya Julio,” ucap pria itu seraya mengulurkan tangan kanan.

Sarah berdiri dengan cepat dan menyambut uluran tangannya. “Selamat siang, Pak Julio. Saya Sarah.”

Julio mengangguk dan mempersilakannya duduk kembali.

Pria itu mulai membuka dokumen yang dibawanya. “Baiklah, Sarah. Disini tertulis kamu baru lulus kuliah beberapa bulan yang lalu?”

“Ya betul, Pak.”

“Nilai-nilaimu cukup bagus. Terutama di ilmu keuangan.” Julio mengangguk-angguk. “Ini sesuai dengan pekerjaan yang kamu lamar.”

“Terima kasih, Pak.”

“Lalu, apa harapanmu dengan melamar ke kantor ini?”

“Saya ingin memulai karir saya agar bisa hidup mandiri, Pak.”

“Oke. Apa kamu tidak keberatan dengan pekerjaan lembur?”

“Sama sekali tidak, Pak. Saya siap lembur jika dibutuhkan.”

“Baiklah,” ucap Julio akhirnya. “Cukup itu saja. Tidak banyak yang perlu saya tanyakan, karena kamu direkomendasikan oleh Randy. Saya selalu mempercayai penilaiannya.”

‘Wah ternyata mereka sedekat itu,’ batin Sarah.

“Kamu akan bergabung dengan tim keuangan. Kapan bisa mulai bekerja?” lanjut Julio tanpa basa basi.

“Sesegera mungkin, Pak,” jawab Sarah bersemangat. Benarkah begini saja? Dia langsung diterima?

“Oke. Mulailah di hari Senin depan.” Julio tersenyum ramah.

“Baik, Pak, terima kasih banyak!” Sarah tak bisa menutupi kebahagiaannya. Dia akan menghasilkan uang sendiri! Dia tidak perlu bergantung lagi pada orang tuanya.

“Ya, sama-sama. Hmm, lalu Sarah…” Pria itu tampak ragu sesaat sebelum melanjutkan.

“Iya, Pak?”

“Hanya penasaran… apa hubunganmu dengan Randy?”

Sarah melongo. Tak siap karena tiba-tiba mendapatkan pertanyaan personal seperti itu. “Emm.. itu…”

Melihat wanita itu tampak bingung, Julio pun akhirnya berkata, “Tidak apa-apa kalau kau tidak mau menjawab.”

“Te-teman!” jawab Sarah akhirnya. “Kami berteman cukup dekat.”

Julio mengangkat alisnya. ‘Teman katanya? Jika mereka berteman dekat, mengapa aku tidak tahu? Padahal sejak kecil aku sudah mengenal semua orang di sekitar Randy. Ini mencurigakan.’

“Baiklah, Sarah. Terima kasih sudah datang hari ini. Jangan pikirkan tentang pertanyaan barusan.” Julio bangkit berdiri dan tersenyum.

“Baik, Pak. Saya yang berterima kasih, Pak!”

Sarah pun pulang dengan perasaan bahagia. Dia merasa jalan yang baik telah terbuka untuknya. Pertama-tama dia memiliki pacar. Lalu sekarang dia memiliki pekerjaan. Ah, sungguh menyenangkan! Sepertinya ke depannya hanya akan ada hari-hari yang baik untuknya.

***

Julio segera menelepon Randy setelah Sarah pulang.

“Aku sudah menerimanya,” lapor Julio pada sahabat sekaligus bosnya itu.

“Bagus. Kau tidak bilang aku pemiliknya kan?”

“Tentu saja tidak! Kau sudah mengancamku berapa kali?!”

Randy tertawa. “Mengancam apanya?”

“Kau mengancam akan memotong gajiku kalau aku membocorkannya. Lupa?”

“Hei… Aku hanya bercanda. Jangan sensitif begitu.”

“Tidak terdengar seperti candaan untukku.”

Suara tawa Randy terdengar lagi.

“Sepertinya kau senang sekali ya?” sahut Julio. “Sudah menyusahkan aku… Menyuruhku menyiapkan sebuah posisi yang sebenarnya tidak ada...”

“Itu kan tidak sulit. Menambah satu orang saja apa masalahnya? Justru bagus untuk tim kan? Beban pekerjaan bisa sedikit berkurang dengan adanya tambahan orang.”

“Ya, ya… sesukamu lah. Lalu, sebenarnya dia siapa? Apa hubunganmu dengannya?”

“Kau tidak perlu ikut campur. Itu urusan pribadiku.”

“Ikut campur apanya? Aku hanya bertanya,” sahut Julio kesal.

“Yang penting, perlakukan dia dengan baik. Awas saja kalau aku dengar cerita buruk tentangmu dari dia.”

“Nah, itu dia… Sebuah ancaman lagi! Aku tersinggung lho. Selama ini aku selalu menjadi pendukung setiamu. Apa sedikit pun kau tidak merasa bersalah memperlakukan aku seperti itu?”

“Jangan manja. Sudah kuberi gaji besar agar kau bisa hidup nyaman, seharusnya kau bersyukur.”

“Astaga, sombong sekali bajingan satu ini.”

“Aku bosmu, bajingan.”

“Ah... maaf Pak Bos, untuk sesaat aku lupa.”

Pembicaraan mereka diakhiri dengan tawa.

Randy dan Julio sudah bersahabat sejak mereka kecil. Mereka merupakan teman sekolah sejak SD hingga SMA. Saat kuliah mereka sempat terpisah karena Randy pergi kuliah ke luar negeri, namun persahabatan mereka tetap terjalin. Setelah lulus kuliah, Julio pun mengikuti Randy bekerja di perusahaan milik Regina, ibunya. Dan ketika pada akhirnya Randy membuka usahanya sendiri, sudah tentu Julio pindah kerja dan mendukung sahabatnya itu.

Bahkan Randy tak bisa sedekat ini dengan Vicky, adiknya sendiri. Terlalu banyak perbedaan antara Randy dan Vicky. Dan mungkin juga fakta bahwa Vicky merupakan anak Regina dengan pria selingkuhannya lah yang membuat Randy menjaga jarak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 105 (Tamat)

    Beberapa hari kemudian, Miranda datang ke rumah. Awalnya dia menyampaikan permintaan maaf kepada Sarah, karena telah meminta hal yang berlebihan dari menantunya. Miranda tidak sepenuhnya merasa bersalah. Tetapi, karena berbagai teguran dan tekanan dari Steven, akhirnya dia pun bersedia mengalah. Dia memilih untuk menjaga hubungan baik dengan putrinya. Sudah pasti Sarah menerima permintaan maaf ibunya dengan tulus hati. Sarah pun berjanji untuk tidak mempermasalahkan hal itu lagi, jika Ibu memang tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pembicaraan mereka berlanjut dengan cukup positif… Hingga di satu titik, mereka kembali berdebat, “Kapan kau akan berusaha untuk punya anak lagi, Sarah? Sudah cukup lama sejak kau keguguran waktu itu kan? Bukankah seharusnya sudah boleh?” Pertanyaan itulah yang seketika mengubah atmosfer di antara mereka. “Secara medis memang boleh, Bu. Tapi aku belum mau memikirkan itu. Aku ingin fokus untuk menjaga kesehatan mental dan kestabilan emosiku dulu.

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 104

    Hari-hari terus berlalu dengan semua rutinitas mereka masing-masing. Randy lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjalankan perusahaan asset management yang ditinggalkan oleh ibunya, dengan dibantu oleh Vicky yang perlahan-lahan mempelajari kegiatan operasional di sana. Otomatis Randy pun jarang datang ke perusahaannya sendiri. Segala kebijakan dan strategi krusial perusahaan diserahkan ke tangan Alana yang didapuk menjadi pimpinan tertinggi. Awalnya Alana merasa keberatan, karena dia yang merupakan karyawan baru sudah diberi tanggung jawab sebesar itu. Namun dengan sifat Alana yang pada dasarnya memang ambisius dan menyukai tantangan, tentu saja dia tidak mundur. Dia gigih dan berusaha keras untuk memenuhi tugas barunya. Dia merasa ini lah saatnya untuk membuktikan diri... bahwa seorang wanita yang dahulu diremehkan di dalam keluarganya sendiri, kini mampu menduduki jabatan puncak dalam sebuah perusahaan. Dia akan menunjukkan kualitasnya dan menampilkan performa yang terbaik.

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 103

    Vicky melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang kerja kakaknya dengan ekspresi murung.Wajahnya tampak pucat dan lesu. Pikirannya kacau. Dia juga mengalami insomnia semalam, hingga bayangan lingkaran hitam samar muncul di sekeliling matanya.Randy yang melihatnya pun langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres.“Duduklah,” kata Randy dengan tenang ketika Vicky sudah berada di dekat mejanya. “Kau mau minum?”“Tidak, tidak,” tolaknya cepat seraya menarik kursi di hadapan kakaknya dan duduk. “Aku hanya ingin bicara.”“Oke,” ucap Randy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. “Ada masalah apa?”Vicky menarik napas panjang dan memberi jeda selama beberapa detik sebelum berkata, “Kau pasti sudah tahu kan, Kak?”“Tentang apa?” tanya Randy waspada.“Tentang ayahku,” jawabnya dengan suara tercekat. Dia merasa seolah tenggorokannya tersumbat. Dia berusaha menahan emosinya sebisa mungkin, agar dapat berbicara dengan kepala dingin.Barulah Randy memahami apa yang sedang dialami adiknya

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 102

    Tentu saja emosi Sarah meledak saat menghadapi ibunya. Apalagi Miranda tetap bersikeras bahwa dia sama sekali tidak melakukan kesalahan.“Memang apa salahnya? Suamimu sendiri rela memberikan semua barang itu. Ibu tidak pernah memaksanya!” protes Miranda kesal.“Ya walaupun begitu, tahu diri sedikit lah, Bu. Jangan memanfaatkannya seperti ini. Aku tidak suka Ibu melakukannya. Aku kan sudah pernah memperingatkan Ibu!” sahut Sarah.“Kau jadi sombong sekali ya, Sarah?! Kau bilang Ibu tidak tahu diri hanya karena Ibu menerima beberapa benda itu?!” Mata Miranda memerah dan dia menatap Sarah dengan murka. “Sekarang kau bisa hidup bersenang-senang bergelimang harta… Kau bisa tinggal di rumah yang bagus… Suamimu membelikanmu mobil, dan mungkin juga barang apa pun yang kau inginkan… Tapi kau bahkan tidak rela jika Ibu mendapatkan sebagian kecil dari itu?! Kau ingin menikmati semuanya seorang diri? Egois sekali! Apa kau tidak pernah memikirkan seberapa besar pengorbanan Ibu untukmu selama ini? M

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 101

    Satu minggu kemudian.Sarah datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Beberapa hari yang lalu Steven menelepon, menanyakan kabarnya, lalu berkata bahwa mereka sudah lama tak bertemu. Sarah menangkap nada kerinduan di dalam suaranya. Maka dia pun memutuskan untuk segera mengunjungi ayahnya.Memang sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Sesungguhnya Sarah juga merasa sedikit bersalah karena tidak berinisiatif untuk datang lebih awal. Kenapa dia harus menunggu hingga Ayah menghubunginya? Dia terlalu terfokus dengan rutinitas sehari-hari, sampai melupakan bahwa ada seseorang yang menunggunya untuk memberi kabar.Dia pun berniat dalam hati... ke depannya, dia akan bersikap lebih proaktif terhadap orang tuanya.Steven yang membukakan pintu, serta merta memeluk erat putri kesayangannya itu. “Akhirnya kau datang juga, Sarah.”“Hai, Ayah! Maaf ya, aku baru datang sekarang.”“Tidak apa-apa. Ayo, masuklah,” ucap Steven. “Kau datang sendirian?”“Iya. Randy sedang ada urusan pekerjaan

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 100

    Sarah terbangun di kamar yang beratap kayu dan jerami, dengan tirai putih bersih yang bergoyang pelan karena tertiup angin sepoi-sepoi.Sejenak dia sempat linglung dan berpikir, ‘Aku di mana?’Dia bergerak untuk duduk, mengusap matanya beberapa kali agar dapat melihat dengan lebih jelas. Dia memandang ke sekitarnya dan melihat berbagai ukiran estetik, pintu gebyok bergambar wayang dengan warna coklat keemasan, serta dekorasi payung khas Bali yang berada di salah satu sudut ruangan.‘Ah, iya! Aku sedang berada di villa di Bali,’ pikirnya. ‘Lalu di mana suamiku?’Ruangan itu tampak kosong. Dia hanya seorang diri di sana.Sambil bergerak perlahan, Sarah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat ke jendela yang sedikit terbuka. Dia mendorong daun jendela itu agar dapat melihat pemandangan yang lebih luas. Dalam sekejap udara segar dan aroma harum pepohonan menembus masuk ke dalam kamar. Sangat menenangkan dan terasa nyaman.Awalnya pandangan Sarah tertuju ke taman asri yang berada di

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 77

    Setelah dua minggu lebih meninggalkan kantor, pekerjaan Randy menggunung. Jadwal meeting padat. E-mail menumpuk. Laporan-laporan yang harus diperiksa dan disetujui pun berjejalan di mejanya. Padahal sebagiannya sudah di take over oleh Julio, hingga sahabatnya itu harus lembur setiap hari. Tapi masih

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 73

    Ketika dia telah mengantongi alamat rumah Randy, Vina pun bergegas menuju ke sana. Dia tidak mendatanginya secara terang-terangan. Dia memilih untuk memantau dari kejauhan. Vina duduk di dalam mobilnya selama berjam-jam setiap hari, hanya untuk melihat pergerakan para penghuni rumah. Dia memperhati

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 72

    Selama beberapa minggu terakhir, ponsel Vina tak henti-hentinya berdering. Dia menerima telepon hingga puluhan kali dalam satu hari. Dan para penelepon itu merupakan penagih-penagih utangnya. Vina tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Berbagai macam alasan telah dia berikan demi bisa memperole

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 71

    Reina ternganga melihat wanita yang dibawa kakaknya ke rumah. ‘Apa artinya ini? Kakakku tidak pernah membawa pulang seorang wanita sebelumnya! Tapi sekalinya ada seseorang, ternyata wanita yang secantik ini? Wah wah, sulit dipercaya. Ternyata dia diam-diam menghanyutkan juga...’ Alana memperkena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status