LOGINSatu tahun berlalu, dan waktu perlahan-lahan melakukan tugasnya, bukan menghapus luka, tapi menumpuknya dengan rutinitas hingga terasa lebih ringan dipikul.
Buku itu akhirnya terbit. Sebuah novel berjudul Gone yang ditulis dengan nama anonim, meledak di pasaran. Orang-orang mengagumi betapa emosionalnya setiap baris kalimat di dalamnya, tanpa tahu bahw
Sore itu, angin berembus perlahan, membawa kesejukan di teras depan rumah yang megah. Sesuai dengan saran dokter untuk lebih banyak menghirup udara segar, Tatiana duduk santai di kursi malas yang nyaman. Salah satu tangannya bergerak telaten, mengelus permukaan perutnya yang terasa tenang dan lembut.Anehnya, sejak Kaliel berangkat ke kantor pagi tadi, si kecil di dalam kandungan sama sekali tidak membuat ulah. Tidak ada tendangan beruntun, tidak ada gerakan heboh yang membuat ibunya kesakitan seperti beberapa hari lalu.Tatiana menunduk, menatap perut buncitnya dengan senyum kecil yang geli sekaligus heran. "Kenapa kau sangat diam saat tidak ada Ayah, Nak?" bisiknya lembut, suaranya mengalun pelan di keheningan sore.Ia mengetuk pelan perutnya dengan ujung jari, mencoba memancing respons yang tak kunjung datang. "K
Begitu mendengar lampu hijau dari dokter, Kaliel tidak membuang waktu lagi. Ia langsung menangkup pinggang Tatiana, membantunya turun dari ranjang periksa dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah wanita itu terbuat dari kaca yang paling rapuh."Terima kasih, Dok. Kami permisi," ujar Kaliel pendek, suaranya terdengar lebih tergesa-gesa dari biasanya.Sepanjang jalan menuju mobil, Kaliel tidak melepaskan rangkulannya pada bahu Tatiana. Perjalanan pulang kali ini terasa jauh berbeda dari keberangkatan mereka. Atmosfernya tidak lagi mencekam oleh kecemasan, melainkan dipenuhi oleh ketegangan jenis baru, gairah yang tertahan selama sebulan penuh kini menguar pekat, memenuhi setiap sudut kabin mobil.Tatiana hanya bisa menatap keluar jendela dengan pipi yang masih terasa panas. Ia tidak berani melirik suaminya yang du
Empat minggu yang terasa seperti satu dekade bagi Kaliel akhirnya berlalu. Hari ini, ruangan dokter spesialis Sektor Onyx kembali menjadi saksi ketegangan yang sunyi. Tatiana berbaring dengan gaun hamil yang nyaman, sementara Kaliel berdiri di sampingnya seperti patung bernyawa, matanya lurus mengunci layar monitor USG.Dokter menggerakkan transduser di atas perut Tatiana yang kini sudah semakin menonjol di usia kehamilan enam bulan. Keheningan di ruangan itu terasa begitu pekat saat dokter mengamati layar dengan saksama, sesekali dahi pria paruh baya itu berkerut tipis."Bagaimana, Dok?" tanya Tatiana memecah kesunyian, suaranya terdengar cemas. Ia meremas jemari Kaliel yang sejak tadi menggenggamnya erat.Dokter menjauhkan alat pemindai, lalu mengambil tisu untuk membersihkan gel di perut Tatiana. Ia mengembuskan
Hari pertama dari hukuman empat minggu tanpa sentuhan dimulai hari ini.Begitu fajar menyingsing di jendela kamar utama rumah, mata Kaliel langsung terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah Tatiana yang masih tertidur pulas di sampingnya. Namun, alih-alih berlama-lama di ranjang seperti kebiasaannya selama empat bulan terakhir, Kaliel dengan gerakan secepat kilat langsung menyibak selimut dan turun dari tempat tidur.Pria itu bergegas melangkah keluar kamar bahkan sebelum Tatiana sempat menggeliat bangun.Bukan tanpa alasan Kaliel melarikan diri sepagi ini. Kaliel tahu betul di mana letak titik lemahnya. Tatiana di pagi hari dengan rambut yang berantakan acak-acakan, suara serak khas bangun tidur, dan mata yang mengerjap setengah mengantuk adalah pemandangan paling berbahaya bagi pertahanan dirinya. Apalagi sekarang
Siang itu, ruang praktik dokter spesialis yang sedari awal menangginya terasa begitu tenang dan privat, persis seperti yang diperintahkan Kaliel. Tatiana berbaring di atas ranjang periksa yang dilapisi kain putih bersih. Dengan gerakan pelan, ia mengangkat sedikit bagian bawah kaus hijau muda longgar yang dikenakannya, menyingkap perutnya yang kini sudah membulat kencang di usia kehamilan memasuki bulan kelima.Dokter mengoleskan gel transparan yang terasa dingin di kulit perut Tatiana, lalu mulai menggerakkan USG dengan lihai. Di sebelah ranjang, Kaliel berdiri tegak dengan melipat tangan di dada, matanya tak berkedip menatap layar monitor yang menampilkan siluet hitam-putih samar."Bagaimana, Tatiana? Apa ada keluhan selama beberapa minggu terakhir?" tanya dokter ramah sambil terus memindai.Tatiana menggeleng les
Malam pun tiba membawa hawa dingin khas hutan pinus yang mulai menusuk kulit. Setelah menyantap makan malam hangat buatan Kaliel yang habis tanpa sisa, mereka berdua kini duduk bersama di teras pondokan kayu. Kaliel duduk di sebuah kursi kayu panjang dengan Tatiana yang bersandar nyaman di dadanya, terbungkus selimut wol tebal yang sama. Di depan mereka, kegelapan hutan tampak pekat dan sunyi, hanya diterangi oleh pendar lampu teras yang temaram.Tatiana menatap lurus ke dalam barisan pepohonan yang gelap gulita. Pikiran random khas ibu hamil mendadak melintas di kepalanya."Bagaimana kalau ada beruang yang datang?" tanya Tatiana tiba-tiba, memecah keheningan malam.Kaliel yang sedang mengusap lengan Tatiana dengan ritme teratur langsung menghentikan gerakannya sesaat. Ia terkekeh, suara beratnya bergetar di punggun
Kaliel memijat tengkuk lehernya, tampak berusaha meredam egonya sendiri demi mencapai kesepakatan. Ia tahu jika ia terus membantah, Tatiana benar-benar tidak akan pernah mau menginjakkan kaki lagi di Sektor Onyx.
Edward tidak membuang waktu. Baginya, kata-kata Tatiana tadi hanyalah luapan emosi sesaat yang tidak logis dan tidak relevan dengan tujuannya yang lebih besar. Ia bangkit, merapikan kemeja putinya tanpa sepatah kata pun, dan melangkah keluar.
Ketegangan di teras itu terpecah ketika seorang pria tua muncul dari balik pintu sambil membawa baki berisi teko teh dan beberapa gelas. Ia memandang Kaliel dan Edward bergantian, lalu tersenyum lebar seolah tidak merasakan hawa dingin yang memancar dari kedua pria
Edward duduk di dalam mobil hitamnya yang terparkir di ujung jalan. Di tangannya bukan lagi laporan keuangan atau semua perintah yang Bram minta, melainkan sebuah tablet yang menampilkan data pelacakan GPS dari armada taksi kota.







