Beranda / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 195. Noah Di Culik

Share

195. Noah Di Culik

Penulis: Dewa Amour
last update Tanggal publikasi: 2026-06-04 13:39:23

Pagi belum jatuh sepenuhnya di dermaga pelabuhan Amerika Timur. Kabut tebal yang bergulung dari laut membuat atmosfer di sekitar area kedatangan terasa lembap dan suram. Namun suara terompet kapal yang membaur dengan hirup pikuk orang-orang, memecah keheningan.

Miranda Ford berjalan tergesa-gesa di antara kerumunan orang yang lalu lalang. Tas besar disampirkan di bahunya, sementara tangan kanannya menyeret sebuah koper perak dengan susah payah.

Kapal pesiar mewah yang membawanya dari Pulau
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    238. Undangan Khusus

    Tiga hari berlalu dengan cepat. Sore harinya di Rumah Sakit Anak Sant’Agata, suasana di koridor mulai berangsur sepi. Elena Botticelli sedang menyelesaikan pemeriksaan medis terakhir pada berkas pasien anak sebelum jam dinasnya berakhir, ditemani oleh Mia yang sibuk merapikan obat-obatan di troli. Tiba-tiba, seorang perawat muda berlari mendekati mereka berdua dengan raut wajah penasaran. "Dokter Elena! Di ruang tunggu depan ada seorang tamu pria berpenampilan sangat rapi yang menanyakan keberadaan Anda." Elena mengernyitkan dahinya heran. "Menanyakan aku? Apakah kau tahu siapa dia? Seingatku aku tidak memiliki janji bertemu dengan siapa pun sore ini." Mia yang berdiri di sampingnya seketika menyenggol lengan Elena seraya tersenyum menggoda dengan mata berbinar. "Wah, wah! Apakah pangeran tampanmu, Tuan Muda Alando Vicenzio, datang lagi untuk menjemputmu, Elena?!" "Jangan bicarakan hal konyol, Mia," bisik Elena dengan wajah merona, meskipun di dalam hatinya ada sedikit rasa penasa

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    237. Sebuah Kejutan

    Mata Bella terbelalak lebar, sepasang pupil matanya bergetar penuh takjub. Di dalam krangkeng besi hitam yang tebal dan kokoh itu, berdiri sesosok macan tutul betina langka asal Afrika. Hewan buas itu memiliki bulu keemasan yang indah dengan pola tutul hitam murni yang sempurna. Bintang predator itu melangkah berputar-putar anggun di dalam sangkar, mengeluarkan geraman rendah yang menggetarkan udara ruangan. George melirik ke arah ekspresi wajah istrinya dengan perasaan lega yang tersembunyi. Ia tahu betul sejak lama bahwa Bella sangat mengidam-idamkan untuk memelihara seekor macan tutul Afrika murni. Demi mendapatkan hewan eksotis nan mematikan ini, George secara khusus menghubungi Marco—rekan bisnis gelapnya yang saat ini sedang memimpin operasi di pedalaman benua Afrika—untuk menangkap dan mengagendakan pengiriman rahasia spesimen betina paling sempurna ini ke Roma. Semua ini dilakukan George semata-mata demi meredam amarah sang istri dan memikat perhatiannya agar tidak lagi m

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    236. Kepulangan George

    Waktu berputar cepat menuju jam-jam kritis menjelang subuh. Di dalam kastil mewah Riciteli yang megah di Roma, atmosfer keheningan malam hancur berkeping-keping oleh suara kegaduhan yang amat mengerikan. PRRAANGG!! Suara pecahan kaca dan keramik mahal bergaung keras menembus lorong-lorong batu kastil. Di dalam ruang kerja pribadi George yang luas dan megah, keadaan sudah laksana medan perang. Berkas-berkas penting berserakan di atas lantai marmer, kursi-kursi kayu berukir terbalik, dan jam dinding antik hancur berkeping-keping. Di tengah ruangan itu, Bella Agustin Castaro berdiri bagaikan sesosok iblis yang sedang murka. Matanya menyala-nyala dipenuhi kemarahan yang liar, rambut pirangnya yang sedikit acak-acakan justru mempertegas aura predatoria yang amat menakutkan. "Di mana dia?! Di mana George?!" teriak Bella dengan suara melengking yang menusuk telinga. "Berani-beraninya dia mengabaikan panggilanku! Aku bersumpah! Jika ada wanita jalang di Sisilia yang berani menahannya di

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    235. Sepak Terjang Yang Terlacak

    Di dalam kabin belakang mobil yang sedang bergerak, George melirik sedikit melalui kaca spion luar, menatap siluet Elena yang masih berdiri terpaku memandanginya dari depan toko bunga. Seulas senyum misterius yang dingin terukir di bibirnya. "Luca, jalankan mobilnya lebih cepat," perintah George singkat. "Baik," jawab Luca seraya menekan pedal gas. Setelah mobil melaju cukup jauh meninggalkan area pertokoan, Luca melirik ke arah spion dalam. "George... baru saja ada pesan darurat terenkripsi yang masuk dari Leonard di Roma." Raut wajah santai George seketika sirna, berganti dengan ketegangan yang tajam. "Ada apa? Apakah terjadi sesuatu di kastil?" "Bella... sepertinya dia mulai menaruh kecurigaan yang sangat besar atas keberadaanmu yang terlalu lama di Sisilia," lapor Luca serius. "Leonard menyampaikan pesan bahwa jika dalam kurun waktu satu pekan ini kau tidak kembali ke Roma, Bella mengancam akan mengerahkan seluruh pasukannya dan menyusul secara langsung ke pulau Sisilia ini."

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    234. Permainan Sang Raja Mafia

    Beratus-ratus mil dari kota Roma, atmosfer kota Palermo terasa jauh lebih tenang dan hangat. Sinar matahari senja berwarna keemasan menerpa deretan toko-toko tua di sepanjang jalanan batu. Di dalam sebuah toko bunga cantik beraroma wangi bernama "Lusiana’s Flower", Elena Botticelli tampak sedang menyusuri deretan ember-ember kayu berisi aneka bunga segar yang baru saja tiba. "Oh, Tuhan... kalian indah sekali." Wajah cantiknya berbinar lembut saat matanya menyapu kelopak-kelopak bunga berwarna-warni tersebut. Lusiana, sang pemilik toko yang merupakan seorang wanita paruh baya berwajah ramah, melangkah mendekati Elena dengan senyuman hangat. "Selamat sore, Dokter Elena! Kau datang di waktu yang sangat tepat. Bunga-bunga krisan dan lili ini baru saja dipetik pagi tadi dari perkebunan atas," sapanya ramah. Elena membalas senyuman itu dengan tulus. "Selamat sore, Bibi Lusi. Semuanya terlihat sangat indah... Tapi seperti biasa, aku sedang mencari bunga mawar putih." Dari seluruh jenis

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    233. Kecurigaan Bella

    Ruangan megah di dalam kastil keluarga Riciteli di Roma diselimuti keheningan yang mencekat. Cahaya dari lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit menguraikan pendar keemasan, memantul pada dinding marmer mahal dan furnitur mewah bergaya klasik. Namun, keindahan visual kastil itu sama sekali tidak sanggup mengikis atmosfer intimidatif dan penuh bahaya yang berembus di dalam ruangan tersebut. Di atas sebuah sofa beludru merah tua, duduk seorang wanita dengan kecantikan yang teramat sempurna namun mematikan. Bella Agustin Castaro—istri dari sang raja mafia George Lazaro Riciteli—bersandar anggun dengan sepasang mata tajam yang memancarkan aura predator murni. Jemari lentiknya yang terawat sibuk memainkan sebilah pisau analisis berbahan baja dingin, memutar-mutar mata pisau itu di antara jarinya dengan ketangkasan yang mengerikan. Di bawah kakinya, seorang pelayan wanita muda berseragam hitam-putih duduk bersimpuh, gemetar hebat dengan wajah yang pucat pasi tanpa darah.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status