Share

Bab 23

Author: Any Anthika
last update publish date: 2026-05-06 22:37:14

Ia menatap dirinya lebih lama. Ada jeda. Seakan ia menunggu seseorang di balik cermin itu menyangkal ucapannya. Namun. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya dirinya sendiri.

Emma menghela napas panjang, mengambil tasnya, lalu berbalik.“Pulang saja …” suaranya serak. “Besok … dipikirin lagi.”

Lorong kampus ramai seperti biasa. Suara tawa bersahutan. Obrolan ringan bertebaran dari berbagai sudut dan langkah kaki beradu cepat. Dunia tetap berjalan. Tidak ada yang peduli padanya.

Emma mengayunkan kak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 111

    "Terima kasih, Tante ...." Suara Emma lirih seperti berusaha menahan haru yang ada Rosalinda menggeleng dengan manik mata penuh kasih sayang. "Nggak boleh nangis loh." Emma buru-buru mengusap sudut matanya. "Iya." "Nanti topinya basah." Mereka berdua tertawa bersamaan, membuat beberapa asisten rumah tangga ikut terkekeh. "Aku bantuin bagian apa nih, Tante?" "Sebentar." Rosalinda berjalan pelan dan berdiri di belakang Emma. "Boleh Tante ikatin rambutmu?" Emma yang masih terharu karena perhatian Ibu Rosalinda, hanya bisa mengangguk tanpa bertanya lebih. "Boleh." Dengan sangat hati-hati, Rosalinda menyisir rambut Emma menggunakan jemarinya. Helai demi helai dirapikan. Diikat membentuk ekor kuda sederhana. Lalu topi koki putih itu dipasang perlahan. Sesekali beliau merapikan rambut yang masih keluar. "Nah." Rosalinda mundur selangkah. "Sekarang baru cocok." Emma melihat pantulan dirinya di kaca microwave. Dia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. "Lucu ...." Rosalinda

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 110

    Jarum jam baru menunjukkan pukul delapan pagi di hari Sabtu yang cerah itu. Namun, dapur rumah keluarga Kai sudah jauh dari kata sepi.Rosalinda berdiri di tengah kitchen island sambil mengenakan celemek berwarna krem. Rambutnya diikat rapi ke belakang. Di hadapannya, beberapa asisten rumah tangga hilir mudik membawa aneka bahan makanan yang baru selesai dicuci."Ayamnya sudah dimarinasi?""Sudah, Bu.""Kentangnya?""Sudah dikupas dan dipotong, Bu."Rosalinda mengangguk, tetapi beberapa detik kemudian kembali bertanya."Bumbu untuk semur sudah lengkap, kan? Pala, cengkeh, kayu manis?""Asisten tersenyum kecil. "Sudah lengkap, Bu."Rosalinda menghela napas lega.Hari ini ia memang sengaja ingin mengajak Emma memasak menu rumahan. Bukan makanan yang terlalu mewah, melainkan hidangan sederhana yang jika dimasak sepenuh hati rasanya tak kalah dengan restoran berbintang.Di atas meja telah tersusun rapi bahan-bahan untuk membuat semur daging sapi, ayam goreng lengkuas, sayur asem khas Sund

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 109

    Begitu keluar dari ruang kerja Raka, Emma menghapus sudut matanya yang berembun. “Aku harus pergi dari sini sebelum pertahananku jebol,” gumam pelan. Jarak dari mansion Raka ke halte bis sekitar sepuluh menit. Emma mempercepat langkah kakinya karena sudah hampir jam lima sore. Untunglah bis datang tepat waktu sehingga Emma masih bisa mengunjungi sang ayah di rumah sakit. Tak lama kemudian ponsel Emma bergetar, dari banner notifikasi, dia melihat siapa pengirim pesan tersebut. Kai: [Emma, besok sibuk nggak? Mama gue mau ajak lo masak bareng katanya.] Emma membaca ulang pesan itu beberapa kali. Ia menimbang sejenak karena besok dia harus tetap datang mengajar Lilis. Selain itu, dia juga harus minta ijin pada Raka, orang yang paling ingin dia hindari saat ini. Cukup sudah keberaniannya mengajak Raka ngomong tadi. Namun, menolak ajakan Mama Kai, rasanya sangat tidak sopan setelah wanita itu memperlakukannya dengan sangat baik waktu lalu. Setelah berpikir beberapa saat, akhirny

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 108

    Emma mengembuskan napas perlahan. Dia sebenarnya tidak ingin bertemu, tak ingin membuka percakapan yang mungkin berakhir canggung. Namun, wajah sedih Lilis tadi terus terbayang di kepalanya. Gadis remaja itu tidak pantas ikut terluka karena masalah orang dewasa. Akhirnya Emma berdiri. “Tolong aku, Tuhan,” doanya penuh harap. Dia melangkah menuju lantai lantai bawa. Koridor rumah keluarga Mahendra terasa sunyi. Lampu-lampu gantung memancarkan cahaya keemasan yang lembut. Semakin dekat ke ruang kerja Raka, langkah Emma justru semakin lambat. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Aneh. Padahal mereka sudah pernah melakukan hal yang jauh lebih intim daripada sekadar berbicara. Namun, sekarang ... Mengetuk pintu ruangan itu terasa jauh lebih sulit. Dengan jantung yang berdegup kencang, Emma mengulurkan tangan dan mengetuk daun pintu kokoh itu. Beberapa detik berlalu. Tidak ada jawaban dari dalam. Emma hampir menyerah dan hendak berbalik, Namun, akhirnya terdengar suara berat da

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 107

    Lilis memutar-mutar pensil di jemarinya sambil menatap soal aljabar yang memenuhi buku latihan."Kak Emma.""Hm?""Siapa sih yang pertama kali bikin huruf dicampur angka? Pengen aku protes."Emma menahan tawa. "Maksudmu variabel?""Iya. Kenapa nggak sekalian aja ditulis angkanya? Hidup ini udah ribet, masa matematika ikut-ikutan bikin misteri."Emma hanya bisa menggelengkan kepala saat mendengar protesan si Lilis."Kalau angkanya sudah diketahui, namanya bukan dicari lagi.""Aku curiga yang bikin aljabar itu lagi gabut," ungkap Lilis dengan keyakinan yang salah. Emma mengambil buku Lilis."Coba lihat. Misalnya ada dua pensil sama tiga pensil.""Mudah.""Nah, sekarang jumlah pensilnya belum diketahui. Makanya kita pakai x."Lilis mengangguk pelan."Oh ... jadi x itu cuma nama sementara?""Betul."Lilis terdiam beberapa detik, lalu mendadak berseru, "Kasihan juga ya."Emma mengernyit. "Siapa?""Si x. Dari dulu dicari-cari orang, ketemu juga nggak."Emma tak mampu menahan tawanya. Ia sa

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 106

    Tatapan Bima beralih dari Emma ke meja kantin, dan kembali ke Emma, lalu balik menatap nanar deretan hidangan yang tersaji di hadapannya. Nasi goreng sudah mulai dingin, aroma sate taichan yang menggugah selera, hingga minuman buat sahabat-sahabatnya yang belum tersentuh sama sekali. Semuanya mendadak kehilangan daya pikat. "Apa aku bagikan saja ke mahasiswa lain?" pikir Bima Tenggorokannya terasa tersumbat, menyisakan rasa kesat yang begitu pahit saat ia memaksa menelan sesuap makanan. Usaha kerasnya untuk merayakan kembali kebersamaan mereka justru berakhir menjadi panggung sandiwara yang sunyi. Sepasang matanya beralih, menyorot tajam pada pusat dari segala perubahan ganjil ini: Emma. Dada Bima bergemuruh oleh letupan amarah. Gadis itu baru saja menginjakkan kaki di Adiwangsa, tapi sudah berhasil memporak-porandakan tatanan yang mereka bangun selama ini. Keinginan untuk melenyapkan eksistensi Emma dari lingkaran mereka—kalau bisa, menendangnya keluar dari gerbang kampus in

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 38

    “Saya tidak mau puisi yang terlalu literal,” lanjut Pak Mahesa. “Sembunyikan maknanya. Biarkan orang menebak.”"Berarti ada sesi tanya jawabnya?" tanya Alicia sambil melirik genit ke arah Raka yang mulai mencoret sesuatu pada lembaran kosong di mejanya."Ada. Tapi pemilik puisi bebas menjawab tanp

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 37

    "Stop di depan saja, Pak," pinta Emma begitu mendekati lokasi sekitar rumah sakit tempat Ayahnya dirawat."Tapi saya disuruh Tuan Raka untuk mengantarkan Nona Emma sampai tujuan.""Nggak apa-apa, Pak. Rumah saya tidak jauh dari sini."Sopir itu terlihat bimbang sebentar, tapi akhirnya mengangguk so

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 36

    “Nona Emma, Tuan Raka menunggu di ruang kerja.”Emma yang baru selesai ngajar dan hendak minum sisa teh dicangkirnya langsung menoleh.“Hah?”“Kata Tuan Raka akan evaluasi sebentar.”Emma langsung melirik curiga ke arah pintu.“Kenapa kayak HRD manggil karyawan ya?""Mana Kak Raka?" tanya Lilis."D

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 35

    Emma baru saja melangkah masuk ketika suara heboh langsung menyambut dari lantai dua.“KAK EMMA DATANG?!”Suara langkah kaki berisik terdengar menuruni tangga.Lilis muncul dengan kaus oversized bergambar kartun dan rambut setengah berantakan, lalu berhenti tepat di depan Emma dengan mata berbinar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status