Share

Bab 5

Author: Miarosa
last update publish date: 2026-03-02 08:47:43

“Ke dunia manusia.”

Jawaban Sheltra membuat udara di ruang bawah tanah itu membeku.

Beberapa tetua langsung menoleh tajam.

“Mustahil. Ia darah murni," desis salah satu.

“Justru karena itu, karena darah murni paling aman jika tidak seorang pun bisa mengenalinya," sahut Sheltra.

Varrek menyipitkan mata. “Kau ingin membuangnya begitu saja?”

“Bukan membuang,” koreksi Sheltra halus. “Tapi menghapus.”

Ia berdiri perlahan dan berjalan ke tengah lingkaran simbol. Ujung jarinya menyentuh ukiran kuno yang hampir terhapus waktu.

“Aku akan mengaktifkan Segel Tanda Pengabur Garis Darah."

Nama itu membuat beberapa tetua menarik napas pelan.

“Segel itu dilarang,” gumam Orven.

“Segel itu efektif,” balas Sheltra.

Api di tengah lingkaran bergetar saat ia melanjutkan.

“Segel itu akan menghapus jejak garis keturunannya. Auranya akan memudar. Darahnya akan tampak biasa. Omega itu akan terlihat seperti manusia.”

“Dan mate bond?” tanya Varrek.

“Tidak hilang, tapi menjadi tumpul dan terhalang. Alpha akan merasakannya seperti bayangan jauh seperti mimpi yang tak bisa ia sentuh," jawab Sheltra.

“Efek sampingnya?” tanya tetua tertua yang lain.

Sheltra tersenyum tipis. “Ia akan lupa.”

Api kecil itu seolah mengecil mendengar kata itu.

“Tidak sepenuhnya, karena untuk benar-benar menghapus memori, kita harus menghancurkan jiwanya. Kita tidak akan sejauh itu," lanjutnya.

Ia mengangkat tangan.

“Kita gunakan Segel Retakan Ingatan.”

Varrek mengerutkan kening. “Segel retakan ingatan?"

Sheltra mengangguk.

“Ingatannya tidak akan lenyap hanya pecah menjadi fragmen-fragmen tanpa akses. Ia mungkin bermimpi dan mungkin merasa kehilangan sesuatu, tapi ia tak akan tahu apa.”

“Dan instingnya?” bisik seseorang.

“Segel Tanda Pengabur Garis Darah akan melemahkannya. Instingnya akan menurun. Rentan dan tersesat.”

Varrek menatap api lama.

“Dan jika suatu hari Alpha menemukannya?”

Sheltra menoleh pelan. “Tanpa ritual kuno untuk membaca darahnya, ia tak akan tahu siapa dia sebenarnya.”

“Dan jika ia melakukan ritual itu?”

Kali ini Sheltra tidak langsung menjawab.

Api berderak kecil.

“Kalau Alpha cukup gila untuk menembus hukum leluhur demi seorang omega yang bahkan tidak mengingat namanya sendiri, maka mungkin ia memang pantas kehilangan takhtanya.”

***

Pagi belum benar-benar datang ketika bisikan-bisikan mulai bergerak lagi. Di dapur umum, di dekat kandang penjaga, di sudut-sudut gelap tempat serigala biasa berkumpul untuk berganti jaga, nama Lunara Fenrirsson disebut dengan suara pelan, lalu dihentikan tiba-tiba seolah nama itu sendiri bisa menggigit balik.

“Alpha sudah gila,” bisik seorang beta muda dan rahangnya mengeras. “Satu omega terbuang dan dia menghancurkan struktur pack.”

“Darian bukan malaikat, tapi perbatasan utara? Itu hukuman mati," sahut yang lain.

“Dan Dewan Tetua dilucuti?” Seorang perempuan berambut abu-abu mencengkeram cangkirnya terlalu keras.

“Itu melanggar keseimbangan. Alpha tidak boleh bertindak sendirian.”

Di bawah gudang senjata lama, beberapa anggota pack berkumpul tidak banyak.

“Ini bukan soal omega. Ini soal kita. Hari ini Darian. Besok siapa?” kata seorang bertubuh besar.

“Alpha sudah kehilangan kendali. Kita butuh Dewan. Kita butuh aturan," timpal yang lain.

“Dan jika Alpha tidak mau mendengar?” seseorang bertanya.

“Kalau begitu, kita ingatkan dia bahwa pack bukan miliknya seorang.”

Tiba-tiba lonceng besi di tengah wilayah pack dibunyikan dan itu merupakan panggilan resmi Alpha.

Bisikan-bisikan berhenti. Pintu-pintu rumah terbuka. Mereka keluar dengan wajah tegang dengan aroma gelisah memenuhi udara pagi yang dingin.

Lapangan pusat segera dipenuhi anggota pack. Morrigan berdiri di atas batu tinggi dengan mantel hitamnya tertiup angin pagi. Wajahnya keras dan matanya menyapu setiap kepala yang menunduk atau yang sengaja tidak. Aura dominannya cukup membuat udara terasa berat.

Semua lutut menekuk sedikit bukan sepenuhnya tunduk, tapi cukup untuk mengakui hierarki.

“Angkat kepala kalian! Dan dengarkan! suaranya menggema.

Suasana menjadi sangat hening.

“Aku mendengar namanya disebut dengan bisikan dengan ejekan dan dengan keraguan.”

Tidak ada satu pun yang menjawab. Beberapa menunduk dan mengangkat dagu.

“Mulai hari ini, kalian akan menyebutnya dengan benar," kata Morrigan perlahan.

Ia menatap tajam ke arah sekelompok beta di sisi kiri. “Namanya Lunara Fenrirsson dan aku memilihnya."

Desisan kecil terdengar dan seseorang berani bersuara, “Dia hanya omega ...."

Raungan Alpha memotong udara seperti sambaran petir dan tanah seolah bergetar.

“Dia bukan ‘hanya’ apa pun,” geramnya. “Ia darah murni. Ia bagian dari garis leluhur kita dan selama namanya masih menjadi bagian dari sejarah pack ini, kalian akan menghormatinya.”

Raungan Alpha memotong udara seperti sambaran petir dan tanah seolah bergetar.

Dari barisan kanan, seorang gamma bernama Matthew melangkah maju.

“Dengan segala hormat, Alpha, satu omega tidak boleh mengguncang struktur pack. Darian dihukum tanpa Dewan. Itu yang kami tentang.”

Morrigan turun dari panggung dan setiap langkahnya lambat, tapi pasti, lalu ia berhenti tepat di depannya.

“Kau menentang hukumanku?” tanyanya.

“Aku mempertanyakan,” jawab meski rahangnya menegang.

“Pertanyakan di ruang tertutup,” suara Morrigan turun setengah nada. “Bukan dengan merendahkan anggota pack.”

“Dia bukan ...."

Matthew tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia jatuh berlutut dan satu tangan menahan tanah. Nafasnya terasa berat. Beberapa dari kelompok timur ikut terdorong mundur satu langkah.

Morrigan menunduk sedikit hingga mata mereka sejajar.

“Apa namanya?"

Matthew menggertakkan gigi.

“Apa namanya?” ulang Morrigan.

“Lunara Fenrirsson,” desisnya akhirnya.

Morrigan kembali menghadap seluruh pack.

“Dengar baik-baik! Siapa pun yang menyebutnya tanpa hormat berarti merendahkan keputusan Alpha.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan siapa pun yang merendahkan keputusanku berarti merusak fondasi pack.”

Beberapa kepala tertunduk dan tetap kaku.

Kelompok Darian berdiri dengan tatapan penuh amarah terpendam. Kelompok pendukung Morrigan berdiri lebih rapat dan lebih solid. Pack terbelah, tapi tidak sepenuhnya

“Aku tidak memimpin budak. Aku memimpin manusia serigala. Jika ada yang merasa tidak bisa berjalan di bawah kepemimpinanku, pintu perbatasan terbuka.”

Tidak ada satu pun yang bergerak. Angin berdesir pelan melewati lapangan.

“Sebut namanya.”

Kali ini suara datang lebih kompak.

“Lunara Fenrirsson.”

Bahkan dari sisi timur terdengar meski dengan enggan.

“Lunara Fenrirsson.”

Nama itu menggema di antara dinding batu dan pepohonan hutan. Morrigan menutup matanya sesaat. Di dadanya, mate bond itu berdenyut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 77

    ​Kata-kata Ella membuat jantungnya serasa berhenti berdetak dan wajahnya yang semula pucat sekarang menjadi seputih kapas.​"Manusia serigala?" bisik Ravenna.Ia menggelengkan kepalanya."Tidak, kamu bohong! Morrigan manusia! Dia hanya pria biasa!"​"Dia membohongimu sejak awal demi insting binatangnya!" bentak Ella.Matanya sesaat berkilat ungu pekat dan menekan mental Ravenna hingga gadis itu mencengkeram sprei tempat tidur dengan gemetar. "Dan sekarang, kaum manusia serigala miliknya sedang menuntut darah. Mereka mengira kamuatau lebih tepatnya klon sihir yang kuciptakan menggunakan wajahmu telah membunuh salah satu dari kawanan mereka di pinggiran kota."​Ravenna menatap Ella dengan pandangan kosong, otaknya menolak memercayai semua kegilaan ini. Namun, aura mengerikan dari Ella dan semua kejadian supranatural ini membuat pertahanannya runtuh. "Klon? Pembunuhan? Apa yang akan kamu lakukan padaku?"​Ella tersenyum penuh kemenangan dan senyuman yang membuat bulu kuduk Ravenna mere

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 76

    "Jika itu satu-satunya cara untuk membersihkan nama baik pack, mereka akan menuntutnya, Alpha!" jawab Larry dengan tegas, meskipun napasnya memburu menahan tekanan aura Morrigan yang semakin berat memenuhi ruangan.Larry menatap map hitam yang meremukkan kertas laporan medis di atas meja kerja Morrigan, lalu perlahan menegakkan postur tubuhnya. Aura dingin dan berat di dalam ruangan itu terasa seolah bisa mematahkan tulang, namun sebagai prajurit tertinggi Silver-Claw, ia tahu tugasnya di halaman luar jauh lebih mendesak.​"Saya rasa tidak ada lagi yang bisa saya laporkan malam ini, Alpha," ucap Larry dengan suara baritonnya yang rendah."Gelombang hasutan Darian di halaman luar harus segera saya redam sebelum fajar menyingsing. Saya tidak akan membiarkan satu pun mereka menerobos masuk ke dalam gedung ini."​Morrigan tidak menoleh. Sepasang mata keemasannya masih menatap tajam menembus kegelapan malam dari balik kaca jendela besar ruang kerjanya hanya anggukan kepala samar yang dibe

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 75

    ​"Aku akan mengawal mereka sendiri, Alpha," sahut Larry. Ia merasa bertanggung jawab penuh atas keamanan sampel biologis tersebut. ​"Pergilah, Larry! Pastikan tidak ada satu pun tangan luar yang menyentuh tabung itu," perintah Morrigan. ​Begitu Larry dan tim medis pergi, koridor bawah tanah kembali sunyi. Morrigan menatap Ezra yang masih bersandar di dinding dengan wajah gelisah. ​"Ezra, kembali ke atas. Awasi pergerakan Putri Isolde dan Tetua Varrek di ruang tamu agung. Jangan biarkan mereka tahu kita sedang melakukan pemeriksaan domestik seperti ini," ucap Morrigan. ​"Bagaimana denganmu, Alpha?" tanya Ezra ragu. ​"Aku akan menunggu hasil laboratorium di sini. Pergilah!" ​Waktu terus bergulir. Larry berdiri kokoh seperti patung di depan pintu laboratorium dengan tangan melekat pada senjata. ​Di dalam ruangan steril, kepala dokter Blackmoon pack sedang memasukkan beberapa tetes darah Ravenna ke dalam mesin pemindai spektrum biologis. Mesin tersebut berdegung halus, memp

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 74

    "Gunakan sisa energi dari pecahan Batu Gerhana Abadi yang kusisipkan di balik pakaianmu," bisik Ella dengan senyum penuh kelicikan. "Ubah resonansi biologis raga tiruan itu. Saat jarum suntik mereka menembus kulitmu besok pagi, pastikan sel-sel yang mereka ambil terdistorsi menjadi darah manusia normal. Biarkan Alpha itu mengira indra serigalanya yang mulai gila bukan raga kita."​Ella kemudian pergi menembus bayangan malam bawah tanah, menyisakan Jaxon dan para penjaga yang masih tergeletak tidak sadarkan diri.​Malam harinya, ketegangan internal Blackmoon pack yang tersimpan di bawah tanah mendadak terinterupsi oleh sebuah kedatangan yang telah lama direncanakan.Di jalanan Starfield, deretan mobil sedan mewah berwarna hitam legam membelah jalanan, menuju markas utama pack.​Konvoi dari Moonshadow pack telah tiba.​Di halaman depan markas, Tetua Varrek berdiri tegak dengan jubah adatnya yang megah. Di sampingnya, Larry dan barisan kehormatan prajurit Blackmoon memasang postur kaku

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 73

    ​"Jiwa seorang Alpha tertinggi memiliki resonansi energi yang sangat kuat dengan wilayah kekuasaannya," jelas Silas. Silas menatap Morrigan dengan serius. "Selama ini, kamu tidak bisa merasakan pancaran kekuatan energi dari batu itu meskipun letaknya sangat dekat dan jujur, aku pun tidak menyadarinya, karena aku berpikir anomali energi di sekitarmu hanyalah refleksi dari rasa benci yang meluap dan kekosongan batinmu pasca kepergian Lunara. Kebencianmu begitu dalam hingga bertindak sebagai tameng emosional, ia mendominasi seluruh indra serigalamu dan membutakan radar instingmu terhadap getaran sihir hitam luar yang mencoba menyusup."​Morrigan terdiam dan mencerna penjelasan Silas yang sangat masuk akal. Emosi seorang Alpha yang tidak stabil memang bisa mengacaukan kepekaan indra penciuman dan spiritualnya sendiri. ​Namun, ketegangan mendadak saat Morrigan melangkah lebih dekat ke ranjang dan tatapannya menuntut jawaban yang lebih banyak.​"Jika kamu sudah tahu keberadaan artefak t

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 72

    "Bawa dia lewat pintu belakang gedung Stellaris Industries," perintah Morrigan kepada Larry begitu mereka tiba di area parkir bawah tanah. "Jangan biarkan ada anggota lain yang melihatnya dalam kondisi seperti ini. Kamar penthouse terlalu terbuka, bawa dia langsung ke lantai isolasi bawah tanah." ​"Dimengerti, Alpha," jawab Larry sigap. "Pasukan Silver-Claw akan menutup akses lift privat sementara waktu." ​Namun, evakuasi senyap itu tidak berjalan sesempurna yang Morrigan harapkan. Di sudut koridor remang basement, sepasang mata milik salah satu prajurit kasta bawah yang merupakan mata-mata Darian telah mengawasi sejak ban SUV menderu masuk dan hanya dalam hitungan menit setelah pintu jeruji besi ruang isolasi berdentang menutup, prajurit tersebut langsung memanfaatkan Pack Link (telepati antar anggota pack) untuk menyebarkan informasi secara batin ke seluruh jaringan manusia serigala. Pesan berantai melalui pack link telah menyebar seperti api menyiram minyak ke anggota pack

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 69

    Marva menatap Morrigan, lalu melirik Silas yang juga menatapnya dengan waspada dari atas ranjang. Di dalam benaknya, Marva teringat ancaman Ella bahwa ia harus tetap berpura-pura menjadi nenek yang bodoh jika ingin Ravenna yang asli tetap hidup. Ia terpaksa menelan kebenaran tentang klon sihir itu,

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 63

    Suasana di taman gantung itu mendadak hening. Senyum kepolosan di wajah Ravenna perlahan-lahan memudar dan digantikan oleh ekspresi datar yang amat dingin. ​"Luar biasa," ucap Ravenna. "Aku sudah meniru dengan sangat sempurna, tapi intuisi seorang wanita tua ternyata sekeras batu." ​"Kamu monst

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 62

    Felix menyambar mantel cokelatnya dan bergegas meninggalkan kantor polisi untuk menemui Marva demi menemukan benang merah yang hilang.​Siang itu, Felix Walker berhasil mengatur pertemuan dengan Marva di sebuah ruang tunggu privat tidak jauh dari kompleks penthouse milik Morrigan. Marva duduk denga

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 61

    Keesokan malamnya, suasana di lantai utama penthouse terasa sunyi meskipun lampu gantung kristal memancarkan cahaya hangat. ​Pintu lift berdenting halus dan terbuka, Marva yang baru saja selesai dirawat di rumah sakit, melangkah keluar dengan raut wajah yang sangat cemas. Rambut putihnya disanggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status