MasukAlphonse Alexei is still suffering from the abandonment of her mother and still questions life and death as she grow up. One day, at her 18th birthday, she meets a ghost boy who's seeking for a "travel partner" to venture the place where death and life never seems to exist, but behind her ghost friend's silly and playful attitude hides a sad truth. "Death And Life Is Very Confusing, Just Enjoy What You Have Left"
Lihat lebih banyak"Maafkan aku, Love. Aku memang salah. Aku menyesal."
Suara Erick terdengar begitu pilu, ia mengiba, memohon-mohon, bahkan berlutut di hadapanku. Raut wajahnya menggambarkan penyesalan yang dalam.
"Aku sudah memaafkan kamu." Aku menanggapinya setengah hati, berharap kalimat yang ku ucapkan itu segera mengusirnya dari sini.
Tergambar perasaan lega dan senang di wajah tampan yang pernah membuatku tergila-gila itu. "Terima kasih, Cinta. Aku berjanji ...."
"Aku memaafkan kamu, bukan menerimamu kembali," tukasku dengan nada yang semakin dingin.
Erick tampak kecewa. Wajah yang sempat ceria kini mendung lagi. "Aku tahu aku salah, tapi waktu itu aku terpaksa ...."
"Terpaksa??? Dengan penuh gairah kau mencumbu wanita itu di depan mataku, kau bilang itu terpaksa?" seruku gusar. "Aku masih mengingat dengan jelas hari itu. Perlu kamu ketahui, aku belum dementia."
Aku berupaya untuk tidak murka, apalagi menangis di hadapan Erick. 'Waktu untuk menangis dan berkabung atas pengkhianatanmu sudah habis, Erick,' batinku pedih.
Erick, cinta pertamaku, pria yang pernah menjadi sinar matahari dalam hidupku, kini hanyalah seorang mantan suami yang telah berkhianat dan menghancurkan hati dan hidupku.
"Oke," ucap Erick sembari bangkit berdiri. "Katakanlah kau tidak ingin menerimaku kembali. Tapi aku yakin dalam hatimu, kamu pasti masih menyimpan cinta dan kenangan kita, Love."
Aku mencibir sinis. Kepercayaan diri dari mana yang dia dapatkan? "Apa yang bisa diharapkan dari cinta yang sudah ternodai oleh pengkhianatan? Kita sudah berakhir, Erick," cemoohku mulai kehabisan tenaga. Lelah sekali rasanya ribut seperti ini.
"Setidaknya pikirkan anak kita, Love."
"Dia anakku, bukan anakmu, Erick."
"Ricky anakku juga, Velove, darah dagingku. Kau pikir kau bisa hamil sendirian tanpa kontribusi seorang laki-laki?" Suara Erick mulai terdengar meninggi. "Kau bahkan menamainya Ricky, sesuai keinginan kita dulu, apa kau lupa?"
Kalimat terakhir Erick seperti sebuah pukulan telak yang membungkamku. Yang ia ucapkan memang benar, namun itu tidak bisa menutupi kenyataan bahwa ia adalah mantan suami yang pengecut dan tidak bertanggung jawab.
"Cinta, tolong jangan keras kepala," ucap pria itu dengan nada yang lebih lembut. "Aku memang salah, aku khilaf untuk sesaat karena tekanan dari orang tuaku yang terlalu kuat. Tapi aku sudah meninggalkan wanita itu, Sayang. Kami tak punya hubungan apa-apa. Kau pergi tanpa pamit, dan tidak kembali, membuat hatiku hancur berkeping-keping. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
Kehidupanku selama tiga tahun di sini terasa damai dan tenang, tapi sekarang semua ketenangan itu hancur karena kehadiran mantan suamiku lagi. Runyam!
Aku ingin berteriak, marah, menangis, namun aku menahan diri. Rasanya tidak enak kalau kami malah menarik perhatian penghuni rusun yang lain dengan drama tidak bermutu ini.
Erick berupaya meraih tanganku, namun aku menepisnya.
"Erick, jangan buat keributan di sini, aku malu dengan tetangga, dan aku capek. Tolong pergilah," pintaku yang merasakan lelah secara fisik dan emosi.
Aku merasa tidak sanggup bicara lebih lanjut dengan Erick, setidaknya untuk saat ini. Aku sadar ada yang harus diselesaikan di antara kami, tapi tidak sekarang.
"Tapi, Love, kita harus bicara ...."
"Jangan sekarang, Erick, tolong. Pergilah dulu." Dengan tatapan mata letih aku memohon kepada pria itu. Aku belum siap secara mental untuk bertemu lagi, apalagi berbicara dengan mantan suamiku.
Akhirnya Erick mengalah. "Baiklah, tapi aku akan datang lagi besok. Beri aku kesempatan untuk bicara, Love," ujar Erick bersungguh-sungguh.
"Ya, terserah."
"Jaga dirimu, My Love. Aku mencintaimu."
Aku melihat pria itu bermaksud untuk memelukku sebelum pergi, tapi aku bergerak lebih cepat dengan menutup pintu rumahku dan menguncinya.
"Love ...," desah Erick mengembuskan kekecewaan tanpa tanggapan apapun dariku. Dengan berat hati ia pergi meninggalkan tempat tinggalku ini.
Setelah menyadari langkah Erick menghilang dari pendengaranku, aku yang bersandar pada pintu, dan seketika merosot ke lantai, dengan tubuh yang terasa sangat lemas.
Seluruh emosi dan pikiran berkecamuk di kepalaku. 'Kenapa kamu harus datang lagi, Erick? Kenapa?' rutukku dalam hati.
Ketika aku sedang merenungi nasibku, dari luar terdengar suara ketukan di pintu.
"Tok tok tok."
Aku mengabaikannya, namun ketukan itu terdengar lagi.
"Velo, kamu di dalam, Nak?"
Ibu Berta! Ia pasti sudah mendengar keributan tadi. Aku merasa tak enak hati dengan wanita baik itu.
Aku bangkit, membuka pintu, dan tanpa memandang aku berlari memeluk sosok yang berdiri di depan pintu itu.
"Bu Ber ...," lirihku, seraya melingkarkan lenganku di tubuhnya. Dia balas memeluk ku dan sedikit mengusap punggungku.
Tapi ... ada yang salah.
Ini bukan dada Bu Berta. Mengapa jadi keras begini? Dan wanginya ... maskulin, tiba-tiba membuat jantungku berdebar.
Astaga!
Aku mendongak dan melihat seringaian nakal dari pemilik tubuh itu.
"Velo." Terdengar suara Ibu Berta lagi, tapi ternyata ia berdiri di belakang orang yang aku peluk.
Mati aku! Aku mencoba melepaskan diri dari pelukan orang itu, tetapi ia menahanku. Aku terpaksa harus memukul lengannya, barulah ia membiarkanku pergi.
Aku terbirit-birit masuk rumahku dan menutup pintu. Duh, kok bisa salah sih? Malu banget! Aku memukuli kepalaku pelan beberapa kali. Lalu kututupi wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku menjerit tanpa suara.
Kudengar suara pria itu terkekeh. "Hari ini pelukanku gratis, Ve, tapi besok bayar ya," godanya dari balik pintu.
Ini tadi melodrama aku kedatangan mantan suamiku yang ngajak balikan, kenapa malah tiba-tiba jadi romantic comedy gini ya? Sama dia pula! Kacau!
Aku malu, tapi juga ingin ketawa. Ingin ketawa tapi juga merasa malu. Bingung kan?
Gawat memang Mas 203 itu! Awalnya ia tetangga sebelah yang sangat baik, lalu beberapa bulan terakhir ini dia mulai mengusik kesendirianku dengan sikapnya yang tahu-tahu jadi 'nakal' dan suka menggoda.
"Aduh! Cubitan Ibu Berta boleh juga. Hehe," serunya. Rupanya Bu Berta menghukum pria pengganggu itu dengan mencubitnya.
"Makanya, jangan suka gangguin anak Ibu! Sudah, balik ke kandangmu sana!" hardik Bu Berta, tapi masih dengan nada ramah.
"Memangnya saya singa, Bu, disuruh masuk kandang?"
"Bukan singa tapi sapi, nanti Ibu yang jadi gembalanya, Mas ganteng," sahut Bu Berta yang memang suka melucu. "Velo, Ibu masuk ya."
Aku mendengar ketukan pintu lagi, kali ini Bu Berta sendiri yang membukanya karena tahu aku tidak mengunci pintuku.
Begitu pintu terbuka aku buru-buru menutupnya tanpa melirik ke arah mahkluk hidup yang masih setia berdiri di tempatnya semula. Aku mendengar ia terkekeh tapi tak aku tanggapi.
Aku dan Bu Berta saling memandang. Ia mengulum senyuman, sedangkan aku menahan tawa dan malu
"Duduk, Bu." Aku mendorong wanita paruh baya itu untuk duduk di kursi tak jauh dari pintu. Bu Berta tersenyum sambil memandangku.
"Kenapa, Bu? Ada yang lucu di muka saya?" tanyaku salah tingkah.
"Nggak apa-apa. Ya, Ibu maklum saja perawakan Ibu memang tinggi besar, jadi kalau kamu salah peluk bisa dimengerti. Walaupun, ehem ... mukanya jelas beda, bentuk badannya beda, dan ... ehem ... parfumnya ...."
"Eh, itu beneran saya nggak lihat tadi, Bu, jadi keliru," sahutku cepat-cepat.
Bu Berta mengangguk dengan senyum sok pengertiannya.
"Maaf ya, Bu, tadi saya nggak bermaksud membuat keributan." Aku meminta maaf atas kejadian dengan Erick tadi, sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Itu tadi mantan suami kamu ya?"
"Iya."
"Ngajak rujuk?"
"Iya."
Bu Berta kembali mengangguk-anggukkan kepala.
"Ya sudah, kamu pikirkan baik-baik ya, Nak, untung ruginya. Bagaimanapun kamu masih harus memikirkan Ricky, kamu juga masih muda, masih layak kalau mau menikah lagi," katanya penuh perhatian.
Setelah membuat pertimbangan sesaat, aku memutuskan untuk bicara dengan Bu Berta.
"Bu Ber, mungkin ini saatnya Velo bercerita."
"Velo, mungkin ini saatnya Bu Ber mendengarkan," timpalnya, membuat aku tersenyum ringan. Bu Berta selalu berupaya membuat suasana nyaman ketika orang ingin bicara serius dengannya.
"Kejadiannya dimulai lima tahun lalu...."
May naririnig akong matamis na himig mula sa madilim kong kapaligiran. Ano kaya iyon? At tsaka...na saan ba ako?"P-parang pamilyar sa akin iyong himig..." ani ko, habang unti unting lumiwanag ang aking paligid at ang sahig ay parang malinis na salamin na sumasalamin sa aking mga galaw. Naglakad-lakad ako ng sandali sa sobrang puting lugar at may natanaw akong babae mula sa malayo na mukhang pamilyar.Bigla nalang may tumulo sa gilid ng aking mukha at nakilala ko kung sino ang nakatayong babae, "Mama?" ani ko at lumingon sya sa aking direksyon, halos nanlamig ang aking buong katawan, parang siya nga iyon.Unti unti syang lumapit sa akin at bumulong sa aking tainga at sinabing, "Wag kang pupunta sa boundary...." nagulat ako sa kanyang sinabi at biglang may malakas at nakakairitang tunog ang sumira sa paligid nang parang salamin.BIGLAAN KONG BINUKSAN ang aking mga mata ng
"H-ha?" saad nung lumulutang na lalaki, kinusot ko ang aking mga mata at baka nag-hahallucinate lang ako sa pagluha ko kanina, pero nakikita ko parin siya.Hindi ko alam kung sisigaw ba ako o maa-amaze sa nakita ko,Multo ba itong kausap ko ngayon? Huh? I can see ghosts?! How and what the heck was that?!"S-sino ka?! A-at tsaka.... Multo ka ba!?" natataranta kong tanong habang tumingin naman sya sa kanyang paahan at nataranta tuluyan na rin siyang nataranta."H-h-h-ha?! N-nakikita mo ako?!" sabi nya habang tinuturo nya ako at sya."Oo...Oo," mahinhin kong sabi habang nakatitig sa lalaki."Paano nangyari yun? Ilang tao na nakasalumuha ko pero ikaw lang ulit ang nakakita sa akin! M-may third eye kaba?" ani niya nang may gulat."H-hindi ko rin alam! B-bigla na lang kitang narinig na nagsasalita kaya napatingin ako sayo, t-tapos naki
Alphonse's POV"Pasensya....." Mababa at mula sa malayo na boses ang aking narinig.Sino iyon? Mama ikaw na iyan??UNTI-UNTI KONG binuklat ang aking mga mapupungay na mata at naaninag ko ang sinag ng sikat ng umagang araw mula sa aking bintana. Dahan-dahan akong tumayo at pinatay ang nagi-ingay kong alarm na di ko namalayang tumutunog na pala."'Pasensya' ba iyong narinig ko kanina...." Tanong ko sa aking sarili at napatingin sa litrato ni mama.Bakit hindi ko parin makalimutan iyong nangyari? Ilang taon nadin naman ang lumipas.Tinatamad akong tumayo at lumakad papuntang kusina para maghanda na nang aking almusal habang kinukusot ang aking mata at humihikab. Napatingin ako sa itaas ko habang iniisip kung anong kakaibang mangyayari sa araw na ito.Napabuntong hininga ako habang






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.