Share

02.

Author: silent-arl
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-07 17:33:40

Cengkeraman di dagu Tatiana terasa begitu nyata. Dingin, keras, dan menuntut jawaban. Namun, alih-alih gemetar ketakutan seperti karakter Elise yang biasanya ia tulis, otak Tatiana yang sedang error justru mengirimkan sinyal yang salah.

"Wah..." gumam Tatiana pelan. Matanya yang bulat menatap lurus ke arah pori-pori kulit pria di depannya. "Halus banget. Aku nulis dia pakai perawatan apa, ya?"

Tanpa aba-aba, Tatiana mengangkat telunjuknya dan... Ia mencolek pipi Kaliel. Sekali. Lalu dua kali, memastikan apakah jari tangannya akan menembus bayangan atau tidak.

"Lembut," bisik Tatiana dengan wajah tanpa dosa. "Mimpinya terasa nyata banget. Bau parfumnya juga mahal.”

Rahang Kaliel menegang. Mata birunya yang sedalam samudra itu berkilat berbahaya. Ia melepaskan dagu Tatiana dengan sentakan kecil, seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.

"Kau... baru saja menyentuhku?" dengus Kaliel, terdengar seperti geraman singa yang terganggu tidurnya.

Tatiana tidak menghiraukan tatapan mematikan itu. Ia justru mulai panik sendiri saat menyadari pipi itu tetap terasa padat dan hangat. Ia mencubit lengannya sendiri. Aduh! Sakit!

Wajah Tatiana mendadak pucat pasi. Ia menatap sekeliling, peron yang canggih, robot-robot pembersih yang melintas, dan pria di depannya yang tampak ingin menelannya hidup-hidup.

"Tunggu, kalau ini bukan mimpi... berarti..." Tatiana menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya bergetar panik. "Berarti aku beneran mati?! Aku serangan jantung di kereta dan ini… neraka?”

"Apa yang kau bicarakan, Gadis Gila?" Kaliel melangkah maju, hendak memanggil pengawalnya.

Tapi Tatiana sudah terlanjur histeris. Dalam puncak kebingungannya, ia justru merangsek maju dan menyambar kedua kerah mantel mahal Kaliel. Ia menariknya dengan kuat hingga wajah pria itu tertunduk tepat di depan wajahnya.

"Heh, Kaliel. Kalau aku mati, harusnya aku masuk surga yang ada taman bunganya, bukan neraka yang isinya mafia seperti kamu!" teriak Tatiana sambil mengguncang-guncang kerah mantel itu. "Kenapa aku malah ketemu tokoh antagonis ciptaanku sendiri? Apa dosaku sebanyak itu sampai aku harus dikurung di naskah yang membuatku putus asa ini.”

Kaliel membeku. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai penguasa Sektor Onyx, ada seorang wanita yang berani menarik kerahnya, berteriak di depan wajahnya, dan mengatai dirinya sebagai 'tokoh antagonis'.

Napas hangat Tatiana menerpa wajah Kaliel, dan aroma bunga mawar dari sampo gadis itu entah bagaimana merusak konsentrasi sang mafia.

"Lepaskan. Tanganmu. Dari. Mantelku." Kaliel mengeja setiap kata dengan nada yang sanggup membuat nyali orang biasa menciut.

Tapi Tatiana justru makin kencang menariknya. "Tidak mau! Balikin aku ke dunia nyata! Aku belum mau mati sebelum lihat Pak Bram bangkrut! Kaliel, kau tahu maksudku, kan?”

*** 

Kaliel menyentak tangan Tatiana hingga pegangan gadis itu pada mantelnya terlepas. Ia merapikan kerahnya dengan gerakan kasar, matanya memancarkan permusuhan yang membara.

"Cukup sandiwaranya," desis Kaliel. Suaranya kini sedingin es di kutub. "Aku tidak tahu siapa yang mengirimmu atau obat apa yang kau konsumsi hingga kau bertingkah seperti orang gila. Tapi satu hal yang pasti..."

Kaliel memberi isyarat pada dua pengawal berseragam hitam yang muncul dari balik pilar peron. "Bawa dia ke pusat detensi. Pastikan dia tidak mati sebelum menjelaskan bagaimana dia bisa menembus keamanan keretaku."

Kaliel berbalik, berniat meninggalkan Tatiana tanpa menoleh lagi. Mantel panjangnya berkibar tertiup angin buatan dari ventilasi stasiun.

"Kaliel, tunggu!" teriak Tatiana, suaranya melengking di tengah kesunyian peron. "Kau mau ke mana? Kau tidak akan menemui Elise, kan?”

Langkah kaki Kaliel terhenti seketika. Tubuhnya menegang, punggungnya terlihat kaku di bawah balutan mantel mahal itu. Ia berbalik perlahan, matanya menyipit penuh selidik.

Tatiana, yang masih berusaha mengatur napasnya yang memburu, melanjutkan dengan polos namun tajam. "Jangan bilang kau mau menemui wanita itu sekarang. Kau tahu tidak, kalau di bab... maksudku, kalau sebenarnya dia itu kubuat sebagai mata-mata?"

Suasana di peron mendadak terasa membeku. Para pengawal Kaliel bahkan berhenti bergerak, seolah-olah kata 'mata-mata' adalah mantra terlarang yang tidak boleh diucapkan.

Kaliel melangkah mendekat kembali. Kali ini, ia tidak mencengkeram dagu Tatiana. Ia justru berdiri sangat dekat hingga bayangan tubuhnya yang tinggi menenggelamkan sosok Tatiana. Ia menunduk, membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. 

"Apa yang kau katakan tentang kekasihku?" tanya Kaliel, suaranya sangat rendah dan berbahaya.

Tatiana menghela napas panjang. Ia yang membuat semua cerita ini, tentu saja dia tahu rahasia dibalik kesempurnaan Elise, si pemeran wanita yang dikagumi. 

"Dengarkan aku, Kaliel. Elise. Dia cantik, kan? Dia lembut, kan? Tapi dia juga yang sedang menyiapkan bom mematikan di bawah meja kerjamu sekarang, Kaliel. Dia ingin menghancurkanmu dan Sektor Onyx demi organisasinya." ujarnya penuh bangga. Tatiana sangat puas ketika menulis bab dimana Kaliel memohon pada Elise agar gadis itu tidak meninggalkannya. 

Tatiana mengedikan bahu, menatap Kaliel dengan tatapan percaya diri. "Aku yang membuat dia semenyebalkan itu, jadi aku tahu persis kapan dia akan menusukmu dari belakang."

Kaliel terdiam lama.

Seharusnya aku tidak bisa mati lagi. Batin Tatiana kacau ketika tatapan mata Kaliel tak berpindah dari wajahnya. Jantung Tatiana berdegup kencang bukan cuma karena takut, tapi karena jarak mereka yang sangat dekat hingga ia bisa mencium aroma tubuh Kaliel yang memabukkan.

"Siapa sebenarnya kau?" tanya Kaliel lagi, kali ini tanpa nada meremehkan. Ada sedikit keraguan dan rasa ingin tahu yang besar di matanya. "Bagaimana kau tahu sedetail itu, tentang… Elise?”

Tatiana nyengir lalu menyilangkan tangannya di depan dada. "Aku? Aku cuma orang yang dituduh plagiat karena menciptakan pria sepertimu."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 140

    Malam pun tiba membawa hawa dingin khas hutan pinus yang mulai menusuk kulit. Setelah menyantap makan malam hangat buatan Kaliel yang habis tanpa sisa, mereka berdua kini duduk bersama di teras pondokan kayu. Kaliel duduk di sebuah kursi kayu panjang dengan Tatiana yang bersandar nyaman di dadanya, terbungkus selimut wol tebal yang sama. Di depan mereka, kegelapan hutan tampak pekat dan sunyi, hanya diterangi oleh pendar lampu teras yang temaram.Tatiana menatap lurus ke dalam barisan pepohonan yang gelap gulita. Pikiran random khas ibu hamil mendadak melintas di kepalanya."Bagaimana kalau ada beruang yang datang?" tanya Tatiana tiba-tiba, memecah keheningan malam.Kaliel yang sedang mengusap lengan Tatiana dengan ritme teratur langsung menghentikan gerakannya sesaat. Ia terkekeh, suara beratnya bergetar di punggun

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 139

    Bulan madu sama sekali tidak masuk ke dalam daftar rencana Tatiana dan Kaliel. Setidaknya, itulah yang Tatiana ketahui sejak awal. Dengan situasi kehamilan yang mendadak dan segala urusan birokrasi yang harus Kaliel selesaikan pasca-pernikahan tercepat mereka, Tatiana sudah cukup bersyukur bisa menikmati sarapan tenang tanpa gangguan seperti kemarin.Namun, Kaliel tetaplah Kaliel, pria penuh kejutan yang tidak pernah bisa ditebak jalannya.Alih-alih membawa Tatiana kembali ke rutinitas Sektor Onyx yang kaku, pagi itu Kaliel langsung mendudukkan Tatiana di kursi penumpang mobil SUV hitam miliknya. Tanpa penjelasan apa pun, Kaliel melajukan kendaraan membelah jalanan sepi, membawa mereka pergi jauh meninggalkan area hotel.Perjalanan itu memakan waktu berjam-jam. Tatiana hanya bisa menatap keluar jendela saat pemandan

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 138

    Sensasi pertama yang menyadarkan Tatiana dari tidurnya bukanlah alarm atau silau fajar, melainkan embusan napas hangat yang teratur di tengkuknya. Saat mencoba merenggangkan otot-ototnya, ia langsung terkunci oleh beban berat dari lengan kekar yang melingkar erat di pinggangnya. Di balik selimut tebal yang membungkus mereka, kulit telanjangnya menempel tanpa sekat pada dada bidang Kaliel yang terasa panas.Kaliel rupanya sudah terbangun lebih dulu. Merasakan geliat kecil dari wanita dalam dekapannya, ia mempererat pelukannya lalu mengecup pundak polos Tatiana yang terekspos. "Hari pertama menjadi istriku, apa kesanmu?" Tanya Kaliel.Tatiana meringis, mencoba membalikkan badannya untuk menghadap Kaliel. Namun, gerakan berputar itu langsung memicu rasa pegal yang luar biasa di pinggang dan bagian bawah tubuhnya.

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 137

    Cincin emas putih berdesain elegan yang kini melingkar di jari masing-masing menjadi tanda yang mengikat mereka. Kilau logam mulia itu seolah mempertegas status baru mereka di hadapan dunia kecil yang menghadiri pernikahan ini. Tatiana kini sepenuhnya menjadi milik Kaliel, begitu juga sebaliknya.Ada rasa hangat sekaligus aneh yang menjalar di dada Tatiana saat merasakan dinginnya cincin itu menyentuh kulit jarinya.Kaliel tidak melepaskan tangan Tatiana bahkan setelah prosesi pertukaran cincin selesai. Pria itu menatap jemari mereka yang saling bertautan, lalu membawa punggung tangan Tatiana ke depan bibirnya, mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan penuh penekanan di sana."Kau tidak bisa lari ke mana pun lagi sekarang, Istriku," bisik Kaliel nyaris tak terdengar oleh orang lain, namun berhasil

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 136

    Kaliel mematung. Kata yang baru saja diucapkan Tatiana seolah menolak untuk dicerna oleh otaknya yang biasa berpikir cepat. Untuk pertama kalinya, Kaliel terlihat linglung di tempat umum."Hamil? Kau? Kita?" tanya Kaliel beruntun, suaranya terdengar putus-putus dengan tatapan mata yang bergerak gelisah, mencoba mencari kepastian di wajah Tatiana.Melihat respons lambat pria di depannya, sumbu pendek emosi Tatiana yang dipicu hormon kehamilan kembali menyala. Rasa haru dan rapuh yang tadi menggelayutinya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa jengkel yang luar biasa.Tatiana langsung mendengus tajam, melepaskan cengkeramannya pada kemeja pria itu. "Aku tidak bisa hamil sendiri, dasar pria aneh!" ketusnya dengan mata melotot, membuat beberapa pengunjung mall yang lewat sempat menoleh sekilas. 

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   135.

    Tatiana hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan lenguhan yang hampir lolos saat kecupan-kecupan kecil Kaliel berpindah ke bahunya. Sentuhan pria itu selalu berhasil membuatnya lemas."Sudah, Kaliel... lepaskan dulu. Aku mau mandi," bisik Tatiana sambil menepuk pelan lengan yang masih mengunci pinggangnya.Kaliel mendengus pelan, namun akhirnya melonggarkan kunkungannya dengan enggan. "Mandilah. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makan siang yang enak untukmu. Jangan coba-coba kabur dari meja makan seperti kemarin."Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara gemercik air shower terdengar, Tatiana menyandarkan punggungnya pada pintu. Ia memejamkan mata erat-erat. Hasrat seksualnya yang melonjak drastis bela

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   102.

    Kaliel bangkit dari kursinya dengan kasar, mengabaikan Joe yang sempat memanggil namanya untuk menahan kepergiannya. Dokumen-dokumen di atas meja tidak lagi menarik perhatiannya. Pikirannya buntu, dipenuhi oleh kabut kemarahan yang pekat.

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   101.

    Jalanan aspal yang menghubungkan antar-sektor membentang sepi di depan mereka. Di dalam mobil yang sepi itu, dua pria duduk bersebelahan dengan canggung, hanya ditemani oleh suara raungan mesin mobil yang dipacu dalam kecepatan sedang.

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   100.

    Setelah membersihkan diri dan merapikan pakaian mereka, Tatiana dan Kaliel akhirnya turun ke lantai bawah bersama-sama. Tatiana memilih pakaian yang longgar untuk menyembunyikan rasa pegal di tubuhnya, sementara Kaliel berjalan di sisinya dengan langkah santai dan

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   99.

    Semburat cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menerangi kamar yang kini tampak seperti medan pertempuran gairah semalam. Kaliel terbangun lebih dulu. Dengan tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun, ia menumpu tubuh dengan satu sikut

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status