INICIAR SESIÓNAsher Vale has been turning heads since the day he learned to walk. A tall black-haired blue eyed stunner. Yet, Asher has never cared about relationships. Until one drunken night when Asher stumbles downstairs and witnesses an intimate moment between his friend’s father, Nico, and another man. Instead of turning away, Asher is completely transfixed. For the very first time in his life, a undeniable wave of desire is awakened within him. Now, he can’t unsee it. Finally, he's found someone he wants and it’s the one man on earth he’s not allowed to have.
Ver másPoV Syahdan
**
[Dia pernah berzina namun ku maafkan, bila diulangi lagi sanggupkah aku bertahan]
Mataku membola membaca Story aplikasi hijau dari istriku. Darahku berdesir hebat. Apa maksudnya, bukankah dia berjanji tidak akan mengungkit masalah ini. Pernah aku mengkhianatinya setahun yang lalu tetapi aku berjanji tak akan mengulangi. Namun, mengapa story di Wa nya bertuliskan kata-kata itu.
Aku bergegas pulang, di rumah akan kusuruh Naya hapus story ini. Sampai aku di rumah namun tak kutemukan di mana istriku. Di mana dia?
"Bik, di mana Naya?" tanyaku pada pembantu.
"Gak tahu, Pak. Pagi-pagi sudah pergi," katanya dengan hormat.
"Kemana?" tanyaku dengan raut kesal dan si Bibi sepertinya tahu aku kesal.
"Katanya mau ketempat teman, Pak," jawab Bik Nah, ku hembuskan napas gusarku, lalu kusuruh dia pergi.
Aku pun mengambil gawai dan kuhubungi Naya. Aku dalam mode panggilan namun gawai Naya tak aktif. Aku mendengkus. Apa maunya dia? Setelah dia membuka aibku sekarang dia bersembunyi. Gawaiku bergetar dan panggilan dari Ummi, dengan tangan bergetar kuangkat gawaiku.
"Assalamualaikum, Syahdan, di mana Naya? Apa maksud dari story nya. Apakah kamu jalan bareng sama perempuan lagi. Siapa lagi dia Syahdan?!" kata Ummi diseberang ketus.
Aku mendesah frustasi tak habis pikir dengan kelakuan Naya. Mengapa dia membuka kartuku. Dari mana dia tahu aku sedang bersama Vika. Lagian aku tidak hanya bersama Vika melainkan dengan teman-teman ku yang lain juga.
Untuk mengelabui Naya, kukatakan kami sedang nonton bareng pertandingan final sepak bola disebuah kafe. Apakah Naya mengikutiku disana dan melihatku bersama Vika?
"Waalaikum salam, tidak, Ummi. Jangan dengarkan perkataan Naya di story nya dia fitnah saja," kataku dengan suara pelan meski hati bergemuruh ingin menumpahkan lahar memarahi Naya.
"Tidak mungkin ada asap kalau tak ada api Syahdan. Apa yang kamu lakukan lagi. Cepat katakan?" paksa Ummi lagi. Aku merasa bagai dikuliti.
"Ummi, Syahdan hanya nonton bola sama teman-teman di kafe, itu saja. Tidak lebih. Naya terlalu lebay Ummi," ucapku dengan decakan.
Ummi terdengar menghela napas berat merasa khawatir dengan masalah yang menimpaku.
"Syahdan, kamu harus jaga diri. Apa kamu gak kasihan sama Abi. Dia sakit Syahdan dan kondisinya semakin memburuk. Ummi mohon, kamu adalah anak tertua Abi yang akan menjadi penerus di yayasan.
Apa jadinya kalau masyarakat tahu siapa kamu dan bagaimana kamu. Para orang tua tak akan mau lagi mendaftarkan anaknya di yayasan kita. Susah payah Abi membangun itu semua dan tolong tugas kamu cuma menjaga dan meneruskan. Jangan buat malu keluarga. Ngerti kamu!"
"Iya, Ummi," kataku pasrah jika pun Ummi mengomeli ku.
"Sekarang, cari Naya dan suruh dia hapus postingannya di Story itu. Apa jadinya kalau dia pos itu di inst*gram atau F*ceb*ok, nama baik kamu dan yayasan yang dibangun Abi dan kakek mu dahulu akan hancur karena ulah kamu dan Naya!" balas Ummi dengan nada ketus sekaligus gusar.
"Iya Ummi," kataku hanya menurut.
Sambungan pun dimatikan Ummi sepihak tanpa ucapan salam. Aku mengerang frustasi. Apa tujuan Naya melakukan ini. Aku tahu bersalah namun tak seharusnya dia membuka kartuku. Semua bisa dibicarakan dengan baik-baik. Apa dia gak tahu kalau Abi sedang sakit.
Akupun kembali dengan gawaiku. Aku hendak menghubungi lagi Naya. Namun lagi-lagi Story istriku membuat mataku panas dan jantung ku berdegup. Dia mengirim gambar ku dan Vika dengan emoticon sedih.
Walaupun gambarnya agak sedikit buram karena diambil dari jauh. Dimana photo itu aku memegang tangan Vika. Kami duduk berdua saat yang lainnya sibuk dan bersorak merayakan kemenangan tim sepak bola yang diunggulkan. Caption dari Naya membuat hati siapa saya menohok membacanya.
Bukankah dia tidak muhrim kamu. Apakah boleh bersentuhan, ah, lebih dari itu pernah kamu perbuat.
Hatiku terasa sangat panas dan rahang ini mengeras tanpa pikir panjang lagi. Ku tekan panggilan itu lagi. Naya kembali mematikan mode On nya. Aku tak habis akal kuhubungi dia secara biasa. Namun nomor yang biasa dipakainya buat panggilan biasa tak aktif sedangkan nomor aplikasi hijaunya hanya untuk panggilan jika dia On dalam mode data.
[Naya, pulang kamu. Aku mohon jangan share lagi ke story mu dan hapus. Kita bisa bicarakan baik-baik. Abi sakit dan bagaimana kalau dia tahu dari orang lain. Dia bisa shock. Apa kamu gak kasihan sama Abi, Nay? Tolonglah Nay]
Ku kirim ke bentuk pesan namun masih belum dibaca. Aku benar-benar dilanda bingung. Bila kasus ini dibesarkan kasihan Abi dan reputasi ku sebagai calon pemimpin yayasan yang akan menggantikan Abi. Mengapa Naya tak berpikir ke depan.
Apa kurang ku selama menjadi suaminya. Segala fasilitas nya sudah ku penuhi. Asisten kuberikan buat dia mengurus Ahmad putera kami yang berusia 4 tahun. Uang dan segalanya yang dia mau.
Namun untuk hati dia seharusnya tak bisa memaksaku jika aku masih suka modus untuk melihat wanita lain toh segalanya sudah kuberikan padanya. Seharusnya Naya sebagai istri harus bisa menjaga kehormatan ku dan marwah ku sebagai orang penting dan petinggi.
Namun dia malah menghancurkannya. Bagaimana bila aku dicoret dari daftar pemimpin jabatan. Hatiku. Bergemuruh gusar, dan gawaiku bergetar tanpa melihat langsung kuangkat saja berharap itu Naya.
"Naya!" Kataku.
"Kok Naya sih beib, ini Vika. Apasih kamu."
Suara mendayu Vika berkata ketus untuk merajuk. Aku menjadi semakin gusar dihubungi Vika, seharusnya nanti dulu apakah dia tak tahu aku pusing.
"Vika, aku sedang ada dalam masalah. Nanti aku hubungi kamu lagi yah," ku lembut kan ucapanku agar tidak menyakitinya.
"Masalah apa? ada yang lebih penting dari aku?"
"Vika, tolonglah kamu ngertiin aku ya. Aku hubungi kamu nanti, sayang," balasku agar dia tenang.
"Ya udah, kamu janji bakal hubungi aku lagi ya. Aku tunggu, aku emang yang kedua tapi aku mau jadi yang pertama di hati kamu," katanya, aku menghela gusar dan panggilan diakhiri.
**
Aku menunggu Naya pulang. Sudah hampir tengah malam dan dia beserta Ahmad belum juga pulang. Kemana dia pergi dan membawa anakku.
Setelah sekian lama menunggu dengan hati gusar. Akhirnya dia kembali juga lewat tengah malam.Ahmad sudah tertidur digendong Asih baby sitter yang ditugaskan menjaga Ahmad. Hati ini sudah bergemuruh kesal, siap meledakkan bara api ke hadapannya. Naya masuk dengan santainya. Dia berjalan melewati ku seakan aku patung dan bukan manusia.
"Naya!" bentakku padanya karena aku merasa gak dihargai.
Dia menoleh, kulihat wajahnya sembab dan matanya bengkak. Merasa diperhatikan dia segera memakai kacamata hitamnya. Dan membuang muka dariku.
"Bawa masuk Ahmad Mbak Asih!" perintahnya.
Asih mengangguk dan membawa putera kami ke kamar. Aku mendekatinya, aku hendak melayangkan tangan untuk menggamp*rnya. Reputasi ku dengan mudah di hancurkannya.
"Apa maksud Story mu di WA itu, Hah!" bentakku hendak melayangkan tanganku padanya. Dia mencibir sinis dan tak takut sama sekali dengan sikapku.
"Lelaki pengec*t memang cuma bisa bersikap kasar. Mas, mari akhiri ini!" ucapnya melihatku dibalik kacamata hitamnya.
Bagaimana Naya yang penurut bisa menjadi pembangkang seperti ini. Aku takut kalau Ummi dan Abi tahu bagaimana?
Bersambung.
Asher's POVThe university library was one of the few places where I could actually think. I stood in the narrow aisle, running my fingers over a few textbooks.If I wanted to keep my scholarship, my grades had to stay high. It wasn't as though I could simply pay my tuition out of pocket if I lost it. Every semester depended on those marks, which was exactly why I needed my head in a book instead of replaying memories of Nico that were determined to haunt me. A giggle cut through the quiet room. I glanced through the gap between the bookshelves seeing two girls whispering a few rows over, their eyes locked on the main entrance.Curiosity got the better of me. I stepped out of the aisle to see who was causing the scene, and the second I did, my heart dropped straight into my shoes. I instantly wished the floor would open up and swallow me whole.It was Elliott.He was walking with a deliberate stride, his leather jacket damp from the drizzle outside. The red streaks in his hair practi
Asher’s POV“You think he’s gonna ground me?” Luca asked, dumping the final trash bag by the front door. He wiped sweat off his forehead with the back of his arm.I forced a laugh. “Probably worse. He looked ready to ship you off to military school.”Luca groaned. “Fuck. I’m never throwing another party here. Ever.” He paused, glancing at me sideways. “You okay, though? You’ve been quiet.”My stomach twisted. “Yeah. Just a little tired.”He clapped me on the shoulder. “Don’t beat yourself up. It was my dumb idea. You’re a good friend for even showing up.”A good friend. His words felt like a punch to my gut. If he only knew.We finally finished around one-thirty. The house looked spotless again. Luca stretched with a massive yawn, his messy hair sticking up in every direction.“I’m wiped, man. I need some fucking sleep. You staying over?”I nodded, avoiding his eyes. “Yeah. I'm good on the couch.”“Sure, if that's what you want. Night, Ash.” He headed upstairs, and a minute later his
Asher’s POVI stood frozen near the stove, Luca right beside me. My best friend looked like he’d been slapped across the face.His usual cocky grin was gone, replaced by a wide-eyed expression he only got when he knew he’d really fucked up.Nico stood in the middle of the kitchen with a frown of disapproval, his arms crossed over his broad chest. He looked exhausted and pissed off at the same time.“I trusted you,” Nico said, his voice low. “Both of you. You know my rules, Luca. No parties, and no strangers in my house.”Luca shifted beside me, rubbing the back of his neck. “Dad, it was supposed to be a small thing, I swear—”“Small?” Nico cut him off with a scoff. “There are cigarette burns on my hardwood floors. People were dry-humping on the staircase. And you—” His sharp gaze swung to me. “You couldn’t even warn him, Asher? You’ve been in and out of this house since you were a kid. You know how I feel about this shit.”My mouth went dry. I swallowed hard, trying to find my voice.
Nico’s POVI let out a tired sigh, gripping the wheel tighter than necessary.I’ve been stuck working for twelve shitty hours. Some days, all this crap makes me wish I’d just stayed in the military.My head was pounding. All I wanted was a quiet house, a cold beer, and maybe an hour in the basement gym to sweat the day out of my system.My phone buzzed with an unknown number. I almost let it go to voicemail, but in my line of work, letting it ring out wasn’t really an option.“Yeah,” I answered, my voice flat.A low, gravelly voice came through. “Rossi, I’ve got a job for you. It’s high priority, and I need it done quietly. You in?”I exhaled through my nose, keeping my eyes on the dark road ahead.I’ve been in the game for a long time. I did what I had to so I could take care of Luca, but lately it’s been leaving a bad feeling I can’t shake off.“I’ll think about it,” I said. “Send the details. I’ll get back to you by tomorrow.”“Make it fast. The pay’s double if it’s clean.”“Underst
Asher's POV I stared at the massive poster plastered on the bulletin board outside the student center, my eyes scanning the grid of class schedules.Fall semester was creeping up faster than I expected, and I needed to make sure my psych elective didn't clash with that godforsaken 8 a.m. calc clas
Asher's POV Um... actually, Sarah—I was just about to shut this whole thing down, find some polite way to extract myself from Sarah's grip without causing a scene, when Luca and Mia suddenly stood up across the table."Hey, guys," Luca said. "Mia and I were thinking of catching that new rom-com d
Asher’s POVI pushed open the front door of Luca’s house with my shoulder.The living room was dim except for the massive glow of the football game on the TV.Luca and Jax were sprawled across the couch, their attention fixated on the screen as they played. Luca spotted me first. He didn’t even pa
Asher's POV The engine of my car hums as I weave through the city streets, but I'm barely even paying attention to the road. My mind's like a goddamn whirlwind, spinning around one person and refusing to quit. Nico. It's been what, a week since he left for work in Chicago? For some reason, it fe












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reseñas