LOGIN“Lepas tangan kotormu itu!” sergah Bayu, “memang kamu pembantu, kan? Memangnya mau berharap apa dari aku? Sadar diri, aku ini sarjana, gak pantes buat kamu.”
Kata-kata Bayu menghujam begitu dalam, bak ribuan anak panah yang menembus tubuhnya secara bersamaan. Miranda tersenyum sinis, mengangkat satu sisi bibirnya saja dan menatap lekat suaminya. Miranda masih berdiri di sana, menganggap bahwa ini hanya candaan yang jahil dari suaminya saja, wanita itu masih menolak kenyataan pahit yang begitu jelas di depan mata. “Bayu, kamu jangan keterlaluan. Ga usah becanda, aku ini istri kamu, bukan pembantu!” seru Miranda. Mendengar itu, kedua bola mata Leni terbelalak dan melepas tangannya dari lengan Bayu dengan kasar. Bibirnya cemberut sambil menatap lelaki di depannya penuh rasa cemburu yang begitu besar. “Bayu, dia istri kamu? Brengsek banget sih kamu.” Leni memukul dada Bayu dengan marah. “Kamu salah paham, Sayang. Jangan percaya sama kata-kata dia, lagian … kalo aku suaminya, gak mungkin ada kamu. Menurutmu, aku pantes gitu sama dia?” tanya Bayu alih-alih menyudutkan Miranda. “Bener tuh, Len. Masa sih Bayu seleranya pembantu,” celetuk teman Bayu. “Tadi malam ibuku telepon, katanya barangnya udah sampai belum? Dia ini namanya Miranda, pembantu ibuku di kampung. Disuruh anter barang sama periksa papan bunga buat foto wisuda,” terang Bayu tenang. Mendengar penjelasan Bayu yang begitu runut dan tenang, Leni yang membuang pandangan ke arah lain sambil menyilangkan kedua tangannya di dada melirik Miranda. Tatapannya dihiasi dengan angkuhan yang menghias wajah cantiknya. Leni melangkah maju, mendekati Miranda dengan tatapan merendahkan sambil memperhatikan penampilan Miranda dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. "Oh ... jadi benar-benar cuma pembantu? Aduh, Mbak … Mbak. Kamu itu kok ga tau diri banget, ya. Kain lap kok berharap dilirik sarjana anak orang kaya.” “Punya nyali dari mana sih berani suka sama pacar saya? Makanya jangan kebanyakan nonton drama, mana ada orang kaya beneran mau sama pembantu? Itu cuma ada di drama, biar laku. Jangan halu, deh,” ejek Leni dengan wajah angkuhnya. Miranda seketika terdiam, genggaman tangannya di lengan jas Bayu terlepas begitu saja dengan perlahan, lagi-lagi tubuhnya terasa lemas karena dihantam oleh kenyataan pahit sekali lagi. Miranda memegang dadanya yang terasa nyeri, sakit tetapi tidak berdarah. Tidak ada luka nyata yang bisa dilihat, tetapi begitu menyakitkan. Lututnya terasa begitu lemas, tatkala kata-kata Leni yang menyebut suaminya adalah kekasih bagi wanita cantik itu. Pernyataan itu terngiang-ngiang dengan jelas di benaknya, Miranda tidak menyangka, selama dirinya memeras keringat sebagai buruh cuci di kediaman Rolan, suaminya malah membagi cinta dengan wanita lain. "Maaf ya, Len. Ibuku di kampung emang agak kurang tegas sama pembantunya, makanya yang begini jadi ngelunjak dan gak tahu diri," sahut Bayu tanpa merasa bersalah kepada istrinya, "huss … pergi sana! Tugas kamu kan udah selesai, jangan keluyuran di kampus ini, bikin malu aja." “Pacar? Mbak … dia itu suamiku. Bayu, jelaskan ada apa ini? Kamu selingkuh sama dia selama ini? Kamu bilang sama dia kalo kita suami istri,” kata Miranda menaikkan nada suaranya. Bayu menatap Miranda dengan mata melotot dan wajah penuh kebencian serta amarah, lalu mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu saja. “Mira, kamu jangan keterlaluan. Kamu itu cuma tamat SMA, gak pantes buat aku yang sarjana,” balas Bayu sinis. Mira tidak kuasa menahan amarahnya lebih lama lagi, tangan yang tadinya terkepal dengan cuping hidung yang kembng kempis, melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Bayu. Tidak terima dirinya dihina di depan kekasih dan teman-temannya, Bayu membalas tamparan itu hingga Miranda terhuyung. “Bayu, kau … kau berani pukul aku?” tanya Miranda dengan suara bergetar. “Memang kamu pantas dipukul. Dengar, aku menghargai kamu sebagai pembantu yang setia, tapi ini udah keterlaluan. Leni, ayo pergi,” ajak Bayu sambil menggandeng tangan Leni. "Bentar dulu, Sayang," ucap Leni sambil menahan dada Bayu. Wanita itu merogoh tas mahalnya, mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribu, lalu melempar uang itu tepat di wajah Miranda hingga lembaran merah itu jatuh di atas lantai keramik, di dekat buket bunga yang telah hancur diinjak oleh Bayu tadi. Uang itu seperti tamparan keras yang meruntuhkan harga diri Miranda sebagai seorang wanita, dirinya hanya diam saja sambil menatap Leni dengan tatapan yang aneh. "Apa liat-liat? Ga pernah dikasih uang segitu? Oh … biasa dikasih receh, sih. Itu tuh ongkos buat kamu.” “Kamu ambil uangnya, oh, jangan lupa bersihkan sampah bunga kampunganmu ini. Lantai jadi kotor gara-gara ulah kamu, setelah itu, kamu cepat angkat kaki dari sini sebelum satpam kampus menyeret kamu keluar. Tempat ini terlalu mewah untuk diinjak orang kumal sepertimu," kata Leni ketus, disambut tawa mengejek dari teman-teman kuliah Bayu. Miranda menatap lembaran uang di lantai, lalu beralih kepada Bayu. Air matanya menetes tanpa bisa dibendung lagi. Hatinya begitu hancur, ingin rasanya dia berteriak histeris, memaki untuk meluahkan semua perasaan dan melepaskan emosi yang kini membara di dadanya, guna memberitahu di depan semua orang yang berada di sana, bahwa pria yang mereka puji ini adalah suaminya! Pria yang kuliahnya dibiayai dari setiap tetes keringat yang keluar dari tubuhnya yang ringkih dan kurus. Semua urung dia lakukan, dan memilih tetap tenang. Miranda maju satu langkah agar mendekat ke arah suaminya, Bayu malah mundur satu langkah seolah enggan didekati oleh Miranda. Lelaki itu justru merangkul pinggang Leni dengan mesra di depan matanya. "Ayo, Len, teman-teman. Kita ke aula, ngapain juga aku melayani pembantu stres ini, buang-buang waktu aja," ajak Bayu sekali lagi dengan suara lantang. Miranda menahan langkah Bayu dengan menahan lengannya, berdiri tepat di sisinya dengan posisi di samping telinga lelaki pengkhianat itu. "Oke, aku kan pembantumu, dan kamu malah ngaku anak orang kaya dan berlagak di sini. Bayu ... pastikan kamu ingat kata-katamu hari ini dengan baik." "Soalnya … setelah hari ini, kamu harus bayar setiap uang yang pernah dikasih 'pembantu' ini, demi kamu bisa lancar kuliah, membelikan jas rapi yang lagi kamu sombongkan sekarang," bisik Miranda. Bayu mengerutkan kening, wajahnya berubah ketika mendengar ancaman yang terdengar begitu tenang itu. "Maksudmu apa?" tanya Bayu berbisik, tentu saja karena tidak ingin Leni mendengar. Miranda melirik sekilas ke arah buket bunga yang telah hancur diinjak sepatu Bayu. Tangannya terkepal, matanya dipenuhi sorot kebencian mendalam. Beberapa mahasiswa yang lewat berbisik-bisik sambil menunjuk Miranda dengan pandangan jijik. Miranda perlahan menyentuh kelopak bunga yang sudah hancur tidak berbentuk di atas lantai. Bayangan bahagia dirinya beberapa waktu lalu di perjalanan berputar jelas di pelupuk mata dengan jelas, Miranda tertawa kecil, sebuah tawa getir yang menertawai nasibnya saat ini, sekaligus merutuk atas kebodohannya yang percaya akan janji Bayu di masa lalu. ‘Dasar manusia gak tau diri, lima tahun kita menikah dan aku mencintaimu dengan bekerja untuk memenuhi impianmu yang menumbalkan aku. Bayu … kamu sarjana hukum, kan? kupastikan kamu kembalikan semuanya sampai sen terakhir,’ batin Miranda dengan perasaan terluka.“Minggir, Pak, Saya tidak punya waktu untuk melayani orang asing yang menghalangi jalan saya,” sahut Miranda dengan suara yang tenang dan dingin.Tatapan mata Miranda yang semula lembut kini menjadi tajam, menatap lurus ke mata mantan suaminya tanpa ada sedikit pun rasa takut.Bayu merasakan dadanya bergemuruh hebat karena amarah, dia tidak terima melihat wanita yang biasanya lemah, selalu memohon belas kasihannya kini menatapnya dengan pandangan merendahkan seperti itu.“Jangan berlagak sombong kamu, Mira! Kamu ke sini pasti mau mengacaukan wawancara kerjaku, kan? Dasar murahan!” sergah Bayu dengan wajah penuh amarah.“Sadar diri, Mbak, blazer mewah itu nabrak banget di badan mbaknya. Itu kalo blazernya bisa ngomong, pasti udah menjerit gak mau dipake sama babu.”“Oh, mana pengawalmu kemarin? Baya berapa dia ke Mbak buat sekali celup? Jangan-jangan gratis, kan situ murahan,” ejek Leni.“Mira, biar kamu dandan, pake baju mahal, itu gak akan bisa mengubah asal-usulmu yang cuma lulusan
“Besok?” tanya Miranda heran.“Aku dengar dia akan wawancara besok di salah satu perusahaanku. Kau dan aku akan hadir secara langsung di sana sebagai pewawancara,” jawab Rolan dingin.“Tuan, dia pasti buat keributan. Aku malu,” sahut Miranda.“Untuk apa malu? Kau bekerja sebagai asisten dan dia sedang wawancara demi tidak menganggur. Jika otaknya pintar, dia akan menahan diri dan ini balas dendam kecil,” balas Rolan.Miranda merasa perkataan Rolan ada benarnya, posisi Bayu besok sebagai pengangguran yang sedang wawancara, sedangkan dirinya adalah karyawan tetap Rolan di firma hukumnya.‘Balas dendam pertama, kau hina aku sebagai babu, bukan? Kali ini akan kutunjukkan, bahwa aku memang menjadi babu juga, tapi posisiku asisten pribadi,’ pikir Miranda.“Oh, aku hampir lupa. Pertemuan nanti malam diundur, kau bisa pulang lebih awal untuk istirahat,” ungkap Rolan.“Baik, Tuan,” sahut Miranda.Rolan kembali ke ruangannya dengan senyum di bibirnya, tidak ada pertemuan nanti malam, dia hanya
“Pak Manajer! Anda ini sudah tua tapi buta, ya, ada kesalahan di sini!" teriak Leni dengan suara nyaring.Wanita itu tidak peduli lagi dengan etika di dalam mall, membuat beberapa pengunjung mall menghentikan langkah dn menonton keributan tersebut. "Anda mau saja ditipu oleh akting pelayan kampung ini! Dia itu cuma babu! Pasti itu uang haram atau entah mencuri kartu itu dari mana untuk pamer di sini! Bagaimana bisa Anda malah memberikan baju gratis untuk wanita murahan seperti dia,” sambung Leni."Benar! Saya ini seorang sarjana hukum, saya juga tau kalo dia tidak punya kapasitas untuk memiliki uang sebanyak itu! Tindakan Anda ini sangat tidak profesional dan merugikan pelanggan lain seperti kami!" seru Bayu tidak mau kalah.Danu yang sudah habis kesabarannya, juga takut posisinya terus terancam oleh hasutan kedua orang ini, langsung membalikkan tubuhnya dengan wajah merah."Security! Pengawal!" teriak Danu lantang.Empat orang petugas keamanan mall bertubuh besar langsung masuk ke d
Bayu beralih menatap Rika si kasir dengan tujuan memprovokasi, agar Miranda diusir dari sana usai mereka puas menghina."Mbak Kasir, saya sarankan jangan lanjutkan pembayarannya. Dia ini cuma babu, buruh cuci. Kerja serabutan, gak punya uang sepeser pun. Paling-paling kartu yang dia bawa itu hasil mencuri atau hasil belas kasihan dari lelaki hidung belang!" seru Bayu mulai menghasut.Mendengar hasutan Bayu, Rika si kasir langsung menarik kembali tangannya dari mesin EDC."Masuk akal sih. Maaf, Mbak, silakan keluar dari butik ini. Kami gak mau reputasi butik kami rusak karena melayani wanita seperti Anda," ucap Rika ketus.Leni tertawa terpingkal-pingkal melihat Miranda yang terpojok, dengan sikap angkuh, Leni melangkah maju dan menepuk bahu meja kasir."Mbak Kasir tenang saja, dia mana mungkin bisa bayar jas seharga puluhan juta.”“Hei, Mira ... kalo kamu benar-benar bisa bayar jas itu, aku rela jilat semua lantai mall ini dengan lidahku sendiri!" tantang Leni penuh percaya diri, yaki
Bayu melangkah mendekat, menatap Miranda dengan pandangan menghina. Sebuah kesempatan untuk menghina Miranda yang sudah membuatnya diusir dari rumah sewa, juga menuntut cerai serta tuntutan mengganti kerugian materi dan fisik senilai 350 juta.Lelaki itu merasa bahwa gelar sarjana hukum, yang baru dia sandang hampir satu bulan ini, membuat dirinya merasa berada di atas angin. Terlebih kini Leni di sisinya, yang akan mendukungnya secara penuh karena sangat mencintai dirinya.“Iya, Sayang. Kok dia bisa ada di sini? Apa dia mau beliin jas buat manga barunya? Eh … tapi babu emangnya punya duit cukup buat beli jas di sini? Ga ada yang murah, loh,” ejek Bayu dengan sikap pongah.Leni tertawa kecil, Bayu menghampiri Miranda dan berdiri tepat di sisinya dengan posisi berlawanan arah.Bayu meletakkan tangannya di bahu Miranda, lalu sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu."Oh, jadi ini alasan kamu kabur dari kontrakan kumuh? Hebat ya kamu, Mira. Belum sebulan kita pisah, kamu sudah
[Selamat, ya. Maaf aku sibuk.] Miranda mengakhiri panggilannya.Roland mendengar percakapan itu, melihat dari reaksi Miranda, dia yakin bahwa yang baru saja menghubungi asistennya itu pastilah Bayu.“Bernostalgia? Pasti kau berdebar-debar dan rindu lelaki itu, kerjakan semua berkas hingga selesai. Aku mau dalam waktu satu uam berkas gugatanmu sudah rapi dan ada di mejaku,” celetuk Rolan dengan nada ketus dan wajah masam.“Baik, Tuan,” sahut Miranda sopan.Miranda melipat keningnya heran, Rolan tiba-tiba datang ke mejanya dan sikapnya ketus. Wanita itu berpikir, apakah gerangan kesalahan yang sudah dia perbuat? Sehingga atasannya menjadi marah.‘Perasaan aku ga ada salah, kok Tuan malah judes begitu? Apa ada masalah? Sudahlah, aku kerjakan aja dulu tugas ini,’ pikir Miranda.Miranda mengerjakan tugasnya dengan teliti, di balik meja kerjanya, Rolan duduk tegak dengan wajah kesal. Tatapan matanya terfokus kepada selembar dokumen di depannya, tetapi pikirannya terusik.Rolan teringat awa







