MasukLapangan parkir belakang kampus mulai terasa sepi. Hanya tersisa beberapa kendaraan yang berkilau tertimpa cahaya matahari senja. Aspal menguarkan hawa hangat sisa panas sejak siang.
Setengah berlari Emma menuju ke tempat ia memarkirkan sepedanya. Ia harus bergegas pulang, mungkin ia masih sempat membantu Ayah sebelum hari berakhir. Tanpa ia sadari, dari kejauhan, di balkon lantai dua gedung fakultas, empat sosok berdiri santai. The Crown. Raka bersandar di pagar besi dengan ekspresi datar. Kai tegak di sampingnya, diam seperti bayangan. Sementara Arsen duduk di railing dengan kaki menjuntai, sama sekali tak peduli risiko terjatuh. Dan Bima berdiri paling depan sambil menyeringai. “Mulai.” Gumaman disertai kilat berbahaya di mata Bima terpancar. Di parkiran, tiga mahasiswa langsung bergerak mendekati Emma dari arah belakang. Emma terbelalak. Langkahnya melambat lalu berhenti di depan sepeda kesayangannya yang kini tak berbentuk lagi. Ban depan kempes total. Stangnya bengkok, sementara pedalnya lenyap entah ke mana. Rantai juga tak lagi pada tempatnya, malah terkait acak di sekeliling ban belakang. Ia terpaku beberapa saat. Tangannya yang memegang helm terkulai di sisi tubuh. “Wah, datang juga bintang utama kita. Lama banget sih, kita hampir bosan nunggu.” Suara itu membuat Emma membalikkan tubuhnya. Tiga cowok menatapnya dengan tampang penuh senyum meremehkan. Insting Emma mengatakan bahwa mereka datang bukan untuk beramah-tamah dengannya. “Kalau bosan, kenapa ditunggu? Aku sepenting itu ya?” sahut Emma santai. “Wow, pede banget. Pantesan berani nampar orang. Gaya lo macam nggak ngerti posisi aja.” “Posisi aku jelas. Mahasiswa kayak kalian. Bedanya, aku nggak perlu main keroyokan.” Tiga cowok itu saling pandang, lalu tertawa lebih keras. “Denger tuh. Si paling ngerasa kuat sendirian. Lo harusnya bersyukur masih dikasih tempat di sini. Anak beasiswa kayak lo harusnya diem, tahu diri, nggak banyak gaya.” “Tahu diri versi yang kamu sebutin itu kayak apa? Diam waktu dihina? Nunduk waktu diperlakukan kayak sampah? Atau pura-pura buta pas orang lain diinjak-injak?” Cowok yang badannya paling besar langsung mendekat sampai jarak mereka menyempit. Bayangannya menutupi Emma sepenuhnya, menciptakan aura gelap yang mengintimidasi. “Simpel aja. Nggak usah bacot kalau lo nggak mau bernasib sama kayak rongsokan ini.” Sambil berucap, kakinya menendang sepeda Emma. “Jadi ini kelakuan kalian?” Emma mulai meradang. “Eits, jangan asal nuduh, Upik Abu. Lo nggak ada bukti valid buat bilang kayak gitu,” sahut cowok lainnya dengan wajah tengil. Cowok satunya lagi turut mendekat sambil membuka tutup botol air di tangannya. Dengan gerakan slow-mo, ia menuang isinya ke kepala Emma. “Nih, biar kepala lo adem jadi bisa berpikir jernih, nggak asal fitnah orang.” Ketiga cowok itu tertawa terbahak-bahak. Emma menggertakan giginya. Untung airnya tak begitu banyak, sehingga seragam dan tasnya tak sampai basah kuyup. Tenang, Emma. Nggak boleh terpancing. Ingat, beasiswa ini diperoleh dengan susah payah. Ini nggak ada apa-apanya dibanding Ayah yang banting tulang siang malam. Ia mensugesti dirinya sendiri. “Lumayan nih buat hiburan sore-sore.” Cowok berbadan besar itu menyeringai. “Oke, jadi ini konsepnya kalian butuh panggung, ya? Haus tontonan supaya hidup lebih berwarna?” balas Emma dingin. Ketiga cowok itu sedikit kaget dengan respon Emma. Mereka kira gadis itu akan menangis, tantrum atau apalah itu. “Dan lo cocok jadi tontonan yang asyik.” “Masalahnya, aku bukan badut, tapi orang yang bakal bikin kalian nyesel udah lakuin semua ini.” “Wah, ancaman nih. Takut banget gue.” Seiring ucapan itu, tanpa peringatan, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Emma. Wajahnya terpelanting ke samping, rasa nyeri menjalar di seluruh wajah dan telinganya berdenging samar. Perlahan dia kembali menoleh dengan tangan mengepal. “Sudah?” “Belumlah. Lo pikir satu doang cukup?” Cowok yang tadi memegang botol siap melayangkan tamparan berikutnya. Emma bergeser sedikit ke samping, tangannya yang mengepal terangkat memberikan satu uppercut tepat di bawah rahang cowok itu. Suara gemeretak terdengar. “Sialan. Lo beneran cari mati.” Kedua cowok lainnya merangsek maju. Emma berusaha menghindar, tapi salah satu cowok itu berhasil menarik tasnya. Alhasil, tubuhnya ikut terseret karena kalah tenaga. Tas itu terlepas, lalu dilempar ke sana kemari seperti mainan. “Balikin tasku!” “Manusia sok suci kayak lo tuh ganggu keseimbangan di sini. Semua orang udah nyaman di posisi masing-masing, malah lo rusak dengan drama ga penting. Ambil nih kalau bisa!” ejek mereka. “Keseimbangan? Maksudnya sistem busuk itu? Parah banget.” “Mulut lo keknya perlu dikasih pelajaran!” Tepat ketika tinju itu hampir mengenai bibir Emma, cowok itu tiba-tiba menghentikan gerakannya. Tangannya beralih menyentuh sesuatu di telinga. Suasana senyap sejenak. Emma mengernyit, bingung dengan perubahan itu. Ia baru sadar bahwa cowok itu sedang mengenakan earphone. “Cukup. Kita balik aja.” Ketiga cowok itu melirik sejenak ke arah lantai dua, lalu melenggang pergi seolah tak terjadi apa-apa. “Hei, kalian nggak bisa seenaknya pergi ….” Ucapan Emma terhenti saat matanya menangkap empat siluet di atas sana. Wajah mereka kurang jelas karena backlight, tapi dari posturnya, Emma tahu siapa mereka. Jadi dari tadi mereka juga melihat semua ini? Amarah kian menggelegak di dada Emma. Namun, raut wajah Ayah yang penuh gurat kelelahan kembali terbayang di benaknya. Lumayanlah untuk meredakan api yang mulai berkobar. Dengan geram ia meraih tas serta sepeda dan menuntunnya susah payah ke pos satpam. Jangan sampai Ayah tahu hal ini. Ayah pasti sedih dan Emma tak mau Ayah keluar uang untuk memperbaikinya. Biar nanti ia pikirkan caranya sendiri. “Pak, aku boleh titip sepeda di sini dulu ya. Nanti ambilnya besok Minggu. Eh iya, besok masih Bapak yang jaga?” Satpam menatap miris pada sepeda Emma yang penyok. Tanpa bertanya pun, ia sudah paham apa yang sedang terjadi. “Besok ganti shift jam 12 siang. Kamu datang sebelum itu ya.” “Siap, makasih banyak, Pak. Ini aku taruh mana?” Satpam menunjuk area kosong yang sempit di antara pos dan tembok pembatas pagar. Sedikit tertutup dengan tanaman bonsai yang rimbun sehingga aman. Setelah berpamitan, Emma melangkah keluar area kampus. Terpaksa ia harus pulang dengan berjalan kaki. Meski ada sedikit uang, ia memilih berhemat karena banyak kebutuhan lain yang lebih penting. Hitung-hitung olahraga juga ‘kan? Jarak kampus dan rumahnya lumayan jauh, sekitar 5 kilometer. Emma memutuskan untuk mengirim chat pada Ayah bahwa ia akan pulang telat karena masih harus mengerjakan tugas. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia terpaksa berbohong pada Ayah. Matahari kini tenggelam sepenuhnya, berganti bulan yang merangkak naik dengan sinarnya yang lembut. Beruntunglah jalur pedestrian lumayan ramai. Emma mengambil rute di mana orang-orang sering melewatinya untuk jogging malam. Ia sampai ke pertigaan kecil di mana ia harus menyeberang langsung. Ini jalur baru, sehingga belum ada jembatan penyeberangan. Sambil menanti lampu lalu lintas berubah merah, ia menatap kendaraan yang berlalu lalang. Cuma ia satu-satunya pejalan kaki yang berniat menyeberang. Ketika mengayunkan langkah saat lampu merah menyala, sebuah mobil berhenti tiba-tiba tepat di depannya. Ckiiit! Saking kagetnya, Emma terlonjak mundur dan kehilangan keseimbangan. Ia terjerembap di trotoar. Dengan kesal ia siap melontarkan sumpah serapah kepada pengemudi saklek itu. Kaca bagian pengemudi perlahan terbuka, menampilkan seraut wajah yang menatapnya intens. “Ayo, aku antar pulang.”"Emma ..." Suara Ibu Rosalinda bergetar hebat. Tanpa peduli pada gaun mahalnya yang menyapu lantai yang kotor, Rosalinda berlutut dan langsung merengkuh tubuh Emma yang gemetar hebat dari pelukan Arsen ke dalam pelukannya. Kehangatan dekapan itu terasa begitu familier, sama seperti kehangatan yang Emma rasakan saat wanita itu memeluknya pertama kali. Dan juga saat mereka memasak bersama di dapur rumah besar itu. "Kamu sudah terlalu lama menanggung beban ini sendirian, Nak," bisik Rosalinda dengan tangis yang akhirnya pecah. Wanita itu mencium puncak kepala Emma berkali-kali, mengusap punggung gadis itu yang terguncang hebat. Emma yang matanya sudah sembap dan hampir kehilangan kesadaran berbisik parau. "Tante ... Ayah udah nggak ada ... Ayah ninggalin aku ... Aku benar-benar sendiri sekarang." "Sshh, kamu nggak sendirian, Sayang. Kami semua ada di sini untuk menemanimu," tangis Ibu Rosalinda pilu. Emma memperdalam pelukannya, ucapan Rosalinda sedikit menghibur hatinya yang
"Arsen, aku—" bisik Emma menghindar. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotor lo itu, Arsen," potong Raka tajam. Dia melangkah maju, menepis tangan Arsen dari leher Emma lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana dengan gaya yang amat dominan. "Emma pasrah di bawah sentuhan gue di kamar mandi tadi. Dan tanda itu? Itu cuma bukti kecil kalau dia milik gue, bukan punya lo." "Bangsat lo, Raka!" Arsen mengepalkan tinjunya, hendak mendaratkan bogem mentah tepat ke wajah Raka. Brak! Pintu ganda ruang operasi mendadak terdorong buka dengan kasar. Dokter Setiawan melangkah keluar dengan pakaian operasi yang masih bersimpah bercak darah. Wajah sang dokter pucat pasi, matanya memancarkan rasa duka yang teramat berat, membuat perkelahian antara Arsen dan Raka seketika terhenti. Seluruh perhatian mereka teralih pada sang dokter. "Dokter ...?" Suara Emma bergetar hebat. Dia mencoba berdiri dengan lutut yang lemas. "Gimana keadaan Ayah saya, Dok? Operasinya lancar, kan? Ayah selamat, kan?"
Sepuluh menit perjalanan yang terasa seperti neraka itu akhirnya usai. Mobil Raka berhenti berdecit tepat di depan pintu lorong gawat darurat rumah sakit. Tanpa membuang waktu, Raka menarik tangan Emma, menuntunnya berlari menelusuri koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik yang menusuk indra penciuman. Mereka tiba di depan lorong ICU. Lampu indikator ruang operasi masih menyala redup, dan beberapa suster tampak berlarian panik membawa kantung darah. “Nona Emma!” Suster Indah berlari menghampiri dengan papan jepit di tangannya dan kertas dokumen. “Baguslah Nona cepat sampai! Kondisi Pak Bagas kritis, pendarahan dalam terjadi lagi. Kami butuh persetujuan keluarga detik ini juga!” “Saya anaknya! Saya setuju, Suster! Lakukan apa saja, tolong selamatkan Ayah saya!” tangis Emma pecah, jemarinya yang gemetar menyambar pulpen dan membubuhkan tanda tangannya di atas lembar persetujuan. Dokter Setiawan keluar dari pintu steril ruang operasi, mengangguk cepat. “Tim bedah s
Mendengar perkataan Ibu Renata, darah Arsen seketika mendidih. Dia melangkah maju, memotong jarak di antara dengan aura mengintimidasi yang begitu berwibawa. Hilang semua gaya tengil dan acuh tak acuhnya. “Jaga bicara Anda, Ibu Renata. Emma adalah prioritas saya malam ini. Dan jika proyek itu hancur karena saya melangkah keluar dari pintu ini, maka dipastikan keluarga Ibu yang akan menanggung kerugian pertamanya.” “Arsen, tolong ... Ayahku ...” bisik Emma bingung sambil meremas lengan baju Arsen dalam keputusasaan yang dalam. Arsen hendak menerobos orang-orang suruhan Ibu Renata itu secara paksa. Namun, Ibu Renata kembali bersuara pelan, hanya cukup didengar oleh mereka bertiga. “Dokter Setiawan di ICU adalah rekanan yayasan keluarga saya, Arsen. Satu telepon dari saya, dan operasi itu tidak akan pernah dimulai sebelum kamu duduk manis di meja perundingan atas.” Arsen mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Trik kotor ini benar-benar membuatnya harus
Emma dan Arsen pun kembali duduk di meja VIP yang penuh kemewahan itu. Tak lama kemudian, di sudut ruangan lain, Raka keluar dari lorong toilet dengan langkah santai. Dia merapikan jas elegannya, membetulkan kancing kemeja hitamnya, lalu berjalan tenang kembali ke meja jamuan keluarganya seolah tidak terjadi apa-apa. Dari kejauhan, mata tajam Raka langsung mengunci sosok Emma yang kini duduk tegak di hadapan Arsen. Raka menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan ketika melihat Emma sibuk menarik rambut tebalnya ke depan untuk menutupi tanda kepemilikan yang baru saja dia ukir di leher gadis itu. "Gue cari lo tadi karena nggak mau makanan pesanan kita cepat dingin, nanti rasanya jadi nggak enak." Emma tersenyum lembut, hatinya semakin dipenuhi rasa bersalah. Arsen terus berusaha memperlakukan Emma dengan sangat manis dan penuh perhatian. Dia bahkan sudah memesankan hidangan penutup lain, mengajak Emma mengobrol dengan santai dan selalu mendahulukan kenyamanan Emma.. “Coba
Emma menahan napasnya yang masih tersengal-sengal, sedangkan detak jantungnya bergemuruh hebat. Dalam kepanikan yang menghimpit, jemari Emma yang gemetar mencengkeram erat kemeja Raka, menatap pria itu dengan pandangan memohon yang teramat sangat. Air matanya yang menggenang, berkilat di bawah temaram cahaya dalam ruangan itu karena rasa bersalahnya pada Arsen. “Raka ... aku mohon, lepasin aku,” bisik Emma dengan suara tercekat, hampir seperti rintihan yang mengiba. Tangannya bergerak cepat menaikkan kembali ritsleting gaun emerald green-nya, menutupi dadanya yang masih naik-turun parah karena sisa gairah. "Gue nggak takut sama Arsen," ucap Raka tegas. Tangannya siap membuka pintu dan hendak menjotos Arsen. “Jangan, Raka ... Kalau Arsen tahu kamu di sini dan liat kita kayak gini, semuanya bakal hancur! Tolong, untuk saat ini, aku butuh pengertianmu!” Raka menatap wajah pucat Emma. Rasa cemburu yang tadinya membakar akal sehatnya perlahan meredupi saat melihat ketakutan yang
Kening Kai langsung berkerut. Biasanya file seperti itu hanya berisi catatan sensitif siswa. Entah masalah keluarga. Psikologis. Masalah kriminal. Atau sesuatu yang tidak boleh diketahui publik. Rasa penasaran Kai langsung memuncak. “Emma, lo sebenarnya siapa sih?” Tanpa berpikir pa
Sinar matahari menyusup lemah melalui celah tirai kain tipis, seakan memaksa Emma untuk membuka mata. Gadis itumengerang pelan, tubuhnya terasa pegalAlarm ponselnya sudah berbunyi untuk ketiga kalinya. Mata Emma terasa berat, seperti ada pasir yang menumpuk di kelopak. Ia memaksa diri duduk, men
“Saya tidak berniat mendekati siapa pun di luar tugas saya sebagai guru les, Tante. Yang tadi… hanya kesalahpahaman.»"Oh ya? Semoga benar hanya kesalahpahaman," ucap Renata sinis sambil membuat tanda kutip dua dengan jemarinya yang lentik dan terawat."Tante, saya menghargai keluarga ini karena te
“HEI! MUNDUR LO SEMUA!”Suara rendah itu muncul dari ujung koridor.Semua kepala langsung menoleh.Kai muncul seperti dengan langkah lebar hampir setengah berlari. Jaket hitamnya terbuka. Ekspresinya penuh amarah. Matanya yang biasanya tenang dan penuh perhitungan, kini dingin menakutkan.Alicia me







