Home / Romansa / DIPTA / BAB 5 Persaingan dan Strategi

Share

BAB 5 Persaingan dan Strategi

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-02-24 22:07:12

Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit.

Tiba-tiba, suara ringan dan bercanda terdengar di dekatnya.

“Hai… kalau kamu baca terus, bisa-bisa otakmu meledak, lho”, kata Raka sambil tersenyum jahil, duduk di rumput tak jauh dari Aira.

Aira menoleh, kaku sebentar, lalu tersenyum samar. “Eh… aku baik-baik saja kok… hmm… Kak”, jawabnya sedikit menunduk sambil menata rambut yang tergerai.

Raka mencondongkan tubuh ke arah Aira, tangan menunjuk diagram di buku. “Yaudah, tapi kalau mau istirahat sebentar atau sekadar ngobrol tentang biologi, panggil aja ya. Aku bisa bikin belajar lebih seru.”

Aira menatapnya, bibir sedikit mengerut saat menahan tawa, lalu akhirnya terkekeh tipis. Bahunya sedikit naik-turun, matanya mengikuti gerak Raka dengan penuh perhatian. Ada kehangatan yang tiba-tiba mengisi sore itu, berbeda dari ketenangan perpustakaan atau keseriusan kantin.

Dari sisi lain lapangan, Dipta berdiri di bawah pohon yang sedikit menjorok ke lapangan. Tatapannya tetap tenang, namun sorot matanya tidak lepas dari Aira. Ia menunduk sebentar, lalu menarik napas pelan. Rahangnya mengeras, tetapi langkahnya tetap lambat dan terkendali.

Raka, tanpa sadar, beberapa kali menoleh ke arah Dipta, tapi tidak melihat tatapan penuh perhatian itu. Bagi Dipta, setiap tawa Aira terasa seperti sesuatu yang harus diwaspadai, bukan karena marah, tapi hanya ingin memastikan tidak ada yang mengambil posisinya di dekat Aira.

“Kalau serius belajar terus, kamu nggak boleh lupa senyum juga, ya”, Raka menambahkan sambil terkekeh ringan.

Aira menoleh, tersenyum tipis sambil menutup buku sebentar. Tangannya menekan buku ke pangkuan, lalu menatap Raka sekilas. “Aku akan coba… Kak”, katanya, suara pelan tapi jelas.

Raka mengangguk, senyum lebar muncul di wajahnya. “Nah, itu baru! Santai aja, nggak perlu tegang.”

Dipta mengalihkan pandangan sebentar ke langit, menenangkan diri, tapi matanya tetap menyorot Aira dan Raka. Setiap gerak Raka, setiap tawa Aira, tersimpan di ingatannya. Ia menarik tangan ke saku, menahan dorongan untuk mendekat, obsesi halus yang baru saja mulai terasa.

Sore itu berakhir dengan Aira menata kembali buku-bukunya, tersenyum tipis ke Raka, lalu menatap ke arah lapangan yang mulai sepi. Ada rasa lega, senyum yang alami, tapi juga rasa ingin tahu yang samar terhadap cara kakak-kakak kelas itu memperhatikannya.

Raka berdiri, melambaikan tangan ringan. “Oke, sampai besok ya. Jangan lupa istirahat juga.”

Aira melambai balik, pipinya sedikit memerah. Tanpa sadar, tatapannya kembali ke arah pohon tempat Dipta berdiri. Senyuman tipis muncul di wajahnya, tapi matanya juga mencerminkan rasa ingin tahu—apa yang membuat suasana sore itu terasa berbeda dari biasanya?

Dan di sudut lapangan, Dipta melangkah menjauh perlahan, tetap diam, tetap memperhatikan. Hari itu, Raka berhasil mencairkan suasana, tapi bagi Dipta, ini hanyalah awal. Sesuatu dalam dirinya mulai bergerak lebih protektif, lebih waspada, lebih tertarik pada cara Aira tersenyum alami.

°

Laboratorium siang itu sunyi. Bau alkohol dan larutan kimia tipis menyelimuti ruangan. Meja-meja kayu tersusun rapi, mikroskop tertata di setiap sudut, dan cahaya matahari yang masuk dari jendela tinggi membuat debu halus berkilau di udara.

Aira berdiri di depan meja mikroskop, jari-jarinya gemetar sedikit saat mencoba mengatur lensa. Ia mencondongkan tubuh ke depan, mata fokus menatap sel yang seharusnya terlihat jelas.

Dari sisi meja lain, David berjalan perlahan. Senyum ringan terukir di wajahnya, langkahnya tidak terburu-buru, tapi setiap gerakannya tertata rapi, seolah sudah membaca situasi. Ia mencondongkan tubuh sedikit, tangan menunjuk mikroskop tanpa menyentuh tangan Aira.

“Aira, mau aku bantu atur mikroskopnya? Supaya selnya lebih jelas”, ucap David, suara rendah tapi hangat, tanpa kesan memaksa.

Aira menoleh cepat, sedikit terkejut, lalu menunduk sambil menata rambut yang sedikit jatuh di depan wajah. “Oh… iya, Kak. Terima kasih. Aku belum terbiasa pakai mikroskop di pelajaran baru ini”, jawabnya, suaranya pelan, wajah sedikit memerah.

David mengangguk singkat, menahan senyum. Tangannya bergerak perlahan, menunjukkan posisi lensa dan fokus tanpa menyentuh tangan Aira. “Kalau begitu, ini posisinya lebih stabil. Lihat bagian ini, nanti selnya terlihat jelas.”

Aira mencondongkan tubuh lebih dekat, matanya mengikuti gerakan David, bibirnya mengerut sedikit saat berusaha memahami. Ia sesekali mengangkat alis, menatap David dengan rasa ingin tahu dan penghargaan. Cara David menjelaskan hal teknis tanpa terdengar menggurui membuatnya nyaman.

Dari jarak beberapa meter, Dipta berdiri di pintu laboratorium, tangan di saku, mata tetap fokus pada Aira. Rahangnya mengeras sedikit, menahan dorongan untuk maju. Setiap senyum kecil Aira, setiap gerak tangan David, tertangkap jelas olehnya. Ia menarik napas pelan, menenangkan diri.

David mencondongkan tubuh lagi, menunjuk catatan kecil Aira sambil tersenyum tipis. “Kalau kamu catat poin-poin penting, nanti lebih gampang diingat. Aku juga biasanya begitu.”

Aira tersenyum samar, menunduk sebentar. Tangannya bergerak cepat mencatat, tapi matanya tetap sesekali menoleh ke David, seolah ingin memastikan ia tidak salah paham. Cara David bersikap tenang tapi perhatian membuatnya merasa dihargai.

Dipta menggerakkan kepalanya sedikit, matanya menelusuri interaksi itu. Ia tetap diam, tapi dalam hati, ia menilai setiap gestur, setiap detik Aira menatap David, dan setiap senyum kecil yang muncul di wajahnya. Ada rasa waspada halus, tapi juga dorongan untuk melindungi meski ia belum menyadari betapa kuatnya perasaan itu mulai muncul.

Beberapa menit kemudian, Aira menyelesaikan pengaturan mikroskop. Ia menarik napas panjang, tersenyum tipis ke David. “Terima kasih, Kak. Penjelasannya gampang dipahami, aku jadi lebih ngerti sekarang.”

David tersenyum ringan, menepuk meja pelan. “Sama-sama. Aku senang bisa bantu. Kalau butuh, aku bisa temani latihan lagi kapan saja.”

Aira mengangguk, menutup buku catatannya perlahan. Matanya menatap jendela tinggi, cahaya matahari menyinari pipinya, wajahnya terlihat tenang tapi berseri. Tanpa sadar, setiap langkah dan perhatian kecil David meninggalkan kesan yang hangat meski tetap alami, tapi berbeda dari sebelumnya.

Di sudut ruangan, Dipta menarik napas dalam-dalam, menurunkan tangan dari saku. Ia menatap Aira sekali lagi sebelum perlahan melangkah keluar laboratorium, tetap diam tapi matanya mengikuti setiap gerakannya. Hari itu, ia menyadari sesuatu, kehadiran orang lain di sekitar Aira, walau tampak membantu, membuatnya lebih fokus pada satu hal saja, Aira.

°

Suasana sekolah sore itu lebih tenang. Koridor utama yang biasanya ramai dengan siswa yang berpindah kelas kini tersisa beberapa orang saja. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela panjang membuat lantai berkilau, dan suara langkah kaki terdengar jelas.

Aira berjalan sambil menata tasnya. Buku catatan biologi masih menempel di lengannya. Ia menoleh ke papan pengumuman, mencoba mencari jadwal ulangan besok. Tangannya menekan buku sedikit, wajahnya fokus tapi santai.

Dari ujung koridor, Dipta terlihat menunggu dengan langkah lambat, seperti sengaja menyesuaikan jarak. Matanya tertuju pada Aira, tapi ekspresinya tetap tenang, bibir menutup rapat, rahangnya rileks tapi waspada.

Saat Aira melangkah melewati ujung koridor, tasnya tersenggol sedikit di pinggir dinding. Dipta, yang berada beberapa langkah di depan, mencondongkan tubuh ke samping seolah tidak sengaja, cukup dekat agar Aira menoleh.

“Oh… maaf, Kak”, Aira berkata pelan, sedikit menunduk sambil menyesuaikan posisi tasnya.

“Tidak apa-apa”, jawab Dipta, nada rendah tapi ramah. Ia mencondongkan tubuh sedikit, menunjuk buku catatan yang terselip di tas Aira. “Kalau mau, aku bisa bantu cek bagian yang susah dipahami.”

Aira menatapnya, senyum tipis muncul di bibirnya. Ia menunduk sebentar, menatap buku di tangannya. “Oh… iya, terima kasih… Kak. Aku biasanya belajar sendiri, tapi ini membantu.”

Dipta mengangguk singkat, lalu berjalan seiring dengan Aira meski tetap memberi jarak, gesturnya ringan tapi sengaja terlihat alami. Ia menepuk tasnya pelan, memberi ruang agar Aira bisa menata buku di dalamnya tanpa merasa ditekan.

Di kantin, beberapa meja masih kosong. Aira memilih tempat duduk dekat jendela, membuka buku catatannya lagi. Cahaya sore menyorot rambutnya, membuat wajahnya terlihat lembut.

Dipta duduk di meja yang berdekatan, cukup dekat untuk membuat Aira menoleh, tapi tidak mengganggu ruang pribadinya. Tangannya menaruh buku di meja, jari-jari mengetuk pelan ritme ringan di tepi meja.

“Bagian selnya tadi kamu sudah catat semua?”, tanya Dipta, suara rendah tapi cukup terdengar.

Aira mengangguk, menatap buku, lalu menatap Dipta sebentar. Bibirnya mengerut tipis, wajahnya serius tapi nyaman. “Sudah… tapi ada beberapa diagram yang kurang jelas. Kalau Kakak sempat, bisa jelasin sedikit?”

Dipta mencondongkan tubuh, menunjuk diagram dengan jari telunjuknya, tapi tetap memberi jarak. Nada suaranya stabil, misterius tapi mudah didekati. “Lihat ini, ini inti dari sel, dan ini perbedaannya dengan jaringan lain. Kalau ini dipahami, sisanya lebih gampang.”

Aira menatapnya dengan seksama, sesekali mengangguk, wajahnya berseri. Tangannya menutup catatan sesaat, menyesuaikan posisi buku agar lebih mudah melihat. Gestur kecil itu membuat suasana lebih hangat, alami, tanpa terdengar dibuat-buat.

Di sisi lain kantin, Angger, Bayu, dan Raka duduk di meja terpisah, diam-diam menatap. Angger menepuk meja pelan, menahan tawa. “Lihat tuh… Dipta langsung ambil alih, tapi tetap halus. Aira nggak sadar kalau ini bagian dari strategi.”

Bayu tersenyum tipis, matanya mengikuti interaksi itu. “Iya… pendekatan halus, tapi efektif. Rasa penasaran Aira muncul alami.”

Raka terkekeh pelan. “Bisa bikin belajar jadi nyaman, tapi tetap ada yang bikin Dia… fokus ke satu orang,” ucapnya sambil menoleh ke arah Dipta.

Dipta mengamati Aira dari sudut matanya, tetap tenang, tapi pikirannya sudah menghitung setiap gerakan, senyum, dan gestur. Ia tahu, kehadirannya di dekat Aira lebih dari sekadar membantu belajar. Ada rasa ingin memastikan, ingin menjaga sekaligus sedikit ingin dipahami.

Aira menutup buku sebentar, menatap jendela di luar. Ia tersenyum tipis, menarik napas dalam, dan menghela sedikit bahu yang tegang. Sore itu terasa berbeda ada rasa tenang tapi penuh perhatian, alami tapi ada rasa nyaman yang belum ia mengerti sepenuhnya.

Dan bagi Dipta, setiap gerakan Aira adalah catatan tersendiri. Ia melangkah pelan ke arah pintu kantin saat Aira bersiap pulang, tetap misterius, tetap tenang. Hari itu, interaksi yang paling sederhana sekalipun meninggalkan kesan yang jelas dan tanpa disadari, taruhan yang teman-temannya buat mulai terasa nyata.

°

Sore mulai memudar, cahaya matahari berangsur masuk ke lorong-lorong sekolah. Suasana kelas XI IPA 2 terasa lebih tenang; sebagian siswa sudah pulang, sebagian lagi menata buku di tas mereka.

Aira duduk di bangku dekat jendela kantin, menata buku catatannya. Wajahnya terlihat rileks, pipi memerah sedikit karena tertawa ringan dengan hal-hal yang terjadi hari itu gestur Angger, tips praktis Bayu, humor Raka, dan perhatian tenang David. Semua terasa berbeda, tapi tetap alami.

Angger duduk di meja terpisah, menepuk meja pelan sambil tersenyum. “Aku suka cara aku mulai duluan. Santai, tapi dia terlihat nyaman. Ini strategi awal yang oke,” gumamnya.

Bayu, yang duduk agak jauh, mengangguk. “Aku fokus ke bantuan praktis. Dia terlihat senang, dan interaksi tetap natural. Bagus.”

Raka menepuk pundak sendiri sambil terkekeh ringan. “Aku bikin suasana lebih santai. Dia menanggapi humorku dengan senyum, tapi tetap sopan. Efeknya langsung terasa.”

David diam, menatap dari jauh, menilai setiap gerak kecil Aira. “Observasi diam-diam. Aku bisa catat detail kecil. Pelan-pelan kita lihat siapa strategi paling efektif. Tapi semuanya berjalan lancar.”

Dipta, yang sejak tadi mengamati dari pinggir kantin, menarik napas panjang. Rahangnya sedikit mengeras, mata tajam tetap memantau Aira, tapi gerakannya tetap terkendali. Setiap senyum, setiap gestur Aira, dan cara dia menanggapi kakak-kakak kelasnya, terutama interaksi yang lebih lama dengan David menjadi catatan penting di benaknya.

Tanpa sadar, Aira menoleh lagi ke arah lorong, tersenyum tipis. Tangannya menata buku di tas, mata sesekali menatap jendela. Ada rasa lega dan hangat di hatinya, yang berbeda dari pagi hari. Hari ini terasa ringan, tapi penuh hal-hal yang membuatnya tersenyum kecil sendiri.

Angger, Bayu, dan Raka saling bertukar pandang, senyum tipis di wajah masing-masing. Mereka diam-diam puas; pendekatan mereka berhasil membuat Aira nyaman, tapi tetap polos. Taruhan kecil yang mereka buat kini mulai terasa nyata tanpa membuat Aira menyadarinya.

Dari sisi lain kantin, Dipta menarik napas pelan. Ia berjalan pelan ke arah pintu keluar, tetap memperhatikan Aira sebentar sebelum meninggalkan ruangan. Tidak ada kata yang terucap, tidak ada gerakan berlebihan, tapi aura protektif dan perhatian halusnya terasa jelas, meski hanya di matanya sendiri.

Aira menatap ke arah Dipta yang berjalan menjauh, matanya sedikit menyipit, bibir mengerut tipis. Ada rasa ingin tahu yang samar tentang kakak kelas yang tampak misterius tapi mudah didekati. Ia menutup tas, menarik napas, lalu tersenyum pelan pada dirinya sendiri.

Hari itu berakhir dengan keseimbangan yang halus: empat kakak kelasnya berhasil menunjukkan sisi masing-masing, Aira tetap nyaman dan polos, dan Dipta mulai menyadari bahwa kehadiran orang lain di sekitar Aira membuatnya lebih fokus, lebih waspada, bahkan sedikit posesif.

Dan di dalam hati Dipta, ada satu hal yang jelas: semua ini baru permulaan.

°

Kamar Dipta gelap redup, hanya lampu meja belajar yang menyala lembut. Buku-buku tertata rapi di rak, tapi suasana tetap terasa hening, hampir mmenekan Dipta duduk di tepi ranjang, tangan menekuk di lutut, kepala sedikit menunduk. Mata menatap ke lantai, tapi pikirannya melayang jauh ke siang tadi. Setiap adegan di kantin, laboratorium, dan koridor diulang perlahan di benaknya gerakan Aira, cara dia tersenyum, cara menatap buku, bahkan cara menunduk saat menyesuaikan tas.

Rahangnya mengeras sedikit, napas pelan tapi teratur. “Dia… berbeda,” gumamnya. “Bukan hanya karena dia polos atau baru di sekolah… ada sesuatu yang bikin aku… tidak bisa lepas pandang.”

Tangannya mengetuk lutut pelan, ritme samar tapi konsisten. Ia mengingat bagaimana teman-temannya mendekati Aira dengan strategi masing-masing, tapi cara Aira menanggapi mereka membuatnya merasa ada wilayahnya sendiri yang terganggu.

Matanya menatap ke jendela gelap, bayangan lampu kota masuk perlahan. “Aku harus pastikan… semuanya tetap… di kendaliku,” pikir Dipta. Ada nada posesif yang samar, bukan agresif, tapi jelas menguat dari perasaan protektif yang sudah muncul sejak siang.

Ia menutup mata sebentar, menarik napas dalam. Bayangan Aira tersenyum, menatap buku, mencondongkan tubuh saat David menunjuk mikroskop semua adegan itu masih terekam jelas di kepala. Ada obsesi halus yang mulai terbentuk, keinginan untuk memastikan dia tetap dekat, tetap aman dan, tanpa disadari, tetap miliknya.

Dipta membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar. Tangan menepuk lutut beberapa kali, seolah menenangkan diri sendiri. “Hari ini baru permulaan besok, aku harus lebih fokus. Strategi mereka efektif… tapi aku juga punya cara sendiri,” gumamnya.

Lampu meja menyinari wajahnya, bayangan samar di dinding. Senyumnya tipis, bukan senyum biasa, tapi senyum seseorang yang sedang menghitung langkah berikutnya, memutar strategi, dan merasakan dorongan posesif yang belum pernah ia sadari sebelumnya.

Di dalam hati Dipta, satu hal jelas: ini bukan lagi soal taruhan teman-temannya. Ini tentang kontrol, perhatian, dan obsesi yang mulai tumbuh perlahan. Ia menunduk lagi, tangan mengepal ringan, dan menutup mata, membiarkan malam menelan pikirannya sambil memutar ulang setiap momen hari itu sebuah malam yang menandai awal tensi baru, jauh lebih pribadi, yang akan mewarnai di hari-hari berikutnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 122 Amarah Dipta

    Pagi di Jakarta tidak lagi terasa biasa. Di beberapa kanal berita bisnis, forum internal, dan media sosial profesional, narasi tentang Aira mulai berubah arah. Bukan karena rumor berhenti namun karena “dibantah dengan cara yang tepat”. Hadiyasa Mahesa tidak banyak bicara di publik. Namun timnya bergerak cepat di belakang layar. Sementara itu di Rajendra Engineering, Dipta Niskala Mahesa sudah menyiapkan satu pola, bukan klarifikasi emosional, hanya koreksi data. Internal memo & media counter. “Tidak ada hubungan struktural pribadi dalam proses kerja Aira di perusahaan.” “Seluruh akses dan jabatan diberikan berdasarkan evaluasi kinerja internal.” “Isu pribadi tidak memiliki relevansi terhadap operasional perusahaan.” Bahasanya memang di buat dingin namun sangat mengguncang dan efektif. Dipta juga memberi satu kalimat tambahan Di dalam meeting internal, dia hanya berkata, “Kita tidak membalas rumor dengan emosi, kita balas dengan fakta yang tidak bisa dipelintir.” Di

  • DIPTA   BAB 121 Belum Usai

    Gedung Rajendra Engineering hari itu terasa berbeda. Bukan karena aktivitas tapi karena satu nama yang mulai mengubah cara semua orang bekerja. Arjito Rajendra, setelah kehadirannya kemarin, tidak ada lagi yang menganggap ini kunjungan biasa. Pagi ini, berubah jadi sesuatu yang lebih serius. Ruang meeting internal, semua kepala divisi sudah dipanggil. Tidak ada agenda resmi sebelumnya dan tidak ada email panjang, hanya satu kalimat. “Audit internal langsung oleh pemegang saham mayoritas aktif.” Bisik-bisik mulai muncul. “Pemegang saham?” “Bukannya ini perusahaan Dipta yang jalan?” “Tunggu, Pak Arjito masih punya saham?” Arjito masuk Pintu terbuka. Langkahnya tenang, tidak membawa banyak orang. Hanya satu folder kecil di tangan, ia duduk tidak banyak basa-basi. “Kita mulai.” Suara datar tapi langsung membuat ruangan diam total. Di sisi kanan Arjito ada Dipta tidak bicara banyak, hanya membuka laptop dan menyiapkan data real-time. Aira duduk di sebelahnya, lebih t

  • DIPTA   BAB 120 Orang Lama Kembali Muncul

    Malam sudah benar-benar larut ketika mobil memasuki area rumah. Lampu pagar Arjito Rajendra sudah menyala dari tadi dan dia sudah berdiri di depan pintu rumah. Diam, tegak seperti memang menunggu sejak lama. Di dalam mobil, Aira baru membuka mata pelan. “Udah sampai?” Dipta mengangguk. “Iya.” Aira menghela napas kecil. “Aku ketiduran lagi.” Dipta melirik sekilas. “Kamu capek.” ucanya singkat tapi ada maknanya. Mobil berhenti, Aira turun duluan. Baru dia sadar, Arjito sudah berdiri di depan. Tatapannya tidak keras tapi juga tidak ringan. Aira langsung sedikit menunduk. “Ayah…” Arjito hanya mengangguk. “Masuk.” perintah Arjito singkat, tidak ada pertanyaan dulu. Dipta turun terakhir. Pandangan mereka bertemu, cukup lama tak ada yang memutus. Lalu, Arjito menoleh ke Dipta. “Kamu ikut masuk.” Nada datar dan jelas. Di dalam rumah, Aira sempat melangkah ke arah tangga. Arjito langsung berkata pelan, “Kamu mandi. Istirahat.” Aira berhenti. “Tapi Yah—” Arjito memoto

  • DIPTA   BAB 119 Semua Jejak yang Terbuka

    Malam itu di Jakarta, hujan turun pelan. Di dalam Rajendra Engineering, sebagian besar lantai sudah kosong. Tidak dengan satu ruangan kecil di sisi belakang gedung, di ruang IT Dipta berdiri diam di belakang layar monitor. Aira duduk di kursi depan, menatap data yang baru saja mereka kunci. “Dia sudah mulai panik.” IT mengangguk cepat. “Log aksesnya berubah pola sejak dua puluh menit lalu, Pak.” Dipta langsung menyipitkan mata. “Jelaskan.” “Dia coba login dari tiga device berbeda dalam waktu singkat…" ucap IT, ia berhenti sejenak. "dan satu di antaranya pakai VPN luar negeri.” Aira langsung menoleh. “Dia mau hapus jejak.” Dipta mengangguk pelan. “…atau dia disuruh hilang.” Sunyi sejenak, lalu IT menambahkan cepat. “…dan ada satu hal lagi.” Dipta menatapnya. “Apa?” “File yang dia akses terakhir… sedang dicoba dihapus dari server internal.” lanjut IT itu. Aira langsung berdiri. “Cepat blokir.” Dipta mengangkat tangan. “Sudah.” ucapnya tenang namun terdengar ding

  • DIPTA   BAB 118 Jejak dan Nama di Balik Akses

    Sore di Jakarta terasa lebih cepat gelap. Di dalam mobil yang melaju pelan, Andine tidak banyak bicara. Ayahnya, Dodi Prasetya, duduk di sebelahnya sambil melihat tablet. “Kita terlalu cepat buka kartu tadi.” Suara Dodi datar. Andine menoleh sedikit. “Tapi kalau tidak dibuka, mereka akan terus tekan kita.” Dodi diam sebentar. “Tekanan bukan masalah... yang jadi masalah adalah arah tekanan.” Andine menatap keluar jendela. “Mereka mulai lihat cash flow.” Dodi mengangguk kecil. “…dan itu berarti kita tidak bisa main di angka lagi.” Andine menghela napas. “Kalau begitu kita pakai cara lain.” Dodi meliriknya. “Hati-hati... Dipta bukan tipe yang bisa dipaksa lewat satu jalur.” Andine tersenyum tipis. “Aku tahu.” Tapi senyum itu tidak sampai mata. Beberapa jam kemudian, Andine sudah di ruangannya sendiri. Lampu redup, laptop terbuka. Beberapa file lama dibuka ulang, file internal Rajendra Engineering bagian operasional Aira dan bukan itu saja folder lain seperti data karyaw

  • DIPTA   BAB 117 Kursi di Meja yang Sama

    Pagi di Rajendra Engineering terasa berbeda. Bukan karena pekerjaan. Namun karena sistem internal baru saja berubah. Dipta berdiri di depan layar monitor IT. “Filter semua akses.” Nada suaranya datar dan tegas. “Semua file yang menyangkut Aira.” Tim IT saling pandang. “Pak, itu termasuk—” “Iya.” Dipta memotong. “…semua.” Aira berdiri di belakangnya, Aira sedikit terdiam. “Pak, itu terlalu—” Dipta menoleh. “Terlalu apa?” Aira ragu untuk mengatakan, tapi tetap ia ucapkan. “Terlalu ketat.” Dipta langsung menjawab. “Justru karena itu.” Ia menatap layar lagi. “…kamu sekarang bukan cuma target kantor, tapi target luar juga.” Di luar gedung, telepon, grup chat, media kecil, forum anonim mulai ramai. “Sekretaris CEO punya anak…” “Tapi nggak pernah ada suami terlihat…” “Anaknya siapa?” “Kok sering bareng CEO?” Meski begitu yang paling berbahaya bukan pemberitaannya, melainkan yang paling berbahaya foto. Aira sedang menggandeng anak kecil, Askara saat di taman atau men

  • DIPTA   BAB 84 Nama yang Diperbincangkan

    Sore itu di gedung Rajendra Engineering, cahaya matahari mulai miring masuk dari kaca-kaca besar kantor. Aktivitas sudah mulai melambat, tapi suasana justru belum benar-benar tenang. Di lantai direksi, Dipta masih duduk di ruangannya. Tangannya mengetuk pelan meja, sementara layar laptop di depanny

  • DIPTA   BAN 82 Sindiran dan Cerminan Diri

    Perjalanan pulang dari hotel menuju kantor Rajendra Engineering berlangsung seperti biasa—tenang, tapi heningnya terasa “berisi”. Dipta memilih menyetir sendiri sejak awal keberangkatan. Tidak ada supir, tidak ada pihak ketiga. Hanya dia dan Humaira Navya Aruna di kursi sebelah. Di dalam mobil, Ai

  • DIPTA   BAB 81 Pakaian dan Gosip

    Perjalanan dari Puncak menuju Jakarta akhirnya selesai saat mobil memasuki area rumah Aira. Di dalam mobil, Aira bahkan sudah tertidur sejak beberapa puluh menit terakhir. Kepalanya miring ke kaca, napasnya pelan, benar-benar kelelahan setelah rangkaian acara di penginapan Rajendra Engineering. Di

  • DIPTA   BAB 80 Hari Terakhir

    Sore itu di penginapan Rajendra Engineering, kondisi sudah jauh lebih tenang setelah rangkaian kegiatan. Aira akhirnya sudah bisa kembali ke kamarnya sendiri setelah sebelumnya beristirahat cukup lama di kamar Dipta. Langkahnya ringan, bahkan sedikit lega "Akhirnya balik kamar sendiri…” gumamnya pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status