MasukJantung Rosalynd berdegup kencang di balik pakaian kusamnya. Tangan cantiknya yang sedang memegang apel segar mendadak kaku. Aura yang dipancarkan oleh tiga penunggang kuda di gerbang desa terlalu familiar. Aura dingin, terlatih dan mematikan milik prajurit intelejen yang kerap ia temui di Istana Shanza ataupun Blackwood. 'Ya ampun, mereka sudah sampai di sini,' batin Rosalynd panik. Namun, ketakutan itu tak membuatnya mundur. Bertahun tahun bertahan hidup di tengah intrik dua klan raksasa yang mengasah insting bertahan hidupnya hingga tajam. Tanpa membuang waktu, Rosalynd berbalik badan dan membawa keranjang apelnya masuk kembali ke kedai herbal pak Hans melalui pintu samping. "Lily, ada pengawal datang. Aku tidak tau dia dari Shanza atau Blackwood. Cepat, sekarang ambilkan bubuk jelaga dan sisa tumbukan kunyit di belakang tungku!" bisik Rosalynd cepat sambil menatap Lily yang baru saja keluar dari kamar. Lily yang paham langsung mengambil mangkuk berisi jelaga hitam dan bubu
Malam makin larut di Oakhaven. Di dalam kamar kayu kecil beratap jerami, cahaya lilin kecil memantulkan warna keemasan yang hangat pada dinding-dinding papan kayu. Rosalynd duduk di tepi ranjangnya, menatap beberapa stel pakaian dan kain buatan tangan warga dan apel segar yang tertata rapi di atas meja kayu. Di sebelahnya, mahkota bunga liar buatan Risa dan anak-anak desa meruakkan aroma wangi alami yang menenangkan ruang kecil itu. Lily melangkah mendekat sambil membawa mangkuk berisi minyak herbal hangat. Dengan pelan, ia mengoleskan minyak itu ke lengan dan bahu Rosalynd yang cukup dingin akibat terlalu lama bermain air di sungai tadi sore. "Dulu, waktu di istana Shanza atau istana Utama Blackwood, kita punya segalanya. Lemari penuh dengan gaun sutra, makanan yang mewah dan berlimpah. Namun, rasanya dingin dan mencekam," bisik Lily pelan dengan wajah haru. "Tapi disini, kita cuma punya baju bekas buatan warga dan apel dari kebun, tapi rasanya hangat banget." Rosalynd tersenyum
Matahari bersinar menerangi pelataran di samping kedai herbal pak Hans hangat. Di atas tanah gembur yang cukup rata, empat orang anak desa Oakhaven duduk bersila melingkar. Di tengah-tengah mereka, Rosalynd berjongkok dengan sebatang ranting kayu panjang di tangan kanannya. "Nah, sekarang kalian semua lihat kakak ya. Tarik garis lurus dari atas ke bawah, lalu buat dua lengkungan di sampingnya." Kata Rosalynd lembut dan pelan sambil menggoreskan rantingnya di atas tanah dan membentuk huruf "B" yang rapi. "Nah, coba giliran mu, Boni." Anak perempuan usia tujuh tahun bernama Boni itu menerima ranting kayu dari tangan kanannya Rosalynd dengan kencang. Ia mencoba meniru goresan itu, namun tangannya justru gemetar dan alhasil membuat garis meliuk-liuk tak beraturan. "Argh! Kak Rosa, kenapa susah sekali!" keluh Boni sambil cemberut dan melempar rantingnya ke tanah. "Tanganku kek kaku banget gitu lho kak." Keluhnya. Rosalynd hanya bisa terkekeh pelan. Tanpa ragu, ia mendekati Boni, me
Kehidupan di Oakhaven berjalan sesuai dengan keinginan Rosalynd. Nyaman tanpa beban. Meskipun Rosalynd sudah mulai terbiasa membantu pak Hans memilah-milah daun herbal di kedai, adaptasinya menjadi rakyat biasa masih menyimpan beberapa tantangan kecil yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Persis seperti pagi itu, ibu Maria, seorang penjual roti tua di sebelah kedai tuan Hans mengajak Rosalynd dan Lily bergabung untuk makan siang bersama di atas tikar pandan yang tertata rapi di lantai kayu depan kedai. Di atas tikar, sudah tersaji sup ikan hangat, nasi jagung dan sambal. "Ayo makan, Nak Rosa! Jangan malu-malu dengan kami. Kami senang dengan kedatangan mu disini," seru Ibu Maria ramah sambil menyodorkan piring. Rosalynd duduk anggun di atas tikar pandan dengan posisi yang cukup tegap dan kaku. Hal ini mungkin masih terbawa dengan suasana bangsawan yang sudah melekat di dirinya. Dua netranya menatap aneh ke piring tanah liat. Tak ada sendok perak, garpu porselen apalagi serbet
Sinar matahari pagi perlahan menghangatkan bumi. Cahaya berwarna emasnya menembus celah-celah jendela kayu sebuah kediaman kecil di pinggir permukiman. Suara cicitan burung dan riuh warga desa yang memulai aktivitas menggantikan deru mesin tempur dan dentuman ledakan malam sebelumnya. Rosalynd terbangun dari tidur lelapnya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, ia terbangun dengan kondisi nyaman dan tenang tanpa racun penekan saraf dari Gavin dan tanpa rasa tertekan di bawah bayang-bayang dominasi oleh Kenneth. Di ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter, Rosalynd beranjak dari ranjang kapuknya. Ia melangkah pelan ke arah jendela, membuka daun kayu tua dan menghirup udara pagi yang dingin dan segar. Kondisi dadanya saat ini begitu lapang. "Pagi, N—maksud saya, Rosa," sapa Lily kikuk serasa membawa teko tanah liat berisi air hangat yang baru saja direbus di tungku kecil. Rosalynd menyunggingkan senyum manisnya—sebuah senyum alami yang tak lagi dibungkus dengan akting
Suara dentuman dari ledakan artileri bertubi-tubi meretakkan dinding-dinding mansion klan Shanza. Kepulan asap tebal berwarna abu-abu pekat membumbung tinggi, memenuhi setiap sudut lorong dan menyiksa mata. Rosalynd mencengkram erat pergelangan tangan Lily, mengarahkan dayang setianya untuk menerobos gumpalan asap di tengah kekacauan para pelayan dan penjaga yang panik. "Rosalynd! Berhenti kau!" teriakan Gavin masih menggaung dari arah belakang dan diselingi dengan suara batuk berat akibat asap. Namun, Rosalynd tidak sedikitpun menolak. Ia memanfaatkan reruntuhan plafon yang ambruk di koridor tengah untuk memutus jarak dari Gavin. Dengan pergerakan yang lincah, Rosalynd belok ke lorong bawah tanah yang menuju ke area mes kediaman pelayan luar— sebuah area kumuh yang jarang dijamah oleh bangsawan Shanza. Brak! Rosalynd mendorong keras pintu kayu mes pelayan dan langsung mengunci dari dalam. "N—Nona. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" bisik Lily dengan napas yang tersengal-sen
"Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.” Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…Itu
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t
Cengkeraman tangan Kaisar Kenneth di dagu Rosalynd terasa begitu kuat sehingga membuat tulang rahangnya linu. Rosalynd mendongak pasrah. Wajah Kenneth terlihat sangat tampan namun tanpa menyisakan rasa belas kasih. Hawa panas yang menguar dari tubuh pria itu seolah mampu mengubah suasana di dala







