MasukMelompat dari gedung adalah keputusan terakhir di tangan seorang pembunuh bayaran—Lin Ya Fei—setelah tidak punya jalan kembali dari kejaran polisi. Prediksinya sudah tepat. Dia pasti mati. Namun, suara wanita tua benar-benar mengganggu. “Jangan tutup mata, Permaisuri! Tarik napas, embuskan!” “Ayo sedikit lagi!” Lin Ya Fei mengerjap lebar, tapi kemudian ada rasa yang aneh dan baru di perutnya. “Ap—” Belum sempat dia selesai bicara, mulutnya secara otomatis mengejan. “Enggg.” Lin Ya Fei membeku. Dia melompat gedung, kenapa malah berubah melahirkan? “Sialan! Kapan aku hamil?”
Lihat lebih banyakLonceng perunggu di sisi taman akhirnya berbunyi. Suara nyaring itu memecah keheningan Taman Surgawi, menandakan bahwa dupa ketiga telah habis terbakar sepenuhnya. Asap terakhir perlahan menghilang tertiup angin. Seketika, seluruh taman menjadi sunyi sampai-sampai suara aliran sungai buatan di bawah pondok terdengar begitu jelas. Di atas meja kayu mahoni, Kotak Seribu Pengetahuan telah kosong. Tiga ratus enam puluh keping bambu yang sebelumnya bercampur tak beraturan kini tersusun menjadi belasan kelompok kitab yang berbeda. Bahkan puluhan keping palsu telah dipisahkan ke sisi lain, lengkap dengan catatan koreksi yang ditulis cepat oleh Guli Haoran di atas selembar kertas. Tidak ada satu keping pun yang tersisa! Tidak ada satu susunan pun yang tampak keliru! Angin bertiup pelan. Guli Haoran bersandar malas sambil berkata, “Selesai.” Tatapan Guru Liu yang berdiri tak jauh dari sana menyapu susunan demi susunan tanpa kedip. Semakin lama memeriksa, wajah pria i
Guli Haoran tidak lagi berkata apa-apa. Senyum di wajah kecilnya perlahan memudar. Bocah itu menarik napas panjang. Lalu, kembali duduk tegak seperti semula di hadapan meja kayu mahoni. Sepasang matanya kembali tertuju pada Kotak Seribu Pengetahuan. Tidak ada lagi sikap santai, tidak ada lagi senyum menantang, yang tersisa hanyalah kesungguhan. Kemudian—perlahan-lahan_sorot mata bocah itu bergerak dari satu keping bambu ke keping berikutnya. Astronomi, hukum, strategi perang, pengobatan, irigasi, kalender dan sastra! Semuanya seperti sedang menari-nari di atas kepala Guli Haoran! Semakin lama bocah itu memandang, kedua alisnya justru semakin berkerut. Kotak Seribu Pengetahuan memang berbeda dari apa pun yang pernah dia lihat! Setiap keping tampak saling berkaitan, tetapi juga saling menyesatkan. Beberapa potongan kalimat memiliki ga
Guru Besar Xin menarik napas panjang.Tatapan tuanya yang semula masih dipenuhi gejolak kini perlahan kembali setenang permukaan danau.Katanya, “Karena Pangeran cukup hebat menyelesaikan ujian pertama, hamba berinisiatif melanjutkan ujian selanjutnya di ruangan lain.”Guru Liu menyipitkan mata sesaat.“Pangeran bersedia?” sambung Guru Besar Xin.Guli Haoran menebak akan ada yang dilakukan Guru Besar Xin padanya.Sayang sekali.Bocah itu tak kenal rasa takut!Dengan santainya dia beringsut bangun, bahkan berjalan ke luar lebih dulu sambil berkata, “Tunggu apa lagi?”Guru Besar Xin otomatis secepatnya mengikuti, begitu pula dengan yang lain.Tak sampai satu dupa.Guru Besar Xin setengah berseru, “Sebelah kanan anda, Pangeran!”Guli Haoran menoleh.Di sebelah kanan lorong panjang yang sekarang mereka lewati merupakan taman surgawi; tempat biasanya Kaisar Han datang membaca kitab lama tanpa ingin diganggu siapapun.Pada taman itu terdapat pondok berbentuk melingkar, yang berdiri di atas
Begitu kehadiran Kaisar Han disadari. Guru Liu menjadi orang pertama yang tersentak.“Yang Mulia!” Segera dia membungkukkan badan dalam-dalam, diikuti dua pelayan tak jauh di belakangnya.Guru Besar Xin yang baru tersadar sepenuhnya pun buru-buru menopang lantai dengan kedua tangannya.Meski lututnya masih terasa lemas, pria tua itu tetap memaksakan diri untuk berdiri.Dia merapikan jubah panjangnya yang sedikit kusut, lalu berdiri setegak mungkin sebelum membungkukkan badan memberi hormat.“Bangun,” suara Kaisar Han terdengar datar.Guru Besar Xin dan Guru Liu perlahan meluruskan punggung.Mereka berdiri rapi dengan kepala sedikit tertunduk, seolah tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya. Namun, keterkejutan yang tersisa di wajah keduanya tetap sulit disembunyikan.Di sisi lain. Guli Haoran masih belum bergerak.Bocah itu tetap duduk di kursinya dengan punggung bersandar santai. Kelopak matanya tertutup. Wajah kecilnya terlihat begitu tenang, seakan tidak mengetahui bahwa ayahnya t
Tak lama setelah pemeriksaan belakang toko selesai. Seorang pria berpakaian layaknya tuan muda biasa perlahan memasuki toko pakaian jadi Guli Neya dari pintu depan. Jubahnya sederhana tapi dibuat dari kain berkualitas. Tidak mencolok, tetapi aura dingin serta langkah tenangnya tetap sulit disem
Tubuh Lin Ya Fei langsung menegang! Putranya sendiri—Guli Haoran—menyusul turun dari kereta yang sama. Pakaian hitam-merah yang dikenakannya dibuat Lin Ya Fei sendiri, dengan sabuk kecil bersulam benang emas di pinggang. Wajahnya tampan, sorot matanya tajam sekaligus hidup. Mata Lin Ya Fei m
Keesokan harinya. Langit baru saja beralih dari abu-abu fajar menjadi biru pucat ketika Lin Ya Fei sudah berdiri di depan cermin perunggu sederhana di Istana Dingin tanpa gaun sutra, tanpa perhiasan. Adanya hanyalah pakaian pria berwarna gelap, sederhana tapi rapi, dengan potongan tegas di bahu
“Baru kali ini aku melihat penari secantik itu!” Suara itu datang tiba-tiba; samar seperti terseret angin. Kaisar tidak langsung bereaksi. Namun, di detik berikutnya mata pria itu perlahan terbuka. Tangannya mengangkat sedikit tirai yang terayun, menciptakan celah kecil. Pandangannya menemb






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan