Share

Bab 128

Penulis: Any Anthika
last update Tanggal publikasi: 2026-07-21 08:18:56

Sudut bibir Arsen terangkat. "Lo buat gue pangling, Emma."

"Apaan, sih?"

"Nggak kenapa-kenapa. Gue cuma lagi memastikan kalau yang berdiri di depan gue ini Emma yang biasanya suka pakai hoodie lusuh, bukan model yang nyasar dari Paris Fashion Week."

Emma spontan tertawa kecil.

"Lebay."

"Lebay?" Arsen mengangkat sebelah alis. "Gue bahkan lagi berusaha nahan diri biar nggak nyuruh tetangga-tetangga lo untuk berhenti lihat ke arah lo," bisik Arsen.

Emma mendengus pelan. "Mana ada orang yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 138

    Mendengar ultimatum Ibu Rosalinda, mata Raka membelalak lebar. "Tante, tolong dengarkan penjelasanku dulu." "Nggak ada lagi yang perlu dijelaskan. Tante sudah tahu semuanya." Napas Raka seperti tertahan di tenggorokan. Pernyataan itu bukan sekadar gertakan sambal. "Dengar! Emma putri kandung Tante, dan sekarang berada dalam perlindungan penuh keluarga besar kami." Raka tidak berani berkata apa-apa lagi. Kekuatan finansial dan jaringan internasional keluarga Kai sama kuatnya dengan jaringan bisnis keluarganya sendiri. Raka menatap Arsen tajam. Semua ini terjadi gara-gara Arsen. Demi memuaskan rasa cemburu dan dominasinya malam ini, Raka baru saja mengorbankan seluruh dinasti keluarganya sendiri. "Kai," panggil Rosalinda tanpa menoleh sedikit pun. "Ya, Ma," jawab Kai pelan, melangkah maju dan berdiri di sisi sang mama. Tangannya terulur pelan hendak memeluk Emma, adik yang telah dia rindukan selama bertahun-tahun. Namun, dia juga sadar dan mengerti kalau Emma butuh waktu un

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 137

    "Emma ..." Suara Ibu Rosalinda bergetar hebat. Tanpa peduli pada gaun mahalnya yang menyapu lantai yang kotor, Rosalinda berlutut dan langsung merengkuh tubuh Emma yang gemetar hebat dari pelukan Arsen ke dalam pelukannya. Kehangatan dekapan itu terasa begitu familier, sama seperti kehangatan yang Emma rasakan saat wanita itu memeluknya pertama kali. Dan juga saat mereka memasak bersama di dapur rumah besar itu. "Kamu sudah terlalu lama menanggung beban ini sendirian, Nak," bisik Rosalinda dengan tangis yang akhirnya pecah. Wanita itu mencium puncak kepala Emma berkali-kali, mengusap punggung gadis itu yang terguncang hebat. Emma yang matanya sudah sembap dan hampir kehilangan kesadaran berbisik parau. "Tante ... Ayah udah nggak ada ... Ayah ninggalin aku ... Aku benar-benar sendiri sekarang." "Sshh, kamu nggak sendirian, Sayang. Kami semua ada di sini untuk menemanimu," tangis Ibu Rosalinda pilu. Emma memperdalam pelukannya, ucapan Rosalinda sedikit menghibur hatinya yang

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 136

    "Arsen, aku—" bisik Emma menghindar. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotor lo itu, Arsen," potong Raka tajam. Dia melangkah maju, menepis tangan Arsen dari leher Emma lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana dengan gaya yang amat dominan. "Emma pasrah di bawah sentuhan gue di kamar mandi tadi. Dan tanda itu? Itu cuma bukti kecil kalau dia milik gue, bukan punya lo." "Bangsat lo, Raka!" Arsen mengepalkan tinjunya, hendak mendaratkan bogem mentah tepat ke wajah Raka. Brak! Pintu ganda ruang operasi mendadak terdorong buka dengan kasar. Dokter Setiawan melangkah keluar dengan pakaian operasi yang masih bersimpah bercak darah. Wajah sang dokter pucat pasi, matanya memancarkan rasa duka yang teramat berat, membuat perkelahian antara Arsen dan Raka seketika terhenti. Seluruh perhatian mereka teralih pada sang dokter. "Dokter ...?" Suara Emma bergetar hebat. Dia mencoba berdiri dengan lutut yang lemas. "Gimana keadaan Ayah saya, Dok? Operasinya lancar, kan? Ayah selamat, kan?"

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 135

    Sepuluh menit perjalanan yang terasa seperti neraka itu akhirnya usai. Mobil Raka berhenti berdecit tepat di depan pintu lorong gawat darurat rumah sakit. Tanpa membuang waktu, Raka menarik tangan Emma, menuntunnya berlari menelusuri koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik yang menusuk indra penciuman. Mereka tiba di depan lorong ICU. Lampu indikator ruang operasi masih menyala redup, dan beberapa suster tampak berlarian panik membawa kantung darah. “Nona Emma!” Suster Indah berlari menghampiri dengan papan jepit di tangannya dan kertas dokumen. “Baguslah Nona cepat sampai! Kondisi Pak Bagas kritis, pendarahan dalam terjadi lagi. Kami butuh persetujuan keluarga detik ini juga!” “Saya anaknya! Saya setuju, Suster! Lakukan apa saja, tolong selamatkan Ayah saya!” tangis Emma pecah, jemarinya yang gemetar menyambar pulpen dan membubuhkan tanda tangannya di atas lembar persetujuan. Dokter Setiawan keluar dari pintu steril ruang operasi, mengangguk cepat. “Tim bedah s

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 134

    Mendengar perkataan Ibu Renata, darah Arsen seketika mendidih. Dia melangkah maju, memotong jarak di antara dengan aura mengintimidasi yang begitu berwibawa. Hilang semua gaya tengil dan acuh tak acuhnya. “Jaga bicara Anda, Ibu Renata. Emma adalah prioritas saya malam ini. Dan jika proyek itu hancur karena saya melangkah keluar dari pintu ini, maka dipastikan keluarga Ibu yang akan menanggung kerugian pertamanya.” “Arsen, tolong ... Ayahku ...” bisik Emma bingung sambil meremas lengan baju Arsen dalam keputusasaan yang dalam. Arsen hendak menerobos orang-orang suruhan Ibu Renata itu secara paksa. Namun, Ibu Renata kembali bersuara pelan, hanya cukup didengar oleh mereka bertiga. “Dokter Setiawan di ICU adalah rekanan yayasan keluarga saya, Arsen. Satu telepon dari saya, dan operasi itu tidak akan pernah dimulai sebelum kamu duduk manis di meja perundingan atas.” Arsen mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Trik kotor ini benar-benar membuatnya harus

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 133

    Emma dan Arsen pun kembali duduk di meja VIP yang penuh kemewahan itu. Tak lama kemudian, di sudut ruangan lain, Raka keluar dari lorong toilet dengan langkah santai. Dia merapikan jas elegannya, membetulkan kancing kemeja hitamnya, lalu berjalan tenang kembali ke meja jamuan keluarganya seolah tidak terjadi apa-apa. Dari kejauhan, mata tajam Raka langsung mengunci sosok Emma yang kini duduk tegak di hadapan Arsen. Raka menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan ketika melihat Emma sibuk menarik rambut tebalnya ke depan untuk menutupi tanda kepemilikan yang baru saja dia ukir di leher gadis itu. "Gue cari lo tadi karena nggak mau makanan pesanan kita cepat dingin, nanti rasanya jadi nggak enak." Emma tersenyum lembut, hatinya semakin dipenuhi rasa bersalah. Arsen terus berusaha memperlakukan Emma dengan sangat manis dan penuh perhatian. Dia bahkan sudah memesankan hidangan penutup lain, mengajak Emma mengobrol dengan santai dan selalu mendahulukan kenyamanan Emma.. “Coba

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 69

    Emma langsung menggenggam bukunya lebih erat. “Ini tugas bebas.” “Iya.” Raka mengangguk kecil. “Makanya bebas juga buat dikritik, bukan?” Beberapa mahasiswa mulai saling pandang. Mereka seperti menyadari kalau ada sesuatu yang terjadi pada Emma dan Raka. Dosen yang mengajar, hanya berdiri diam,

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 63

    Kening Kai langsung berkerut. Biasanya file seperti itu hanya berisi catatan sensitif siswa. Entah masalah keluarga. Psikologis. Masalah kriminal. Atau sesuatu yang tidak boleh diketahui publik. Rasa penasaran Kai langsung memuncak. “Emma, lo sebenarnya siapa sih?” Tanpa berpikir pa

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 52

    Sinar matahari menyusup lemah melalui celah tirai kain tipis, seakan memaksa Emma untuk membuka mata. Gadis itumengerang pelan, tubuhnya terasa pegalAlarm ponselnya sudah berbunyi untuk ketiga kalinya. Mata Emma terasa berat, seperti ada pasir yang menumpuk di kelopak. Ia memaksa diri duduk, men

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 49

    “Saya tidak berniat mendekati siapa pun di luar tugas saya sebagai guru les, Tante. Yang tadi… hanya kesalahpahaman.»"Oh ya? Semoga benar hanya kesalahpahaman," ucap Renata sinis sambil membuat tanda kutip dua dengan jemarinya yang lentik dan terawat."Tante, saya menghargai keluarga ini karena te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status