Share

Bab 5

Penulis: Any Anthika
last update Tanggal publikasi: 2026-04-23 18:28:30

Udara pagi masih segar ketika Emma mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalan menuju kampus. Tas ransel tergantung di punggungnya, bergerak naik turun mengikuti irama kayuhan kakinya. Rambutnya yang terikat sederhana ikut bergoyang tertiup angin pagi.

Gerbang kampus menjulang tinggi di depannya, sama seperti kemarin, tapi kali ini berbeda. Kemarin dia berdiri sebagai orang luar. Hari ini dia melangkah masuk sebagai bagian dari tempat itu.

Tak butuh waktu lama, Emma sudah berada di area parkir.

Ia memperlambat kayuhannya, lalu berhenti di antara deretan kendaraan yang jelas tidak selevel dengan sepedanya. Mobil-mobil mahal berjejer rapi. Motor-motor keluaran terbaru berkilau terkena sinar matahari pagi.

Sepedanya terlihat asing di tengah semua itu.

Emma turun, menuntun sepedanya sebentar, lalu memarkirkannya di sudut yang tidak terlalu mencolok. Tangannya bergerak cekatan memasang kunci, memastikan semuanya aman.

Namun, saat ia berdiri tegak—dia langsung merasakan tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya.

“Itu dia, kan?”

“Iya, yang kemarin—”

“Yang nampar ...?”

"Wah, berani juga ya."

Emma menguatkan tekadnya tanpa mempedulikan bisikan-bisikan orang. Dia mempercepat langkahnya. Namun, beberapa orang mulai menoleh. Ada yang sekadar penasaran. Ada yang tampak kagum, tapi lebih banyak yang seolah sedang menonton sesuatu yang akan segera hancur.

Emma mengepalkan tangan di samping tubuhnya.

“Fokus aja,” gumamnya pelan.

Saat ia melewati sekelompok mahasiswi, salah satu dari mereka berbisik cukup keras.

“Berani banget sih. Nggak tahu diri.”

Emma terdiam sejenak. Tidak untuk melawan. Dia hanya ingin memastikan kalimat apa yang akan dilontarkan orang itu selanjutnya.

Sunyi.

Emma kembali melanjutkan langkahnya.

"Hari pertama. Kelas pertama!" Emma bersorak penuh kemenangan dalam hatinya.

Langkah Emma yang semula ringan mendadak melambat saat matanya menangkap sekelompok orang di ujung koridor.

The Crown.

Suasana sekitar langsung meredup. Orang-orang menyingkir tanpa diminta.

Emma tetap berjalan. Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah—

Arsen menyeringai. “Wah, tamu kita datang," ucapnya dengan lantang.

"Nggak kapok juga, ya?” tanya Bima dengan tatapan sinis.

Emma berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya tenang. “Permisi.”

"Sopan banget. Sayang, salah tempat," ujar Arsen tertawa kecil.

Emma tidak bergeming. “Kalau cuma buat lewat, harusnya nggak masalah.”

Bima melangkah maju sedikit. “Masalahnya lo yang lewat.”

Emma mengangkat dagunya dan tersenyum tipis. “Terus? Masalahnya apa?"

"Lo pikir, setelah diterima di sini, lo jadi setara?” cibir Bima.

"Dari awal juga aku nggak pernah merasa di bawah kalian," jawab Emma tenang.

Bima langsung tersulut. “Mulut lo—”

"Apa?" Emma kembali menantang.

“Udah.” Suara rendah itu memotong.

Raka, yang sejak tadi diam, kini ia melangkah maju. Tatapannya jatuh ke Emma. Dingin dan menekan. Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Emma tidak menghindar.

Raka memiringkan kepala sedikit, seolah menilai. Lalu dia bergeser, memberi jalan.

“Lewat.”

Emma melangkah tanpa ragu.

Saat melewati Raka, “Jangan terlalu percaya diri,” ucapnya pelan.

Emma terdiam sebentar. Dia menjawab, tanpa menoleh ke belakang.

“Lebih baik daripada terlalu meremehkan.”

Langkahnya tidak berhenti.

Namun, di belakangnya, suasana langsung pecah dalam bisik-bisik. Beberapa orang mulai mengangkat ponsel, merekam. Sepanjang sejarah, hampir tidak pernah ada yang berani berbicara seperti itu pada The Crown.

Hari ini, Emma melakukannya. Padahal secara kasta saja Emma sudah tertinggal jauh.

Emma akhirnya sampai di depan kelasnya.

Tangannya sedikit menegang saat mendorong pintu, tapi begitu masuk, ia langsung merasakan hal yang sama seperti di luar.

Semua mata seolah beralih padanya dalam satu waktu. Beberapa detik hening.

Lalu, bisik-bisik kembali muncul.

“Itu dia ...."

“Yang tadi di koridor."

“Gila sih."

Emma pura-pura tidak mendengar. Ia berjalan masuk, mencari tempat duduk kosong.

Barisan depan dan tengah kosong. Namun, beberapa orang langsung mengalihkan tas mereka, seolah tidak ingin duduk di dekatnya.

Emma berhenti sejenak. Lalu memilih duduk di pojok, dekat jendela.

Emma duduk sendiri. Dia menarik napas, mencoba fokus. Emma mulai mengeluarkan buku dan alat tulisnya. Semuanya terlihat normal.

Saat dosen masuk, suasana sedikit mereda. Perkuliahan pertama dimulai.

Emma berusaha memfokuskan diri. Namun, nyatanya dia tidak benar-benar fokus.

Beberapa kali ia merasa ada yang melempar sesuatu kecil ke mejanya.

Kertas.

Saat dibuka—

“Sok berani.”

“Nunggu dihancurin ya?”

Emma menghela napas pelan. Kertas itu ia lipat kembali, disimpan begitu saja tanpa komentar.

Di belakangnya, terdengar tawa kecil. Seolah itu hiburan.

Beberapa menit kemudian, seseorang sengaja menjatuhkan pulpen ke arahnya.

“Eh, maaf ya,” ucapnya, tapi nada suaranya jelas tidak tulus.

Emma mengambil pulpen itu, meletakkannya di pinggir meja tanpa menoleh.

Suara kecil itu rupanya cukup menarik perhatian.

Dosen yang sedang menjelaskan tiba-tiba berhenti. Tatapannya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada Emma.

“Kamu.”

Emma mengangkat kepala.

“Iya, kamu yang duduk di dekat jendela,” lanjutnya, nada suaranya berubah tegas. “Kalau datang ke kelas hanya untuk membuat keributan, sebaiknya tidak usah masuk sekalian.”

Sunyi.

Semua mata langsung tertuju pada Emma.

Beberapa orang mulai berbisik pelan. Ada yang menunduk menahan senyum, ada yang terang-terangan menatap dengan ekspresi puas.

Emma mengernyit. “Saya tidak—”

“Saya tidak butuh penjelasan. Sejak tadi saya perhatikan, kamu yang paling tidak fokus," potong dosen itu dingin.

Kalimat itu terasa seperti tamparan. Padahal Emma sudah berusaha lebih keras dari yang lain untuk memperhatikan.

Tangannya mengepal di bawah meja. Emma bisa saja membela diri.

Bisa saja menunjuk siapa yang sebenarnya membuat keributan.

Tapi—tatapannya menyapu sekilas ke belakang.

Mereka semua diam. Bahkan terlihat rapi, seolah tidak terjadi apa-apa.

Emma menarik napas pelan. “Maaf, Pak,” ucapnya akhirnya.

Dosen itu menatapnya beberapa detik, lalu kembali melanjutkan materi seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, suasana sudah berubah.

Tatapan-tatapan itu tidak hilang. Justru semakin terasa.

Emma menunduk, membuka bukunya lagi.

Tulisan di sana terasa kabur. Bukan karena dia tidak bisa membaca, tapi karena rasa malu itu terlalu nyata.

Di belakangnya, terdengar lagi bisikan kecil.

“Pantes aja."

“Baru juga masuk."

"Tidak heran, dia kan ...."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 137

    "Emma ..." Suara Ibu Rosalinda bergetar hebat. Tanpa peduli pada gaun mahalnya yang menyapu lantai yang kotor, Rosalinda berlutut dan langsung merengkuh tubuh Emma yang gemetar hebat dari pelukan Arsen ke dalam pelukannya. Kehangatan dekapan itu terasa begitu familier, sama seperti kehangatan yang Emma rasakan saat wanita itu memeluknya pertama kali. Dan juga saat mereka memasak bersama di dapur rumah besar itu. "Kamu sudah terlalu lama menanggung beban ini sendirian, Nak," bisik Rosalinda dengan tangis yang akhirnya pecah. Wanita itu mencium puncak kepala Emma berkali-kali, mengusap punggung gadis itu yang terguncang hebat. Emma yang matanya sudah sembap dan hampir kehilangan kesadaran berbisik parau. "Tante ... Ayah udah nggak ada ... Ayah ninggalin aku ... Aku benar-benar sendiri sekarang." "Sshh, kamu nggak sendirian, Sayang. Kami semua ada di sini untuk menemanimu," tangis Ibu Rosalinda pilu. Emma memperdalam pelukannya, ucapan Rosalinda sedikit menghibur hatinya yang

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 136

    "Arsen, aku—" bisik Emma menghindar. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotor lo itu, Arsen," potong Raka tajam. Dia melangkah maju, menepis tangan Arsen dari leher Emma lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana dengan gaya yang amat dominan. "Emma pasrah di bawah sentuhan gue di kamar mandi tadi. Dan tanda itu? Itu cuma bukti kecil kalau dia milik gue, bukan punya lo." "Bangsat lo, Raka!" Arsen mengepalkan tinjunya, hendak mendaratkan bogem mentah tepat ke wajah Raka. Brak! Pintu ganda ruang operasi mendadak terdorong buka dengan kasar. Dokter Setiawan melangkah keluar dengan pakaian operasi yang masih bersimpah bercak darah. Wajah sang dokter pucat pasi, matanya memancarkan rasa duka yang teramat berat, membuat perkelahian antara Arsen dan Raka seketika terhenti. Seluruh perhatian mereka teralih pada sang dokter. "Dokter ...?" Suara Emma bergetar hebat. Dia mencoba berdiri dengan lutut yang lemas. "Gimana keadaan Ayah saya, Dok? Operasinya lancar, kan? Ayah selamat, kan?"

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 135

    Sepuluh menit perjalanan yang terasa seperti neraka itu akhirnya usai. Mobil Raka berhenti berdecit tepat di depan pintu lorong gawat darurat rumah sakit. Tanpa membuang waktu, Raka menarik tangan Emma, menuntunnya berlari menelusuri koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik yang menusuk indra penciuman. Mereka tiba di depan lorong ICU. Lampu indikator ruang operasi masih menyala redup, dan beberapa suster tampak berlarian panik membawa kantung darah. “Nona Emma!” Suster Indah berlari menghampiri dengan papan jepit di tangannya dan kertas dokumen. “Baguslah Nona cepat sampai! Kondisi Pak Bagas kritis, pendarahan dalam terjadi lagi. Kami butuh persetujuan keluarga detik ini juga!” “Saya anaknya! Saya setuju, Suster! Lakukan apa saja, tolong selamatkan Ayah saya!” tangis Emma pecah, jemarinya yang gemetar menyambar pulpen dan membubuhkan tanda tangannya di atas lembar persetujuan. Dokter Setiawan keluar dari pintu steril ruang operasi, mengangguk cepat. “Tim bedah s

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 134

    Mendengar perkataan Ibu Renata, darah Arsen seketika mendidih. Dia melangkah maju, memotong jarak di antara dengan aura mengintimidasi yang begitu berwibawa. Hilang semua gaya tengil dan acuh tak acuhnya. “Jaga bicara Anda, Ibu Renata. Emma adalah prioritas saya malam ini. Dan jika proyek itu hancur karena saya melangkah keluar dari pintu ini, maka dipastikan keluarga Ibu yang akan menanggung kerugian pertamanya.” “Arsen, tolong ... Ayahku ...” bisik Emma bingung sambil meremas lengan baju Arsen dalam keputusasaan yang dalam. Arsen hendak menerobos orang-orang suruhan Ibu Renata itu secara paksa. Namun, Ibu Renata kembali bersuara pelan, hanya cukup didengar oleh mereka bertiga. “Dokter Setiawan di ICU adalah rekanan yayasan keluarga saya, Arsen. Satu telepon dari saya, dan operasi itu tidak akan pernah dimulai sebelum kamu duduk manis di meja perundingan atas.” Arsen mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Trik kotor ini benar-benar membuatnya harus

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 133

    Emma dan Arsen pun kembali duduk di meja VIP yang penuh kemewahan itu. Tak lama kemudian, di sudut ruangan lain, Raka keluar dari lorong toilet dengan langkah santai. Dia merapikan jas elegannya, membetulkan kancing kemeja hitamnya, lalu berjalan tenang kembali ke meja jamuan keluarganya seolah tidak terjadi apa-apa. Dari kejauhan, mata tajam Raka langsung mengunci sosok Emma yang kini duduk tegak di hadapan Arsen. Raka menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan ketika melihat Emma sibuk menarik rambut tebalnya ke depan untuk menutupi tanda kepemilikan yang baru saja dia ukir di leher gadis itu. "Gue cari lo tadi karena nggak mau makanan pesanan kita cepat dingin, nanti rasanya jadi nggak enak." Emma tersenyum lembut, hatinya semakin dipenuhi rasa bersalah. Arsen terus berusaha memperlakukan Emma dengan sangat manis dan penuh perhatian. Dia bahkan sudah memesankan hidangan penutup lain, mengajak Emma mengobrol dengan santai dan selalu mendahulukan kenyamanan Emma.. “Coba

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 132

    Emma menahan napasnya yang masih tersengal-sengal, sedangkan detak jantungnya bergemuruh hebat. Dalam kepanikan yang menghimpit, jemari Emma yang gemetar mencengkeram erat kemeja Raka, menatap pria itu dengan pandangan memohon yang teramat sangat. Air matanya yang menggenang, berkilat di bawah temaram cahaya dalam ruangan itu karena rasa bersalahnya pada Arsen. “Raka ... aku mohon, lepasin aku,” bisik Emma dengan suara tercekat, hampir seperti rintihan yang mengiba. Tangannya bergerak cepat menaikkan kembali ritsleting gaun emerald green-nya, menutupi dadanya yang masih naik-turun parah karena sisa gairah. "Gue nggak takut sama Arsen," ucap Raka tegas. Tangannya siap membuka pintu dan hendak menjotos Arsen. “Jangan, Raka ... Kalau Arsen tahu kamu di sini dan liat kita kayak gini, semuanya bakal hancur! Tolong, untuk saat ini, aku butuh pengertianmu!” Raka menatap wajah pucat Emma. Rasa cemburu yang tadinya membakar akal sehatnya perlahan meredupi saat melihat ketakutan yang

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 63

    Kening Kai langsung berkerut. Biasanya file seperti itu hanya berisi catatan sensitif siswa. Entah masalah keluarga. Psikologis. Masalah kriminal. Atau sesuatu yang tidak boleh diketahui publik. Rasa penasaran Kai langsung memuncak. “Emma, lo sebenarnya siapa sih?” Tanpa berpikir pa

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 52

    Sinar matahari menyusup lemah melalui celah tirai kain tipis, seakan memaksa Emma untuk membuka mata. Gadis itumengerang pelan, tubuhnya terasa pegalAlarm ponselnya sudah berbunyi untuk ketiga kalinya. Mata Emma terasa berat, seperti ada pasir yang menumpuk di kelopak. Ia memaksa diri duduk, men

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 49

    “Saya tidak berniat mendekati siapa pun di luar tugas saya sebagai guru les, Tante. Yang tadi… hanya kesalahpahaman.»"Oh ya? Semoga benar hanya kesalahpahaman," ucap Renata sinis sambil membuat tanda kutip dua dengan jemarinya yang lentik dan terawat."Tante, saya menghargai keluarga ini karena te

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 44

    “HEI! MUNDUR LO SEMUA!”Suara rendah itu muncul dari ujung koridor.Semua kepala langsung menoleh.Kai muncul seperti dengan langkah lebar hampir setengah berlari. Jaket hitamnya terbuka. Ekspresinya penuh amarah. Matanya yang biasanya tenang dan penuh perhitungan, kini dingin menakutkan.Alicia me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status