MasukMobil SUV hitam itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan kayu dua lantai yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Papan nama neon bertuliskan “Belver Lihil” berkedip-kedip tidak stabil, suasana jadi lebih mirip set film horor daripada tempat istirahat.
Kaliel tidak segera mematikan mesin. Ia menatap bangunan itu dengan
Suasana kamar sudah sepenuhnya sunyi ketika jarum jam dinding melewati angka dua malam. Hanya ada suara dengung halus dari pendingin ruangan dan lampu tidur yang menyelimuti ranjang besar mereka.Kaliel, yang sejak tadi tidak benar-benar terlelap, perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, mendapati Tatiana masih terjaga, bersandar malas dengan mata yang sayu namun menatapnya balik. Keheningan malam itu mendadak terasa pekat oleh sisa gairah yang sempat mereka tunda beberapa jam lalu.Mencoba peruntungannya, Kaliel bergeser mendekat. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap tengkuk Tatiana, lalu menunduk, mendaratkan kecupan dalam dan lembut di bibir istrinya. Ciuman yang awalnya pelan itu perlahan berubah menjadi hisapan menuntut yang sarat akan kerinduan sebulan penuh.Ketika tautan bibir mereka terlepas, Kaliel
Sore itu, angin berembus perlahan, membawa kesejukan di teras depan rumah yang megah. Sesuai dengan saran dokter untuk lebih banyak menghirup udara segar, Tatiana duduk santai di kursi malas yang nyaman. Salah satu tangannya bergerak telaten, mengelus permukaan perutnya yang terasa tenang dan lembut.Anehnya, sejak Kaliel berangkat ke kantor pagi tadi, si kecil di dalam kandungan sama sekali tidak membuat ulah. Tidak ada tendangan beruntun, tidak ada gerakan heboh yang membuat ibunya kesakitan seperti beberapa hari lalu.Tatiana menunduk, menatap perut buncitnya dengan senyum kecil yang geli sekaligus heran. "Kenapa kau sangat diam saat tidak ada Ayah, Nak?" bisiknya lembut, suaranya mengalun pelan di keheningan sore.Ia mengetuk pelan perutnya dengan ujung jari, mencoba memancing respons yang tak kunjung datang. "K
Begitu mendengar lampu hijau dari dokter, Kaliel tidak membuang waktu lagi. Ia langsung menangkup pinggang Tatiana, membantunya turun dari ranjang periksa dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah wanita itu terbuat dari kaca yang paling rapuh."Terima kasih, Dok. Kami permisi," ujar Kaliel pendek, suaranya terdengar lebih tergesa-gesa dari biasanya.Sepanjang jalan menuju mobil, Kaliel tidak melepaskan rangkulannya pada bahu Tatiana. Perjalanan pulang kali ini terasa jauh berbeda dari keberangkatan mereka. Atmosfernya tidak lagi mencekam oleh kecemasan, melainkan dipenuhi oleh ketegangan jenis baru, gairah yang tertahan selama sebulan penuh kini menguar pekat, memenuhi setiap sudut kabin mobil.Tatiana hanya bisa menatap keluar jendela dengan pipi yang masih terasa panas. Ia tidak berani melirik suaminya yang du
Empat minggu yang terasa seperti satu dekade bagi Kaliel akhirnya berlalu. Hari ini, ruangan dokter spesialis Sektor Onyx kembali menjadi saksi ketegangan yang sunyi. Tatiana berbaring dengan gaun hamil yang nyaman, sementara Kaliel berdiri di sampingnya seperti patung bernyawa, matanya lurus mengunci layar monitor USG.Dokter menggerakkan transduser di atas perut Tatiana yang kini sudah semakin menonjol di usia kehamilan enam bulan. Keheningan di ruangan itu terasa begitu pekat saat dokter mengamati layar dengan saksama, sesekali dahi pria paruh baya itu berkerut tipis."Bagaimana, Dok?" tanya Tatiana memecah kesunyian, suaranya terdengar cemas. Ia meremas jemari Kaliel yang sejak tadi menggenggamnya erat.Dokter menjauhkan alat pemindai, lalu mengambil tisu untuk membersihkan gel di perut Tatiana. Ia mengembuskan
Hari pertama dari hukuman empat minggu tanpa sentuhan dimulai hari ini.Begitu fajar menyingsing di jendela kamar utama rumah, mata Kaliel langsung terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah Tatiana yang masih tertidur pulas di sampingnya. Namun, alih-alih berlama-lama di ranjang seperti kebiasaannya selama empat bulan terakhir, Kaliel dengan gerakan secepat kilat langsung menyibak selimut dan turun dari tempat tidur.Pria itu bergegas melangkah keluar kamar bahkan sebelum Tatiana sempat menggeliat bangun.Bukan tanpa alasan Kaliel melarikan diri sepagi ini. Kaliel tahu betul di mana letak titik lemahnya. Tatiana di pagi hari dengan rambut yang berantakan acak-acakan, suara serak khas bangun tidur, dan mata yang mengerjap setengah mengantuk adalah pemandangan paling berbahaya bagi pertahanan dirinya. Apalagi sekarang
Siang itu, ruang praktik dokter spesialis yang sedari awal menangginya terasa begitu tenang dan privat, persis seperti yang diperintahkan Kaliel. Tatiana berbaring di atas ranjang periksa yang dilapisi kain putih bersih. Dengan gerakan pelan, ia mengangkat sedikit bagian bawah kaus hijau muda longgar yang dikenakannya, menyingkap perutnya yang kini sudah membulat kencang di usia kehamilan memasuki bulan kelima.Dokter mengoleskan gel transparan yang terasa dingin di kulit perut Tatiana, lalu mulai menggerakkan USG dengan lihai. Di sebelah ranjang, Kaliel berdiri tegak dengan melipat tangan di dada, matanya tak berkedip menatap layar monitor yang menampilkan siluet hitam-putih samar."Bagaimana, Tatiana? Apa ada keluhan selama beberapa minggu terakhir?" tanya dokter ramah sambil terus memindai.Tatiana menggeleng les
Tatiana meringis sedikit saat plester itu menempel di kulitnya, namun ada hal yang mengganjal dalam pikirannya. Ia menatap Kaliel yang masih sibuk merapikan kotak P3K. "Apa kau ingat nama gadis itu?" tanya Tatiana hati-hati. Kaliel terdiam sejenak, tangannya berhenti bergerak. "Selena. Selena Lil
Pintu baja itu terbanting terbuka dengan suara dentuman hingga kacanya bergetar.Kaliel menerjang masuk dengan kemarahan yang membakar sekujur tubuhnya. Ia menyambar lengan Tatiana, menariknya menjauh dengan kasar hingg
Tatiana terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung beranjak dari tempat tidur, melainkan bertumpu pada sikunya untuk mengamati pria yang tidur di sampingnya. Dalam tidurnya, wajah Kaliel tampak begitu tenang dan memukau.T
Suara burung berkicau mulai mengganti suara jangkrik ketika pagi sudah mulai datang. Kaliel tidak tidur sedetik pun. Ia segera membangunkan Tatiana dengan tepukan lembut di bahunya saat kabut di luar mulai menipis. "Bangun, Tatiana. Kita harus kembali ke Onyx," bisik Kaliel.Tatiana mengucek matan







