MasukKania, tiga puluh tahun, memilih hidup dalam keheningan sejak patah yang tak ia bicarakan. Ia tak mencari cinta. Bahkan tubuhnya pun sudah lama lupa rasanya disentuh dengan sungguh-sungguh. Hingga Arsa pindah ke unit sebelah. Pria asing yang pulang larut, jarang bicara, tapi punya suara berat yang menggema di dinding tipis. Setiap malam, jarak mereka tak lebih dari satu tembok. Setiap pagi, tubuh Kania bangun dengan denyut yang tak bisa dijelaskan. Apa yang awalnya hanya suara—pelan-pelan menjadi obsesi. Dan obsesi itu, tanpa mereka sadari, saling tumbuh dari dua arah. Tapi kedekatan fisik tak pernah sesederhana yang terlihat. Ada luka yang belum selesai, ada batas yang mudah kabur saat malam terlalu lama, dan ada rahasia yang hanya muncul di antara ciuman dan bisikan paling sunyi.
Lihat lebih banyakKania, Lena, dan Gio berada di sebuah rumah sewa di Kepulauan Canary, Spanyol. Pulau yang cerah itu terasa seperti tempat yang aman, tetapi Kania tahu itu hanya masalah waktu. Setelah ia memutus kalung pelacak, Arsa akan datang.Lima hari setelah pelanggaran fatal itu, Gio mendapat sinyal. Bukan dari Vanya, melainkan dari Arsa."Dia tahu di mana kita berada?" tanya Kania, jantungnya berdebar."Dia tidak tahu pasti, tapi dia menyusul jejak Dimitri di Madrid, dan Dimitri menyusul Lena," kata Gio. "Arsa tahu kita tidak mungkin jauh. Dia akan tiba dalam 24 jam. Tapi bukan hanya dia."Gio menunjuk layar monitor. "Jejak Vanya dan Dimitri berkumpul. Mereka datang bersama. Mereka tahu Lena dan kau adalah satu-satunya cara untuk memancing Arsa."Kania meraih Lena, memeluknya erat-erat. "Kita harus pergi.""Terlambat," kata Gio. "Bandara sudah diawasi. Kita akan bertarung di sini. Ini adalah tempat terakhir di mana Arsa akan mengharapkan kita."Kania mengambil pistol dari ranselnya. Ia bukan la
Roma, Italia. Arsa duduk di balik meja marmer di penthouse sewaannya, menatap layar monitor yang kini hanya menampilkan titik hijau terakhir di Portugal, yang sudah pudar. Sinyal dari kalung pelacak Kania telah hilang.Titik itu tidak hanya hilang; titik itu diputus.Amukan Arsa tidak berbentuk teriakan atau penghancuran. Amukannya berupa ketenangan yang mematikan, sebuah badai yang membeku.Ia memejamkan mata, merasakan kosong di lehernya sendiri, tempat ia biasa meletakkan tangannya saat memeluk Kania. Kania telah memutuskan kontrak teritorial mereka.Arsa mengaktifkan saluran komunikasi aman. "Gio. Laporkan."Suara Gio terdengar tegang. “Sinyal terputus, Arsa. Vanya menyerang rumah aman. Mereka lari. Aku membawa mereka.”"Kau bohong," desis Arsa, suaranya sedalam ancaman. "Jika Vanya yang memutuskannya, sinyal itu akan mati di rumah itu. Tapi sinyal itu mati saat mereka berada di laut. Dia yang melepaskannya."Gio terdiam lama. “Dia melanggar, Arsa. Dia melanggar untuk menyelamatka
Laut Atlantik bergemuruh di sekitar kapal layar kecil itu, mencerminkan badai emosional di geladak. Kania berdiri, pistol Arsa yang diambilnya dari Dresden kini diacungkan ke Gio. Pistol itu goyah di tangannya, tetapi tekad di matanya keras."Aku tidak akan meninggalkan Lena," ulang Kania. Suaranya serak karena angin dan ketegangan. "Arsa membuat kontrak denganku. Aku adalah Bayangannya. Dan aku adalah penyelamat anak ini."Gio, seorang profesional yang dingin, menurunkan pistolnya, tetapi matanya tetap tajam dan penuh perhitungan. "Kau melanggar perintah paling fundamental Arsa. Kau memutus rantai. Kau tahu apa artinya itu?""Aku tahu. Artinya dia akan datang untuk menghukumku," jawab Kania. "Dan dia akan menghukumku karena aku memilih untuk tidak menjadi kelemahannya. Aku memilih untuk menjadi sekutunya yang benar."Gio menghela napas, memasukkan kembali pistolnya. "Kau tidak tahu seberapa buruk 'hukuman' yang bisa Arsa berikan saat ia merasa dikhianati. Terakhir kali, kau hanya men
Kania, Lena, dan Gio berada di atas kapal layar kecil yang bergerak cepat meninggalkan pesisir Portugal. Laut Atlantik terasa dingin dan luas, sebuah isolasi tak berujung yang seharusnya aman, tetapi terasa penuh ancaman.Lena tertidur di bawah dek, kelelahan. Kania duduk di geladak, di samping Gio yang mengendalikan layar. Angin laut yang dingin menerpa wajah Kania.Di leher Kania, kalung perak itu terasa semakin dingin. Itu adalah pengingat konstan akan kontrol posesif Arsa dari jarak jauh. Namun, kini kalung itu terasa seperti bom waktu."Gio," kata Kania, suaranya pelan. "Apakah Vanya bisa menggunakan sinyal pelacak ini untuk menemukan kita?"Gio tidak menoleh. Dia fokus pada kompas. "Jika dia cukup pintar, ya. Tapi pelacak itu hanya mengirimkan sinyal ke satelit Arsa. Vanya harus meretas jaringan Arsa.""Arsa melarangku melepasnya," bisik Kania. "Itu adalah hukuman dan klaimnya."Gio akhirnya menoleh, matanya tajam. "Arsa tidak tahu seberapa dekat Vanya dengan teknologinya. Arsa
Arsa tidak membawa Kania kembali ke apartemen mereka. Setelah memastikan mereka aman, ia memanggil taksi online ke sebuah rumah tua di pinggiran kota. Tempat itu sunyi, gelap, dan terasa seperti tempat persembunyian sempurna."Kau punya tempat rahasia," gumam Kania, melihat Arsa membuka kunci denga
Tembok bata yang kasar menekan punggung Kania. Tubuh Arsa menindihnya, melindunginya dari pandangan jalanan. Kania bisa merasakan detak jantungnya sendiri berdebar kencang di dada Arsa, diiringi napas Arsa yang berat di telinganya. Aroma maskulin yang liar menyelimutinya—perpaduan tembakau, hujan,
Kafe itu sunyi dan remang-remang, sesuai janji Arsa. Suara saxophone yang sendu membelai dinding. Kania tiba lima menit lebih awal, mengenakan dress yang seharusnya membuatnya merasa percaya diri, namun tangannya tetap dingin. Ia memesan Americano, mencoba menenangkan sarafnya.Pintu kafe terbuka.
Pagi menyusup ke kamar Kania. Bukan cahaya, tapi kenangan akan mata gelap Arsa yang membuatnya terjaga. Ia menatap langit-langit, kepalanya berat oleh sisa adegan semalam: desisan ancaman, bau besi, dan darah samar di bahu pria itu.Kania turun dari ranjang, merasakan lengannya merinding. Ia melang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan