Masuk12 November 434, Kekaisaran Kahalin
Kali ini aku bangun dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya, setidaknya sakit punggungku sudah mendingan. Hanya saja bau tak sedap sempat tercium di samping rumah, mungkin itu selokan. Ku berikan rating 4/10 untuk rumah ini, 4 untuk roti berbau enak di depanku. Kali ini roti karamel. Dia memang tahu apa yang aku sukai. Tak perlu aku jelaskan lagi, ini adalah yang terbaik. Dipanggang dengan sempurna dan diberi taburan karamel di atasnya, sungguh sarapan mewah bagiku yang biasa sarapan roti tawar. Di bawah piring ada kertas bulat bergambar simbol aneh. Aku mengambilnya dan tiba-tiba kertas itu hangus. Suara Aster muncul entah dari mana, yang intinya menyuruhku bersiap-siap dan berganti pakaian yang sudah disiapkannya di samping, dengan catatan kecil bahwa dia akan menemuiku lagi dalam setengah jam. Sihir ini menakjubkan, seperti voice note tapi lebih canggih, atau bisa kusebut lebih kuno ya? Aku meletakkan piring di meja dan mengambil pakaian yang disiapkannya. Kemari aku belum ganti pakaian sama sekali. Aku masih menggunakan pakaian kantor dan rok robek ini sepanjang malam. Mengingat seberapa brutalnya kerusakan bajuku ini membuatku sedikit menyesal, mengingat harganya yang tidak murah untukku. "Pakaian ini aku beli mahal, tapi rusak begitu saja," kataku sambil menghela napas. "Hati kecilku meronta-ronta...." Hari ini dia bilang akan membawaku ke markasnya. Aku penasaran apakah hari ini aku akan melihat penyihir bertarung lagi. Mengingatnya memang menakjubkan, tapi jika aku mati itu tak lagi menakjubkan. Kelihatannya hidupku memang menantang. Setelah ini apakah aku masih bisa hidup? Tapi aku tak punya pilihan lain, jika aku ingin pulang aku harus mengandalkannya yang tahu tentang sihir. Aku melihat buku itu tergeletak di atas meja. Menatapnya beberapa saat, ingatan kemarin masih saja membekas di pikiranku, dan entah kenapa aku mulai bertanya-tanya, apa aku bisa kembali normal? Ku sadari, aku terlalu larut dalam pikiranku sampai suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. "Solita," suara Aster terdengar dari luar. "Sudah siap?" tanyanya sambil mengetuk pintu. "Sebentar," jawabku. Aku segera mengambil tumpukan pakaian di samping meja dan memakainya. Dan kau pasti bercanda dengan ini-ini terlihat agak aneh, kemeja putih dan celana abu-abu panjang. Kenapa ini terlihat seperti pakaian pria? "Apa ini pakaian pria?" tanyaku. "Haha," dia menyeringai. "Ya, sebenarnya... itu pakaianku, tapi tak masalah. Daripada kau tetap memakai pakaian anehmu kemarin, ini lebih baik." Aku memijat pelipisku pelan. Yang benar saja, dia benar-benar memberiku pakaian pria dan ini adalah pakaiannya sendiri? Memang aku tidak keberatan, tapi bukankah ini akan terlihat aneh? Dari yang kulihat sejauh ini, dunia ini punya nuansa abad pertengahan. Seorang gadis memakai kemeja dan celana panjang mungkin akan menarik perhatian. Apa aku akan dikira waria nanti? Ya, tapi bagian dadaku masih menonjol sih. Akhirnya dia memberiku sebuah solusi alternatif yang sangat ekonomis dan praktis. Ya, dia memberiku mantel panjang coklat berkerudung untuk menyembunyikan rambut dan dadaku yang menonjol. Jika orang melihat nanti, paling-paling mereka akan mengira aku sebagai pria berparas cantik. Akhirnya, setelah sibuk mengurusi pakaianku, kami berangkat. Kami menelusuri jalanan gang yang sedikit gelap dan lembab. Bau di sini juga tak terlalu sedap, banyak sekali bangkai hewan tergeletak dan kucing liar yang berkeliaran. Dan sesuatu yang benar-benar aku benci, tikus di sini sepertinya sangat makmur karena ukurannya yang sebesar anak kucing. "Kemana kita akan pergi?" tanyaku. Dia berbalik dan menyeringai tipis. "Ke markas, tentunya." "Aku tahu itu, tapi harusku melewati jalan ini?" kataku sambil menutup lubang hidung. "Bau di sini membuatku ingin muntah." "Jangan khawatir, sebentar lagi...." katanya sambil mempertahankan senyum tipisnya itu. "Oh ya, dan jangan jauh-jauh dariku," katanya sambil berhenti. "Jika kamu tersesat aku akan kerepotan." Tersesat? Memang seramai apa nanti? Sekitar lima menit berjalan menyusuri gang, akhirnya aku melihat ujungnya. Rasanya aku benar-benar ingin pingsan, lima menit terasa sangat lama. Aku sedikit menarik napas lega ketika akhirnya bau tak sedap dan tikus menghilang, disambut cahaya pagi yang menembus lorong yang mulai terlihat semakin terang. "Nah... Solita," dia berhenti tepat di ujung lorong gang, menoleh ke arahku. "Selamat datang... di Kota Ariana." Aku berjalan keluar dari gang dengan pelan. Ketika cahaya matahari menyilaukan pandanganku, aku terpaksa menutup mata. Suara-suara mulai terdengar memenuhi telingaku-tawa, percakapan, derap langkah, lonceng. Akhirnya aku membuka mataku. Ini jauh melebihi apa yang aku bayangkan, rasanya imajiasiku terasa dangkal. Ketika aku melangkahkan kakiku ke luar, ini terasa seperti mimpi-mimpi yang benar-benar mustahil untuk bisa terwujud, tetapi seakan sang dewa berkata itu tak mustahil. Hiruk pikuk kota ini benar-benar membuatku tak bisa mempercayai mataku sendiri. Ketika di bumi, sihir mungkin menjadi impian semua orang dan terasa seperti dongeng anak-anak. Tapi di sini, sihir dapat terlihat sepanjang mataku memandang. Keajaiban-keajaiban ini, sihir-sihir yang menakjubkan ini memenuhi seisi kota. Berbagai macam karpet terbang di udara dengan berbagai warna dan ukuran, kereta kuda yang ditarik hewan mirip pegasus, seorang pelayan toko yang membawa tumpukan nampan yang melayang, para anak-anak yang berlarian-atau bisa kusebut berterbangan-dengan sepatu terbangnya. Membayangkannya saja sudah membuatku tak bisa berhenti kagum. "Ayo, Solita..." sambil mengulurkan tangannya. "Ini luar biasa..." kataku sambil mematung di tempat,"apa aku masih tidur?....Kalian pergi tamasya ke rumah kaca? Kalau aku justru ke dunia kaca yang menakjubkan—saking menakjubkannya, aku sampai bermain kejar-kejaran dengan seekor ular bersayap hitam dan taring yang siap menjadikanku cemilan.Kau tahu, aku sudah berlari cukup lama. Setelah beberapa saat berhasil lolos darinya, aku menjatuhkan diri di balik dinding cermin sambil mengusap dahiku yang basah. Sekarang aku tahu pentingnya olahraga—selain untuk menjaga tubuh tetap sehat, juga untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti kau dikejar monster di dunia lain.Setidaknya aku berhasil bersembunyi untuk beberapa saat, meski napasku kini terasa pendek sekali."Sial..."Dan sekarang ini sepertinya aku terjebak di dalam sihir orang itu. Dunia ini sangat aneh. Jadi, bagaimana aku bisa keluar dari sini? Aku yang tak tahu apa-apa tentang sihir dipaksa melawan ular ganas dan orang gila? Yang benar saja."Andai ada Aster di sini..."Aku mendongak, melirik sekitar, sekadar memastikan ular itu tak mendekat. Baru saja aku
Aku membuka mataku di dunia lain lagi, ya.... lagi-lagi di dunia lain. Ini klise sekali. Jatuh tersungkur di antara kaca-kaca yang berkilauan, jidatku terasa sakit. Aku mendapati diriku di dunia yang.... penuh cermin.Aku tak tahu ini apa dan di mana, tapi aku akan menyebutnya dunia cermin, karena sepanjang mata memandang luasnya tempat ini, semuanya terbuat dari kaca cermin yang memantulkan bayanganmu.Kepalaku agak pusing akibat pendaratanku yang selalu tak mulus, ditambah nyeri di lengan kananku yang semakin menjadi. Aku melihat pria itu berdiri di depanku, menatapku sambil menyeringai aneh.Dia mendekat ke arahku sambil membuka tudung jubahnya, memperlihatkan wajahnya. Seorang pria paruh baya, atau bisa kubilang om-om. Dengan kumis tipis dan rambut coklat yang tersisir rapi, daripada seorang kriminal dia malah terlihat seperti pria beradab di film kolosal barat yang sering aku tonton."Si... siapa?" tanyaku."Menarik...." sambil mencubit dagunya.Entahlah, dia selalu bilang mena
Sebuah Novel Fantasi oleh Coffeeman Never Sleep Halo semua! Aku Coffeeman, seorang penulis pemula yang baru saja merampungkan novel pertamaku. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir ke sini. Karena ini adalah novel pertamaku, tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, aku sangat mengharapkan saran dan kritik dari kalian yang membacanya. Jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat, ya. Terima kasih! Mengenal Dunia: Dalam novel ini, Solita - sang tokoh utama - secara tidak sengaja terlempar ke dunia lain yang penuh dengan sihir: sebuah benua bernama Pandora. Di Pandora, semua orang mampu menggunakan sihir, dan sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di benua ini terdapat beberapa kerajaan yang tersebar luas. Namun, fokus cerita hanya akan berada di Kekaisaran Kahalin - sebuah kekaisaran megah yang terletak di ujung Utara benua Pandora. Definisi Penyihir : Meskipun semua orang di Pandor
10 November, 2020 Aku solita, baru saja memecahkan rekor baru sebagai budak korporat dengan keluar kantor pukul dua dini hari. Aku keluar dari gedung kantor sambil menyeret langkah lelah. Lampu-lampu kota masih menyala terang, tetapi jalanan mulai sepi seperti kota mati. Aku membuka ponselku, notifikasi itu langsung muncul memenuhi layar. Berbagai macam surat cinta dari tukang sampah kompleks, listrik, air, dan... dari rumah sakit. Ya, beginilah kehidupan seorang tulang punggung keluarga. Kau berharap aku mendapatkan surat cinta?. Aku terkekeh pelan sambil memijat pelipis ku, berhenti sejenak untuk sekadar melupakan layar komputer dan berbagai permasalahan di dalamnya. Bicara dengan diri sendiri? Ini belum termasuk gila... hanya sedikit saja. Adikku sakit keras dan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, sementara orang tuaku sudah lama meninggal sejak aku kuliah. Dengan begitu, aku tak punya pilihan selain mengurus adikku. Lucunya, aku bahkan tak yakin bisa mengurus dir
Sungguh asyik sekali terombang-ambing di udara dengan wajah yang sakit ini, saking asyiknya aku sampai ingin muntah. Pria itu membawaku melesat melewati reruntuhan dengan kecepatan yang membuat isi perutku seperti tertinggal di belakang. Kami terombang-ambing beberapa saat hingga jatuh dengan kecepatan tinggi, tapi dapat mendarat dengan aman di tanah. Sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Terombang-ambing di udara sedikit membuat kepalaku pusing. Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mulutku saat aku terbang tadi. Dia terlihat sangat tenang. Seorang pria yang cukup tampan, dia masih muda. Kira-kira seumurku, tapi dia cukup aneh-rambutnya berwarna putih. Masih muda, kenapa rambutnya putih? Dan pupil matanya berwarna biru, mirip orang Eropa. Dilihat dari segala sisi, dia cukup tampan bagiku. Hanya... kenapa rambutnya itu seperti semak belukar. Dia benar-benar seorang penyihir! Aku bertanya-tanya apakah aku sekarang ada di dunia lain. Aku ingin sekali bertanya padanya, se
11 November 434, kekaisaran KahalinAku bermimpi melihat diriku yang masih remaja bersama adikku yang aku gendong ke mana pun aku pergi, tentang kami yang menyukai hal yang sama, melukis.Menggambar, mencorat-coret apa pun yang kami temui, bahkan dinding rumah orang pun tak luput. Kadang-kadang orang-orang akan datang mengomel pada ibuku, dan ibu akan menyita peralatan lukis kami serta mengurung kami di kamar seharian.Namun itu tak menghentikan aku dan adikku. Kami berbagi pensil kecil yang dipotong dua untuk situasi darurat seperti itu, dan kami akan melanjutkan aksi kami selanjutnya sambil tertawa pelan.Aku merindukan saat-saat itu, di mana kami dapat menggambar, melukis, menciptakan apa pun yang kami mau tanpa terkekang, seakan kami bisa membuat dunia kami sendiri. Kami berdua pun berjanji akan menjadi seorang pelukis bersama. Namun semua itu sirna, mimpi itu perlahan menghilang.Setelah ibu meninggal, aku terpaksa mengubur impian itu dalam-dalam. Aku mulai melupakannya dan beral







