Share

Bab 4

Penulis: Any Anthika
last update Tanggal publikasi: 2026-04-23 18:27:20

Malam ini, Emma tidak bisa tidur. Pikirannya tidak bisa tenang sedikit pun.

Ayahnya sudah berkali-kali berkata padanya. Tidak masalah dia tidak bisa masuk universitas itu. Jalan masih panjang. Emma masih bisa mengejar mimpi yang lain.

Emma juga merasa lega karena ayahnya tidak kecewa.

Tapi bukan itu, dia memikirkan perkataan pria tadi.

Mengapa pria itu justru malah marah dan menyalahkannya?

Emma bolak-balik di atas kasur.

Menjelang pagi, Emma segera bersiap untuk menyusul ayahnya ke pasar.

Saat dia tiba di jembatan yang biasa ia lalui, di tengah jembatan, dia melihat ada mobil berhenti.

Lalu pintu belakang terbuka. Seorang pria didorong keluar dengan sengaja. Pria itu jatuh tersungkur.

Pria itu? Mahasiswa yang kemarin?

Emma terkejut.

Saat mobil itu melintas di sampingnya, matanya melebar.

The Crown?

Emma kembali pada pria yang tersungkur di tanah. Kondisinya terlihat kacau.

Bagian rambutnya terlihat botak-botak. Bajunya robek. Wajahnya bengkak.

Emma membeku. Pikirannya teringat ucapan pria itu di depan gerbang.

Jadi, mereka benar-benar membalas pria itu?

Dia melihat pria itu berdiri. Dengan langkah goyah, dia berjalan ke pinggir jembatan. Tangannya berpegangan di pembatas. Lalu, dia memanjat.

Jantung Emma hampir melompat dari tempatnya. Dia panik setengah mati dan berlari kencang.

“JANGAN!”

Emma berhasil menangkap kaki pria itu. Dengan seluruh tenaganya dia berusaha menariknya ke bawah.

BUG!

Keduanya jatuh terduduk.

Napas Emma terengah-engah. Dia seperti baru saja mengangkat batu besar yang menimpa hatinya.

“Kamu bener-bener udah gila, ya?” Emma berteriak pada pria itu.

Pria itu tidak menjawab. Dia hanya menunduk dan menangis tersedu-sedu.

Lalu perlahan mengangkat wajahnya dan tertawa pahit.

“Ini semua gara-gara kamu.”

Tidak perlu dijelaskan, Emma sudah mengerti.

“Oke. Aku minta maaf. Tapi bunuh diri itu benar-benar tindakan yang bodoh!”

“Mereka nggak akan berhenti. Aku nggak tahan lagi.”

Emma membeku. Melihat kondisi pria ini, jelas, dia telah melewati jalan yang berat hari ini. Dan itu, pasti ulah mereka.

Emma mengepalkan tangan. Dia tidak bisa menahan diri.

“Ini salahku. Aku akan bertanggung jawab.”

Setelah berhasil membujuk pria itu pergi, dia mengantar pria itu ke rumah sakit terdekat.

Beberapa saat kemudian.

Emma kembali berdiri di dalam gedung administrasi. Dia langsung menuju ruangan yang sama. Tanpa ragu dia mengetuk pintu.

“Masuk.”

Pria yang sama menatapnya dengan kaget.

Kemarin, staf administrasi ini juga melihat kejadian di depan gerbang. Dia bingung kenapa gadis ini masih berani datang kesini.

“Kamu lagi?”

Emma tidak basa-basi. “Saya mau bicara, Pak. Ini menyangkut nyawa salah satu mahasiswa kampus ini.”

Emma menceritakan kejadian di jembatan tadi.

Staf administrasi menegang. Beberapa menit kemudian, dosen pembimbing dipanggil.

Staf terdengar berbisik pelan dengannya.

Ruangan hening beberapa saat. Staf administrasi dan dosen pembimbing saling melempar pandangan. Lalu Dosen pembimbing itu mengangguk pelan.

“Kami akan menangani ini dengan baik,” katanya.

“Pak, tapi itu sudah kelewatan. Tolong ditindaklanjuti. Kalau tidak, saya akan melapor ke pihak yang berwajib.”

Dua orang di depannya kembali saling tatap. Dosen pembimbing buru-buru mengangguk.

“Iya,” jawabnya singkat. “Kami paham. Kami akan menangani ini dengan serius. Jangan khawatir.”

“Sekarang kamu pulang saja. Percayakan semua pada kami,” lanjutnya.

Emma terdiam beberapa detik. Akhirnya dia mengangguk pelan.

“Baik, Pak. Terima kasih," ujar Emma lalu melangkah pergi.

Di ruangan lain.

Empat pria itu duduk santai.

Tidak ada rasa bersalah di mata mereka. Juga tidak ada kekhawatiran.

Dosen pembimbing yang duduk di depan mereka menelan ludah.

Dia tahu betul siapa mereka.

Anak-anak pemegang saham. Dan, ketua Rektor adalah paman Raka.

“Sialan banget tuh cewek!” umpat Bima.

“Kalau dia sampai lapor polisi? Ribet.”

“Mau ditaruh mana muka kita. Kemarin dia nampar Raka, sekarang malah pake acara ngancem.”

“Makanya. Jangan sampai,” kata Arsen.

Sunyi.

Raka menatap dosen pembimbing. Lalu berkata singkat, “Urus itu." Nada suaranya datar.

Setelah beberapa detik berpikir, dosen pembimbing mengangguk.

“Baik, kami akan tangani,” ucapnya. Dosen buru-buru keluar dari ruangan itu.

Hari itu juga. Rapat dilakukan.

Dosen pembimbing dan pihak rektorat. Ketua Rektor datang memimpin rapat.

Nama baik universitas ini harus dijaga. Apalagi nama baik Tuan Muda Raka.

Keputusan diambil dengan hati-hati, dan

masalah ditutup.

Pagi berikutnya.

Emma kembali dipanggil. Dia kembali duduk di ruangan yang sama.

Tapi perasaannya tidak enak. Pasti ini ada hubungannya dengan masalah kemarin.

Pria di depannya membuka berkas.

Lalu menatapnya. “Kami mendapatkan pesan ulang dari pusat.”

Emma menahan napas.

“Pusat menyampaikan, setelah melakukan peninjauan ulang, kamu diterima di Universitas ini.”

Sunyi.

Emma membeku.

“Beasiswamu dikembalikan.”

Emma tidak langsung percaya. “Serius ini, Pak?”

Pria itu mengangguk. “Rektor menilai kamu layak.”

Emma menunduk. Matanya mulai panas. Dan pikirannya tiba-tiba kosong. Tapi hatinya benar-benar sangat senang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 137

    "Emma ..." Suara Ibu Rosalinda bergetar hebat. Tanpa peduli pada gaun mahalnya yang menyapu lantai yang kotor, Rosalinda berlutut dan langsung merengkuh tubuh Emma yang gemetar hebat dari pelukan Arsen ke dalam pelukannya. Kehangatan dekapan itu terasa begitu familier, sama seperti kehangatan yang Emma rasakan saat wanita itu memeluknya pertama kali. Dan juga saat mereka memasak bersama di dapur rumah besar itu. "Kamu sudah terlalu lama menanggung beban ini sendirian, Nak," bisik Rosalinda dengan tangis yang akhirnya pecah. Wanita itu mencium puncak kepala Emma berkali-kali, mengusap punggung gadis itu yang terguncang hebat. Emma yang matanya sudah sembap dan hampir kehilangan kesadaran berbisik parau. "Tante ... Ayah udah nggak ada ... Ayah ninggalin aku ... Aku benar-benar sendiri sekarang." "Sshh, kamu nggak sendirian, Sayang. Kami semua ada di sini untuk menemanimu," tangis Ibu Rosalinda pilu. Emma memperdalam pelukannya, ucapan Rosalinda sedikit menghibur hatinya yang

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 136

    "Arsen, aku—" bisik Emma menghindar. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotor lo itu, Arsen," potong Raka tajam. Dia melangkah maju, menepis tangan Arsen dari leher Emma lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana dengan gaya yang amat dominan. "Emma pasrah di bawah sentuhan gue di kamar mandi tadi. Dan tanda itu? Itu cuma bukti kecil kalau dia milik gue, bukan punya lo." "Bangsat lo, Raka!" Arsen mengepalkan tinjunya, hendak mendaratkan bogem mentah tepat ke wajah Raka. Brak! Pintu ganda ruang operasi mendadak terdorong buka dengan kasar. Dokter Setiawan melangkah keluar dengan pakaian operasi yang masih bersimpah bercak darah. Wajah sang dokter pucat pasi, matanya memancarkan rasa duka yang teramat berat, membuat perkelahian antara Arsen dan Raka seketika terhenti. Seluruh perhatian mereka teralih pada sang dokter. "Dokter ...?" Suara Emma bergetar hebat. Dia mencoba berdiri dengan lutut yang lemas. "Gimana keadaan Ayah saya, Dok? Operasinya lancar, kan? Ayah selamat, kan?"

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 135

    Sepuluh menit perjalanan yang terasa seperti neraka itu akhirnya usai. Mobil Raka berhenti berdecit tepat di depan pintu lorong gawat darurat rumah sakit. Tanpa membuang waktu, Raka menarik tangan Emma, menuntunnya berlari menelusuri koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik yang menusuk indra penciuman. Mereka tiba di depan lorong ICU. Lampu indikator ruang operasi masih menyala redup, dan beberapa suster tampak berlarian panik membawa kantung darah. “Nona Emma!” Suster Indah berlari menghampiri dengan papan jepit di tangannya dan kertas dokumen. “Baguslah Nona cepat sampai! Kondisi Pak Bagas kritis, pendarahan dalam terjadi lagi. Kami butuh persetujuan keluarga detik ini juga!” “Saya anaknya! Saya setuju, Suster! Lakukan apa saja, tolong selamatkan Ayah saya!” tangis Emma pecah, jemarinya yang gemetar menyambar pulpen dan membubuhkan tanda tangannya di atas lembar persetujuan. Dokter Setiawan keluar dari pintu steril ruang operasi, mengangguk cepat. “Tim bedah s

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 134

    Mendengar perkataan Ibu Renata, darah Arsen seketika mendidih. Dia melangkah maju, memotong jarak di antara dengan aura mengintimidasi yang begitu berwibawa. Hilang semua gaya tengil dan acuh tak acuhnya. “Jaga bicara Anda, Ibu Renata. Emma adalah prioritas saya malam ini. Dan jika proyek itu hancur karena saya melangkah keluar dari pintu ini, maka dipastikan keluarga Ibu yang akan menanggung kerugian pertamanya.” “Arsen, tolong ... Ayahku ...” bisik Emma bingung sambil meremas lengan baju Arsen dalam keputusasaan yang dalam. Arsen hendak menerobos orang-orang suruhan Ibu Renata itu secara paksa. Namun, Ibu Renata kembali bersuara pelan, hanya cukup didengar oleh mereka bertiga. “Dokter Setiawan di ICU adalah rekanan yayasan keluarga saya, Arsen. Satu telepon dari saya, dan operasi itu tidak akan pernah dimulai sebelum kamu duduk manis di meja perundingan atas.” Arsen mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Trik kotor ini benar-benar membuatnya harus

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 133

    Emma dan Arsen pun kembali duduk di meja VIP yang penuh kemewahan itu. Tak lama kemudian, di sudut ruangan lain, Raka keluar dari lorong toilet dengan langkah santai. Dia merapikan jas elegannya, membetulkan kancing kemeja hitamnya, lalu berjalan tenang kembali ke meja jamuan keluarganya seolah tidak terjadi apa-apa. Dari kejauhan, mata tajam Raka langsung mengunci sosok Emma yang kini duduk tegak di hadapan Arsen. Raka menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan ketika melihat Emma sibuk menarik rambut tebalnya ke depan untuk menutupi tanda kepemilikan yang baru saja dia ukir di leher gadis itu. "Gue cari lo tadi karena nggak mau makanan pesanan kita cepat dingin, nanti rasanya jadi nggak enak." Emma tersenyum lembut, hatinya semakin dipenuhi rasa bersalah. Arsen terus berusaha memperlakukan Emma dengan sangat manis dan penuh perhatian. Dia bahkan sudah memesankan hidangan penutup lain, mengajak Emma mengobrol dengan santai dan selalu mendahulukan kenyamanan Emma.. “Coba

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 132

    Emma menahan napasnya yang masih tersengal-sengal, sedangkan detak jantungnya bergemuruh hebat. Dalam kepanikan yang menghimpit, jemari Emma yang gemetar mencengkeram erat kemeja Raka, menatap pria itu dengan pandangan memohon yang teramat sangat. Air matanya yang menggenang, berkilat di bawah temaram cahaya dalam ruangan itu karena rasa bersalahnya pada Arsen. “Raka ... aku mohon, lepasin aku,” bisik Emma dengan suara tercekat, hampir seperti rintihan yang mengiba. Tangannya bergerak cepat menaikkan kembali ritsleting gaun emerald green-nya, menutupi dadanya yang masih naik-turun parah karena sisa gairah. "Gue nggak takut sama Arsen," ucap Raka tegas. Tangannya siap membuka pintu dan hendak menjotos Arsen. “Jangan, Raka ... Kalau Arsen tahu kamu di sini dan liat kita kayak gini, semuanya bakal hancur! Tolong, untuk saat ini, aku butuh pengertianmu!” Raka menatap wajah pucat Emma. Rasa cemburu yang tadinya membakar akal sehatnya perlahan meredupi saat melihat ketakutan yang

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 40

    “Kak Raka, kami tunggu jawabannya. Kakak masih suka sama mantan Kakak?”Wajah-wajah tegang menghiasi ruang kelas. Cewek-cewek berharap mendapat jawaban yang masih memberi mereka setitik harapan untuk mendekati ketua The Crown.Raka menatap seisi kelas dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan“Kadan

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 39

    “Terima kasih, Emma. Puisi kamu benar-benar buat kelas jadi heboh dan hidup."“Sama-sama, Pak. Mata kuliah Bapak keren banget. Bahkan orang yang nggak peka aja bisa pura-pura ngerti perasaan orang lain.”Kelas kembali dibuat terpingkil-pingkil oleh perkataan Emma."Tenang, tenang. Sekarang giliran

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 30

    Kai menatap layar laptop Emma dengan wajah serius, lalu keningnya langsung berkerut pelan karena ada sesuatu yang menarik perhatiannya.“Kalau logic flow lo dibikin kayak gini, looping-nya bakal muter terus kayak gasing.”Emma mendecakkan lidah. “Nggak mungkin. Aku udah kasih kondisi stop.”“Stop

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 22

    Emma menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menarik napas panjang sekali lagi—lebih dalam, lebih teratur. Seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia masih bisa berdiri, masih bisa berjalan, masih bisa menghadapi semuanya.Perlahan, kakinya melangkah menuruni undukan t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status