LOGINDi penthouse, suasana tidak lagi sunyi. Koper kecil milik Tatiana yang entah bagaimana berhasil diamankan oleh anak buah Kaliel dari gerbong kereta kini tergeletak terbuka di tengah lantai marmer.
Tatiana berlutut, napasnya memburu. Ia melempar baju-baju, alat rias, dan beberapa bungkus camilan ke segala arah. Tangannya merogoh hingga ke dasar koper, berharap menemukan benda itu.
"Harusnya di sini... aku yakin memasukkannya tadi," bisik Tatiana, suaranya bergetar.
Buku itu. Buku I Will Die For You yang selalu ia bawa untuk pembanding. Satu-satunya bukti bahwa dunia ini adalah imajinasinya. Tapi, koper itu kosong dari kertas apa pun. Naskah itu lenyap, seolah-olah semesta sedang menghapus jejak pelariannya.
Tatiana terduduk lemas di antara tumpukan pakaiannya. Ia menatap tangannya yang gemetar. Dinginnya lantai marmer, aroma kayu mahoni, bahkan tekstur kain bajunya terasa terlalu nyata untuk sebuah mimpi.
"Kalau dugaanku benar, aku tidak mati," gumamnya, matanya mulai panas. "Aku terjebak. Aku masuk ke dalam neraka yang kubuat sendiri." ia mengacak rambutya.
Tatiana membuat buku ini dalam keadaan sangat bersemangat dalam mengobrak abrik sebuah tokoh. Dan… Kaliel-lah korbannya, Tatiana bahkan memberikan akhir tragis bagi Elise demi menghukum Kaliel.
“Ya Tuhan, ampuni aku.” dia mengadahkan tangan, entah pada siapa yang jelas ia ingin sekali keluar dari sini.
***
Sementara itu, di sebuah rumah mewah di tengah kota, tempat yang selama ini dianggap Kaliel sebagai tempat paling aman, suasana justru terasa menyesakkan.
Setelah makan malam yang gagal itu, mereka kembali ke kamar mereka.
Lampu kamar utama redup, menyisakan bayangan dua tubuh yang berpaut di atas ranjang king size. Aroma parfum vanila Elise yang manis memenuhi indra penciuman Kaliel. Di bawah remang cahaya, Elise terlihat sangat menggoda, jemarinya mencengkeram bahu tegap Kaliel sementara bibirnya membisikkan kata-kata cinta yang selama ini didengar pria itu.
Kaliel melakukan tugasnya sebagai kekasih. Ia mencium Elise, membiarkan hasratnya memimpin. Namun, ada yang salah.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sentuhan Elise terasa... hambar.
Setiap kali Elise mendesah, Kaliel justru teringat pada benda perak di dalam tas hitam tadi. Pulpen berisi racun yang entah sejak kapan Elise simpan. Setiap kali Elise memeluknya erat, Kaliel teringat pada tatapan sedih Tatiana yang mengatakan bahwa Elise adalah mata-mata.
Pikiran Kaliel melayang ke penthouse. Ia membayangkan Tatiana yang sendirian, sedang merencanakan sesuatu yang gila lagi
"Kaliel?" bisik Elise, suaranya serak karena gairah, matanya menatap Kaliel dengan heran karena pria itu mendadak berhenti. "Ada apa? Kau tidak fokus malam ini."
Kaliel menjauhkan tubuhnya, duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Otot punggungnya yang kokoh menegang. Rasa mual yang aneh muncul di perutnya. Ia tidak bisa menikmati ini. Ia tidak bisa menyentuh wanita yang mungkin akan menusuknya saat ia tertidur.
"Aku sedang lelah, Elise. Tidurlah lebih dulu," ujar Kaliel dingin, tanpa menoleh.
Elise menutupi tubuhnya dengan selimut, memijat punggung Kaliel. “Apa ada yang membuatmu stress di kerjaan?”
Kaliel mengedikan bahu. “Tidak usah dipikirkan, lebih baik aku mandi dulu.”
Dada Kaliel terasa panas, amarahnya seperti sedang mendirih. Bukan pada Elise, tapi pada dirinya sendiri yang tidak bisa lagi melihat dunianya dengan cara yang sama. Tatiana telah menghancurkan fantasinya, dan sekarang, Kaliel merasa asing di rumahnya sendiri.
***
Kaliel melangkah keluar dari kamar mandi dengan sisa uap panas yang masih menyelimuti tubuhnya. Ia hanya mengenakan celana tidur kain hitam yang menggantung rendah di pinggulnya, memperlihatkan garis otot perutnya yang keras, persis seperti yang pernah Tatiana tulis dengan penuh semangat dalam bukunya.
Rambut hitamnya yang basah berantakan, tetesan air mengalir lambat melewati rahang tegas, turun ke leher, dan menghilang di sela-sela otot dadanya yang bidang. Aroma sabun yang segar bercampur dengan uap panas membuatnya terlihat sangat berbahaya sekaligus menggoda.
"Aku ada urusan di kantor. Tidurlah lebih dulu," ujar Kaliel dingin pada Elise yang masih bergelung di bawah selimut. Tanpa menunggu jawaban, ia menyambar kemeja hitamnya dan melangkah keluar dengan tatapan mata yang sudah tidak sabar untuk meledak.
***
Tiga puluh menit kemudian, pintu penthouse mendesis terbuka. Kaliel masuk dengan langkah lebar, kemeja hitamnya tidak dikancingkan sepenuhnya, menampakkan sisi liar yang jarang ia tunjukkan. Ia sudah siap untuk menyeret Tatiana, menuntut penjelasan tentang pengkhianatan Elise yang menghancurkan hatinya.
Namun, langkahnya terhenti seketika. “Astaga,” keterkejutan Kaliel tergambar dari ekspresinya.
Di tengah lantai marmer yang dipenuhi tumpukan pakaian, Tatiana tidak sedang menangis atau mencoba kabur. Gadis itu sedang melakukan headstand, bersandar pada dinding marmer yang dingin.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kaliel menyilangkan tangan di depan dada. Dia tidak terbiasa dengan pemandangan ini di rumahnya yang biasa sepi.
Tatiana tidak bergerak, wajahnya sudah memerah karena posisi terbalik itu. Matanya yang bulat menatap kaki telanjang Kaliel dari perspektif yang aneh.
"Oh, kau sudah pulang?" suara Tatiana terdengar sedikit tercekik. "Jangan memasang wajah seperti itu, Kaliel. Aku sedang mencoba mendinginkan kepalaku. Kau tahu... sepertinya semua darahku menumpuk di satu tempat dan aku perlu mendistribusikannya kembali supaya otakku bisa berpikir jernih."
Kaliel mematung. Ia menatap kaki mungil Tatiana yang bergoyang sedikit di udara, lalu menatap wajah merah gadis itu yang tampak sangat serius dengan teorinya. Amarah yang tadinya mendidih di dada Kaliel mendadak terasa... ringan.
"Turun sekarang juga sebelum kau mematahkan lehermu sendiri," perintah Kaliel. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di depan wajah terbalik Tatiana.
"Tunggu, satu menit lagi. Aku sedang merencanakan bagaimana caraku keluar dari sini," gumam Tatiana pelan, suaranya makin serak. "Ternyata menulis nasib buruk untuk orang lain itu jauh lebih mudah daripada memperbaikinya saat orang itu berdiri di depanmu dengan dada bidang yang... wow, ototmu benar-benar nyata ya."
Kaliel menghela napas kasar, frustrasi yang ia rasakan mencapai puncaknya. Tanpa aba-aba, ia meraih pinggang Tatiana dan menurunkan tubuh gadis itu dengan paksa.
“Aduh! Pelan-pelan, gravitasi itu kejam, Kaliel!" protes Tatiana saat kakinya kembali menyentuh lantai. Ia sempoyongan sejenak, membuat kepalanya pening, dan ia refleks mencengkeram lengan bawah Kaliel yang kokoh untuk menjaga keseimbangan.
Begitu pandangannya fokus, Tatiana mendongak. Jantungnya hampir melompat keluar. Di depannya berdiri Kaliel, setengah telanjang, dengan rambut setengah basah dan tatapan mata biru yang sanggup menembus sukmanya.
"Darahmu sudah kembali ke tempatnya?" tanya Kaliel, tangannya masih melingkar di pinggang Tatiana, mencegah gadis itu jatuh.
Tatiana menelan ludah, wajahnya yang tadi merah karena headstand kini makin memanas karena alasan lain. "I-iya... sepertinya sekarang darahku malah menumpuk di pipi." ia mengecap bibirnya. Pria fiksi memang yang terbaik.
Sore itu, angin berembus perlahan, membawa kesejukan di teras depan rumah yang megah. Sesuai dengan saran dokter untuk lebih banyak menghirup udara segar, Tatiana duduk santai di kursi malas yang nyaman. Salah satu tangannya bergerak telaten, mengelus permukaan perutnya yang terasa tenang dan lembut.Anehnya, sejak Kaliel berangkat ke kantor pagi tadi, si kecil di dalam kandungan sama sekali tidak membuat ulah. Tidak ada tendangan beruntun, tidak ada gerakan heboh yang membuat ibunya kesakitan seperti beberapa hari lalu.Tatiana menunduk, menatap perut buncitnya dengan senyum kecil yang geli sekaligus heran. "Kenapa kau sangat diam saat tidak ada Ayah, Nak?" bisiknya lembut, suaranya mengalun pelan di keheningan sore.Ia mengetuk pelan perutnya dengan ujung jari, mencoba memancing respons yang tak kunjung datang. "K
Begitu mendengar lampu hijau dari dokter, Kaliel tidak membuang waktu lagi. Ia langsung menangkup pinggang Tatiana, membantunya turun dari ranjang periksa dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah wanita itu terbuat dari kaca yang paling rapuh."Terima kasih, Dok. Kami permisi," ujar Kaliel pendek, suaranya terdengar lebih tergesa-gesa dari biasanya.Sepanjang jalan menuju mobil, Kaliel tidak melepaskan rangkulannya pada bahu Tatiana. Perjalanan pulang kali ini terasa jauh berbeda dari keberangkatan mereka. Atmosfernya tidak lagi mencekam oleh kecemasan, melainkan dipenuhi oleh ketegangan jenis baru, gairah yang tertahan selama sebulan penuh kini menguar pekat, memenuhi setiap sudut kabin mobil.Tatiana hanya bisa menatap keluar jendela dengan pipi yang masih terasa panas. Ia tidak berani melirik suaminya yang du
Empat minggu yang terasa seperti satu dekade bagi Kaliel akhirnya berlalu. Hari ini, ruangan dokter spesialis Sektor Onyx kembali menjadi saksi ketegangan yang sunyi. Tatiana berbaring dengan gaun hamil yang nyaman, sementara Kaliel berdiri di sampingnya seperti patung bernyawa, matanya lurus mengunci layar monitor USG.Dokter menggerakkan transduser di atas perut Tatiana yang kini sudah semakin menonjol di usia kehamilan enam bulan. Keheningan di ruangan itu terasa begitu pekat saat dokter mengamati layar dengan saksama, sesekali dahi pria paruh baya itu berkerut tipis."Bagaimana, Dok?" tanya Tatiana memecah kesunyian, suaranya terdengar cemas. Ia meremas jemari Kaliel yang sejak tadi menggenggamnya erat.Dokter menjauhkan alat pemindai, lalu mengambil tisu untuk membersihkan gel di perut Tatiana. Ia mengembuskan
Hari pertama dari hukuman empat minggu tanpa sentuhan dimulai hari ini.Begitu fajar menyingsing di jendela kamar utama rumah, mata Kaliel langsung terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah Tatiana yang masih tertidur pulas di sampingnya. Namun, alih-alih berlama-lama di ranjang seperti kebiasaannya selama empat bulan terakhir, Kaliel dengan gerakan secepat kilat langsung menyibak selimut dan turun dari tempat tidur.Pria itu bergegas melangkah keluar kamar bahkan sebelum Tatiana sempat menggeliat bangun.Bukan tanpa alasan Kaliel melarikan diri sepagi ini. Kaliel tahu betul di mana letak titik lemahnya. Tatiana di pagi hari dengan rambut yang berantakan acak-acakan, suara serak khas bangun tidur, dan mata yang mengerjap setengah mengantuk adalah pemandangan paling berbahaya bagi pertahanan dirinya. Apalagi sekarang
Siang itu, ruang praktik dokter spesialis yang sedari awal menangginya terasa begitu tenang dan privat, persis seperti yang diperintahkan Kaliel. Tatiana berbaring di atas ranjang periksa yang dilapisi kain putih bersih. Dengan gerakan pelan, ia mengangkat sedikit bagian bawah kaus hijau muda longgar yang dikenakannya, menyingkap perutnya yang kini sudah membulat kencang di usia kehamilan memasuki bulan kelima.Dokter mengoleskan gel transparan yang terasa dingin di kulit perut Tatiana, lalu mulai menggerakkan USG dengan lihai. Di sebelah ranjang, Kaliel berdiri tegak dengan melipat tangan di dada, matanya tak berkedip menatap layar monitor yang menampilkan siluet hitam-putih samar."Bagaimana, Tatiana? Apa ada keluhan selama beberapa minggu terakhir?" tanya dokter ramah sambil terus memindai.Tatiana menggeleng les
Malam pun tiba membawa hawa dingin khas hutan pinus yang mulai menusuk kulit. Setelah menyantap makan malam hangat buatan Kaliel yang habis tanpa sisa, mereka berdua kini duduk bersama di teras pondokan kayu. Kaliel duduk di sebuah kursi kayu panjang dengan Tatiana yang bersandar nyaman di dadanya, terbungkus selimut wol tebal yang sama. Di depan mereka, kegelapan hutan tampak pekat dan sunyi, hanya diterangi oleh pendar lampu teras yang temaram.Tatiana menatap lurus ke dalam barisan pepohonan yang gelap gulita. Pikiran random khas ibu hamil mendadak melintas di kepalanya."Bagaimana kalau ada beruang yang datang?" tanya Tatiana tiba-tiba, memecah keheningan malam.Kaliel yang sedang mengusap lengan Tatiana dengan ritme teratur langsung menghentikan gerakannya sesaat. Ia terkekeh, suara beratnya bergetar di punggun
Malam menyelimuti rumah dengan kegelapan dan keheningan yang mencekam. Namun di dalam kamar, Kaliel memastikan di sekitar mereka terasa sehangat mungkin. Ia menyalakan lampu tidur, mengunci semua celah rumah dengan pengamanan, dan tidak membiarkan Tatiana lepas dar
Jalanan aspal yang menghubungkan antar-sektor membentang sepi di depan mereka. Di dalam mobil yang sepi itu, dua pria duduk bersebelahan dengan canggung, hanya ditemani oleh suara raungan mesin mobil yang dipacu dalam kecepatan sedang.
Semburat cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menerangi kamar yang kini tampak seperti medan pertempuran gairah semalam. Kaliel terbangun lebih dulu. Dengan tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun, ia menumpu tubuh dengan satu sikut
Edward tidak membiarkan Tatiana menyelesaikan kalimatnya. Rasa frustrasi, kerinduan, dan ketakutan akan kehilangan wanita itu sepenuhnya meledak begitu saja di dalam dada Edward malam ini. Sebelum Tatiana sempat mundur, tangan Edward bergerak cepat keluar dari saku







