Home / Mafia / Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia / Bab 26 — Harga Sebuah Ucapan

Share

Bab 26 — Harga Sebuah Ucapan

Author: Vyn
last update publish date: 2026-07-02 17:49:37

"Sayang," panggilnya lembut, kontras dengan aura dingin yang memancar dari dirinya. "Masuklah ke ruang kerjaku."

Zoey menoleh ke arahnya. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengangguk pelan lalu melangkah menghampiri Dimitri.

Setiap karyawan di koridor saling berpandangan. Mereka baru pertama kali mendengar bos mereka memanggil seseorang dengan suara selembut itu.

"Itu... Pak Dimitri?" bisik salah seorang wanita dengan mata membelalak.

"Tadi beliau bila
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 46 — Tamu di Tengah Malam

    Pintu rumah perlahan terbuka bahkan sebelum Dimitri sempat mengetuk.Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih setajam pisau. Tatapannya langsung jatuh pada Dimitri."Kau terlambat.""Jalanan sedikit ramai," jawab Dimitri tenang.Pria tua itu mendengus pelan. "Kalau masih bisa bercanda, berarti keadaanmu belum terlalu buruk."Barulah pandangannya beralih kepada Zoey."Jadi... ini gadis yang kau bawa."Zoey sedikit gugup. "Saya Zoey."Pria itu mengangguk singkat. "Masuklah. Berdiri di luar terlalu lama bukan ide yang bagus."Rumah itu tampak sederhana dari luar, tetapi bagian dalamnya jauh berbeda. Dinding dipenuhi rak buku tua. Beberapa monitor keamanan menampilkan gambar dari kamera yang terpasang di berbagai sudut halaman. Tak jauh dari ruang tamu terdapat sebuah ruangan dengan peralatan komunikasi dan komputer yang masih menyala.Zoey memperhatikan semuanya dengan heran. "Tempat ini...""Bukan rumah bi

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 45 — Di Balik Topeng Malam

    Petugas berseragam itu berdiri tepat di samping pintu mobil. Senyumnya tampak sopan, tetapi matanya terlalu dingin untuk seorang aparat yang sedang menjalankan pemeriksaan rutin."Silahkan turun, Tuan."Dimitri tidak segera bergerak. Ia justru menatap kartu identitas yang tergantung di dada pria itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya."Lencana yang bagus," katanya datar.Pria itu tersenyum tipis. "Terima kasih.""Tapi sayangnya..." Dimitri memiringkan kepala. "Nomor registrasinya sudah tidak digunakan sejak tiga tahun lalu."Senyum di wajah pria itu menghilang.Dalam hitungan detik, Dimitri membuka pintu mobil dengan tenang lalu berdiri. Zoey yang masih duduk di kursi belakang menahan napas.Keheningan menyelimuti jalan itu. Beberapa pria berseragam lain mulai mengalihkan perhatian mereka ke arah Dimitri."Kalau kalian ingin menggeledah mobilku," ujar Dimitri santai, "setidaknya gunakan identitas yang lebih meyakinkan."Suasana langsung berubah tegang.Namun, pria yang berdiri

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 44 — Bayangan yang Mengawasi

    Peringatan anonim itu masih terpampang di layar ponsel Dimitri, seolah menjadi bayangan yang mengikuti mobil mereka menembus pekatnya malam."Jangan pernah buka flash drive itu... jika kalian masih ingin tetap hidup."Tak ada nama pengirim. Tak ada nomor yang bisa dilacak. Hanya sederet kata yang cukup membuat suasana di dalam mobil berubah mencekam.Zoey memecah keheningan lebih dulu. "Itu... ancaman?"Dimitri tidak langsung menjawab. Ia mengunci layar ponselnya, lalu menyandarkan tubuh ke jok belakang."Bukan sekadar ancaman," ucapnya tenang. "Itu peringatan."Zoey mengernyit. "Apa bedanya?""Ancaman dibuat untuk menakut-nakuti." Tatapan Dimitri tetap lurus ke depan. "Peringatan diberikan oleh seseorang yang tahu apa yang akan terjadi."Jawaban itu justru membuat Zoey semakin gelisah."Berarti... ada orang lain yang mengetahui kita berhasil mengambil flash drive itu?""Ada.""Padahal Dominic sendiri mengira kita pulang dengan tangan kosong.""Itulah yang membuat keadaan menjadi mena

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 43 — Rencana Kedua

    Pesan singkat itu hanya terdiri dari beberapa kata."Misi gagal. Target sudah mengetahui pelacak."Dimitri membaca isi layar ponselnya tanpa mengubah ekspresi. Dalam hitungan detik, perangkat kecil itu kembali masuk ke saku jasnya.Zoey menatapnya cemas. "Gagal?" bisiknya.Dimitri mengangguk tipis. "Rencana A gagal."Jantung Zoey kembali berdebar. "Lalu sekarang?"Sudut bibir Dimitri terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau seorang pemain catur hanya menyiapkan satu langkah, dia sudah kalah sejak awal."Zoey mengerutkan dahi. "Maksudmu...""Rencana B."Di sisi lain aula, Dominic Cassarius masih berdiri di tempatnya. Tatapannya sesekali mengarah kepada Dimitri, seolah memastikan tidak ada gerakan mencurigakan.Bagi Dominic, semuanya telah berakhir.Ia yakin orang-orang yang menyamar sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu tidak berhasil mendapatkan apa pun malam ini.Itul

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 42 — Mata yang Terus Mengawasi

    Pesta amal itu terus berlangsung seolah tidak pernah terjadi apa pun.Alunan musik klasik mengisi aula megah, berpadu dengan dentingan gelas kristal dan tawa para tamu yang terdengar hangat. Lampu-lampu gantung memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer, menciptakan suasana elegan yang mampu menipu siapa saja.Zoey berusaha mempertahankan senyum tipis setiap kali berpapasan dengan tamu lain. Sesekali ia mengangguk sopan ketika seseorang menyapa Dimitri. Dari luar, ia tampak tenang.Padahal, jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada sebelumnya.Tanpa sadar, pandangannya kembali mencari satu sosok di antara kerumunan.Dominic Cassarius.Wanita itu kini berdiri bersama beberapa tokoh penting dunia bisnis. Ia tersenyum, mengangkat gelas wine, lalu tertawa pelan menanggapi lelucon salah satu tamu.Tak ada yang akan mengira bahwa di balik senyum ramah itu, pikirannya masih bekerja tanpa henti.Zoey yakin Dominic belum melupakan dirinya.Wanita itu sedang menyusun potongan-potonga

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 41 — Di Ambang Terbongkar

    "Lalu mengapa saya merasa matanya begitu... familiar?"Pertanyaan itu menggantung di udara, seolah menyerap seluruh suara di dalam aula. Alunan musik klasik masih terdengar pelan, begitu pula percakapan para tamu yang kembali berlangsung di berbagai sudut ruangan. Namun, bagi Zoey, semuanya seakan lenyap. Yang tersisa hanyalah tatapan Dominic Cassarius yang tak pernah lepas darinya.Seluruh perhatian di meja itu kini tertuju kepada Dimitri.Pria yang malam itu dikenal sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan raut wajah. Ia tetap berdiri tegak dengan ekspresi tenang, seolah pertanyaan yang baru saja dilontarkan Dominic hanyalah percakapan ringan di sebuah pesta biasa.Senyum tipis terukir di sudut bibirnya."Barangkali karena Anda pernah bertemu dengan banyak orang yang memiliki sorot mata serupa," ucap Dimitri santai. "Mata adalah anugerah yang sulit dijadikan identitas."Jawaban itu terdengar ringan, tetapi cukup cerdas untuk menghindari penjelasan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status