MasukKeesokan harinya, Bayu dengan penuh percaya diri mencari pihak-pihak yang membuat lahan menjadi sengketa.Namun, Bayu harus menelan kenyataan pahit. Lelaki itu mendapati bahwa firma hukum yang ditunjuk oleh klien utama untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah tim tempat Miranda memimpin. Wanita itu dengan kecerdasan dan relasi luas yang dimilikinya, Miranda menyelesaikan kebuntuan itu dalam hitungan hari. Bayu menyaksikan keberhasilan mantan istrinya dari jauh dengan rasa benci dan dengki yang makin menggerogoti jiwanya“Sialan, masa aku bisa kalah sama anak kemarin sore, perempuan lagi!” seru Bayu kesal di ruangannya.Bayu pun menjadi bahan ejekan senior, lelaki itu hanya bisa diam. Bayu tidak bisa lagi sombong seperti awal dia baru lulus, dirinya lebih banyak menahan diri. Jika dia kembali kehilangan pekerjaan, anak dan istrinya akan meninggalkannya. Relasi yang susah payah didekati juga akan menjauh.Tanpa terasa waktu cepat berlalu, satu bulan sudah terlewati sejak lamaran Ro
“Terima kasih, Kakak bisa aja. Ada angin apa nih? Penting kayaknya,” balas Miranda senang.“Tau aja kalo aku ada perlu.” Aris duduk berseberangan dengan adiknya.“Tau lah, darah kita sama, lahir dari rahim yang sama,” balas Miranda.Aris tertawa kecil, ternyata sikap adiknya tidak berubah … meski saat ini sudah terkenal, tidak ada yang berubah kecuali kematangan berpikir yang semakin bertambah.Aris menatap lekat adiknya, meski tinggal di rumah yang sama, mereka nyaris tidak pernah bertemu karena kesibukan masing–masing.“Mira, Kakak ada tender proyek buat villa di dekat ujung kota. Belum sampai ujung kota lah … paling 25-30 menitlah dari pusat kota.”“Masalahnya … tanah ini sengketa antar adik beradik dan pamannya. Semua sling klaim kalau tanah itu punya mereka, kedua belah pihak setuju, tapi masalahnya di pembayaran. Kami ngerti kan? Kamu bisa bantu gak? Buntu rasanya,” urai Aris serius.“Jadi maksudnya … kalo bayar ke A, maka pihak B bakal menyatakan tanah itu sengketa? Begitu juga
Malam pertama yang seharusnya menjadi momen berharga bagi pasangan pengantin baru, justru berubah menjadi pertengkaran hebat bagi Bayu dan Leni.Di dalam kamar apartemen yang dihadiahkan Baskoro untuk Leni, jeritan dan bentakan saling bersahutan tanpa henti. Leni melempar gaun pengantinnya ke sembarang tempat, wajahnya memerah padam menahan malu dan amarah yang besar, karena ancaman Aris di lobi hotel. Bayu berdiri kaku di sudut ruangan, mencengkeram kepalanya sendiri yang terasa mau pecah akibat hinaan tanpa ampun dari Rolan dan Aris.“Kamu tuh benar-benar suami gak berguna, Bayu! Kenapa kamu diam aja waktu Rilan sialan itu merendahkan kita di depan umum!” pekik Leni dengan mata melotot penuh rasa benci.“Tolong tutup mulutmu, Leni! Kamu pikir aku gak malu? Kamu sendiri yang duluan ehek Mira, tuduhan bodoh soal cincin imitasi itu jan asalnya dari kamu! Kalo kamu jaga mulutmu, kita gak bakalan dipermalukan begini!” bentak Bayu dengan nada tidak kalah tinggi.“Eeeh, kamu juga ikut-ikut
Rolan menghampiri Miranda yang sabar menunggunya, tetapi ponselnya berdering. Ada investor yang sedang mencarinya, karena usia sudah tua, Rolan memilih untuk menemuinya di aula tempat acara Miranda dilangsungkan tadi.“Ayo ke atas, Sayang. Investor sahabat Kakek menunggu di aula tadi, beliau datang terlambat karena ke rumah sakit,” kata Rolan.“Aku tunggu di sini aja, Yang. Agak capek hari ini,” tolak Miranda.“Ya sudah, tunggu aku di sini. Gak lama,” sahut Rolan.“Oke,” balas Miranda singkat.Sudah tiga puluh menit berlalu, malam kian larut Rilan dan Aris belum juga turun. Miranda menunggu dengan sabar, berdiri sendirian di area lobi utama hotel yang megah."Eeh, liat siapa yang berdiri di sini! Ngapain kamu di sini Miranda? Rapi amat, pake baju bagus lagi.”“Oh … kamu tau kalo aku sama Bayu ladi adakan pesta pernikahan kami di sini. Kok gak masuk? Ga papa kok makan gratis ga bawa amplop, eh katanya adik orang kaya … masa iya makan gratisan!" seru Leni dengan suara keras saat berjala
Rolan tersenyum dan mencium ponselnya, rasa cintanya semakin besar kepada Miranda.“Love you more, Sayang,” bisik Rolan dengan perasaan bahagia.Waktu berputar begitu cepat, Miranda dan Rolan semakin sibuk di pekerjaannya masing-masing. Keduanya saling memberi semangat melalui pesan saja.Tanpa terasa Miranda berhasil menempuh pendidikan sarjananya, malam ini adalah perayaan wisuda Miranda dan pencapaian karir yang semakin bersinar di dunia advokat. Acara tersebut berlangsung begitu megah di dalam ballroom salah satu hotel bintang lima paling bergengsi di pusat kota, tidak banyak tamu yang diundang. Hanya kalangan atas dan kaum elit saja yang diundang Rolan dan Aris, denting gelas kristal dan alunan musik instrumental lembut mengiringi obrolan hangat para pengusaha kelas atas serta pejabat tinggi yang hadir.Di tengah aula, Miranda berdiri anggun mengenakan gaun malam biru muda yang membalut tubuhnya dengan begitu elegan. Hari ini, dia resmi menyelesaikan masa ikatan dinasnya sebagai
“Tahan sedikit. Sayang. Aaah, sebentar lagi,” balas Rolan sambil mendesah.“Oooh, sa … kiit. Hmmmm, ssssh,” desah Miranda.Desahan Miranda malah membuat Rilan semakin cepat memompa gerakan pinggulnya, makin cepat … lebih cepat.Hingga dia merasa ujung kepala miliknya akan memuntahkan cairan.“Sssh … aaaaah, nikmat, Sayang,” racau Rolan.Cairan kental menyembur ke arah rahim hangat tersebut, perlahan gerakan pinggul mulai menurun ritmenya.Suara napas memburu terdengar bersahutan, tubuh sudah licin dengan keringat. Begitu pula seprai yang basah, bahkan meninggalkan cairan ketika Rolan menarik miliknya dari kawah kenikmatan itu. Rolan merebahkan tubuhnya di sisi Miranda dengan posisi telentang, membiarkan hembusan pendingin udara menyapu kulitnya. Keheningan menyelimuti ruangan tersebut, menyisakan gairah meluap dan menjadi saksi bisu pergumulan dua insan yang saling mencinta itu.“Yang … menurutmu apa aku murahan?” tanya Miranda pelan.Rolan melipat keningnya, pertanyaan ini sulit dij







