LOGINSetelah melemparkan informasi soal Elise, Tatiana merasa tugasnya sudah selesai. Ia merasa sudah menjadi "arwah" yang cukup baik karena telah memperingatkan tokoh ciptaannya sendiri. Sekarang, ia hanya ingin pergi ke tempat yang seharusnya. Surga.
"Ya sudah kalau begitu. Anggap saja itu hadiah perpisahan dariku," ujar Tatiana santai sembari membalikkan badan. Ia menatap ke arah ujung peron yang berpendar cahaya biru. "Ngomong-ngomong, Kaliel... kau tahu di mana arah surga? Aku tidak tahu dimana jalannya.”
Kaliel tertegun sejenak. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Gadis ini baru saja membongkar rahasia paling krusial dalam hidupnya, lalu sekarang bertanya arah jalan seolah-olah ia hanya menanyakan letak toilet?
"Surga?" Kaliel mendesis, kerutan di keningnya mendalam.
Dalam satu gerakan kilat yang tidak sempat ditangkap mata Tatiana, Kaliel sudah berada di belakangnya. Ia mencengkeram lengan Tatiana, memutar tubuh gadis itu, dan menekannya hingga punggung Tatiana membentur tiang logam dingin stasiun.
"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah membuat fitnah tentang kekasihku?" Kaliel menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Tatiana. Tatapan matanya yang biru kini menggelap. Ia tidak suka ada yang menyentuh ranah pribadinya. "Jika kau sangat ingin tahu di mana surga, aku bisa merenggut nyawamu sekarang juga dan secara pribadi mengirimmu ke neraka yang paling dalam, Gadis Gila."
Tatiana bukannya gemetar, ia justru menghela napas panjang. Ia menatap lurus ke mata biru Kaliel yang indah itu.
"Neraka?" Tatiana tersenyum getir, wajahnya terlihat sangat sanati sekaligus menyimpan luka yang dalam. "Kaliel, aku sudah pernah melihat neraka. Aku baru saja keluar dari sana."
Ia teringat saat-saat ia dituduh plagiat, saat teman-temannya menjauh, dan saat Pak Bram menghancurkan karier yang ia bangun dengan darah dan air mata selama empat tahun. Baginya, ruangan kantor penerbitan itu jauh lebih menyiksa daripada todongan senjata Kaliel.
"Neraka milikmu ini... setidaknya udaranya jauh lebih segar dan parfummu lebih enak dicium," lanjut Tatiana polos, tanpa sadar ia malah menghirup aroma maskulin dari leher Kaliel yang berada sangat dekat dengan hidungnya.
Kaliel terpaku. Ia sudah biasa menghadapi ancaman kematian, pengkhianatan, dan musuh yang memohon ampun. Tapi ia belum pernah menghadapi wanita yang menatapnya dengan pandangan sedih sekaligus memuji di tengah ancaman pembunuhan.
Cengkeraman Kaliel di lengan Tatiana sedikit melonggar, tapi ia tidak melepaskannya. Ada sesuatu dalam diri Tatiana yang membuatnya merasa... terganggu.
"Kau tidak takut padaku?" tanya Kaliel dengan nada yang lebih rendah, hampir seperti bisikan.
Tatiana nyengir lebar, meski matanya masih berkaca-kaca karena menahan kantuk. "Buat apa takut pada pria yang bentuk otot perutnya saja aku yang tentukan jumlahnya?"
***
Kaliel tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat tajam dengan tangannya, dan dua pengawal itu langsung menyambar lengan Tatiana.
"Wow, kalian akan membawaku kemana?" protes Tatiana, tapi suaranya tenggelam saat ia diseret keluar peron menuju sebuah kendaraan hitam legam yang menjadi impian Tatiana.
Begitu pintu kendaraan itu mendesis terbuka, Tatiana didorong masuk ke kursi kulit yang sangat empuk. Detik berikutnya, Kaliel duduk di sampingnya. Jarak mereka sangat dekat, hingga bahu tegap Kaliel bersentuhan dengan bahu mungil Tatiana.
Kendaraan itu melesat sunyi, membelah hutan beton Sektor Onyx yang dipenuhi papan iklan di gedung.
"Wah..." Tatiana menempelkan wajahnya ke kaca jendela. "Aslinya lebih keren dari yang kutulis. Lihat itu! Lampu neonnya benar-benar berwarna ungu fuchsia, bukan ungu terong." alisnya naik turun dengan cepat.
“Oh ini jalan menuju rumahmu.” lanjut Tatiana menunjuk gedung tinggi yang sangat menonjol.
Kaliel menatap Tatiana dengan pandangan ngeri. Gadis ini baru saja diancam, diseret paksa, tapi sekarang malah sibuk mengkritik palet warna kotanya?
"Diamlah, Gadis Gila," desis Kaliel. Ia mengambil ponselnya, menekan sebuah nomor di layar. "Ke kediaman pribadi. Aktifkan protokol keamanan maksimal.”
"Benar tebakanku," Tatiana menoleh, matanya berbinar polos. "Maksudmu apartemen lantai 99 yang punya kolam renang kaca dan akses pemandangan Onyx. Lalu bagaimana soal Tutu, burung hantu kita?”
Kaliel tersentak. Tangannya yang sedang mengoperasikan ponsel membeku di udara. Ia menoleh perlahan, menatap Tatiana dengan intensitas yang sanggup membakar kulit. "Bagaimana kau tahu tentang Tutu? Tidak ada satu pun tahu kalau aku memeliharanya.”
Tatiana hanya mengedipkan sebelah mata, tampak tidak berdosa. "Ya karena aku yang paling pusing memikirkan logikanya saat menulis bab itu, Kaliel. Aku sampai riset hewan apa yang paling mudah dipelihara.”
Tak lama, kendaraan itu berhenti di sebuah penthouse mewah yang sangat futuristik. Begitu pintu terbuka, Tatiana langsung melesat masuk ke dalam ruangan luas yang didominasi marmer hitam dan cahaya biru redup. Kaliel mengekor di belakangnya dengan langkah lebar, tangannya sudah siap merogoh senjata jika gadis ini melakukan hal aneh.
Tapi Tatiana tidak lari ke pintu keluar. Ia justru berlari lurus menuju meja kerja besar yang terbuat dari kayu mahoni langka di sudut ruangan.
"Nah, ini dia." Tatiana langsung berlutut dan merangkak ke bawah meja tanpa mempedulikan roknya yang sedikit tersingkap.
"Apa yang kau lakukan di bawah sana?!" bentak Kaliel, suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi itu.
Tatiana merayap keluar dengan wajah tersenyum penuh kemenangan. Di tangannya, ia menggenggam sebuah kalung perak dengan liontin safir yang berpendar redup.
"Kalung ibumu," bisik Tatiana. Ia menatap benda itu dengan sayang. "Kalau tidak salah, seharusnya ini muncul di bab tiga, di mana kau akan berkencan dengan Elise dan memberikan ini padanya sebelum kalian berciuman dengan sangat... emm, panas?" ia mengibaskan tangan yang kosong ke wajahnya.
Kaliel mematung. Ia merasa dunianya baru saja jungkir balik. Gadis asing berpakaian aneh ini bukan hanya tahu rahasia keamanannya, tapi dia memegang benda paling suci dalam hidup Kaliel seolah itu hanya properti.
"Siapa kau sebenarnya?" bahu Kaliel merosot dengan tatapan yang sangat frustasi.
Malam pun tiba membawa hawa dingin khas hutan pinus yang mulai menusuk kulit. Setelah menyantap makan malam hangat buatan Kaliel yang habis tanpa sisa, mereka berdua kini duduk bersama di teras pondokan kayu. Kaliel duduk di sebuah kursi kayu panjang dengan Tatiana yang bersandar nyaman di dadanya, terbungkus selimut wol tebal yang sama. Di depan mereka, kegelapan hutan tampak pekat dan sunyi, hanya diterangi oleh pendar lampu teras yang temaram.Tatiana menatap lurus ke dalam barisan pepohonan yang gelap gulita. Pikiran random khas ibu hamil mendadak melintas di kepalanya."Bagaimana kalau ada beruang yang datang?" tanya Tatiana tiba-tiba, memecah keheningan malam.Kaliel yang sedang mengusap lengan Tatiana dengan ritme teratur langsung menghentikan gerakannya sesaat. Ia terkekeh, suara beratnya bergetar di punggun
Bulan madu sama sekali tidak masuk ke dalam daftar rencana Tatiana dan Kaliel. Setidaknya, itulah yang Tatiana ketahui sejak awal. Dengan situasi kehamilan yang mendadak dan segala urusan birokrasi yang harus Kaliel selesaikan pasca-pernikahan tercepat mereka, Tatiana sudah cukup bersyukur bisa menikmati sarapan tenang tanpa gangguan seperti kemarin.Namun, Kaliel tetaplah Kaliel, pria penuh kejutan yang tidak pernah bisa ditebak jalannya.Alih-alih membawa Tatiana kembali ke rutinitas Sektor Onyx yang kaku, pagi itu Kaliel langsung mendudukkan Tatiana di kursi penumpang mobil SUV hitam miliknya. Tanpa penjelasan apa pun, Kaliel melajukan kendaraan membelah jalanan sepi, membawa mereka pergi jauh meninggalkan area hotel.Perjalanan itu memakan waktu berjam-jam. Tatiana hanya bisa menatap keluar jendela saat pemandan
Sensasi pertama yang menyadarkan Tatiana dari tidurnya bukanlah alarm atau silau fajar, melainkan embusan napas hangat yang teratur di tengkuknya. Saat mencoba merenggangkan otot-ototnya, ia langsung terkunci oleh beban berat dari lengan kekar yang melingkar erat di pinggangnya. Di balik selimut tebal yang membungkus mereka, kulit telanjangnya menempel tanpa sekat pada dada bidang Kaliel yang terasa panas.Kaliel rupanya sudah terbangun lebih dulu. Merasakan geliat kecil dari wanita dalam dekapannya, ia mempererat pelukannya lalu mengecup pundak polos Tatiana yang terekspos. "Hari pertama menjadi istriku, apa kesanmu?" Tanya Kaliel.Tatiana meringis, mencoba membalikkan badannya untuk menghadap Kaliel. Namun, gerakan berputar itu langsung memicu rasa pegal yang luar biasa di pinggang dan bagian bawah tubuhnya.
Cincin emas putih berdesain elegan yang kini melingkar di jari masing-masing menjadi tanda yang mengikat mereka. Kilau logam mulia itu seolah mempertegas status baru mereka di hadapan dunia kecil yang menghadiri pernikahan ini. Tatiana kini sepenuhnya menjadi milik Kaliel, begitu juga sebaliknya.Ada rasa hangat sekaligus aneh yang menjalar di dada Tatiana saat merasakan dinginnya cincin itu menyentuh kulit jarinya.Kaliel tidak melepaskan tangan Tatiana bahkan setelah prosesi pertukaran cincin selesai. Pria itu menatap jemari mereka yang saling bertautan, lalu membawa punggung tangan Tatiana ke depan bibirnya, mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan penuh penekanan di sana."Kau tidak bisa lari ke mana pun lagi sekarang, Istriku," bisik Kaliel nyaris tak terdengar oleh orang lain, namun berhasil
Kaliel mematung. Kata yang baru saja diucapkan Tatiana seolah menolak untuk dicerna oleh otaknya yang biasa berpikir cepat. Untuk pertama kalinya, Kaliel terlihat linglung di tempat umum."Hamil? Kau? Kita?" tanya Kaliel beruntun, suaranya terdengar putus-putus dengan tatapan mata yang bergerak gelisah, mencoba mencari kepastian di wajah Tatiana.Melihat respons lambat pria di depannya, sumbu pendek emosi Tatiana yang dipicu hormon kehamilan kembali menyala. Rasa haru dan rapuh yang tadi menggelayutinya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa jengkel yang luar biasa.Tatiana langsung mendengus tajam, melepaskan cengkeramannya pada kemeja pria itu. "Aku tidak bisa hamil sendiri, dasar pria aneh!" ketusnya dengan mata melotot, membuat beberapa pengunjung mall yang lewat sempat menoleh sekilas. 
Tatiana hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan lenguhan yang hampir lolos saat kecupan-kecupan kecil Kaliel berpindah ke bahunya. Sentuhan pria itu selalu berhasil membuatnya lemas."Sudah, Kaliel... lepaskan dulu. Aku mau mandi," bisik Tatiana sambil menepuk pelan lengan yang masih mengunci pinggangnya.Kaliel mendengus pelan, namun akhirnya melonggarkan kunkungannya dengan enggan. "Mandilah. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makan siang yang enak untukmu. Jangan coba-coba kabur dari meja makan seperti kemarin."Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara gemercik air shower terdengar, Tatiana menyandarkan punggungnya pada pintu. Ia memejamkan mata erat-erat. Hasrat seksualnya yang melonjak drastis bela
Mobil SUV hitam itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan kayu dua lantai yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Papan nama neon bertuliskan “Belver Lihil” berkedip-kedip t
Tatiana sedang menikmati sepotong ayam berbumbu madu dengan tenang ketika bayangan besar Bram menutupi meja hidangan di depannya. Edward yang tadinya berdiri agak jauh, segera melangkah mendekat, memposisikan dirinya di samping Tatiana sebagai bentuk perlindungan.&
Mobil mewah Kaliel berhenti tepat di depan karpet merah gedung pertemuan paling bergengsi di pusat Onyx. Lampu kristal dari dalam gedung berpendar hingga ke halaman, menciptakan atmosfer mewahan yang terkesan dipamerkan. Begitu pintu mobil terbuka, Kaliel turun leb
Laura duduk dengan punggung tegak di sofa lobi, wajahnya menunjukkan kekesalan yang tidak ia sembunyikan. Begitu Tatiana mendekat, pengacara itu langsung memberikan tatapan yang seolah bisa menembus tulang."Aku m







