LOGINPagi Juna kini dimulai dengan satu irama yang sama: sebuah pesan singkat."Sudah sarapan?"Jihan baru saja memicingkan mata demi menghalau silau ketika notifikasi itu menyala di layar ponselnya. Pukul 06.20. Dia mengernyit sembari jarinya cepat mengetikkan balasan."Jun, kau bangun jam berapa?""Lima menit lalu. Aku menunggu kau bangun."Dada Jihan berdesir tipis, tapi dia mendengkus mengalihkan rasa. "Kenapa harus menunggu?""Aku ingin tahu kau sarapan atau tidak."Bibir Jihan tersimpul tanpa disadari. Beberapa bulan lalu, perhatian seperti ini mungkin terasa canggung dan mengintimidasi. Kini? Ada rongga hampa jika pagi berlalu tanpa getar ponsel dari pria itu.Seiring putaran menit berjalan Jihan menyiapkan balasan, dia mengirimkan foto meja makan kecil di kontrakannya: semangkuk bubur hangat, cangkir teh, dan dua potong buah yang sengaja dia sisihkan. Tak sampai semenit, balasan pun datang. "Itu sar
Senja merambat turun dengan warna keemasan yang muram ketika Daniel Wilman melangkah keluar dari gedung pengadilan. Sidang hari itu tidak hanya menguras fisiknya, tetapi juga menguliti isi kepala. Dia berniat langsung pulang, melarikan diri dari kepenatan, sampai langkah kakinya mendadak terkunci di undakan tangga terbawah. Mobil sedan hitam yang sangat dia kenal nomor polisinya berhenti tepat di seberang jalan. Mobil milik Juna Janendra. Pintu pengemudi terbuka. Juna turun dengan gerakan tenang yang sarat karisma. Pria itu menyandarkan tubuhnya di pintu mobil sembari melirik jam tangan. Di bawah temaram langit senja, wajah Juna memancarkan kesabaran sukarela. Seolah-olah menunggu di tepi jalan bising seperti itu merupakan aktivitas wajar bagi seorang direktur utama yang terbiasa diburu waktu.Daniel tahu betul, di tengah badai pekerjaan yang menumpuk, proses perceraian yang menggantung dan tak kunjung usai, serta atmosfer rumah yang menyesakkan akibat kehadiran N
Malam ini, sulit bagi Jihan untuk memejamkan matanya. Langit di balik jendela telah lama larut dalam pekatnya malam, namun riuh di dalam kepalanya menolak untuk diredam. Di bawah temaram lampu tidur, dia berbaring seraya mengamati langit-langit kamar, membiarkan ingatannya memutar ulang setiap detail kecil tentang pria yang belakangan ini menyita seluruh dunianya.Juna Janendra.Nama itu kini bukan lagi sekadar nama yang melintas di sela kesibukan. Nama itu telah menetap dan mengisi ruang-ruang kosong yang dahulu dia pikir mungkin akan dibiarkan sepi tanpa dia merasa keberatan. Jihan akhirnya berhenti berdebat dengan egonya sendiri. Logikanya menyerah. Dia memang telah jatuh cinta pada Juna. Dia bukan sekadar terpikat oleh karisma, maupun rasa nyaman sesaat. Perasaan tersebut berkembang alami, mengalir halus melalui pembuluh darahnya hingga kehadiran Juna menjelma menjadi bagian penting dari keseharian dia. Hari-harinya mendadak memiliki ketukan
Ruangan dipenuhi suara riang. Tapi bagi Daniel, suara itu laun-laun teredam, tergantikan oleh memberatnya detak jantungnya sendiri. Dia putuskan menjadi pendengar, memperhatikan detail demi detail menyakitkan. Juna tampak jauh berbeda dibanding beberapa bulan silam saat masih terikat dalam dinginnya pernikahan formal dengan putri Siska Admaji. Di sini, di depan Jihan, tawa Juna lepas. Tatapan matanya hidup, penuh dengan binar protektif yang belum pernah Daniel lihat semula. Setiap beberapa detik, mata Juna akan melirik Jihan, memastikan gadis itu makan dengan baik, memastikannya tidak tersedak--segalanya demi membuat gadis itu gembira. Sebaliknya, pertahanan yang dahulu selalu Jihan bangun di depan pria kaya seperti Juna, kini runtuh total. Dia memotong kalimat Juna tanpa sungkan. Menggoda balik tanpa takut menyinggung ego sang direktur. Menepis pelan tangan Juna saat pria itu mencoba membersihkan noda saus di sudut bibirnya—bentuk gelagat penolakan yang justru t
"Kau yakin Daniel sempat datang?"Juna memarkir mobilnya di depan sebuah rumah makan yang berdiri di sudut jalan. Jihan mengangguk, jemarinya masih sibuk merapikan tas kainnya. "Tadi Kak Daniel yang mengusulkan tempat ini. Katanya dia sudah di jalan.""Berarti aku tidak terlambat." Juna mematikan mesin, lalu berbalik menatap Jihan dengan senyum menggoda yang akhir-akhir ini sering dia tunjukkan. "Bagaimana? Reputasiku aman?""Mustahil," sahut Jihan spontan, bibirnya mencebik lucu. "Direktur utama paling anti telat. Ini pasti mukjizat."Juna tertawa kecil, suara tawanya berat dan terdengar begitu lepas di dalam kabin mobil yang sempit. "Rupanya citraku mulai membaik di matamu.""Sedikit aja." Jihan membuka pintu mobil terlebih dahulu."Hanya sedikit?" Juna menyusul di sampingnya, sengaja memperlambat langkah agar sejajar dengan gadis itu."Jangan cepat puas, Direktur." Jihan meliriknya sekilas, ada kilat jenaka
Siska Admaji menatap ulang banyak lembar foto yang terhampar di atas meja kerjanya. Seluruhnya menampilkan perempuan yang sama, yaitu Jihan Pitaloka. Ada gambar ketika gadis itu keluar dari kampus. Saat membantu Paman Beno menutup kafe. Ketika berjalan menuju halte sambil membawa map berisi berkas. Tidak satu pun memperlihatkan sesuatu yang pantas dipermasalahkan, bahkan walau berkali-kali sudah dia melihatnya. Alhasil, kegelisahan semakin nyata menyerang ketenangannya. "Mustahil." Dia melempar foto terakhir ke atas meja. "Kalau gadis ini biasa aja, kenapa Juna berubah?" Beberapa bulan terakhir, menantunya sungguh sulit ditebak. Dia sengaja pulang larut agar menghindari pertemuan mereka. Nada bicaranya tetap sopan memang, tetapi membangun jarak yang lebar. Tatapan matanya juga kehilangan kehangatan yang dahulu diberikan kepada Nayla. Siska menyadari ada seseorang yang perlahan mengambil perhatian Juna. Dan d
Semua kenangan itu seakan baru terjadi kemarin sore. Jihan Pitaloka kembali menyadari perasaan mendalam terhadap Dave Hardinata pernah ada di beberapa tahun silam dan dia benar-benar menikmatinya sebagai sesuatu ketertarikan emosional untuk lawan jenis. Bermula ketika dia baru menduduki bangku SMA.
"Nay, katakan apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tiba-tiba pulang membawa koper? Suamimu mana?" Siska Admaji melipat kedua lengan di atas meja makan. Tatapan menuntut tak sekalipun beralih dari sosok putrinya di seberang dia. "Bu, a-aku minta maaf. Aku mengacaukan semuanya." "Bicara yang jelas,
Nasi telah menjadi bubur. Dosa terlaksana dan kini Nayla siap menanggung hukuman. Tidak ada lagi bahasa kelembutan, senyum yang teduh, apalagi perhatian hangat seperti hari-hari di saat dia dan suaminya tengah bersama-sama. Ingin mendapat pembelaan dari siapa? Kenyataan itu datang karena ulahnya se
Dua bulan bagai dua tahun bagi Juna Janendra. Jika menyangkut perasaan dan cinta, maka seluruh normalisasi makna kata akan berubah menjadi kiasan majas. Tak tahu di mana letak kewarasan, asal kesadaran masih bertahan di dalam raga. Kepulangannya ke Ibu Kota menjadi momen paling menggembirakan bagin







