LOGIN125Zianka tertegun, seusai mendengar ucapan Raidu. Belum hilang rasa kagetnya, Zianka kembali dikejutkan dengan tindakan Raidu yang tengah berlutut dengan kaki kiri. Zianka terpana kala pria berkemeja biru pas badan itu mengulurkan kotak perhiasan kecil, di mana cincin berkilau di dalamnya. Zianka mengerjapkan matanya, untuk memastikan jika dia tidak salah lihat, dan itu bukan mimpi."Gimana, Zi?" tanya Raidu sembari menatap perempuan pujaan hatinya itu dengan intens."Ehm, Mas. Aku masih kaget ini," sahut Zianka sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang."Sorry, aku nggak bisa nahan diri lagi. Seperti yang pernah aku bilang dulu, aku nggak mau pacaran, dan pengen langsung nikah," jelas Raidu."Ehm, Mas, ini nggak bercanda, kan?" Raidu menaikkan alis. "Aku serius, Zi." Gadis bergaun ungu muda itu terdiam. Zianka mengamati pria berparas manis, yang selama 8 bulan terakhir telah menjadi sahabatnya. Zianka sebetulnya tidak mencintai Raidu, tetapi dia menyayangi pria itu yang tel
124Zhou Yiran mengulaskan senyuman, sembari menyambangi ranjang. Zhou Dingbang telah siuman tadi subuh, dan itu membuat semua orang lega.Zhou Yiran duduk di kursi samping kiri ranjang. Dia mengusap punggung tangan Zhou Dingbang, sembari menyapa pria itu dengan ramah. Zhou Yiran kaget kala pria itu menangis, dan dia segera berdiri guna memeluk sang koko."Berhenti menangis, Koko," bisik Zhou Yiran, sebelum menunduk untuk mengecup dahi Zhou Dingbang. "Koko harus kuat dan cepat sembuh, supaya bisa gendong anakku," lanjutnya sembari menjauhkan diri dan duduk kembali.Zhou Yiran mengambil tisu dari meja untuk menyeka lelehan air di wajah pria yang masih pucat kesi. Zhou Yiran memaksakan senyuman, padahal sebetulnya dia juga ingin menangis. "Kamu ... kapan ... datang?" tanya Zhou Dingbang dengan terbata-bata."3 hari lalu," jawab Zhou Yiran. "Sama ... Dimas?" "Ya. Plus Ayah, Mama, Padre, dan banyak orang lainnya." Zhou Dingbang menaikkan alisnya. "Mereka ... datang?" "Hu um." "Di ma
123Hari berganti. Zhou Yiran tiba di rumah sakit bersama keluarganya dan Dzurwa. Sementara Dimas dan yang lainnya telah berpencar guna mengunjungi unit kerja, yang dilanjutkan dengan rapat dengan beberapa klien. Zhou Yiran menelepon Ren Liangyi, yang muncul bersama dokter yang menangani Zhou Dingbang. Semua orang di tempat itu serentak menghela napas lega, saat sang dokter menyebut kondisi pasiennya yang telah naik signifikan.Sheng Eleanor dan Zhou Serena memasuki ruangan terlebih dahulu, untuk menyeka badan Zhou Dingbang. Setelah sang pasien digantikan bajunya, Zhou Ming Hao dan yang lainnya masuk. Zhou Yiran duduk di ujung sofa. Dia berbincang dengan Dzurwa menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian Dzurwa keluar sambil menelepon Jia Ping, yang diminta Zhou Yiran untuk memasak makanan halal. "Kamu masih puasa?" tanya Zhou Serena, ketika Zhou Yiran menolak botol minuman yang diambilnya dari lemari es. "Ya. Kemarin aku tidak puasa, karena tengah syok. Sekarang aku sudah lebih tenang
122Zhou Yiran jalan sambil berpegangan pada Dzurwa, yang diminta Dimas ikut guna menemani sang istri. Kedua perempuan itu melangkah menuju pesawat Adhitama, yang mesinnya telah menyala sejak belasan menit silam.Dimas menyeret kedua koper berukuran sedang. Dia menaiki tangga sembari menjinjing koper miliknya dan Zhou Yiran. Sedangkan Luthfiandi yang menyusul di belakang, menjinjing tas besar miliknya dan kopernya Dzurwa.Rasyad menyeret koper Wirya di tangan kiri. Sementara tangan kanannya menenteng tasnya yang menggembung. Wirya menyusul di belakang sembari menggendong Shahzain, dan dipayungi Herjuno. Vanetta, Jane, dan kedua pengasuh, menyeret koper masing-masing, lalu menaiki pesawat. Syuja melenggang di belakang sambil menggendong putrinya, sedangkan kopernya dibawakan Malik Majmudin, ajudannya. Alvaro jalan tergesa-gesa di belakang sambil menjinjing kopernya. Disusul Panji, Kashif, Xie Honghui, dan Xie Duyi, yang menenteng tas masing-masing. Tidak berselang lama, pesawat bers
121 Zhou Dingbang meneguk minumannya, sambil menatap nanar pengunjung pub lainnya. Zhou Dingbang merasa hidupnya kian menderita, setelah keuangannya dikurangi dan dipantau ketat tim keuangan kantor Zhou Company. Pria berhidung besar itu sempat protes ke Zhou Ming Hao, tetapi pria tua tersebut justru menampar Zhou Dingbang. Sang papa bahkan menyuruh Zhou Dingbang untuk bekerja di pabrik luar kota, karena lelaki tua tersebut kesal dengan kemalasan putranya. Pria berkemeja hitam pas badan itu mendengkus kuat, sebelum meneguk cairan yang membuat perutnya panas. Zhou Dingbang masih membutuhkan minuman itu, guna meredam megelisahannya, meskipun tatapannya mulai berkunang-kunang. Kedua asisten Zhou Dingbang serentak tegang, seusai melihat sekelompok orang yang memasuki tempat itu. Cui Wencheng dan Kang Xiaoli berusaha mengajak Zhou Dingbang pergi, tetapi pria itu menolak dan meneruskan minum cairan beralkohol. Selama belasan menit suasana masih kondusif. Sebelum akhirnya berubah ricuh, k
120Dimas memaksakan matanya untuk terus membuka. Dia tidak berani meninggalkan ruangan, karena rapat belum usai. Dimas berulang kali menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan kiri, supaya tidak terpantau yang lainnya. Lazuardi yang sejak tadi mengamati rekannya di samping kanan, meraih sesuatu dari tas kerjanya, dan memberikan benda itu pada Dimas, yang sontak mendelik. Lazuardi mengulum senyuman. Dia senang telah berhasil mengerjai pria berkemeja krem, yang akhirnya kembali fokus menghadap layar besar di depan sana.Seusai rapat, Dimas menjitak pria beralis tebal di samping kiri. Lazuardi membalas dengan tinjuan pelan di lengan seniornya, yang beralih menendang hingga meja berguncang. "Kalian, bisa tenang, nggak?" tanya Bryan, sambil memelototi kedua pria yang seketika diam. "Kalian jangan cari perkara. Mas Bryan lagi PMS," goda Samudra. "Tuls. Gaharnya sama dengan Dara, kalau lagi dapat tamu," sela Zheung To Mu."Ko, aku penasaran. Kalian kalau berantem, saling tinju, nggak
24*Petinggi PB dan PBK, 1st, 2nd & 3rd Generation*Lazuardi : @Darling D. Aku telepon dari tadi, nggak diangkat.Syuja : Jangan ganggu pengantin baru, @Ardi.Hasbi : Dimas pasti capek.Jauhari : Habis lari keliling lapangan bola.Yusuf : Push up 1000 kali. Fawwaz : Kayang.Santos : Skotjump.Ibra
23"Ada apa?" tanya Dimas. "Gelap. Aku takut," cicit Zhou Yiran. Dimas memindahkan laptop ke meja. Dia menekan tombol pause, lalu menarik earphone dan meletakkan benda itu di dekat laptop. Dimas berdiri dan jalan keluar. Dia meraba dinding untuk menemukan sakelar dan menyalakan dua lampu besar, h
21 Bunyi seruling mengiringi langkah Zhao Yìchen melintasi catwalk. Pria berkostum bangsawan China tempo dulu, berhenti di tengah-tengah panggung besar. Dia terus meniup seruling sambil menunggu rekan-rekannya bersiap memegang alat musik masing-masing. Wirya, Yasuo, dan Bryan mulai bergendang. Di
19Seribu orang lebih dengan berbagai tampilan, antre di lobi utama gedung PBK. Puluhan petugas ring 3, alias penjaga keamanan kantor, bekerja cepat untuk mendata semua tamu. Setelahnya, para tamu akan diantarkan anggota tim lapis 25, yang akan bertugas sebagai anggota ring 2. Setibanya di lantai 1







