MasukKanya di paksa pindah ke sekolah asrama oleh ayahnya, namun hanya satu ruangan yang tersisa. Ruangan yang di tempati Nata, yang katanya gay itu. Mau tidak mau akhirnya Kanya pindah, namun siapa sangka. Katanya yang menyebar tidak sesuai dengan Nyatanya. Nata tidak, gay. Malah dia terobsesi pada lehernya, sering menciumnya dengan paksa. Fakta dari katanya yang lain pun muncul. Qianolah yang sebenarnya pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Namun takdir mengambil perannya. Qiano harus menikahi gadis kekanak - kanakan yang di tidurinya karena kecelakaan. Kisah dari Fajar dan Adisty pun menjadi pelengkap. Katanya dan nyatanya kembali muncul pada kisah dari cicit, cucu mereka yang menjadi pemanis.
Lihat lebih banyakKami semua duduk di meja makan yang tidak besar ini selepas aku pulang sholat magrib dari mushola dekat rumah. Aku sempatkan berdoa dengan khusyuk agar keinginanku ini direstui bapak ibu. Semoga melalui restu mereka nantinya bisa membawa keberhasilan untukku.
Aku harus memberanikan diri mengutarakan apa yang menjadi niat baikku ini. Bahkan aku siap membujuk mereka demi mendapat restu. Sekali lagi, aku melakukan ini demi keluarga.
"Pak, bu. Aku mau bicara."
Semua yang masih melahap menu makan malam pun berhenti lalu menatapku.
"Apa Jak?" Tanya bapak.
"Pak, bu, restui keinginanku. Aku mau berangkat jadi TKI."
Raut wajah bapak dan ibu langsung berubah terkejut. Pun dengan kedua adik angkatku. Reaksi seperti ini sudah kuduga sebelumnya.
"Nak, apa maksudnya?" Tanya ibu.
"Ibu tau Pak Man adiknya Pak Yit kan?"
Ibu mengangguk.
"Aku ingin sukses seperti Pak Man bu. Aku mau jadi TKI demi merubah nasib keluarga kita."
Aku menatap bapak dalam. "Juga untuk mengobati kaki bapak."
Setelahnya bapak tertunduk lalu mengusap air mata.
"Jak, bapak minta maaf karena sekarang menjadi beban di keluarga kita."
Aku bangkit dari duduk lalu bersimpuh di kaki bapak.
"Aku yang banyak merepotkan bapak dan ibu. Kasih sayang kalian nggak bisa aku bayar dengan apapun. Jadi, tolong ijinin aku merubah nasib jadi TKI demi keluarga kita. Juga demi membalas budi baik ibu bapak."
Aku menatap bapak dan ibu dengan mata berkaca kaca. Mereka sulit mengambil keputusan tapi keluarga ini butuh uang untuk merubah keadaan. Dan saat ini hanya menjadi TKI yang bisa kulakukan.
"Kalau bapak ibu mengijinkan, aku akan bilang ke Pak Man setelah ujian nasional selesai."
Bapak mengangguk haru. "Bapak merestui nak."
"Ibu juga Jak. Tapi jaga diri disana. Kasih kabar ke rumah sesering mungkin."
Aku tidak bisa menyembunyikan raut bahagia ini. Restu mereka adalah segalanya bagi perjalanan hidupku.
Tanpa campur tangan bapak ibu mungkin aku sudah mati mengenaskan sedari bayi. Mereka adalah segalanya dan yang utama dalam kehidupanku.
🌻🌻🌻🌻🌻
Setelah ujian nasional selesai, aku mengunjungi Pak Man dirumahnya untuk menanyakan segala persyaratan menjadi TKI.
Syaratnya tidak rumit hanya saja membutuhkan banyak uang untuk mengurus dokumen resmi dari PJTKI. Seperti visa, paspor, biaya administrasi, dan lain sebagainya.
Syukurlah, Pak Man sangat tahu permasalahan ekonomi keluargaku lalu memberi uang satu juta secara cuma cuma untuk tambahan biaya. Betapa baiknya beliau.
Sisanya aku berhutang pada Pak Bimo, juragan kambing tempatku bekerja. Bayaran merumput untuk semua kambingnya selama enam bulan sebagai gantinya.
Selama menunggu waktu pemanggilan keberangkatan, aku menyempatkan diri belajar komunikasi sehari-hari dalam bahasa Inggris dan Jepang. Kata-kata yang umum diucapkan agar aku tidak mengalami culture lag saat tiba di sana.
Yaah, negara tujuanku merantau adalah Jepang. Negara paling maju di Asia.
Kurs mata uangnya pasti bernilai tinggi jika dirupiahkan.
Setelah penantian selama enam bulan, akhirnya aku mendapat visa, paspor, dan dokumen penting lainnya dari jasa penyalur tenaga kerja legal. Betapa bahagianl dan leganya hatiku.
Namun ada kesedihan mendalam dari raut wajah kedua orang tua angkat melepas kepergianku. Mereka banyak memberi pesan dan petuah agar aku tidak berulah di sana.
"Rajin sholat. Jangan sampai ditinggalkan. Ingat sama Allah agar derajatmu dinaikkan menjadi hamba yang mulia."
"Bapak, ibu, dan adik-adikmu mendoakan dari rumah."
"Jangan lupa telfon, kasih kabar."
Dan kini aku telah sampai di sebuah kota yang tidak terlalu ramai di Jepang, kota Miyako yang berada di prefektur Miyazaki. Aku dan kelompok TKI dijemput pihak jasa penyalur tenaga kerja yang ada disana lalu menaiki kereta cepat, Shinkansen.
Jika orang Indonesia terbiasa naik sepeda motor, maka di Jepang biasa menaiki kereta atau bus.
Aku ditempatkan untuk bekerja di gudang pabrik makanan dengan gaji 15 juta per bulan. Membayangkan nominalnya saja sudah membuatku bersemangat.
Di sebuah asrama kecil bertingkat, aku tinggal dengan para TKI yang lain. Disinilah aku mulai memiliki teman sesama orang Indonesia dengan beragam budaya daerah.
Dua bulan pertama, rute hidupku hanya asrama - pasar - pabrik. Ditambah sekarang menjelang musim dingin. Suhu di Miyazaki maksimal hanya 15 derajat.
Gaji pertama bulan lalu sudah kukirim untuk pengobatan kaki bapak. Aku punya cita-cita mulia demi kesembuhannya.
"Uang yang kamu kirim kemarin sudah bapak pake berobat."
"Gimana kata dokter pak?"
"Secepatnya disuruh operasi."
Aku mengangguk. "Insya Allah secepatnya ya pak. Sabar dulu."
"Iya Jak. Terima kasih."
"Ini nggak seberapa sama pengorbanan bapak ibu untukku."
Begitu sambungan Skype terputus aku berbaring di futon. Kasur tipis lantai yang biasa dipakai orang-orang Jepang tidur.
Membayangkan kesembuhan bapak dan kebahagiaan keluarga angkatku adalah prioritas yang utama.
"Uang dari mana lagi untuk biaya pengobatan bapak?"
Revan duduk dengan tenang, justru perasaannya kini senang. Sedangkan Bella menunduk dalam, dia terlihat malu."Kan! Mereka udah dewasa, ketakutan aku terjadikan!" Dewi menatap Dewa dengan emosi dan berkaca - kaca."Iyah, kalau tahu gini aku dari awal engga kasih izin.." Dewa meraih bahu Dewi, mengusapnya agar tenang."Kalau hamil gimana? Rieta pasti kecewa!" Dewi menyeka air matanya, perasaan Rieta pasti hancur kalau sampai itu terjadi.Revan terhenyak, rasa senangnya lenyap. Benar juga, Rieta kalau tahu pasti kecewa dan akan merasa bersalah. Revan harusnya menjaga Bella."Kalian keluarnya di dalam atau luar?" Dewi menatap Revan dengan masih marah.Bella semakin tidak berani mengangkat kepalanya.Revan menjilat bibirnya yang tiba - tiba kering, jakunnya mulai bergerak saat menelan ludah."Da-dalem ma.." Revan menunduk,
Bella tersenyum dengan tersipu, tangannya yang dingin kini di genggam erat oleh Revan. Rasanya Bella kembali pada masa ABG labil, berdebar dan malu - malu."Di sini kalo pagi emang gini, dingin.." Revan menatap Bella dengan senyum tipis.Revan masih tidak percaya kalau Bella ada di rumahnya, bahkan saat membuka mata Bella ada di sampingnya.Revan ingin menyinggung pernikahan tapi rasanya Revan ragu, dia tidak mau melukai Bella yang belum sembuh dari gagal nikahnya dengan Fadil."Iyah, parah dinginnya.." Bella mengamati sekitarnya, padahal matahari sudah menyapa cukup tinggi.Revan mengubah posisi, di peluknya Bella dari belakang."Biar anget.." katanya di atas kepala Bella, Revan menyandarkan kepalanya di kepala Bella.Bella menggigit bibirnya, menahan senyum yang takutnya terlalu lebar."Bell.." panggil Revan lembut.
Revan membantu Dewi untuk duduk, kini mereka sudah kembali ke rumah. Satu bulan lebih berlalu, operasi kecil pun dengan lancar Dewi laksanakan.Revan dan Bella pun mulai terlihat seperti semula, tanpa canggung atau berusaha menghindar. Hubungannya bisa di bilang membaik namun tidak sedekat dulu, Bella pun tidak seagresif dulu.Bella di sibukan dengan bisnis barunya yang baru buka, Bella membuka toko kecil namun berisi bunga dan peralatan lain untuk kado."Bella kok jadi jarang jenguk bunda?" tanya Dewi setelah meraih gelas air yang di berikan Revan.Dewa melirik sang istri."Mungkin sibuk, ayah denger Bella buka bisnis ya?" tanya Dewa.Revan mengangguk."Baru buka minggu kemarin.." jawab Revan."Kamu kenapa ga bantu Bella?" tanya Dewi dengan penasaran."Katanya Bella ga mau di ganggu dulu." balas Revan lesu, seminggu lebih tidak bertemu
Revan menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang rumah Bella, sepertinya untuk bertemu Rieta tak bisa sekarang."Bunda di dalem?" tanya Revan setelah membantu Bella membuka sabuk pengaman.Bella menggeleng."Lagi di rumah tante, acara syukuran anaknya.." balasnya dengan suara parau dan mata sembab.Revan mengangguk samar, syukurlah. Jika pun ada Revan tak bisa bertemu sekarang. Revan harus bergiliran menjaga sang bunda dengan ayahnya yang harus lembur."Kapan pulang?" tanya Bella."Nunggu mama sembuh.." balas Revan dengan memperhatikan Bella yang ternyata gemukan.Revan merasa lega, itu artinya Fadil menjaga Bella dengan baik."Mau jenguk, tapi nunggu matanya sembuh.." jelas Bella dengan bibir di tekuk. Moodnya masih belum baik."Hm, gih masuk. Istirahat.."Bella mengangguk."Makasih untuk
Syasya menoleh saat mendengar pintu kamar di buka, senyum pun mengembang saat tahu kalau Qiano yang datang."Ngapain?" Qiano bertanya tanpa menatap lawan bicara, dia sibuk merapihkan barang bawaannya."Semenjak di kurung Qiano,
Nata meraih kaca mata hitam dan topi hitam di atas kopernya lalu memakainya. Di liriknya Kanya yang tengah mengikat rambutnya. Begitu cantik."Ga usah di iket! Mau aku serang saat di sana nanti?"alis Nata bertaut serius.Kanya
Nata tersentak kaget di tidurnya hingga membuatnya terjaga. Mimpinya tentang Kanya membuat Nata gila.Nata dalam mimpi menatap bibir merah alami milik Kanya di tambah kulit mulusnya yang bersinar dalam mimpinya membuatnya semakin gila.
Kanya merapihkan pakaian ke dalam koper kecil. Memasukkan semua yang di perlukan ke dalam tas gandongnya."Kayaknya udah siap! Ah dompet! Hampir aja, nyawa utama padahal." monolog Kanya seraya meraih dompet di meja belajar."Oke udah beres
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan