LOGINNo dia em que o meu marido perdeu o seu grande amor, fui levada para as profundezas de uma floresta selvagem. Isto porque minha irmã e eu não éramos compatíveis para um transplante de rim. — Mandem alguém ficar de vigia, não deixem que Alice saia. Ela teve a audácia de fingir ser irmã da Laís. Já passou da hora de ela aprender a lição. Fiquei presa na floresta, sobrevivendo nos refúgios de uma caverna. Logo, fui encurralada por animais selvagens. No fim, acabei sendo devorada viva, meu corpo ficou espalhado pela selva. Após a minha morte, ao ver a cena horripilante do meu cadáver, ele enlouqueceu.
View More"Om, Jangan! Ini sakit!"
Shanaya bingung dengan apa yang terjadi padanya. Saat ini gadis itu sedang terbaring di atas ranjang kamar sebuah hotel sambil menahan dada seorang pria agar tidak mencium bibirnya.“Om, lepaskan!”Pria itu lagi-lagi berhasil mencumbu ceruk leher Shanaya, meninggalkan tanda merah keunguan yang kentara. Kepala Shanaya terasa berat, dia tahu ini salah tapi tubuhnya malah menggeliat seolah menikmati sentuhan pria itu.Dengan sisa kewarasan yang dimiliki, Shanaya berusaha menolak. Ia menggeleng, tapi tangannya malah memegang erat lengan pria asing itu."Aku sudah membayarmu mahal! Seharusnya kamu tidak mabuk atau mengonsumsi stimulant seperti ini.”“Membayar mahal?” Kata-kata itu terlukis jelas di kepala Shanaya. Ia menggeleng kemudian memohon untuk yang kesekian kali,” Om, aku … “Bibir Shanaya terbungkam oleh ciuman yang sedikit kasar dari pria itu. Untuk beberapa saat mata mereka bersirobok. Meski pandangan Shanaya sedikit kabur, tapi dia sadar tidak seumuran dengan pria yang sedang berada di atas tubuhnya."Aku mohon lepaskan!" Pinta Shanaya di sisa harapan agar malam itu masih bisa menjaga kehormatannya.“Apa ini salah satu trik yang diajari mamimu? Bertingkah sok polos?”Pria itu malah menganggap Shanaya sedang berakting. Dia memulas seringai, kabut birahi sudah menghilangkan akal sehat.Pria itu lagi-lagi mengumpat karena tingkah Shanaya semakin membuat gairahnya naik sampai ke ubun. Dia tak peduli. Lagi pula dirinya sudah membayar mahal untuk menikmati tubuh seorang perawan seperti apa yang diinginkan."Banyak wanita yang ingin tidur denganku, jadi jangan menolak dan nikmati saja! Kamu pasti tidak akan melupakan malam ini, tidak akan ada pelangganmu nantinya yang sehebat permainanku."Pria itu mengecup dada, sehingga tanpa sadar Shanaya mendesah. Shanaya lengah, setelah sentuhan itu dia memekik tertahan dengan buliran kristal bening yang mengalir di sudut mata.Sementara dirinya merasa sakit, pria yang sudah merenggut kesuciannya tampak sangat puas, sudah lama dia tidak mendapatkan wanita malam dengan status perawan seperti ini.Pria matang itu tampak tersenyum bangga mendapati gadis yang tengah dia tiduri mulai hilang kendali. Jika saja Oriaga tidak ingat memiliki status sosial yang tinggi, dia berminat menjadikan Shanaya sugar baby.“Cantik,” pelan Oriaga berkata melihat wanita yang berada di bawahnya. Dia terpesona dengan wanita itu.Oriaga memeluk tubuh Shanaya. Mencium kembali bibir dengan rakus lantas tersenyum bangga. Pria berumur 41 tahun itu masih terus berusaha menuntaskan gairah, bahkan tidak puas hanya sekali menikmati.Shanaya sendiri terus bertanya-tanya di sisa kesadaran yang dimiliki. Mimpikah ini semua? Namun, dia bisa merasakan dengan jelas gerakan tubuh pria di atasnya.Shanaya masih menganggap apa yang terjadi padanya hanyalah mimpi, sampai saat dia terbangun di pagi hari dengan sekujur tubuh yang terasa tidak nyaman. Shanaya menarik selimut, bercak merah di sprei membuatnya sadar kejadian semalam adalah kenyataan.Gadis itu menangis memeluk lutut, berada di posisi yang sama sampai lelah dan merasa tangisannya sia-sia.Setelah mampu meredam sesak di dadanya, Shanaya pun bangkit dari ranjang untuk mengumpulkan baju yang berceceran di lantai. Dia melihat tasnya berada di atas meja kopi dan mendekat. Di sana, Shana, biasa orang-orang memanggilnya, mendapati segepok uang yang ditinggalkan Oriaga."Aku bukan pelacur,”gumamnya.Shanaya kembali menangis, merasa jijik dengan diri sendiri. Dia datang ke hotel itu kemarin untuk menghadiri ulangtahun teman kuliahnya, tapi setelah menenggak minuman yang disajikan tiba-tiba Shanaya kehilangan setengah kesadaran. Dia diantar masuk ke dalam lift oleh temannya dan malah berakhir mengalami nasib buruk dinodai pria tak dikenal.Di sisi lain, Oriaga datang ke kantor dengan wajah sumringah. Ia pernah menikah, tetapi bercerai, namun ia belum pernah merasakan perasaan senikmat ini selama pernikahannya dulu."Kenapa mukamu masam seperti itu? Apa kamu sudah bosan menjadi sekretarisku? Kalau iya bilang saja, aku akan minta dicarikan sekretaris baru.” Presiden direktur Pradipta Grup itu menatap dingin pada sang lawan bicara.Aston menggeleng cepat. Ia menggaruk belakang kepalanya, Aston bukan bosan menjadi sekretaris atasannya ini, tetapi ia hanya bingung. Pekerjaannya adalah sekretaris, tetapi Oriaga gemar memberi pekerjaan aneh di luar tugas pokoknya sebagai sekretaris.Aston baru sadar, pantas tidak ada yang betah menjadi sekretaris presdirnya ini lebih dari tiga bulan, karena ternyata selain mengatur jadwal dan pekerjaan, sebagai sekrertaris juga harus mengurus kebutuhan lainnya.Aston juga merasakan hal itu kemarin ketika Oriaga meminta dicarikan wanita malam yang masih perawan."Pak, em ... anu — ""Apa?"Oriaga bertanya tanpa menoleh. Ia melepas jas lantas menggantungnya di tempat biasa, bibirnya tiba-tiba memulas senyum manis memikirkan percintaan panasnya semalam.Oriaga menyerongkan tubuh kemudian berkata,” Oh ya, kamu ternyata pandai melakukan tugas mencarikanku kupu-kupu malam. Aku merasa sangat terhibur. Jadi hari ini aku akan membiarkanmu pulang lebih awal.""Apa, Pak?"Aston terperanjat mendengar ucapan Oriaga. Padahal baru saja dia ingin meminta maaf dan menjelaskan kalau wanita malam yang sudah dia pesan tidak bisa dihubungi, bahkan memblokir nomornya setelah diberi duit pangkal.“Tapi jika dipikir miris sekali. Zaman sekarang gadis semuda itu sudah memilih pekerjaan menjadi pelacur,” ucap Oriaga."Pak, maaf! Sebenarnya semalam saya sudah menghubungi Anda, tapi Anda tidak menerima panggilan itu. Saya ingin memberitahu kalau wanita yang sudah saya booking untuk Anda memblokir nomor setelah diberi DP," papar Aston lalu menunduk ketakutan."Apa kamu bilang?"Tentu perkataan Aston membuat Oriaga terperanjat. Semalam wanita bayaran itu jelas-jelas datang ke kamar yang memang dikhususkan untuknya di hotel. Mereka bahkan bercinta sampai pagi."Jangan bercanda! Wanita itu datang bahkan sudah menungguku di depan pin .... "Oriaga melebarkan manik mata. Dia seketika panik mengingat bagaimana tingkah Shanaya yang memang berbeda dari wanita-wanita malam yang biasa dia tiduri.“Tunggu! Apa kamu punya foto gadis yang sudah memblokir nomormu itu?” Tanya Oriaga. Ia menarik napas mencoba untuk tenang meski terasa sedikit sulit.Aston bergegas mendekat untuk menyodorkan ponsel. Tak lama sekretaris berkacamata minus itu tersentak mundur karena kaget mendengar sang atasan mengumpat. Oriaga tampak bingung lalu melempar ponsel Aston ke meja.“Bawakan aku rekaman kamera pengawas King hotel semalam! Aku harus mengecek siapa gadis yang tidur denganku!”Kepala Oriaga mendadak pening. Ia seketika malas bekerja, bahkan sekadar membubuhkan tanda tangan di berkas yang sudah diperiksa pun enggan.Pria itu hanya duduk menunggu Aston sambil mengingat malam menggairahkan yang dilaluinya bersama Shanaya. Ia terlalu nafsu sampai tidak curiga kenapa seorang wanita bayaran mabuk dan menenggak obat perangsang saat melayani pelangganSatu jam kemudian Aston datang membawa rekaman yang dia minta.Tanpa menyuruh si sekretaris, Oriaga menyalakan laptop dan menghubungkan flash disk ke lubang USB. Tangan kanannya mulai sibuk menggeser kursor untuk membuka data rekaman, sedangkan tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja untuk meredam kegelisahan.“Gadis ini … “Oriaga sampai mendekatkan wajah ke layar untuk memastikan. Ia melihat rekaman yang menunjukkan Shanaya berjalan dari lobi menuju area kolam renang beberapa jam sebelum dirinya datang.“Gadis itu sepertinya menghadiri pesta yang diadakan keponakan Anda,” ucap Aston.— Mestre, depressa! Vinícius não poderá me ver quando voltar. A partir de agora, aquela mulher nunca mais vai atrapalhar o nosso caminho.Vinícius não suportou ouvir mais nada.— O que vocês estão fazendo?! — Ele entrou correndo, gritando.O porão estava completamente transformado num altar macabro de feitiçaria. Do teto pendiam longas tiras de pano vermelho, cobertas de encantamentos escritos com tinta escura. No centro, meu esqueleto jazia sobre o chão, e os ossos estavam marcados com símbolos de sangue e cinábrio, reluzindo sinistramente sob a luz fraca das velas.Laís congelou de susto.— Vini, o que você está fazendo aqui? — Ela tentou forçar um sorriso, disfarçando. — Eu só estava pedindo a um mestre espiritual que realizasse uma cerimônia para a alma da minha irmã. Afinal, o destino dela foi tão trágico. Eu só queria fazer uma última boa ação por ela.Mesmo nesse momento, Laís ainda mentia sem piscar.Vinícius, com os olhos vermelhos de raiva, avançou um passo.— Você acha que e
Ele se aproximou, emocionado, tentando me tocar. Mas agora eu era apenas um espírito, uma sombra, sem corpo. Seus dedos atravessaram o ar, sem nunca me alcançar. Mesmo assim, eu não queria ter mais nenhum contato com ele. Dei um passo para trás, mantendo distância.— Alice, espera por mim. — Os olhos dele se encheram de tristeza. — Assim que eu resolver tudo aqui, vou te encontrar, está bem? Eu te amo de verdade, eu não consigo viver sem você, eu não consigo...Essas palavras vazias já não enganavam ninguém.— Vinícius, do que adianta dizer essas coisas depois de tudo o que você fez? Eu e o meu filho morremos por sua culpa. Eu jamais, jamais, vou te perdoar. — Soltei uma risada fria.O rosto dele empalideceu completamente.— Eu sei que errei. Me perdoa, por favor, me perdoa...Eu o interrompi, já não tinha mais paciência para escutar.— Vinícius, eu não quis te ver para ouvir suas desculpas. Eu vim te avisar que Laís está envolvida com a minha morte. Eu ouvi com meus próprios ouvidos,
Deitar na cama dele me deixava enojada. Ouvi-lo pedir desculpas me enojava ainda mais.Ainda assim, eu não havia me esquecido do que Laís havia dito. Eu queria alertá-lo, mas não sabia como.Vinícius permaneceu trancado no quarto por um dia e uma noite, até que a governanta bateu na porta:— Sr. Vinícius, há uma velha senhora estranha lá fora. Ela diz que pode ajudá-lo a ver quem deseja ver.— A pessoa que quero ver já morreu. — Vinícius esboçou um sorriso pálido, carregado de desânimo.Mesmo assim, levantou-se e desceu as escadas. Eu o segui e também avistei a idosa. Inexplicavelmente, no momento em que olhei para ela, senti que seus olhos se fixaram em mim, era como se ela pudesse ver a minha alma.— Quem é você? — Vinícius disse, com a voz rouca, como se tivesse engolido areia.A velha nem olhou para ele. Seu foco estava totalmente em mim.— Criança... você sofreu muito. — Ela disse, me encarando.Nos olhos cansados e enrugados da idosa, havia uma ponta de compaixão. Me senti finalm
Vinícius chegou ao escritório do detetive particular.Na tela do computador, rodava o vídeo das câmeras de segurança da mansão da família Fonseca.— Sr. Vinícius... — O detetive começou, visivelmente hesitante — Revisei minuciosamente a rotina da Sra. Alice e todos os registros de entrada e saída da residência naquele mês. E, pelo que parece, o pai da criança é...— É quem? Diga logo! — Vinícius cerrou os punhos, reprimindo a fúria.— É você. — O detetive engoliu em seco e continuou, meio constrangido. — As gravações dos últimos seis meses mostram que o senhor quase nunca foi para casa. Nas poucas vezes que foi, saiu rapidamente. Mas há uma exceção, há pouco mais de dois meses, o senhor passou a noite inteira na residência. E essa data coincide exatamente com o início da gravidez da Sra. Alice.— Você está dizendo... que aquela criança é minha? — Vinícius cambaleou, quase perdendo o equilíbrio.— Isso mesmo.— Não! Impossível! Isso não pode ser verdade!Ele olhou para a data no relatór
De repente, uma comoção surgiu na entrada do salão, chamando a atenção de todos os presentes.— Onde está a Alice? Faz dias que não consigo falar com ela. O que fizeram com ela?A voz era de Melissa, minha única melhor amiga. Desde meu desaparecimento, ela foi a única que realmente se preocupou comi
Eu já não sentia frio, mas, ainda assim, um arrepio percorreu por todo o meu corpo. Nunca imaginei que Vinícius pudesse me odiar a tal ponto. Se ele visse o meu cadáver agora, talvez sentisse até prazer.Como um fantasma, segui Vinícius até o escritório.Ele não ligou o computador para trabalhar de
Vinícius olhou para o pátio sem acreditar. A silhueta do corpo delicado de Laís estava ali, em silêncio, em pé. Seu rosto delicado estava corado e radiante, sem vestígio daquela palidez doente de antes.— Laís, você resolveu voltar? Não importa qual seja a sua doença, eu vou fazer de tudo para te cu
— E então, Alice tem se comportado bem enquanto está presa?— Pode ficar tranquilo, Sr. Vinícius. Temos vigiado o tempo todo. Ninguém saiu. Só que, no segundo dia, ouvimos um grito terrível. Depois disso, não houve mais nenhum som.Vinícius Fonseca trazia no rosto um misto de desprezo e sarcasmo.—












Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.