LOGIN“Aku memilihnya.” Satu kalimat dari Alpha Morrigan cukup untuk membuat seluruh pack gemetar. Masalahnya yang ia pilih adalah Lunara Fenrirsson, omega terbuang, anak pengkhianat, darah yang seharusnya tidak pernah dibiarkan hidup. Mate bond mereka adalah kesalahan dan Dewan Tetua tidak pernah membiarkan kesalahan bertahan lama. Dalam satu malam, Lunara kehilangan segalanya, ingatannya dihancurkan dan garis keturunannya disamarkan dengan sihir segel terlarang, dan ia dibuang ke dunia manusia sebagai perempuan biasa yang bahkan tidak mengingat namanya sendiri dan tanpa masa lalu. Alpha merasakan ikatan itu menghilang seperti benang yang terputus di kegelapan. Lima tahun kemudian, ia bukan lagi sekadar pemimpin pack. Ia menjadi penguasa wilayah dan pria paling berkuasa yang ditakuti dan dihormati di dunia manusia dan serigala. Kaya, kuat, dan tak tersentuh, tapi ia masih merasakan kekosongan di dadanya. Sementara itu, seorang pelayan restoran di sudut kota bermimpi tentang mata hitam yang tidak ia kenal dan hutan yang terasa seperti rumah. Mereka pikir dengan menghapusnya, semuanya akan selesai. Mereka salah, karena ketika omega yang dibuang itu mengingat siapa dirinya tidak ada takhta yang akan selamat.
View MoreDarah Lunara Fenrirsson jatuh ke tanah lebih dulu sebelum tubuhnya. Ia tersungkur di halaman batu Pack Blackmoon dan lututnya menghantam tanah basah yang dingin. Napasnya tercekik bukan hanya oleh rasa sakit, tapi oleh tawa yang pecah di sekelilingnya, tawa para manusia serigala yang merasa berhak menginjaknya.
“Bangun, Omega sialan!" bentak seseorang. Rambut perak Lunara ditarik kasar dari belakang. Kepalanya terhentak ke atas dan memaksa matanya menatap lingkaran wajah-wajah yang penuh hinaan. Mereka bukan hanya sekadar membencinya, tapi mereka juga menikmati penderitaannya. Darian Bloodclaw berdiri paling depan, musuh lamanya dan putra tetua pack. Serigala beta yang merasa dunia berutang padanya. “Kau lambat,” kata Darian sambil menendang tulang kering Lunara. “Alpha memerintahkan kayu bakar dikumpulkan sebelum matahari terbit, tapi lihat dirimu selalu gagal dan selalu membawa sial." Ia berdecak jijik. Lunara menggigit bibirnya sampai darah terasa asin di lidahnya. “Aku sudah ...." PLAK! Tamparan itu membuat kepalanya berputar dan dunia berdenyut putih sesaat. “Jangan jawab sebelum diizinkan! Omega tidak punya suara," hardik Darian. Beberapa anggota pack lain ikut tertawa. Ada yang melempar lumpur ke wajah Lunara dan ada yang meludah ke tanah di dekat kakinya seolah ia bahkan tidak layak terkena ludah langsung. “Anak pengkhianat." Seseorang berbisik cukup keras. “Darah terkutuk.” “Seharusnya dia mati bersama ibunya.” Kalimat terakhir itu menusuk lebih dalam dari pukulan mana pun. Lunara menunduk dan jarinya mencengkeram tanah menahan gemetar yang mengancam keluar. Ia tidak akan menangis di depan mereka dan tidak akan memberi kepuasan itu. Darian jongkok di hadapannya dan menatapnya sejajar. “Kamu tahu kenapa kami masih membiarkanmu hidup?” tanyanya pelan dan suaranya hampir ramah yang justru membuatnya lebih kejam. “Karena Alpha belum memutuskan apa yang akan dilakukan pada sisa darahmu.” Ia menyeringai. “Tapi aku tidak terikat perintah itu.” Tangan Darian berubah. Kuku-kukunya memanjang, tajam, dan berkilau di bawah cahaya pagi. Sebuah cakar menekan dagu Lunara dan memaksa wajahnya terangkat. “Satu kesalahan lagi dan aku pastikan kamu tidak bangun untuk melihat purnama berikutnya," bisiknya. Cakar itu menggores pipi Lunara meskipun tidak dalam, tapi cukup untuk meninggalkan garis merah yang panas dan perih. Jeritan kecil lolos dari tenggorokannya sebelum ia sempat menahannya. “Berisik!" ujar Darian dingin. Ia mendorong Lunara hingga tubuhnya terhempas ke tanah lagi. “Sekarang bangun! Ambil kayu itu atau aku seret kamu ke kandang bawah tanah.” Lunara bangkit dengan gemetar. Tubuhnya sakit di mana-mana, tapi ia tetap berdiri, karena kalau jatuh berarti mati lebih cepat. Saat ia membungkuk mengambil tumpukan kayu, dunia terasa berputar. Bau darahnya sendiri memenuhi udara. Bau kayu basah bercampur darah menempel di tangan Lunara saat ia mengangkat tumpukan itu ke punggungnya. Tali kasar digesekkan Darian ke bahunya tanpa belas kasihan untuk mengikat kayu itu seperti beban bagi hewan pengangkut. “Kalau jatuh lagi, aku biarkan kamu membusuk di hutan,” katanya dingin. Lunara mengangguk tanpa berani menatapnya. Ia sudah belajar bahwa menatap mata anggota pack lain hanya akan mengundang lebih banyak hukuman. Ia melangkah menuju dapur utama pack, bangunan batu besar tempat para manusia serigala makan dan berkumpul. Di sanalah para omega rendahan bekerja dan Lunara berada di paling bawah dari semuanya. Seorang omega perempuan yang lebih tua dan wajahnya penuh bekas luka menyambutnya dengan tatapan iba yang tidak berani terlalu lama. “Cepat! Mereka menunggumu," bisiknya pelan. Lunara meletakkan kayu itu di sudut ruangan. Tangannya gemetar. Darah dari goresan pipinya menetes ke lantai batu, tapi tidak ada yang peduli. “Lunara!” bentak seorang beta perempuan. “Air panas untuk para prajurit sudah siap? Mereka kembali dari patroli!” “A-aku belum ...." Sebuah ember logam dilempar ke arahnya. Ember itu menghantam kakinya dan air panas di dalamnya tumpah ke tangannya dan kulitnya langsung memerah. “Jangan menjawab!” teriak beta itu. “Kamu bukan siapa-siapa di sini. Cepat bersihkan lantai aula! Dan setelah itu, kamu ikut mencuci darah dari arena latihan.” Arena latihan adalah tempat para manusia serigala melampiaskan amarah mereka. Lunara menelan ludahnya. Ia mengambil kain kasar dan mulai menggosok lantai aula, sementara para anggota pack melintas tanpa memperhatikannya. Beberapa sengaja menginjak kain yang ia pakai. Ada yang menumpahkan sisa makanan ke rambut peraknya sambil tertawa. “Cocok untuk anak pengkhianat membersihkan kotoran kami," ujar sang prajurit. Tangan Lunara terasa perih, tapi ia terus menggosok. Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan adalah keyakinan bahwa jika ia cukup patuh, mereka mungkin akan melupakannya. Namun, pack tidak pernah lupa. Di arena latihan, bau darah segar lebih pekat. Dua serigala beta sedang bertarung dan saling mencabik di bawah sorakan anggota pack. Ketika pertarungan selesai, tubuh salah satu tergeletak berdarah. “Bersihkan!" perintah seorang tetua sambil melirik Lunara. Tanpa alat pelindung dan tanpa bantuan, Lunara berlutut di tanah berlumpur menggosok darah yang mengering dengan tangan telanjang. Beberapa prajurit duduk di bangku batu, menonton seolah itu hiburan. “Lihat!" kata salah satu dari mereka sambil tertawa. “Dia lebih mirip budak daripada serigala.” Lunara tidak menjawab, karena ia tidak berani. Saat kainnya menyentuh tanah, getaran aneh muncul. Getaran itu lebih kuat dan lebih dekat seperti ada sesuatu yang menarik napas bersamanya, sesuatu yang tidak bisa ia lihat. Ia mendongak tanpa sadar. Di balkon kediaman Alpha, sosok tinggi berdiri dengan jubah hitam panjang. Rambut gelapnya tertiup angin, setengah wajahnya tertutup topeng hitam, dan matanya hitam seperti malam tanpa bintang terkunci pada dirinya, Alpha Morrigan Raventhorn. Lunara langsung menunduk. Ia tidak tahu mengapa jantungnya berdentum sekeras itu. Ia juga tidak tahu mengapa tubuhnya terasa hangat sekaligus takut. Kain di tangan Lunara jatuh ke tanah saat teriakan menggema di arena. “Cukup!” Suara tetua tua itu menggiring perhatian semua orang. Sorakan mereda dan digantikan bisik-bisik yang haus darah. Tetua Varrek melangkah ke tengah arena dan tongkat hitamnya menghentak batu. Matanya yang keruh menatap Lunara seolah ia bukan makhluk hidup. “Omega ini mengotori arena suci dengan kelalaiannya," katanya lantang. Lunara menegang dan apasnya tersendat. “A-aku sudah membersihkan ...." Tongkat menghantam bahunya. Lunara terjatuh dan darah muncrat dari bibirnya saat batu menghantam rahangnya. “Diam!” bentak Varrek. “Kamu tidak belajar, rupanya.” Darian melangkah maju dan wajahnya penuh kepuasan. “Dia menumpahkan darah prajurit ke saluran air, Tetua, dan mencemari jalur ritual," katanya Itu bohong. Semua orang tahu itu bohong. Namun, pack tidak peduli pada kebenaran. “Bawa dia ke tiang hukuman!" perintah Varrek. Dua beta menarik Lunara tanpa belas kasihan. Tubuhnya diseret melintasi arena, lututnya tergores batu, dan darahnya membentuk jejak merah yang disambut sorakan. “Bakar!” “Cambuk saja!” “Bunuh sebelum purnama!”Kata-kata Ella membuat jantungnya serasa berhenti berdetak dan wajahnya yang semula pucat sekarang menjadi seputih kapas."Manusia serigala?" bisik Ravenna.Ia menggelengkan kepalanya."Tidak, kamu bohong! Morrigan manusia! Dia hanya pria biasa!""Dia membohongimu sejak awal demi insting binatangnya!" bentak Ella.Matanya sesaat berkilat ungu pekat dan menekan mental Ravenna hingga gadis itu mencengkeram sprei tempat tidur dengan gemetar. "Dan sekarang, kaum manusia serigala miliknya sedang menuntut darah. Mereka mengira kamuatau lebih tepatnya klon sihir yang kuciptakan menggunakan wajahmu telah membunuh salah satu dari kawanan mereka di pinggiran kota."Ravenna menatap Ella dengan pandangan kosong, otaknya menolak memercayai semua kegilaan ini. Namun, aura mengerikan dari Ella dan semua kejadian supranatural ini membuat pertahanannya runtuh. "Klon? Pembunuhan? Apa yang akan kamu lakukan padaku?"Ella tersenyum penuh kemenangan dan senyuman yang membuat bulu kuduk Ravenna mere
"Jika itu satu-satunya cara untuk membersihkan nama baik pack, mereka akan menuntutnya, Alpha!" jawab Larry dengan tegas, meskipun napasnya memburu menahan tekanan aura Morrigan yang semakin berat memenuhi ruangan.Larry menatap map hitam yang meremukkan kertas laporan medis di atas meja kerja Morrigan, lalu perlahan menegakkan postur tubuhnya. Aura dingin dan berat di dalam ruangan itu terasa seolah bisa mematahkan tulang, namun sebagai prajurit tertinggi Silver-Claw, ia tahu tugasnya di halaman luar jauh lebih mendesak."Saya rasa tidak ada lagi yang bisa saya laporkan malam ini, Alpha," ucap Larry dengan suara baritonnya yang rendah."Gelombang hasutan Darian di halaman luar harus segera saya redam sebelum fajar menyingsing. Saya tidak akan membiarkan satu pun mereka menerobos masuk ke dalam gedung ini."Morrigan tidak menoleh. Sepasang mata keemasannya masih menatap tajam menembus kegelapan malam dari balik kaca jendela besar ruang kerjanya hanya anggukan kepala samar yang dibe
"Aku akan mengawal mereka sendiri, Alpha," sahut Larry. Ia merasa bertanggung jawab penuh atas keamanan sampel biologis tersebut. "Pergilah, Larry! Pastikan tidak ada satu pun tangan luar yang menyentuh tabung itu," perintah Morrigan. Begitu Larry dan tim medis pergi, koridor bawah tanah kembali sunyi. Morrigan menatap Ezra yang masih bersandar di dinding dengan wajah gelisah. "Ezra, kembali ke atas. Awasi pergerakan Putri Isolde dan Tetua Varrek di ruang tamu agung. Jangan biarkan mereka tahu kita sedang melakukan pemeriksaan domestik seperti ini," ucap Morrigan. "Bagaimana denganmu, Alpha?" tanya Ezra ragu. "Aku akan menunggu hasil laboratorium di sini. Pergilah!" Waktu terus bergulir. Larry berdiri kokoh seperti patung di depan pintu laboratorium dengan tangan melekat pada senjata. Di dalam ruangan steril, kepala dokter Blackmoon pack sedang memasukkan beberapa tetes darah Ravenna ke dalam mesin pemindai spektrum biologis. Mesin tersebut berdegung halus, memp
"Gunakan sisa energi dari pecahan Batu Gerhana Abadi yang kusisipkan di balik pakaianmu," bisik Ella dengan senyum penuh kelicikan. "Ubah resonansi biologis raga tiruan itu. Saat jarum suntik mereka menembus kulitmu besok pagi, pastikan sel-sel yang mereka ambil terdistorsi menjadi darah manusia normal. Biarkan Alpha itu mengira indra serigalanya yang mulai gila bukan raga kita."Ella kemudian pergi menembus bayangan malam bawah tanah, menyisakan Jaxon dan para penjaga yang masih tergeletak tidak sadarkan diri.Malam harinya, ketegangan internal Blackmoon pack yang tersimpan di bawah tanah mendadak terinterupsi oleh sebuah kedatangan yang telah lama direncanakan.Di jalanan Starfield, deretan mobil sedan mewah berwarna hitam legam membelah jalanan, menuju markas utama pack.Konvoi dari Moonshadow pack telah tiba.Di halaman depan markas, Tetua Varrek berdiri tegak dengan jubah adatnya yang megah. Di sampingnya, Larry dan barisan kehormatan prajurit Blackmoon memasang postur kaku
Di kedalaman aula pertemuan di bawah tanah yang jauh dari kamar batu itu, keheningan malam telah pecah oleh kemarahan yang suci. Para tetua dewan berjubah abu-abu yang telah hidup lebih lama dari sejarah pack itu sendiri mendadak bangkit dari kursi batu mereka. Mereka tidak butuh mata untuk melihat,
Langit mulai menggelap ketika langkah Darian benar-benar menghilang di balik hutan utara. Angin yang semula hanya berembus berubah lebih dingin seolah wilayah itu sendiri menelan satu jiwa lagi ke dalam kebuasannya. Lapangan pack masih diselimuti ketegangan yang belum sepenuhnya reda, tidak ada sa
Diantara barisan yang mulai berpencar, satu sosok berdiri kaku dengan aura yang tidak lagi tunduk sepenuhnya. “Darian.” Suara Morrigan memotong langkahnya. Seluruh lapangan kembali sunyi. Darian menoleh perlahan. “Morrigan." Ia tetap menunduk hormat, tapi tidak lagi dengan kepatuhan yang sa
“Ke dunia manusia.” Jawaban Sheltra membuat udara di ruang bawah tanah itu membeku. Beberapa tetua langsung menoleh tajam. “Mustahil. Ia darah murni," desis salah satu. “Justru karena itu, karena darah murni paling aman jika tidak seorang pun bisa mengenalinya," sahut Sheltra. Varrek menyi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews