Mag-log inKaliel menyambar liontin safir itu dari tangan Tatiana dengan gerakan yang sangat cepat, seolah takut kulit Tatiana akan mengotori peninggalan ibunya lebih lama pergi. Ia menggenggam kalung itu erat di telapak tangannya, menatap Tatiana dengan amarah yang bercampur dengan rasa frustrasi yang amat sangat.
"Dengar, aku tidak tahu kau ini penyihir, peramal, atau apa pun itu," desis Kaliel, melangkah maju hingga Tatiana terdesak ke pinggiran meja mahoni. "Tapi kau tidak akan keluar dari ruangan ini sampai—"
Ponsel di saku mantel Kaliel bergetar. Kaliel mengerang rendah, ia mendengus saat melihat nama yang tertera di layar. Elise.
Tatiana, melirik ke arah ponsel itu. "Wah, si pemeran utama wanita sudah menelpon. Dia pasti sudah di kafe Red Moon. Menunggumu sambil memesan latte tanpa gula karena dia sedang diet ketat.”
Kaliel memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya. "Demi Tuhan... berhenti bicara seolah kau tahu segalanya.” Ia mengangkat telepon itu. "Ya, Elise? ... Aku sedikit terlambat. Ada urusan mendadak di Sektor Onyx. Tunggu di sana."
Suara Elise yang manja dan lembut terdengar samar dari speaker ponsel, membuat Tatiana refleks memutar bola matanya. Duh, kenapa dulu aku menulis dialog Elise se-centil itu? Geli sendiri aku ketika mendengarnya langsung, batin Tatiana sinis.
Begitu panggilan berakhir, Kaliel menatap Tatiana dengan tatapan yang sangat mengancam. Ia menunjuk ke arah sofa dengan telunjuknya.
"Duduk. Di sana. Jangan menyentuh apa pun. Jangan mencoba mendekati jendela, dan jangan berpikir untuk kabur jika kau masih sayang pada nyawamu," perintah Kaliel dengan nada yang tidak boleh dilanggar. "Aku akan kembali dalam satu jam untuk membereskanmu."
Tatiana langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, telapak tangannya terbuka lebar dalam pose "menyerah" yang sangat polos tapi terlihat menyebalkan bagi Kaliel.
"Siap, Bos! Aku tidak akan ke mana-mana," sahut Tatiana dengan nada santai. "Lagipula, sistem keamanan pintumu pakai pemindai retina, kan? Aku tidak punya aksesnya. Jadi, kencan saja yang tenang. Jangan lupa periksa tas Elise saat dia ke toilet, siapa tahu ada sesuatu di sana.”
Kaliel tidak menjawab. Ia hanya memberikan satu tatapan tajam terakhir sebelum berbalik dan melangkah keluar dengan terburu-buru.
Pintu penthouse mendesis tertutup dan terkunci otomatis.
Tatiana mengembuskan napas panjang ia menjatuhkan dirinya ke sofa kulit yang sangat empuk itu dan menatap langit-langit ruangan yang mewah.”
“Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah, aku benar-benar masuk ke dalam bukuku sendiri?” Tatiana menatap sekliling, ia melihat seekor burung hantu putih betenger di sebelah jendela yang terbuka kecil. “Lalu bagaimana caraku pulang?”
***
Lampu kristal di kafe Red Moon memantulkan cahaya temaram yang elegan. Di hadapan Kaliel, Elise duduk dengan anggun. Gaun merah sutranya memeluk tubuh dengan sempurna, kontras dengan kulit porselennya yang seolah tanpa cela.
"Jadi, kasus penipuan asuransi itu benar-benar menguras energiku, Sayang," Elise berujar lembut, suaranya semanis madu. Ia menyesap latte tanpa gulanya, persis seperti yang dikatakan Tatiana. "Menjadi pengacara di firma hukum itu ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Selalu ada saja hal yang harus kukerjakan.”
Kaliel mengangguk, tapi matanya yang biru tampak sedikit kosong. Biasanya, ia akan mengagumi setiap inci wajah Elise. Namun malam ini, bayangan Tatiana yang merangkak di bawah mejanya justru lebih sering muncul di kepalanya. Tanpa sadar ia mengigit bibir bawahnya.
"Kau melamun, Kaliel?" Elise memiringkan kepalanya, jemari lentiknya mengusap punggung tangan Kaliel. "Apa ada masalah di pekerjaanmu?”
"Hanya urusan kecil," jawab Kaliel pendek. Ia menegakkan duduknya. Kenapa dia memesan latte tanpa gula? Kenapa dia memakai gaun merah? Kenapa semua detail ini terasa seperti cerita yang dia hafal?
"Oh, sebentar. Aku harus ke kamar mandi untuk membenarkan riasanku," Elise berdiri dengan gerakan yang sangat lembut. Ia meninggalkan tas tangan kulit hitamnya di atas kursi, tanpa mencurigai apa pun. "Jangan rindu padaku, ya?"
Kaliel mengangguk. Begitu Elise menghilang di balik lorong, Kaliel menatap tas hitam itu. Hatinya bergejolak. Selama ini ia memercayai Elise lebih dari siapa pun, namun peringatan Tatiana terus terngiang dalam kepalanya.
Dengan gerakan yang sangat tenang namun cepat, Kaliel meraih tas itu. Tangannya merogoh ke dalam, melewati beberapa kosmetik mahal dan ponsel, hingga jemarinya menyentuh sebuah benda silinder kecil.
Sebuah pulpen perak yang elegan.
Kaliel menariknya keluar. Ia memutar tutup pulpen itu dengan teliti. Insting mafianya yang tajam langsung menangkap sesuatu yang tidak beres. Tidak ada tinta di dalamnya. Sebagai gantinya, terdapat jarum kecil dengan cairan bening yang beraroma pahit samar di ujungnya.
Ini racun. Batin Kaliel, ia hafal betul bagaimana cara dunia kotor dijalankan.
Kaliel menggertkan rahangnya hingga otot lehernya menegang. Ia mengembalikan pulpen itu ke dalam tas tepat saat ia melihat bayangan Elise kembali dari kejauhan.
Pikirannya kini benar-benar kacau. Elise, wanita yang ia anggap sebagai cinta terkahirnya ternyata sedang membawa kematian di dalam tasnya. Dan Tatiana, wanita asing yang ia anggap gila ternyata adalah satu-satunya orang yang sudah menyelamatkannya.
"Ada apa, Kaliel? Wajahmu tegang sekali," tanya Elise saat ia kembali duduk, tersenyum manis.
Kaliel menatap Elise, ia tidak bisa langsung percaya pada Tatiana. Dia mengenal Elise beberapa tahun lalu.
Pria itu mencondongkan tubuhnya, dan meraih tengkuk Elise. Menciumnya dengan dalam, bahkan tak peduli ketika beberapa pengunjung memperhatikan mereka. Aku mencintainya, aku yakin itu.
Malam pun tiba membawa hawa dingin khas hutan pinus yang mulai menusuk kulit. Setelah menyantap makan malam hangat buatan Kaliel yang habis tanpa sisa, mereka berdua kini duduk bersama di teras pondokan kayu. Kaliel duduk di sebuah kursi kayu panjang dengan Tatiana yang bersandar nyaman di dadanya, terbungkus selimut wol tebal yang sama. Di depan mereka, kegelapan hutan tampak pekat dan sunyi, hanya diterangi oleh pendar lampu teras yang temaram.Tatiana menatap lurus ke dalam barisan pepohonan yang gelap gulita. Pikiran random khas ibu hamil mendadak melintas di kepalanya."Bagaimana kalau ada beruang yang datang?" tanya Tatiana tiba-tiba, memecah keheningan malam.Kaliel yang sedang mengusap lengan Tatiana dengan ritme teratur langsung menghentikan gerakannya sesaat. Ia terkekeh, suara beratnya bergetar di punggun
Bulan madu sama sekali tidak masuk ke dalam daftar rencana Tatiana dan Kaliel. Setidaknya, itulah yang Tatiana ketahui sejak awal. Dengan situasi kehamilan yang mendadak dan segala urusan birokrasi yang harus Kaliel selesaikan pasca-pernikahan tercepat mereka, Tatiana sudah cukup bersyukur bisa menikmati sarapan tenang tanpa gangguan seperti kemarin.Namun, Kaliel tetaplah Kaliel, pria penuh kejutan yang tidak pernah bisa ditebak jalannya.Alih-alih membawa Tatiana kembali ke rutinitas Sektor Onyx yang kaku, pagi itu Kaliel langsung mendudukkan Tatiana di kursi penumpang mobil SUV hitam miliknya. Tanpa penjelasan apa pun, Kaliel melajukan kendaraan membelah jalanan sepi, membawa mereka pergi jauh meninggalkan area hotel.Perjalanan itu memakan waktu berjam-jam. Tatiana hanya bisa menatap keluar jendela saat pemandan
Sensasi pertama yang menyadarkan Tatiana dari tidurnya bukanlah alarm atau silau fajar, melainkan embusan napas hangat yang teratur di tengkuknya. Saat mencoba merenggangkan otot-ototnya, ia langsung terkunci oleh beban berat dari lengan kekar yang melingkar erat di pinggangnya. Di balik selimut tebal yang membungkus mereka, kulit telanjangnya menempel tanpa sekat pada dada bidang Kaliel yang terasa panas.Kaliel rupanya sudah terbangun lebih dulu. Merasakan geliat kecil dari wanita dalam dekapannya, ia mempererat pelukannya lalu mengecup pundak polos Tatiana yang terekspos. "Hari pertama menjadi istriku, apa kesanmu?" Tanya Kaliel.Tatiana meringis, mencoba membalikkan badannya untuk menghadap Kaliel. Namun, gerakan berputar itu langsung memicu rasa pegal yang luar biasa di pinggang dan bagian bawah tubuhnya.
Cincin emas putih berdesain elegan yang kini melingkar di jari masing-masing menjadi tanda yang mengikat mereka. Kilau logam mulia itu seolah mempertegas status baru mereka di hadapan dunia kecil yang menghadiri pernikahan ini. Tatiana kini sepenuhnya menjadi milik Kaliel, begitu juga sebaliknya.Ada rasa hangat sekaligus aneh yang menjalar di dada Tatiana saat merasakan dinginnya cincin itu menyentuh kulit jarinya.Kaliel tidak melepaskan tangan Tatiana bahkan setelah prosesi pertukaran cincin selesai. Pria itu menatap jemari mereka yang saling bertautan, lalu membawa punggung tangan Tatiana ke depan bibirnya, mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan penuh penekanan di sana."Kau tidak bisa lari ke mana pun lagi sekarang, Istriku," bisik Kaliel nyaris tak terdengar oleh orang lain, namun berhasil
Kaliel mematung. Kata yang baru saja diucapkan Tatiana seolah menolak untuk dicerna oleh otaknya yang biasa berpikir cepat. Untuk pertama kalinya, Kaliel terlihat linglung di tempat umum."Hamil? Kau? Kita?" tanya Kaliel beruntun, suaranya terdengar putus-putus dengan tatapan mata yang bergerak gelisah, mencoba mencari kepastian di wajah Tatiana.Melihat respons lambat pria di depannya, sumbu pendek emosi Tatiana yang dipicu hormon kehamilan kembali menyala. Rasa haru dan rapuh yang tadi menggelayutinya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa jengkel yang luar biasa.Tatiana langsung mendengus tajam, melepaskan cengkeramannya pada kemeja pria itu. "Aku tidak bisa hamil sendiri, dasar pria aneh!" ketusnya dengan mata melotot, membuat beberapa pengunjung mall yang lewat sempat menoleh sekilas. 
Tatiana hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan lenguhan yang hampir lolos saat kecupan-kecupan kecil Kaliel berpindah ke bahunya. Sentuhan pria itu selalu berhasil membuatnya lemas."Sudah, Kaliel... lepaskan dulu. Aku mau mandi," bisik Tatiana sambil menepuk pelan lengan yang masih mengunci pinggangnya.Kaliel mendengus pelan, namun akhirnya melonggarkan kunkungannya dengan enggan. "Mandilah. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makan siang yang enak untukmu. Jangan coba-coba kabur dari meja makan seperti kemarin."Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara gemercik air shower terdengar, Tatiana menyandarkan punggungnya pada pintu. Ia memejamkan mata erat-erat. Hasrat seksualnya yang melonjak drastis bela
Butuh waktu tiga jam bagi Tatiana untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Setelah membasuh wajahnya berkali-kali dan mencoba menata hatinya yang retak, ia akhirnya melangkah keluar rumah dan berjalan menuju kediaman Edward. Tanpa mengetuk lagi, ia langsung mela
Tatiana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tangisnya pecah seketika. Tubuhnya gemetar hebat di bawah tekanan rasa bersalah. "Kukira aku tidak akan pernah goyah... aku mengaku aku salah, Kaliel!" seru Tatiana di balik tangannya, suaranya parau dan terseda
Edward memaksakan sebuah senyuman tipis, menatap wajah Tatiana yang tampak begitu kuyu di bawah pendar lampu kamar. "Kau kelihatan lelah," bisiknya parau.Tatiana menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan gel
Kaliel tidak langsung menyambut uluran tangan Joe. Alih-alih terharu, ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai. Sebuah senyuman tipis, setengah sinis, terukir di sudut bibirnya. Sebagai pria yang sudah kenyang dengan intrik, Kaliel tidak akan sebod







