Share

Coworkerku Alpha
Coworkerku Alpha
Author: El Hawra

Bab 1

Author: El Hawra
last update publish date: 2026-03-24 04:32:43

"Suara apa itu?" gumam Clara pelan. Ia menghentikan langkahnya dan mempertajam pendengarannya. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar dan dekat. Suara geraman.

Jantung Clara berdegup keras, ia memperhatikan sekeliling. Sunyi, bahkan tidak ada suara burung-burung ataupun serangga. Pohon-pohon di sekitarnya tinggi menjulang dengan semak-semak rimbun diantara pepohonan. Clara mengotak atik ponselnya untuk menghubungi tim lainnya, namun tak ada sinyal. Kini ia sadar sepertinya ia sudah tersesat jauh ke dalam hutan.

Suara geraman itu kembali terdengar dari arah samping tempatnya berdiri. Clara membalikan badan ke arah semak yang mulai bergerak. Dan seperdetik kemudian matanya terbelalak demi melihat sesosok makhluk yang keluar dari semak-semak itu.

"Oh, tidak!! Apa itu?!"

Clara mematung, mulutnya ternganga lebar. Ia ingin kabur, tapi kakinya seakan menempel di tanah tempatnya berdiri. Keringat dingin membasahi tubuhnya.

Dari semak-semak itu, seekor serigala besar melangkah keluar. Ukurannya jauh di atas normal. Bulunya kelabu gelap menyelimuti tubuhnya, dan sepasang mata kuningnya menatap Clara dengan tajam.

"Ti-tidak! Jangan mendekat!"

Clara berkata dengan gemetar. Spontan kakinya bergerak mundur. Serigala itu kembali menggeram, namun makhluk itu tertegun sejenak, menghirup aroma tubuh Clara sebelum akhirnya ia merendahkan tubuhnya bersiap hendak menerkam.

"Ja-jangan…!!"

Clara menjadi panik, kakinya tersandung akar hingga ia jatuh terduduk. Clara memejamkan mata pasrah, sadar tak ada celah untuk selamat. Air mata membasahi wajahnya.

Namun di saat yang genting itu, tepat saat serigala itu melompat untuk menerkamnya, seseorang berlari dari samping dan menariknya menjauh. Tubuh keduanya jatuh berguling, namun selamat dari cakar tajam makhluk buas itu yang menghantam tanah tepat di tempat Clara tadi berada.

"Clara, Bangun! Ngapain kamu di sini?!"

Terdengar teriakan dingin seorang pria. Clara mendongak, Zevko Volkov, rekan sekantor sekaligus supervisornya itu sudah berdiri tegap, tubuhnya seolah jadi tameng. Ia menatap tajam pada Clara, lalu berbalik menghadap serigala lapar itu.

"Sial! Mengapa dia ada di sini? Tamatlah aku, dia pasti akan memecatku karena kecerobohanku ini, atau melaporkannya pada direksi," gumam Clara pelan, nyaris tak terdengar.

Perlahan Clara berdiri, ia memperhatikan tubuh pria yang berdiri membelakanginya. Samar-samar terdengar suara geraman dari mulut Zev, tapi sayang dia tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Dan anehnya, serigala buas itu mundur beberapa langkah, merasa gagal menerkam buruannya.

Zevko meraih dahan patah dan mengayunkannya dengan keras ketika makhluk itu kembali mendekat. Pukulan telak mengenai moncongnya, dan cukup membuat makhluk buas itu mundur sedikit menjauh.

"Clara, bersiaplah! Kita akan keluar dari tempat ini." Zevko berkata tanpa menoleh, suaranya dingin, namun sikapnya sangat tenang.

Dan ketika ada kesempatan, Zevko langsung menggenggam tangan Clara, lalu menariknya.

“Lari! Sekarang!”

Clara mengangguk dan mengikuti gerakan Zevko. Mereka berlari menembus semak belukar, melompati akar besar, dan berbelok cepat di jalur yang nyaris tak terlihat bahkan oleh penjelajah hutan sekalipun.

Clara mencoba menoleh ke belakang, samar-samar terlihat jika serigala itu masih mengejar, namun langkahnya melambat. Bahkan Clara melihat ada beberapa serigala lainnya seperti menghadang langkah serigala yang memburu mereka.

"Clara, jangan menoleh ke belakang! Fokus saja dengan jalan di depan," bentak Zev mengingatkan, ia seperti tahu apa yang dipikirkan Clara.

"P-pak, Anda tahu jalan keluar?" tanya Clara dengan napas terengah-engah.

"Ikuti saja kalau ingin selamat," jawab Zevko acuh. Namun sikapnya masih tetap tenang dan fokus, hal yang terasa aneh di situasi genting seperti itu.

Beberapa menit kemudian, lampu-lampu dari pemukiman penduduk terlihat di kejauhan. Akhirnya mereka keluar dari batas hutan. Clara menoleh kembali ke belakang, serigala itu sudah tidak lagi mengejar.

Keduanya berhenti, Clara nyaris ambruk, tubuhnya gemetar, kakinya tak kuat lagi untuk berdiri. Zev menopangnya, membantunya duduk bersandar di sebuah batang pohon.

"Sekarang sudah aman," ucap Zevko datar, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Ia kembali berdiri menghadap ke arah hutan.

"Te-terima kasih."

Clara berkata pelan, namun terdengar jelas di telinga Zevko. Perlahan lelaki itu berbalik menghadap Clara, tatapannya dingin dan tajam, seakan sedang menguliti gadis di hadapannya yang masih gemetar ketakutan.

"Terima kasih? Apa itu perlu?" tanya Zevko penuh intimidasi. "Clara, jawab! Apa yang kamu lakukan sendirian di tengah hutan sana!"

Clara terkesiap, pria yang baru saja menyelamatkan nyawanya kini membentaknya dengan marah. Kilatan kemarahan terlintas di matanya yang terasa begitu mengerikan. Sekilas, pupil mata itu menyempit seperti mata predator yang sedang marah, sebelum akhirnya kembali normal. Clara menggigil, ia merasa baru selamat dari mulut serigala kini jatuh ke dalam mulut harimau.

"S-saya, tadi saya bersama tim dan pemandu. Saya hanya berhenti sebentar untuk mengambil gambar lokasi, dan tidak sadar jika sudah terpisah dengan tim."

Zevko mendengus mendengar jawaban Clara. "Di mana otakmu Clara! Kamu adalah seorang analis senior, tapi kelakuanmu seperti anak magang yang tidak paham SOP keselamatan lapangan!"

Clara tertunduk, ia meremas tangannya yang terasa dingin, bahkan ia merasakan sekujur tubuhnya seperti diguyur air es yang membekukan tulang belulangnya. Namun, ia berusaha mengendalikan dirinya, ia tidak mau diintimidasi, karena itu bukan mutlak kesalahannya. Perlahan ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat wajahnya menatap pria angkuh yang sedang menatapnya dengan tajam.

"Ya, saya akui tadi saya sedikit lalai. Tapi bukan berarti saya tidak tahu SOP lapangan," bantah Clara sengit. "Anda sendiri, apa yang Anda lakukan di dalam hutan sana? Mengapa Anda tiba-tiba muncul? Bukankah Anda tidak termasuk dalam rombongan tim hari ini?"

Zevko tidak menjawab, ia menatap Clara dengan tatapan aneh yang sulit ditebak. Namun Clara bukanlah gadis yang mudah diintimidasi, ia menantang tatapan pria di hadapannya. Dia tahu, Zevko Volkov adalah atasannya, tapi rasa penasarannya membuatnya menegakkan kepalanya. Untuk sesaat, tatapan keduanya bertemu, namun Zevko kembali mendengus dan berkata dengan tajam. "Bukan urusanmu!"

Zevko segera berdiri, lalu melangkah meninggalkan Clara yang masih termangu sendirian. Tanpa sadar, tatapan Clara mengarah ke hutan, seketika nyalinya menjadi ciut, di benaknya berkelebat kembali kejadian yang nyaris merenggut nyawanya tadi.

Dengan bersusah payah Clara bangkit, ia berusaha mengejar Zevko.

"Pak Zevko, tunggu!"

'Sial, kenapa harus seperti ini?' bathin Clara merutuk. Hari ini, dia mendapatkan tugas survey lapangan untuk proyek pembangunan sebuah resort di tepi hutan. Sebagai seorang analyst projek, ia biasa melakukan survey lapangan untuk memastikan kelayakan proyek tersebut.

Pagi menjelang siang tadi, dia berangkat dari kantor bersama beberapa orang tim tekhnis dan pemandu lokal. Namun ia terpisah dari tim saat ia mencoba mengambil gambar beberapa titik lokasi yang menarik perhatiannya. Dan ia baru menyadari jika ia tersesat ke wilayah yang semakin jauh ke dalam hutan saat sinyal di ponselnya menghilang.

Clara menghela napas dalam. Hari ini, dia nyaris tewas menjadi santapan binatang buas. Bulu kuduknya meremang jika mengingat kembali kejadian tadi. Andai saja Zevko tidak datang tepat waktu, mungkin kini Clara hanya tinggal nama.

Namun masalahnya sekarang bukan soal serigala yang nyaris menerkamnya tadi, tapi Zevko sang supervisor yang bertanggung jawab penuh atas tugasnya. Karier Clara bisa tamat di tangan pria dingin itu.

Zevko menghentikan langkahnya, sedangkan Clara berjalan tertatih-tatih. Kakinya terkilir, saat berlari tadi ia tersangkut akar pohon besar. Jika tidak ditarik Zevko dia sudah jatuh terguling di tanah.

"Zev, eh, pak Zevko, maaf. Saya tidak bermaksud…."

Belum sempat Clara melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba Zev berbalik dan dengan cepat mengangkat tubuh Clara.

"Hey, apa yang Anda lakukan! Turunkan!"

Zev tidak menjawab, dia terus berjalan sambil menggendong Clara.

"Turunkan! Saya bisa jalan sendiri."

Zev berhenti sejenak, tatapannya tetap lurus ke depan. Wajahnya kaku dan dingin seperti arca batu.

"Kalau kamu tidak bisa diam, aku lempar kembali ke dalam hutan."

"Oh, ti-tidak. I-iya, saya akan diam."

Clara tidak berani buka suara lagi. Dia mengerutkan tubuhnya dalam gendongan pria aneh yang jadi penyelamatnya itu. Sebenarnya Clara tidak suka dekat-dekat dengan Zevko. Pria itu sangat sombong dan bertingkah misterius, sangat tidak suka dibantah. Tapi, projek itu mengharuskan Clara berada langsung di bawah pengawasan Zevko.

Zevko membawa Clara ke mobilnya. Namun, belum sempat dia membuka pintu mobil, seorang pria tergopoh-gopoh menghampiri mereka.

"Nona Morgan, Anda tidak apa-apa?"

Clara mendongakkan kepalanya, ia ingin turun namun Zev tidak hendak menurunkannya. Clara mengenali lelaki paruh baya itu, dia adalah pemandu lokal yang tadi mendampingi tim Clara.

"Tidak apa-apa, Pak. Hanya terkilir."

"Apa yang sebenarnya terjadi, nona? Tadi teman-teman Anda sangat panik mencari Anda."

"Oh iya, di mana teman-teman saya yang lain, Pak?"

"Mereka sudah kembali ke kota. Saya baru saja akan meminta bantuan tim penyelamat untuk mencari Anda."

"Tidak perlu!" potong Zev tajam. Lelaki pemandu itu terkesiap. Dia sangat gembira bisa melihat Clara selamat hingga tidak menyadari siapa pria yang membopong Clara.

Spontan pemandu itu menatap Zev. Seketika wajah lelaki tambun itu memucat, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Zev menatapnya tajam, penuh peringatan. Matanya berkilat seolah sedang mengancam, yang membuat lelaki itu menggigil ketakutan.

"Oh, i-iya, tidak perlu. Te-tentu tidak. Karena nona Clara sudah selamat." Lelaki itu berkata dengan terbata-bata, ia menunduk, tidak berani lagi menatap Zevko. "Sa-saya permisi."

Tanpa menunggu jawaban, pemandu lokal itu segera berbalik, bergegas menjauhi Zevko. Langkahnya goyah, bahkan nyaris terjatuh.

Melihat pemandangan itu Clara mengerutkan kening. Ia sangat heran, mengapa pemandu itu sangat ketakutan melihat Zev. Dia adalah penduduk lokal yang terbiasa dengan lokasi sekitar hutan, tapi mengapa sangat takut kepada Zev yang orang kantor?

"Pak, apa pemandu tadi mengenal Anda? Apa yang Anda lakukan padanya sampai dia ketakutan begitu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Agustina
bgaus, lanjut
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Coworkerku Alpha   Bab 66

    Gideon terdiam, sedangkan Clara dan Zevko membisu, menunggu apa yang akan dikatakan paman Clara. Gideon menghela napas sebelum akhirnya membuka suara. "Begini, Alpha. Aku baru saja mendapatkan informasi bahwa para tetua itu menyusun sebuah rencana…."Gideon tidak melanjutkan kalimatnya. Ia memperhatikan reaksi Zevko dan Clara."Rencana? Rencana apa, Gid?""Mereka akan menekanmu agar segera mengangkat seorang Luna.""Tentu, Gid. Itu sebabnya aku di sini untuk menjemput Lunaku," jawab Zevko santai, tangannya meraih punggung tangan Clara dan mengecupnya."Tidak, Alpha. Yang mereka maksud bukan Cla. Tapi seorang wanita dari darah serigala murni. Mereka tidak akan menerima Luna dari darah manusia."Zevko terdiam. Kini wajahnya berubah menjadi serius. Sedangkan Clara masih membisu, ia mencoba memahami situasi yang sedang terjadi."Aku tahu, Gid," jawab Zevko dengan suara acuh. "Beberapa waktu lalu, saat aku masih di kota, para tua bangka itu mengirim utusan untuk menyampaikan pesan mereka.

  • Coworkerku Alpha   Bab 65

    Sementara itu, Zevko segera memacu mobilnya menuju pinggiran hutan, memutari pondok Hallow yang telah lama tutup. Ia segera menghentikan mobilnya di bawah pohon oak raksasa yang tersembunyi dari dunia luar.Zevko terdiam sesaat, menetralkan perasaannya yang berkecamuk menahan kerinduan yang dalam pada sang mate yang sedang berlatih keras di dalam sana. Clara tidak tahu kedatangannya karena Gideon memutus mind-link mereka agar Clara bisa fokus berlatih."Gideon. Aku di depan gerbang kastil. Aku akan menjemput Lunaku." Zevko segera menghubungi Gideon melalui tautan pikiran."Maaf, Alpha. Jangan sekarang. Cla belum benar-benar siap." Terdengar jawaban Gideon yang membuat Zevko mendengus kesal."Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu.""Alpha, apa tidak sebaiknya Anda kembali ke pack? Anda sudah terlalu lama meninggalkan pack. Nanti, aku sendiri yang akan mengantarkan Clavira jika ia sudah siap.""Tidak, Gid. Aku tidak akan kembali tanpa mate-ku."Akhirnya Gideon pun menyerah dengan keke

  • Coworkerku Alpha   Bab 64

    Sementara sang Alpha dalam perjalanan pulang dari dunia manusia, suasana di aula utama Pack Volkov justru terasa mencekam. Udara di dalam ruangan besar berbatu kuno itu terasa berat dan menekan. Dewan tetua tengah mengadakan rapat darurat secara tertutup untuk membahas pembangkangan pimpinan tertinggi mereka. Di kursi pimpinan dewan yang terletak di bagian depan aula, duduk Tetua Silas—pimpinan dewan tetua yang paling kolot dan selalu mengedepankan tradisi darah murni di dalam pack."Jadi, Alpha menolak mentah-mentah peringatan yang kita kirimkan?" Suara berat Tetua Silas menggema memecah keheningan, dipenuhi nada tidak suka yang amat kentara.Di tengah ruangan, utusan pack yang sebelumnya dikirim untuk menemui Zevko di kota menunduk dalam. Tubuhnya bergetar samar dan keringat dingin membasahi tengkuknya saat mengingat kembali betapa mengerikannya intimidasi aura Zevko tempo hari."Benar, Tetua Silas. Alpha Zevko bahkan mengancam akan merobek mulut siapa saja yang berani mengusik urus

  • Coworkerku Alpha   Bab 63

    Keesokan harinya, Zevko telah bersiap untuk menghadap ke kantor pusat. Tujuan utamanya menyusup ke perusahaan properti itu telah tercapai; Menggagalkan project besar mereka.Kini, saatnya Zevko kembali ke dunianya yang sebenarnya. Kembali ke pack, membereskan berbagai isu tak sedap yang mulai merebak di kalangan para tetua.Zevko telah mengenakan stelan jasnya dengan rapi. Ia kembali duduk di meja kerjanya, memeriksa ulang draf pengunduran dirinya. Di sampingnya, ia juga mengambil map berisi berkas pengunduran diri Clara yang sudah ditandatangani oleh gadis itu jauh-jauh hari dan disimpan dengan aman oleh Zevko.Zevko tersenyum tipis. Sesuai rencana rahasia mereka, hari ini mereka akan mengajukan pengunduran diri secara bersamaan. Ia sama sekali tidak peduli pada penilaian manusia atau pertanyaan-pertanyaan kepo dari divisi HRD mengenai alasan seorang supervisor lapangan dan analis datanya keluar pada hari yang sama. Jika mereka berani bertanya macam-macam, Zevko tinggal melempar satu

  • Coworkerku Alpha   Bab 62

    Zevko tersentak. Ia langsung berdiri dari kursi kerjanya, matanya yang berkilat keemasan memindai setiap sudut ruangan. Kantornya tertutup rapat, pendingin ruangan pun diatur pada suhu normal, tapi bulu kuduknya meremang oleh rasa dingin yang sangat familiar.Hawa dingin yang membawa aroma musim dingin dan wangi tubuh Clara. "Cla?" bisik Zevko, suaranya tercekat di tenggorokan."Zev...!"Suara itu kembali terdengar, kali ini berupa bisikan halus yang menggema langsung di dalam kepalanya lewat jalur mate bond yang sempat tersumbat. Suara Clara terdengar samar, terengah-engah, dan sarat akan perjuangan, seolah gadis itu sedang mengerahkan seluruh tenaganya di suatu tempat yang jauh.Bersamaan dengan itu, dada Zevko berdenyut seolah dihantam gelombang energi perak. Sisi serigalanya di dalam dada langsung melolong resah, mencakar ingin keluar untuk melindungi pasangannya.Zevko tahu apa yang sedang terjadi. Clara sedang menghadapi ujian dari Gideon, dan di tengah rasa terdesaknya, alam baw

  • Coworkerku Alpha   Bab 61

    Setelah kepergian utusan pack, keheningan kembali menguasai ruangan. Zevko mengendurkan dasinya dengan kasar, lalu menjatuhkan dirinya kembali ke kursi kerja."Apa kamu baik-baik saja, Zev?" tanya Alec pelan, melangkah mendekat."Para tetua sialan itu mulai melunjak karena aku terlalu lama membiarkan mereka," geram Zevko. Ia meraih ponselnya di atas meja, berniat mengirim pesan atau menelepon Clara untuk menenangkan diri—seperti yang biasa ia lakukan setelah hari yang melelahkan.Namun, dahi Zevko mendadak berkerut dalam saat menatap layar ponselnya. Aplikasi komunikasi khusus yang terhubung dengan laptop Clara di kastil tiba-tiba mati total. Indikatornya menunjukkan status Disconnect secara paksa, seolah-olah seluruh jaringan di area kastil lenyap ditelan bumi.Zevko mencoba menekan tombol panggil ulang, namun gagal. Tepat pada detik itu, dada Zevko mendadak berdenyut nyeri. Lewat jalur mate bond, ia bisa merasakan ada riak energi yang sangat dingin, pekat, dan bergejolak hebat dari

  • Coworkerku Alpha   Bab 16

    Zevko segera menghentikan mobilnya lalu beralih pada Clara yang terkulai lesu di pundaknya. Zevko segera meraih Clara dan membawa ke dadanya. Ia menyentuh wajah dan dahi Clara yang mulai menghangat. "Kamu kenapa, sayang? Sakit?" Zevko kembali bertanya dengan panik. Clara memperbaiki posisi kepalany

  • Coworkerku Alpha   Bab 15

    Zevko melanjutkan makannya, dia menyantap daging di hadapannya dengan sangat lahap. Ia memotong daging itu dengan gerakan efisien, lalu menyuapnya dengan tempo yang sedikit lebih cepat dari biasanya.Clara tertegun, ia memperhatikan bagaimana rahang tegas pria itu bekerja—kuat, bertenaga, seolah-ol

  • Coworkerku Alpha   Bab 14

    Zevko mengecup kening Clara dan kedua kelopak mata indah gadis itu, ia melakukannya dengan sangat lembut dan penuh kasih, dilanjut dengan pagutan ringan di bibir, kemudian mendekapnya dengan erat.Kedua tubuh itu bermandikan peluh yang bercampur dengan aroma pinus dan vanilla yang telah menyatu. Ked

  • Coworkerku Alpha   Bab 13

    "Cla, ada apa, sayang?" Zevko menepuk-nepuk pipi Clara pelan, suaranya yang berat dan serak khas bangun tidur terdengar begitu menenangkan.Clara membuka mata sepenuhnya. Jantungnya masih berdegup kencang seolah habis lari maraton. Ia langsung duduk, mengabaikan selimut yang melorot, dan memperhati

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status