LOGIN“Saya tidak peduli itu sengaja atau tidak, tetapi, jika putri Anda tidak tahu tata krama dasar di dalam acara terhormat seperti ini, maka saya tidak punya pilihan lain Lagipula, ini bukan pertama kali hadir oe acara seperti ini,” potong Rolan dingin, senyumannya yang tampak kejam kini terukir di sudut bibirnya.“Maksud Anda bagaimana, Tuan Rolan?” tanya Baskoro dengan perasaan yang kian panik, menyadari bahwa masa depan bisnis keluarganya kini sedang dipertaruhkan.“Mulai besok pagi, seluruh kerja sama hukum dan kontrak perlindungan korporat antara firma saya dengan perusahaan Anda resmi saya batalkan sepihak,” tegas Rolan.Kata-kata itu membuat beberapa pengusaha di sekitar mereka berbisik kaget mendengar keputusan yang terdengar seperti hukuman tersebut.Mendengar kakimat itu datang dari pria paling berkuasa di ruangan itu, Baskoro merasa seolah-olah dunianya runtuh berantakan dalam sekejap mata. Kehilangan perlindungan hukum dari firma milik Rolan, sama saja dengan bunuh diri dala
Malam harinya, suasana lobi Hotel Grand Aston tampak begitu mewah, apalagi dengan tampilan kilau lampu kristal yang menggantung di langit-langit ruangan.Di dalam aula utama yang luas, Leni berjalan dengan dagu terangkat tinggi, menggandeng lengan ayahnya, Baskoro, seorang pengusaha kelas menengah yang sedang mencoba peruntungan untuk menembus jaringan bisnis yang lebih tinggi.Di sisi lain Leni, Bayu berjalan dengan setelan jas hitamnya, sibuk menebar senyum ke segala penjuru arah demi mencari perhatian. Pria itu sangat senang ikut acara mewah malam ini, dengan niat yang sangat mencari relasi dari para pengacara senior lain, yang dia harapkan bisa membantunya mencari pekerjaan dengan level manager, dari pada berhasil naik jabatan tetapi perlu melewati tekanan Miranda di kantor.“Kamu harus pintar-pintar mengambil hati para senior di sini, Bayu,” bisik Leni sambil membenarkan posisi tas jinjingnya yang berlapis manik-manik berkilau.“Tentu saja, Sayang. Gelar lulusan terbaikku pasti
Mendengar adanya acara mewah yang dihadiri orang-orang kaya, Sari dan Bayu langsung bersemangat dan memaksa untuk ikut serta agar bisa melihat Miranda hancur secara langsung. Namun, Leni segera menggelengkan kepalanya dengan tegas, menjelaskan bahwa undangan acara tersebut sangat ketat dan terbatas untuk kalangan tertentu saja. Dia hanya bisa mengusahakan satu undangan tambahan untuk Bayu, karena dirinya sendiri harus mendampingi ayahnya yang merupakan rekan bisnis Rolan di acara itu.“Maaf, ya, Tante … gak bisa ikut karena kuota undangannya sangat terbatas, tapi Bayu masih bisa ikut bareng aku besok malam, aku akan minta undangan satu lagi, sebagai perwakilan perusahaan Papa,” jelas Leni mencoba memberikan pengertian kepada Sari yang tampak sangat kecewa.“Tidak apa-apa, yang penting Bayu bisa ikut dan memantau jalannya rencana kita untuk menjatuhkan wanita sialan itu,” sahut Sari akhirnya mengalah, sambil meneguk minumannya hingga kandas tanpa sisa.Setelah menyelesaikan pembayaran
Jika Miranda sibuk membaca buku untuk menaikkan kualitas diri dan pengetahuannya, Bayu malah tenggelam dengan rasa kesal di dada, lelaki itu terus saja teringat kejadian memalukan di kantor tadi sore. Juga menahan rasa lapar karena ibunya menolak membeli makanan untuk mereka berdua.Bayu mondar-mandir di dalam kamar kos mewahnya, sesekali melirik ibunya yang sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah kesal. Setelah menimbang cukup lama, Bayu akhirnya merogoh ponsel di saku celananya, lalu menekan nomor Leni untuk memintanya datang malam itu juga sekalian memperkenalkan kekasih kayanya itu kepada ibunya.[Len, kamu bisa ke kosanku sekarang gak? Ibuku baru datang dari kampung, katanya pengen banget ketemu sama kamu,] kata Bayu dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin melalui sambungan telepon.[Malam-malam begini, Sayang? Ya udah kamu tunggu aja, aku meluncur ke sana sekarang,] sahut Leni di seberang sana, terdengar begitu bersemangat.Tidak butuh waktu lama bagi Leni, untuk tiba
“Eeeh, babu sok menuntut segala. Emang punya uang? Hah!” sergah Sari.“Sebenarnya Ibu ini siapa sih? Sebentar bilang mantu, sebentar bilang babu. Gak jelas banget,” celetuk salah satu karyawan.“Diem kamu, dia itu babu anakku!” bentak Sari.Rolan mengepalkan tangannya kuat-kuat, suara gemeretak giginya terdengar menahan geram terhadap cacian Sari kepada Miranda.Bukan dia pengecut tidak membela Miranda, tetapi dia tahu wanita itu bisa menghadapi keributan yang terjadi. Lelaki itu akan bertindak jika keadaan di luar kendali Miranda.“Bayu, masa percobaan kamu tiga puluh hari sebelum kontrak turun. Kalo masih macam2 bikin keributan, mending ke HRD ambil upah tiga hari ini,” ancam Miranda dengan tegas.“Babu kurang ajar, berani kamu pecat anak saya, hah! Cuma kain lap di perusahan ini kok setinggi langit gayanya,” celetuk Sari.“Bahkan harimau hanya menatap burung pipit yang terlalu berisik karena menganggap dirinya elang.”“Saya kagum dengan pikiran Anda yang begitu murni, Bu Sari. Jauh
Rolan tersenyum kecil, dia menyandarkan punggungnya sambil menyilangkan kedua tangan di dada.‘Mira cerdas juga, dengan posisi itu … maka posisi Bayu ada di bawahnya. Dia manfaatkan posisi dia di perusahan ini, di kantorku dia cuma bantu sesekali,’ batin Rolan.Wajah Bayu tampak bimbang, benaknya dipenuhi oleh rasa enggan dan dadanya menahan amarah yang bergemuruh, Bayu akhirnya terpaksa menganggukkan kepalanya, menerima tawaran itu daripada harus menanggung malu menjadi pengangguran bertitel sarjana.“Baiklah, karena Anda setuju dengan posisi ini. Maka kami memberitahukan bahwa upah pokok yang Anda dapatkan adalah lima juta rupiah, tunjangan dan potongan pajak dan sebagainya akan muncul di bulan kedua.”“Masa percobaan adalah tiga puluh hari, akan dievaluasi kemudian untuk kontrak enam bulan selanjutnya,” terang pria kurus berkacamata.“Wawancara seleksi selesai, bawa surat rekomendasi ini ke ruang HRD,” kata pria gemuk, pamannya Leni.Dia berpikir bahwa dengan gaji lima juta rupiah







