LOGINPintu kamar mandi terbuka dengan suara pelan. Kai keluar sambil menggosok rambutnya dengan handuk. Bahunya masih basah, kulitnya dingin oleh uap air. Dia berhenti seketika. Langkahnya terkunci di ambang pintu saat melihat Emma duduk di kursi mejanya. Gadis itu tampak pucat, kaku, dengan tatapan kosong yang belum pernah Kai lihat seumur hidupnya. Tatapan yang biasanya sarat akan binar ceria, kini mati. “Emma, lo .. ngapain di sini?” Kai mengerutkan kening, mencoba mencairkan keheningan yang janggal. “Tante nyuruh lo manggil gue ya?” Emma tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangan di atas lututnya, begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Kai menyapu ruang kamarnya dengan tatapan kebingungan, lalu pandangannya jatuh pada sudut meja. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Monitor komputernya menyala terang. Di sana, sebuah folder dengan enkripsi khusus dan simbol yang sangat ia kenali terpampang nyata. Wajah Kai langsung pias. Darahnya seolah surut ke kaki. “Emma …
"Terima kasih, Tante ...." Suara Emma lirih seperti berusaha menahan haru yang ada Rosalinda menggeleng dengan manik mata penuh kasih sayang. "Nggak boleh nangis loh." Emma buru-buru mengusap sudut matanya. "Iya." "Nanti topinya basah." Mereka berdua tertawa bersamaan, membuat beberapa asisten rumah tangga ikut terkekeh. "Aku bantuin bagian apa nih, Tante?" "Sebentar." Rosalinda berjalan pelan dan berdiri di belakang Emma. "Boleh Tante ikatin rambutmu?" Emma yang masih terharu karena perhatian Ibu Rosalinda, hanya bisa mengangguk tanpa bertanya lebih. "Boleh." Dengan sangat hati-hati, Rosalinda menyisir rambut Emma menggunakan jemarinya. Helai demi helai dirapikan. Diikat membentuk ekor kuda sederhana. Lalu topi koki putih itu dipasang perlahan. Sesekali beliau merapikan rambut yang masih keluar. "Nah." Rosalinda mundur selangkah. "Sekarang baru cocok." Emma melihat pantulan dirinya di kaca microwave. Dia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. "Lucu ...." Rosalinda
Jarum jam baru menunjukkan pukul delapan pagi di hari Sabtu yang cerah itu. Namun, dapur rumah keluarga Kai sudah jauh dari kata sepi.Rosalinda berdiri di tengah kitchen island sambil mengenakan celemek berwarna krem. Rambutnya diikat rapi ke belakang. Di hadapannya, beberapa asisten rumah tangga hilir mudik membawa aneka bahan makanan yang baru selesai dicuci."Ayamnya sudah dimarinasi?""Sudah, Bu.""Kentangnya?""Sudah dikupas dan dipotong, Bu."Rosalinda mengangguk, tetapi beberapa detik kemudian kembali bertanya."Bumbu untuk semur sudah lengkap, kan? Pala, cengkeh, kayu manis?""Asisten tersenyum kecil. "Sudah lengkap, Bu."Rosalinda menghela napas lega.Hari ini ia memang sengaja ingin mengajak Emma memasak menu rumahan. Bukan makanan yang terlalu mewah, melainkan hidangan sederhana yang jika dimasak sepenuh hati rasanya tak kalah dengan restoran berbintang.Di atas meja telah tersusun rapi bahan-bahan untuk membuat semur daging sapi, ayam goreng lengkuas, sayur asem khas Sund
Begitu keluar dari ruang kerja Raka, Emma menghapus sudut matanya yang berembun. “Aku harus pergi dari sini sebelum pertahananku jebol,” gumam pelan. Jarak dari mansion Raka ke halte bis sekitar sepuluh menit. Emma mempercepat langkah kakinya karena sudah hampir jam lima sore. Untunglah bis datang tepat waktu sehingga Emma masih bisa mengunjungi sang ayah di rumah sakit. Tak lama kemudian ponsel Emma bergetar, dari banner notifikasi, dia melihat siapa pengirim pesan tersebut. Kai: [Emma, besok sibuk nggak? Mama gue mau ajak lo masak bareng katanya.] Emma membaca ulang pesan itu beberapa kali. Ia menimbang sejenak karena besok dia harus tetap datang mengajar Lilis. Selain itu, dia juga harus minta ijin pada Raka, orang yang paling ingin dia hindari saat ini. Cukup sudah keberaniannya mengajak Raka ngomong tadi. Namun, menolak ajakan Mama Kai, rasanya sangat tidak sopan setelah wanita itu memperlakukannya dengan sangat baik waktu lalu. Setelah berpikir beberapa saat, akhirny
Emma mengembuskan napas perlahan. Dia sebenarnya tidak ingin bertemu, tak ingin membuka percakapan yang mungkin berakhir canggung. Namun, wajah sedih Lilis tadi terus terbayang di kepalanya. Gadis remaja itu tidak pantas ikut terluka karena masalah orang dewasa. Akhirnya Emma berdiri. “Tolong aku, Tuhan,” doanya penuh harap. Dia melangkah menuju lantai lantai bawa. Koridor rumah keluarga Mahendra terasa sunyi. Lampu-lampu gantung memancarkan cahaya keemasan yang lembut. Semakin dekat ke ruang kerja Raka, langkah Emma justru semakin lambat. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Aneh. Padahal mereka sudah pernah melakukan hal yang jauh lebih intim daripada sekadar berbicara. Namun, sekarang ... Mengetuk pintu ruangan itu terasa jauh lebih sulit. Dengan jantung yang berdegup kencang, Emma mengulurkan tangan dan mengetuk daun pintu kokoh itu. Beberapa detik berlalu. Tidak ada jawaban dari dalam. Emma hampir menyerah dan hendak berbalik, Namun, akhirnya terdengar suara berat da
Lilis memutar-mutar pensil di jemarinya sambil menatap soal aljabar yang memenuhi buku latihan."Kak Emma.""Hm?""Siapa sih yang pertama kali bikin huruf dicampur angka? Pengen aku protes."Emma menahan tawa. "Maksudmu variabel?""Iya. Kenapa nggak sekalian aja ditulis angkanya? Hidup ini udah ribet, masa matematika ikut-ikutan bikin misteri."Emma hanya bisa menggelengkan kepala saat mendengar protesan si Lilis."Kalau angkanya sudah diketahui, namanya bukan dicari lagi.""Aku curiga yang bikin aljabar itu lagi gabut," ungkap Lilis dengan keyakinan yang salah. Emma mengambil buku Lilis."Coba lihat. Misalnya ada dua pensil sama tiga pensil.""Mudah.""Nah, sekarang jumlah pensilnya belum diketahui. Makanya kita pakai x."Lilis mengangguk pelan."Oh ... jadi x itu cuma nama sementara?""Betul."Lilis terdiam beberapa detik, lalu mendadak berseru, "Kasihan juga ya."Emma mengernyit. "Siapa?""Si x. Dari dulu dicari-cari orang, ketemu juga nggak."Emma tak mampu menahan tawanya. Ia sa
"Masih ada dari antara kalian yang ingin mengutarakan sesuatu?" tanya Bu Rina."Saya, Bu," ujar Naomi rupanya panas karena Emma dipuji habis-habisan di depan seisi kelas. Ditambah lagi saat melihat Arsen yang nempel seperti cicak di samping Emma."Naomi, tumben kamu ikut berpartisipasi?" tanya Bu R
"Baik, Emma. Silakan," ucap Bu Rina. Dia belum terlalu mengenal Emma karena statusnya sebagai mahasiswa baru. Namun, gosip telah beredar kalau gadis itu cerdas dan memiliki daya pikir yang luar biasa.Emma menatap lurus ke depan. Rasa ngantuknya hilang seketika.“Kalau menurut saya, Offred justru c
Sinar matahari menyusup lemah melalui celah tirai kain tipis, seakan memaksa Emma untuk membuka mata. Gadis itumengerang pelan, tubuhnya terasa pegalAlarm ponselnya sudah berbunyi untuk ketiga kalinya. Mata Emma terasa berat, seperti ada pasir yang menumpuk di kelopak. Ia memaksa diri duduk, men
“Saya tidak berniat mendekati siapa pun di luar tugas saya sebagai guru les, Tante. Yang tadi… hanya kesalahpahaman.»"Oh ya? Semoga benar hanya kesalahpahaman," ucap Renata sinis sambil membuat tanda kutip dua dengan jemarinya yang lentik dan terawat."Tante, saya menghargai keluarga ini karena te







